“Sorongi’is”, Tanda Kedewasaan Perempuan Nagekeo


Saat Gigi Diratakan Dengan Batu Asa

sergapntt.com [DHAWE] – Kaum perempuan di Kabupaten Nagekeo, khususnya di Mbay (suku Dhawe), ibukota Nagekeo akan dikatakan sudah dewasa jika telah dikukuhkan dengan ritual potong gigi (meratakan gigi dengan batu sa) yang dalam bahasa setempat disebut Sorongi’is.
Seorang orang anak perempuan berbusana adat nampak tengah berbaring di apit oleh sang nenek. Tidak lama kemudian, seorang bapak yang ditunjuk sebagai petugas potong gigi mendekat dan memegang rahang si anak lalu memintanya membuka mulut. Dengan sebuah batu asa, si bapak meratakan gigi si anak. Wajah anak itu terlihat meringis, mulutnya mengumbar rintihan menahan ngilu sentuhan batu asah yang di gosok berulang-ulang di permukaan giginya.
Setelah rata, si anak kemudian di serahkan ke salah satu ibu untuk di obati. Disini pengobatan hanya mengandalkan ramuan ala kampung berupa buah pinang mudah. Si anak di haruskan mengunyah buah pinang tersebut untuk menghilangkan rasa ngilu.
Buah Pinang pengobat rasa ngilu
Ritual Sorongi’is mengandung makna bahwa anak tersebut telah dewasa dalam hukum adat. Seperti yang di tuturkan Donatus Dua, salah satu tetua adat suku Dhawe. “Suatu saat jika sampai pada usia siap pinang, hukum adat sudah  merestui jika ada lelaki yang datang meminang”.
Sebelum menuju ritual Sorongi’is, keluarga harus menjalani beberapa rangkaian acara adat. Malam sebelumnya, pihak keluarga maupun undangan akan melaksanakan tandak. Mereka mulai menari,  bernyanyi dan berpantun mengelilingi api unggun sambil berpegang tangan.
Syair-syair dalam irama tandak mengisahkan tentang arwah nenek moyang dan sejumlah ajaran-ajaran adat dalam kehidupan. Sesekali diselingi pantun yang di ucapkan secara berbalasan antara kaum perempuan dan laki-laki. Isi pantun kadang bernada humor, yang mengundang gelak tawa para penonton.
Untuk menambah semangat, seorang petugas akan terus menghidangkan sirih pinang dan ‘moke’, minuman keras khas Nagekeo. Dalam bahasa setempat, acara tandak ini disebut “Wai Sekutu”.
Si Anak Diayunkan Melewati hewan kurban
Anak yang akan dipotong giginya juga disertakan dalam tandak. Disini si menggunakan busana adat dan menutup mulutnya dengan selempang. Selama mengikuti proses ini, anak tersebut senantiasa mendapatkan pengawasan dari pihak keluarga untuk tidak berkomunikasi secara langsung dengan siapa saja. Dalam acara ini, sang anak hanya diberikan kesempatan lima kali berputar mengelilingi api unggun bersama peserta tandak yang lain. Kemudian kembali di boyong ke kamar untuk beristirahat. Acara tandak berlangsung non stop semalam suntuk. Seiring mentari terbit,  acara tandak pun bubar.
Sebelum prosesi sorongi’is dimulai, keluarga akan terlebih dahulu mempersembahkan sesajen untuk para leluhur mereka. Sesajian ini biasanya terdiri dari nasi, daging, sirih pinang dan moke. Ini sebagai bentuk ucapan syukur sekaligus memohon berkat untuk kelancaran penyelenggaraan acara tersebut.
Ketika tiba puncaknya, sang anak dituntun keluar rumah menuju rumah kerabat, atau tetangga yang masih memiliki hubungan darah. Namun, sebelum berangkat si anak terlebih dahulu diberkati oleh salah satu tetua adat dengan sapaan adat dan percikan beras sebanyak lima kali yang disiram ke arah badan si anak. Ritual pemberkataan ini di sebut “Resa Kuras”.
Sesajen buat leluhur
Setelah itu, sang anak akan di ayun oleh ayahnya sebanyak lima kali di atas seekor babi yang diletakan di depan rumah. Pada hitungan yang kelima,  anak tersebut di ayun melewati babi dan siap berjalan menuju rumah tetangga tempat dilaksanakannya ritual potong gigi. Di rumah itu sudah menanti petugas potong gigi yang telah siap dengan sebuah batu asah kecil. Petugas ini pun harus berasal dari anggota keluarga.
Seluruh rangkaian ini tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biasanya jauh-jauh hari, pihak keluarga sudah menyiapkan segala kebutuhan acara. Bagi orang tua anak, persiapan acara ini bisa tertolong dengan bingkisan-bingkisan yang di bawa para undangan. Namun bingkisan ini pun tak gratis. Karena sudah menjadi tradisi,  pihak keluarga selaku undangan yang membawa bingkisan berupa tikar, bantal ataupun beras akan menerima balasan berupa kambing ataupun babi. Sedangkan yang membawa bingkisan babi atau kambing akan menerima balasan tikar atau beras. Toh begitu, dibalik proses Sosrongi’is ini terselip perasaan lega dan bangga bagi orang tua si anak. Setidaknya, tanggung jawab orangtua dalam hukum adat telah dilaksanakan,  walaupun secara ekonomis  biaya yang dikeluarkan cukup besar.
By.  Yanto Mana Tappi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.