sergapntt.com [KUPANG] – Bupati Kabupaten Rote Ndao, Lens Haning diusir puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari ruang kerja Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay.
Kejadian ini bermula ketika FSW menggelar aksi unjukrasa di Kantor Gubernur NTT terkait sejumlah tindak kekerasan terhadap pekerja pers di Kota Kupang dan Rote Ndao yang berujung rusaknya kamera milik wartawan TVRI, Deny Fernandez, serta terbakarnya rumah milik wartawan Tabloid Rote Ndao News, Dance Henuk, serta meninggalnya Gino Novitri Henukh (1,5 bulan), putra kesayangan Dance Henuk.
Setelah 5 menit berorasi di depan kantor gubernur, oleh humas gubernur NTT, wartawan lalu diperkenankan bertemu Wakil Gubernur NTT. Namun, saat hendak masuk (kira-kira 10 meter dari pintu masuk ruang kerja wakil gubernur), wartawan berpapasan dengan Bupati Rote Ndao yang bermaksud menemui para wartawan. Kontan saja para wartawan emosi. Apalagi ketika mengingat tindak dan sikapnya yang tidak mengakui wartawan di daerahnya.
“Hei berangkat kau dari sini. Kami datang tidak untuk bertemu kau. Ini kantor gubernur NTT. Kami mau ketemu gubernur atau wakil gubernur. Bukan kau,,,,,” teriak wartawan beramai-ramai.
Mendengar itu, sang bupati yang dibalut muka ‘merah’ langsung berbalik nyelonong masuk ke ruang tunggu wakil gubernur NTT.
Suasana kembali memanas ketika para wartawan masuk ke ruang kerja wakil gubernur mendapati Bupati Rote Ndao duduk manis disamping wakil gubernur. Di sesi ini, wartawan kembali menghadriknya, “Bupati Rote Ndao keluar dari sini. Kami mau berbicara dengan wakil gubernur. Kami tidak butuh anda,” teriak para wartawan sahut menyahut.
Menghadapi wartawan yang lagi ‘mendidih’, wakil gubernur pun berusaha menenangkan suasana. “Sudah,,, sudah,,, mari kita duduk. Kita bicara pakai hati. Labu aja ada hati, masa,,, wartawan tidak punya hati,,, hahahaha,,,” ujar Esthon Foenay sedikit berguyon.
Bupati Rote Ndao pun nyambung, “Saya datang kesini karena diundang oleh pak wakil gubernur. Jadi saya jangan diusir kayak gini. Saya ini tamu disini,,”.
Namun wartawan benar-benar sudah teguh pendirian. Bupati Rote Ndao tetap diminta untuk segera keluar dari ruangan kerja wakil gubernur. “Kami hanya mau bicara dengan wakil gubernur. Kami tidak ingin bupati ada disini. Sebaiknya bupati keluar, atau kami yang keluar,,” sergah para wartawan.
Karena tak memungkinkan, wakil gubernur pun berinisiatif, “Okelah, kalau begitu, kasi saya dua menit untuk bicara dengan pak bupati”.
Keduanya langsung beranjak dari kursi meja rapat yang dipakai untuk menerima wartawan menuju meja kerja wakil gubernur yang terletak di sisi lain ruangan itu. Keduanya terlihat komat kamit, entah bicarakan apa. Setelah itu Bupati Rote Ndao keluar ruangan sembari terus diteriaki wartawan. Wakil gubernur lalu kembali ke kursinya di kepala meja rapat untuk melanjutkan diskusi dan dengar aspirasi para wartawan. Ketika duduk, wakil gubernur yang humoris itu nyeletuk, “Waduh,,,,, kamu nih,,,, masa orang ada lambang garuda di dada, bisa kamu usir tu,,,,”. Sentilan wakil gubernur ini disambut tawa dan ucapan seloroh dari kerumunan wartawan, “Biar dia rasa, supaya dia tahu, yang bisa usir orang, bukan hanya bupati, tapi wartawan juga bisa”.
Kepada wakil gubernur, FSW meminta bantuan pemerintah provinsi (pemprov) NTT untuk turut serta membantu polisi mengungkap berbagai kasus yang menimpa para wartawan di NTT. Atas permintaan tersebut, wakil gubernur menyanggupinya.
“Oke,,, saya akan kirim tim intelejen pemda ke Rote Ndao untuk menyelidiki kasus ini. Setidaknya bisa membantu polisi untuk mengusut kasus ini. Saya juga akan segera berkoordinasi dengan pak Kapolda terkait penanganan kasus ini. Moga-goga kasus ini cepat terungkap dan selesai,” imbuh sang wakil gubernur.
By. Chris Parera
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar