Rela Jadi “Simpanan” Karena Tak Sudi Hidup Miskin


sergapntt.com [KUPANG] – Hidup miskin kadang membuat sebagian orang tak nyaman. Begitupun dengan Inggrit (26) —nama samaran—. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga yang morat-marit, usai lulus SMA  gadis manis asal sebuah kabupaten yang berdekatan dengan benua Australia itu hengkang menuju ke Kota Kupang. Sayang, di kota penuh karang ini ia terperangkap maksiat.
Inggrit setahun kemudian setamat SMA, bisa dibilang gadis belia dengan bau harum semerbak. Ia cantik, mulus dan seksi yang selalu tampil wangi mempesona sepanjang hari. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu tercengang. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika tak menggodanya.
Kisah suramnya dimulai ketika di pertengahan tahun 2010 lalu, ia berkenalan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai PNS. Melalui pria yang belakangan jadi pacarnya itu, ia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di sebuah instansi pemerintah di Kota Kupang. Setahun lebih tugasnya hanya melakukan pekerjaan administrasi surat menyurat. Suatu ketika ia dimutasikan ke sebuah dinas. Disana ia ditugaskan membantu sekertaris si Kepala Dinas (Kadis). Senangnya bukan kepalang. Di tempat baru dengan suasana baru, dia dapat pula hal-hal baru. Apalagi pekerjaannya tidak monoton. Malah kadang ia mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu bosnya yang kebanyakan datang dari kalangan pejabat dan pengusaha.
Tiga bulan menjadi sekertaris, Inggrit berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan, lengkap dengan isi kantong yang tebal. Maklum pria yang bersangkutan masuk kategori pejabat kecil yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya, om Tajir. Itu karena kesehariannya ia agak boros.
Dia memang tidak mudah lagi. Walau begitu, ia masih punya pesona. Masih romantis, bisa dibilang begitu! Sebulan setelah perkenalan, lewat HP om Tajir berhasil memikat Inggrit dengan gombal-gambulnya. Ia lalu mengajak Inggrit jalan-jalan. Mulai dari makan di restoran paling mahal di Kota Kupang hingga berbelanja, mulai dari pakaian, peralatan kosmetik hingga hand phone bermerk. Mendapat pelayanan ekstra seperti ini, tentu saja Inggrit senang bukan kepalang. Kapan lagi? Pikirnya! (Kira-kira begitu gejolak hatinya saat itu)
Sebulan kemudian, Inggrit kembali diajak makan dan berbelanja. Kali ini dia benar-benar dibuat happy abis. Apa yang ia mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Inggrit benar-benar puas. Ia merasa seperti hidup di kayangan yang semua kebutuhan serba ada.
Habis berbelanja, jelang malam tiba keduanya beranjak pulang. Dalam perjalanan, om Tajir dengan penuh semangat bercerita mengenai keadaan rumah tangganya. Kata om Tajir, hampir empat tahun terakhir ini hidupnya bagai mati suri. Ia sering kesepian. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat ini yang jadi masalah, ha…..ha….ha…,” imbuh om Tajir ngakak. Inggrit pun ikut-ikutan tertawa.
Kala itu jarum jam telah menunjukan pukul 21.00 WITENG. Mobil yang dikemudikan om Tajir terus melaju kencang. Namun ketika memasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Tajir membelokkan arah mobilnya menuju sebuah motel yang biasa dipakai untuk tempat esek-esek. Inggrit sebenarnya sudah menebak apa yang akan dilakukan om Tajir nanti setibanya di motel. Inggrit ingin menjerit, tapi jujur dia tak kuat. Hatinya sudah terlanjur terpikat rayuan dan kantongnya om Tajir. Betul kata perasaannya, di motel itu Inggrit benar-benar “diseruduk”.
Sejak itu, om Tajir seperti kecanduan. Inggrit lantas dijadikan istri simpanannya dengan syarat, selain dia, tak boleh lagi ada laki-laki lain yang mampir di kehidupan Inggrit. Alhasil, Inggrit lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer. Sejak itu pula semua kebutuhan hidup Inggrit dipenuhi om Tajir.
Tapi usia tua benar-benar jadi penghalang. Setelah begitu bergairah di babak awal, empat bulan kemudian “serangan” om Tajir mulai kendur tak bertenaga. Kebut cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajak tidur, om Tajir hanya mampu mengelus-ngelus. Inggrit sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, Inggrit dapat ilham bahwa dia ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh harta dan rupiah. Misalnya saja tiba-tiba suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh tak jauh-jauh amat. Dengan begitu tak usah repot-repot bekerja. Tinggal menikmatinya saja. Uh,,,, dasar,,,,!
Tapi,,,,! Inggrit kecewa berat, saat om Tajir menolak ajakannya untuk menikah. Berulangkali diminat, berulangkali pula Om Tajir menolak. Karena kesal Inggrit pun mengancam, “Kalau lu tak mau menikahi beta, maka beta akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu”. Mendengar itu, om Tajir seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan main. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat.
Inggrit akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Tajir berjanji akan memberikannya uang juta rupiah, asal dia mau diam dan terus merahasiakan perselingkuhan mereka. Om Tajir ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang dengan segepok uang. Setelah uang diserahkan, om Tajir langsung pamit dan tak mau lagi berhubungan dengan Inggrit. Walaupun hanya sekedar lewat telepon atau SMS.
Toh begitu, dalam hati, Inggrit merasa telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdayai lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan. Hus,,, ngajak dosa bareng ya,,!
Lepas dari om Tajir, Inggrit menjalin hubungan asmara dengan bang Ol –sebut saja begitu–. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan.
Bang Ol mulai punya gelagat tertarik pada Inggrit saat secara tidak sengaja keduanya bertemu dalam sebuah acara pesta pernikahan. Matanya selalu genit memandangi Inggrit. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, Inggrit mulai pasang perangkap. Berhasil! Seminggu kemudian, bang Ol mengajaknya kencan. Hanya saja kali ini Inggrit diajak ke Bali. Disana mereka merengkuh nikmat melupakan dosa. Hubungan mereka pun berlanjut. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinas bang Ol. Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah Inggrit datangi, misalnya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, bahkan hingga Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu Inggrit bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang Inggrit bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Tajir dan bang Ol. Benaknya sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya dengannya. Namun karena kemiskinan yang pernah dia rasakan bersama keluarganya, perasaan itu akhirnya pupus. Dalam sanubarinya seakan tertanam tekad, “Aku rela jadi simpanan, asalkan aku mendapat harta dan rupiah yang banyak. Biar aku tidak miskin lagi”.  
Bagi Inggrit, lebih bagus menjadi wanita simpanan atau gundik para pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatnya sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Inggrit mengakui, perasaan risih selalu menemani kehidupan hari-harinya. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang ia dapat. Maklum, warga sekitar tempat tinggalnya tak tahu dari mana sumber uang yang ia geruk. Bahkan, orangtuanya pun kaget minta ampun begitu tahu kalau Inggrit telah menjadi kaya raya, memiliki rumah dan mobil. Namun Inggrit selalu berhasil memberi alasan dengan dalih semua kekayaan yang ia miliki itu diperoleh dari hasil kerjanya sebagai karyawan di sebuah LSM berdonatur luar negeri. Inggrit sadar apa yang ia lakukan itu dosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Disisi lain, dia tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubungan Inggrit dengan bang Ol sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu bang Ol meminta persetujuan Inggrit untuk mengakhiri hubungan mereka. Inggrit sih setuju-setuju saja. Baginya yang penting ada upah. Setidak-tidaknya untuk ongkos kesendiriannya. Setuju! Bang Ol lalu memberinya uang. Jumlahnya lumayan buat foya-foya selama setahun. Dengan uang itu pula Inggrit kemudian membuka usaha kecil-kecilan. Sebuah mini market berdiri anggun di samping rumahnya.
Inggrit sendiri tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. “Capek,” katanya. Dia ingin menikah dan hidup normal seperti orang kebanyakan. Memang kadang dia malu terhadap dirinya sendiri. Tapi mau bilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Dia hanya bisa pasrah menanti jodoh sembari berharap Tuhan mau mengampuninya. Semoga!
By. CHRIS PARERA

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.