![]() |
| Verry Guru |
sergapntt.com [KUPANG] – TANPA terasa tahun 2011 kali ini Provinsi NTT telah menginjak usia ke 53. Kalau disejajarkan dengan usia manusia maka dapat dikatakan usia 53 tahun merupakan usia yang boleh dikata mapan dan matang dalam berbagai hal. Setiap tanggal 20 Desember kita selalu merayakan dan mengenang HUT NTT. Namun pertanyaan reflektif untuk kita semua yang menghuni bumi Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata) tercinta ini apakah arti dan makna HUT NTT bagi diriku dan sesamaku ? Bung Karno, sang proklamator dan Presiden RI pertama pernah mengatakan, “jangan sekali-kali melupakan sejarah alias Jas Merah.” Dengan kata lain, Bung Karno ingin berpesan kepada kita sekalian bahwa sejarah adalah sumur mahadalam yang selalu menyegarkan apabila kita bersedia menimba darinya.
Karena itu, setiap kali kita merayakan atau memperingati hari yang bersejarah dalam hidup ini ada kenangan yang bisa diungkapkan dengan kata-kata, ada yang terungkap dengan kata dan kalimat, namun ada pula yang tak sanggup untuk diungkapkan atau dikatakan. Mengapa ? Karena, mengenang sesuatu khususnya masa-masa sulit daerah NTT ini keluar dari kubangan permasalahan yang melilitinya seperti kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan lain sebagainya, menyadarkan kita baik generasi tua maupun generasi muda bahwa sejarah masa lampau adalah rangkaian kesatuan waktu yang tak terpisahkan dengan peristiwa hari ini maupun harapan akan hari esok yang lebih baik dari hari kemarin.
Serentak dengan itu, mengenang sebuah peristiwa khususnya peristiwa Hari Ulang Tahun (HUT), menyadarkan kita akan sesuatu, membangkitkan perasaan dan menghidupkan niat tertentu. Namun sering kita alami bahwa sesuatu yang berkesan itu bagai menguap oleh panasnya persaingan dalam hidup yang sering membuat orang merasa harus bertindak pragmatis. Niat yang telah dirangkai bagai benih yang tak sanggup mengakarkan dirinya pada tanah kehidupan yang keras dan dikeraskan oleh tantangan kehidupan riil yang terkadang sangat tidak bersahabat.
Kalau kita mengenang sesuatu, kita sebenarnya tengah membawa ke dalam kehidupan sekarang sebuah kehidupan di masa lampau, dan bersama dengan itu sebuah bahan perbandingan dari masa lampau. Segala perasaan, pikiran dan niat yang pernah dibangkitkan oleh sesuatu yang pernah kita alami akan melontarkan pertanyaan tentang kita sekarang; sebagai pribadi berperasaan, sebagai orang yang berpikir dan yang senantiasa mengingkrarkan niat. Kenangan akan membantu kita mengenal diri, entahkan kita telah semakin berkembang menjadi manusia yang memiliki ketajaman perasaan, yang berpikiran luas dan yang bertanggung jawab terhadap niat yang pernah diikrarkan.
Di sinilah letak daya kritis dari setiap kenangan. Mengenang berarti membuat penilaian. Setiap penilaian yang jujur akan bermuara pada sebuah pengambilan sikap, sebuah pengikraran niat baru. Sebab itu, kenangan memiliki dalam dirinya sebuah daya kreatif, daya ubah. Mengenang tidak sekadar mengenang, tetapi menjadi daya dorong untuk sebuah perubahan. Semakin berkesan sebuah peristiwa yang dikenang, semakin besar pula muatan kritis, kreatif dan inovatif yang terkadung di dalamnya.
Dan hingga kini, kita belum menghapus waktu, juga belum membuang jam, karena kita masih hidup. Tapi ada yang bosan hidup dan terpaksa hidup untuk membunuh waktu. Mereka adalah orang-orang yang putus asa, yang tertekan dalam sebuah komunitas, yang kesepian di tengah gemerlap sejarah. Yang jenuh dengan rutinitas. Dan ada juga yang mengulur-ulur waktu, sebab mereka adalah penganggur tak kentara, yang bersarang dalam waktu, yang lebih banyak ngobrol di kantor, di tenda pesta, di pangkalan ojek, di garasi kendaraan atau di sudut-sudut jalan yang sepi.
Tapi waktu tak pernah mati walaupun dibunuh dan diulur-ulur seperti karet. Waktu tak pernah tidur karena detik-detiknya membangunkan kita, menit-menitnya mencatat peristiwa, jam-jamnya menggabung hari, hari yang satu bercerita pada hari yang lain dan malam yang satu pada malam yang lain. Dan kita tak bisa menolak, bahwa tidak setiap peristiwa yang diceritakan, adalah masa lalu yang indah untuk dikenang. Kita melihat pada tumpukan tanggal yang lewat, manusia merusak manusia, manusia merusak alam dan akhirnya manusia merusak Tuhan. Walaupun Tuhan tak pernah bisa dirusakkan; oleh siapapun dan oleh kekuatan manapun.
Kalau Tuhan tersingkir di antara perubahan, dan kalau tidak semua kenangan akan perubahan itu indah, mengapa kita membiarkan sebuah nostalgia melambai-lambai di pelupuk mata ? Tidakkah lebih baik kita menghitung-hitung prestasi dan membiarkan segala yang manis meresapi relung hati ? Kita hanya bisa mengerti bahwa kenangan adalah masa lalu yang mungkin gagal dan mungkin tidak. Kenangan itu hidup di masa kini sebagai hasil pelajaran masa lalu, lengkap dengan pahit dan getirnya. Dan akhirnya kenangan itu menjadi masa depan berisi janji yang harus dipenuhi, agar masa lalu yang gagal bisa diperbaiki.
Waktu berubah di dalam waktu dan kita pun berubah di dalamnya. Tempora mutantur etnos mutamur in illis, barang siapa yang tidak ingin berubah di dalam waktu, pasti waktu yang akan merubahnya. Hidup ini akan lebih bermakna, manakala kita memiliki waktu untuk mengenang masa lalu, meniti karya dan pengabdian di hari ini dan mengikrarkan niat serta janji untuk ditepati di hari esok. Hari kemarin, hari ini dan hari esok harus menjadi inspirasi dan spirit karya dan pengabdian kita sebagai abdi negara dan abdi masyarakat di Provinsi NTT yang tercinta ini. (*)
By. VERRY GURU/Pranata Humas Biro Umum Setda NTT
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar