Kasak-Kusuk Koalisi PDIP-Gerindra Usung Calon Walikota-Wakil Walikota Kupang


Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya

sergapntt.com [KUPANG] – Pemilukada Kota Kupang mulai menguras tenaga. Semua pikiran seperti tertekuk, menyorot tajam pada sosok yang ingin memimpin, plus koalisi partai politik (parpol) yang lagi mengambang. Pikiran rakyat menjadi gamang. Kehidupan nyata seolah terlupakan, hanya karena anggapan pemilukada dapat memberi peluang mencerahkan hidup, dengan kepuasaan berjengkal-jengkal. Hm,,,,,,!

Kasak-kusuk soal siapa yang paling berpeluang menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017, serta parpol apa-apa saja yang berpotensi berkoalisi mengusung paket walikota dan wakil walikota, kini menjadi topik utama dalam setiap perbincangan. Hampir di semua tempat, yang dibicarakan hanya berkutat seputar pemilukada. Isu kemiskinan dan korupsi yang masih merajalela di kota ini seakan terlupakan. 
Di puncak lain, para kandidat terus mengarahkan teropong ke segala penjuru mendeteksi parpol yang belum “berpenghuni”. Mulai dari parpol non seat hingga parpol yang memiliki anggota mayoritas di DPRD Kota Kupang terus didekati dan “dirayu” dengan harapan dapat diamankan menuju gelanggang pemilukada. 
Soal menang atau kalah belum terpikirkan. Yang terbayang baru pada batas bagaimana bisa lolos dari jarum verifikasi KPU agar bisa ditetapkan sebagai calon walikota dan wakil walikota. Dua dari sekian banyak parpol yang sedang dibidik adalah PDIP dan Gerindra. Tak terkecuali, dr. Niken Mitak (Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT).
Bagi Ketua DPD Gerindra NTT yang juga Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si, Niken punya peluang yang sama dengan 12 calon walikota yang telah mendaftar ke Gerindra, yakni Jefri Riwu Kore (Jeriko), Daniel Adoe, Daniel Hurek, Viktor Lerik, Hengki Benu, Isodorus Lili Djawa, Gustaf Oemanatan, Dr. Os Besi, David Pela, Thom Sonbait, Kolan Foenay, David Mandala dan Lay Djaranjoera.
“Semua ada mekanisme. Semua ada aturan. Hasil survei sudah ada. Kita tidak pilih kasih,” ujar Esthon Foenay saat di temui sergapntt.com di Kantor Gubernur NTT, Selasa (6/12/11) lalu.
Ketiga belas calon tersebut, kata Foenay, telah disurvei oleh Universitas Nusa cendana (Undana) Kupang sebanyak dua kali. Tahap pertama, 1000 pemilih yang berasal dari berbagai strata masyarakat dijadikan sampel untuk mengetahui siapa calon walikota dan wakil walikota yang paling diminati warga Kota Kupang.
“Sedangkan survei kedua, kita jadikan tokoh-tokoh, seperti tokoh agama, tokoh politik, tokoh masyarakat sebagai sampel survei. Karena tokoh-tokoh ini banyak pengikut. Misalnya tokoh  agama, kalau dia bilang, dia memilih si A, maka dia membawa representatif aspirasi dari sekian banyak orang. Walaupun tidak mutlak! Tapi,,, ini indikasi yang menggambarkan kecendrungan pemilih,” paparnya.
Menurut Foenay, menghadapi suksesi Kota Kupang, Gerindra sudah pasti akan berkoalisi dengan PDIP. Sebab, Gerindra dan PDIP telah berkoalisi jauh sebelum gong suksesi pemilukada ditabuh dengan menetapkan paket almarhum Ed Foenay dan Kristo Blasin sebagai calon walikota dan wakil walikota. Namun karena Ed Foenay meninggal dunia akibat sakit yang mendera, maka paket Gerindra-PDIP akan dibicarakan kembali.  
“PDIP dan Gerindra sudah koalisi. Dan itu masih tetap sampai sekarang. Yang meninggal itu kan orangnya (Ed Foenay-red), partainya tidak kan? Karena itu, koalisi ini tetap.  Tidak ada yang berubah. Mau omong apa lagi! Beres kan? Saya dan pak Frans itu satu. Jadi,,, jangan ragu. Pasti kami (PDIP dan Gerindra) akan berkoalisi. Tapi siapa yang akan kami usung, masih akan saya dan pak Frans diskusi lagi,”imbuhnya.
Bak gayung bersambut, komitmen, keyakinan dan harapan Foenay diamini Ketua DPD PDIP NTT, Drs. Frans Lebu Raya.  Kepada TIMORense, pimpinan tertinggi PDIP di NTT yang kini menjabat sebagai Gubernur NTT itu mengaku, PDIP tetap akan berkoalisi dengan Gerindra. Hanya saja, antara PDIP dan Gerindra masih harus membicarakan ulang siapa dengan siapa yang akan diusung berdasarkan hasil survei terkini PDIP dan Gerindra.
“PDIP selalu terbuka, termasuk berkoalisi dengan Gerindra. Karena saya dan pak Esthon itu satu, dengan menyebut diri FREN. Kita sudah melakukan survei tahap yang kedua, hasilnya masih dianalisis. Dan hasil analisis ini akan menjadi acuan untuk kita memutuskan pasangan. Tapi,,,,! Ya,,,,, kita memang masih sedang berdiskusi, termasuk dengan Gerindra, apakah ada perubahan (pasangan) untuk kita berkoalisi? Ya,,, akan kita diskusikan,” tegasnya.
Pernyataan Frans Lebu Raya – Esthon Foenay (FREN) ini sekaligus mengakhiri teka-teki dengan parpol mana PDIP atau Gerindra berkoalisi.
Kabar terkini menyebutkan, partai yang kini dipimpin orang nomor 1 dan 2 NTT itu, akan mengusung Ketua DPC Gerindra Kota Kupang, Hengky Benu dan Kristo Blasin. Alternatif pilihan berikut jatuh pada Niken – Kristo Blasin atau Jeriko – Kristo Blasin. Tapi,,,! Jika Jeriko – Kristo Blasin yang diprioritaskan tanpa Demokrat, maka Jeriko harus siap dipecat dari Demokrat sekaligus mundur dari jabatannya sebagai Anggota DPR RI. 
Walau begitu, peluang masih tetap terbuka. Koalisi bisa saja terjadi antara PDIP, Gerindra dan Demokrat. Apalagi hingga kini, baik PDIP, Gerindra maupun Demokrat masih melakukan komunikasi atau lobi-lobi politik sembari terus melirik kandidat mana yang paling berpeluang menang dalam tarung suksesi kali ini.
Niken sendiri sangat berharap banyak bisa mengendarai Gerindra dan PDIP. Soal pasangan ia serahkan sepenuhnya kepada partai. Tapi soal target, Niken yakin bisa mengungguli ketangguhan calon lain yang didominasi kaum pria. Menang adalah sasaran yang ideal. Walaupun ada konsekuensinya. Sebab, kalah menang di dunia politik adalah garis tangan yang sudah dititahkan Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya, Niken tak gentar mengarungi samudra politik yang kedalamannya tak dapat diukur hingga hari “H” pemilihan itu tiba. 
Klaim paling kuat yang dilakukan kandidat lain tak membuat semangat perempuan yang satu ini surut. Sebagai kandidat yang sudah siap lahir bathin menghadapi tantangan pemilukada, Niken terus maju memburu parpol mengusung harapan perubahan bagi warga Kota Kupang. Itu sebabnya ia terus mendulang dukungan dan simpati pemilih yang bosan menatap kandidat penuh masalah.
Sejumlah analis menilai, figur Niken berpeluang mendulang sukses menghadapi lawan siapa saja yang menghadang. Sebab, warga kota sudah sangat merindukan pemimpin baru dengan gaya baru yang memiliki kapasitas untuk melakukan perubahan tata kelola pemerintahan. Namun semua tergantung parpol. Memberinya kesempatan atau tidak.
“Terima kasih bagi yang telah bersimpati pada saya. Saya akan menjaga kepercayaan itu,” ujar Niken, singkat.
Toh begitu, Esthon Foenay mengingatkan Niken beserta kandidat calon walikota dan wakil walikota lain untuk tidak terlalu percaya pada tim sukses. Sebab, terkadang hanya tim sukses yang sukses di setiap gawe pemilukada, sedangkan sang calon babak belur diakhir pertarungan politik.
“Jangan terlalu percaya dengan tim sukses. Nanti mereka yang sukses, kita yang ancor. Saya omong ini berdasarkan pengalaman.  Kita bukan saja babak belur, tapi bisa sampai bengkok belur,,, hahahaha,,,” guyon Foenay penuh arti.
By. CHRIS PARERA

1 Komentar

  1. “Jangan terlalu percaya dengan tim sukses. Nanti mereka yang sukses, kita yang ancor. Saya omong ini berdasarkan pengalaman. Kita bukan saja babak belur, tapi bisa sampai bengkok belur,,, hahahaha,,,” guyon Foenay penuh arti….
    betul tu pak!!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.