Stop! Kekerasan Terhadap Wartawan


sergapntt.com [KUPANG] – Gema Hari Pers Nasional (HPN) yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono di Kupang pada 9 Februari 2011 lalu ternyata tak menghentikan kekerasan terhadap wartawan di bumi Flobamoratas (Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote Ndao dan Sabu Raijua). Pada Oktober 2011 lalu, Deni Fernandez (TVRI), Yopi  Tapeun (harian pagi Timor Express), Oby Lewanmeru (Pos Kupang) dan Hjahar (Erende Pos) mendapat perlakuan kasar dari Pegawai Dinas PPO Kota Kupang yang menyebabkan kamera milik Deni Fernandez rusak.
Aksi kekerasan tersebut terjadi saat Deni CS akan mengklarifikasikan pemberitaan terkait  dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di salah satu sekolah di bilangan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.
Aksi kekerasan terhadap si kuli tinta kembali terjadi di Kabupaten Rote Ndao. Kali ini menimpa wartawan tabloid Rote Ndao News, Dance Henuk. Petaka bermula ketika Sabtu (10/11/11), sekitar pukul  13.00 Wita, beberapa orang yang dikenali datang ke rumah Dance Henukh. Mereka mengancam akan membakar rumah dan menghabisi Dance. Setelah mendapat ancaman, Dance langsung menghubungi Kasat Reskrim Polres Rote Ndao, Iptu. Faisal Fatsey bersama.  Dua jam kemudian atau Pukul 17.00 Wita, sang kasat bersama anggotanya datang ke rumah Dance untuk melakukan pengamanan. Setelah memastikan aman, pukul 20.00 Wita, kasat reskrim cs kembali ke markas mereka.
Di luar dugaan, tiba-tiba Minggu (11/12/11) sekitar pukul 01.00 dinihari, sekelompok massa menyerang rumah Dance dengan batu. Bahkan dari luar mereka berteriak mengancam akan menghabisi Dance dan semua anggota keluarganya. Akibat serangan ini, Gino Novitri Henukh (1,5 bulan) yang lagi sakit langsung shock dan meninggal dunia setengah jam kemudian, tepatnya pukul 01.30 dinihari. Gino lalu dimakamkan hari Minggu itu, di siang harinya.
Derita Dance belum berakhir. Setelah serangan pertama, kelompok massa yang sama, kembali menyerangnya pada Senin (12/11/11) sekitar pukul 01.00 dinihari. Dalam penyerangan ini, mereka membakar rumah milik Dance. Semua harta bendanya ludes terbakar. Yang tertinggal hanya pakaian di badan. Karena takut, Dance beserta isteri dan keluarganya melarikan diri ke hutan.
Pembakaran rumah tersebut diduga terkait pemberitaan Tabloit Rote Ndao News yang dalam dua bulan terakhir ini memuat berita tentang dugaan korupsi Alokasi Dana Desa (ADD) yang digunakan untuk pembangunan kantor desa, serta pembangunan perumahan transmigrasi lokal (Translok) di Desa Kuli, kecamatan Lobalain, Rote Ndao  senilai Rp 3,1 miliar.
Setelah Dance diserang, intimidasi serta pengancaman kembali menimpa wartawati Erende Pos, Endang Sidin. Ia diancam oleh Jhon Terik, Anggota Satpol PP Rote Ndao. Peristiwa ini berawal ketika Endang melakukan investigasi terhadap dugaan-dugaan KKN yang terjadi di Rote Ndao. Sebab, di kabupaten yang sedang dipimpin oleh Lens Haning itu santer terdengar kebanyakan PNS disana menjadi makelar proyek, bahkan ada yang langsung mengerjakan proyek-proyek pemerintah.
Kamis (15/12/11), Endang menemui Ketua Panitia Pelelangan Proyek Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan (PPIP)  APBN 2011
. Dari situ Endang menemukan keterlibatan John Terik. Fredy Lenggu menjelaskan bahwa Jhon Terik akan mengerjakan proyek PPIP dengan item pekerjaan pembangunan kantor dan jalan desa di Desa Kuli senilai Rp. 187 juta menggunakan CV. Tugu Mandiri.
Entah darimana tahunya, Kamis (15/12) malam, John menelepon Endang, “Ibu Endang, mengapa anda mencari tahu tentang tender saya, jangan hanya menulis soal korupsi, kalau anda macam-macam, anda akan saya makan”. Endang yang ketakutan langsung melaporkan ancaman itu kepada Kapolres Rote Ndao, AKBP Widi Atmono. Widi berjanji akan menindaklanjutinya.

Jumat (16/12/11) pagi, meski masih ketakutan, Endang nekad melanjutkan invesitigasinya dengan mewawancarai Sekda Rote Ndao, Agustinus Oragero. Saat itulah handphone (HP) milik Endang berdering. Ia ditelpon oleh Jhon Terik. “Dia tanya saya, posisi kamu dimana? Lalu saya bilang, saya lagi di kantor bupati,” papar Endang.

Setelah mengetahui dimana keberadaan Endang, Jhon Terik langsung mendatangi Kantor Bupati Rote Ndao. Ketika sampai disana, Jhon Terik yang mempersenjatai diri dengan sebilah pisau mendapati Endang sedang berdiri di depan ruangan kerja Sekda Rote Ndao. Tanpa ba-bi-bu, si Satpol PP itu langsung mengejar Endang. Sambil mengacungkan kepal, Jhon berteriak, “Beta (saya-red) akan bunuh lu (kamu)”.
Karena ketakutan, Endang lari menerobos ke ruang kerja Sekda. Langkah Jhon akhirnya terhenti di depan pintu masuk ruang kerja sekda. Sekda yang lagi kerja kaget bukan kepalang, “Kenapa? Ada Apa ini”. Sambil terus lari menyelinap, Endang mengatakan kalau dirinya sedang dikejar dan akan dibunuh oleh Jhon terik. Benar saja! Tak lama berselang Jhon Terik  nongol di depan pintu. Dari mulutnya keluar umpatan dan caci maki. Melihat itu, spontan Sekda beranjak dari kursi kerjanya dan langsung menghampiri Jhon. Dia mencoba menenangkan Jhon. Tapi dasar sudah kesetanan, Jhon tak peduli sedikit pun. Padahal Sekda itu pimpinannya.  
Sementara di dalam, Endang terus berusaha menelpon Kapolres Rote Ndao. Sayang Hpnya sang komandan off. Karena itu Endang lantas menghubungi Anggota DPD RI, Sarah Lery Mboeik. Sarah lalu menelpon Kapolda NTT,  Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang. Atas perintah Kapolda, 30 menit kemudian Endang dievakuasi  Satuan Lantas (Satlantas) Polres Rote Ndao. Toh begitu, Jhon Terik masih sempat mengejar Endang. Beruntung dapat dihadang anggota satlantas.
Kini kedua kasus tersebut sedang ditangani Polres Rote Ndao. Kapolda NTT berjanji akan mengusut tuntas kasus ini (yang benar aja pak,,,,,,,, kami tunggu hasilnya).
Aksi kekerasan tersebut memicu solidaritas wartawan hampir di seluruh Indonesia, tak terkecuali puluhan wartawan di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT. Kaum buruh pers yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW-NTT) itu, Senin (19/12/11) menggelar aksi unjuk rasa ke Mapolda NTT, DPRD NTT dan Kantor Gubernur NTT. Mereka mendesak polisi untuk segera menangkap para pelaku.
Dalam surat penyataannya, FSW-NTT meminta Kapolda NTT segera mengusut tuntas tindakan kriminal terhadap para pekerja pers tersebut, serta mencopot Kapolres Rote Ndao yang dinilai lamban menangani kasus Dance dan Endang.
“Kami minta kapolda untuk memberikan proteksi terhadap seluruh wartawan di NTT, terutama dalam kegiatan jurnalistik mengungkap kasus-kasus korupsi di daerah ini. Kami juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk stop melakukan kekerasan terhadap wartawan,” tulis FSW-NTT dalam pernyataan mereka yang diterima Kapolda NTT saat menggelar unjukrasa.
By. CHRIS PARERA

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.