Massa menyerang dengan lemparan batu dan kayu. Akibatnya rumah rusak parah. Di tengah kepanikan dan rasa takut, Dance dan istrinya harus kehilangan anak mereka yang masih bayi.
“Anak saya lahir 15 November 2011, baru berusia sebulan. Malam itu saat serangan dia syok, kejang-kejang, dan sekitar 30 menit kemudian meninggal,” kata Dance, dengan suara tercekat, saat dihubungi VIVAnews, Rabu 14 Desember 2011.
Gino Novitri Henukh–demikian nama bayi itu–langsung dimakamkan hari Minggu itu.
Di tengah suasana duka dan kalut, massa tanpa ampun kembali menyerang, Senin dini hari. Mereka bahkan membakar rumahnya hingga hangus rata dengan tanah. Beruntung, Dance, istri, dan anaknya yang lain berhasil menyelamatkan diri.
Apa yang membuat massa sedemikian beringas menyerang?
Sebelum penyerangan, Dance menceritakan, ia sempat didatangi sejumlah orang yang mengancam akan membakar rumah dan menghabisi nyawanya. “Orang yang datang pada Sabtu siang mengancam rumah saya akan dibakar, saya akan dibunuh,” kata dia.
Ia pun lalu melapor ke polisi yang langsung menurunkan tim ke rumahnya. “Tapi saat aparat kembali, massa menyerang.”
Kini, Dance dan keluarganya harus mengungsi. “Rumah dan seluruh perabot kami, semua harta benda hangus terbakar,” kata dia.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar