Malaria dan Diare Jadi Ancaman Saat Pergantian Musim


sergapntt.com [MENIA] – Kasus diare dan malaria yang sering terjadi di Kabupaten Sabu Raijua mendapat perhatian pemerintah dalam berbagai tingkatan. Untuk itu, maka masalah kesehatan menjadi prioritas searah dengan misi pemerintah saat ini.
Demikian dikatakan Camat Sabu Timur, Simon Mone Heme kepada Timor Express terkait akan beralihnya musim panas dan musim hujan di mana penyakit maria dan diare selalu mengancam warga. Selain masalah malaria, persoalan kekurangan gizi dan gizi buruk juga tetap dalam pengendalian pemerintah melalui petugas kesehatan yang ada di puskesmas maupun pustu.
Dikatakan, dalam setiap musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) masyarakat selalu mengusulkan agar dalam mengantisipasi peningkatan penyakit malaria, maka diharapkan agar pemerintah bisa membantu dengan memberikan kulambu dan abate secara gratis kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyakit malaria.
“Di bidang kesehatan ada kegiatan prioritas yang diusulkan masyarakat yakni kulambunisasi dan abatenisasi. Selain itu mereka juga minta obat pencelup yang berfungsi untuk membunuh jentik nyamuk yang ada dalam bak mandi atau sarana penampung air milik masyarakat. Warga juga meminta agar dilakukan fogging di beberapa desa yang memang menjadi sarang penyakit malaria. Beberapa persoalan ini yang menjadi prioritas karena pada tahun 2011 ini ada peningkatan penderita malaria di wilayah Kecamatan Sabu Timur dan kita sudah masukkan ini dalam kegiatan prioritas dalam musrenbang,” jelas Simon.
Ditambahkan, masyarakat juga mengusulkan agar masing-masing desa memiliki alat penyemprotan nyamuk yang disimpan di kantor desa, sehingga masyarakat bisa sewaktu-waktu menggunakannnya. Disamping itu, masyarakat juga meminta agar stok obat malaria harus selalu tersedia baik di puskesmas hingga ke pustu-pustu yang ada di desa.
Dirinya merincikan, ada beberapa desa yang sering menjadi sasaran penyakit malaria yakni Desa Keliha, Kudjiratu, Bodae, Huwaga dan Desa Lobodei.
Selain masalah penyakit malaria dan diare, masyarakat juga mengusulkan agar pemerintah bisa memperhatikan masalah kekurangan gizi yang dialami balita khususnya di Kecamatan Sabu Timur dengan cara pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami kurang gizi.
“Jika dihitung secara keseluruhan angka balita kurang gizi di wilayah ini jumlahnya cukup banyak sehingga perlu diberi prioritas. Memang usulan untuk dilakukan pemberian makanan tambahan ini hanya dari beberapa desa, tapi kalau dihitung secara kecamatan, maka jumlah anak yang kurang gizi cukup banyak. Untuk tahun ini PMT sudah dibagi dan diserahkan langsung oleh pak bupati,” pungkas Simon.
By. SBR

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.