![]() |
| Andre Koreh |
sergapntt.com [KUPANG] – Pemerintah provinsi (Pemprov) NTT mengajukan usulan ke Menteri Pekerjaan Umum agar ditetapkan menjadi tuan rumah konsultasi regional (Konreg) wilayah Timur di bidang ke-PU-an tahun 2012 untuk membahas rencana anggaran tahun 2013.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTT, Andre Wellem Koreh kepada wartawan usai puncak peringatan Hari Bhakti PU ke-66 di kantornya, Sabtu (3/12).
Andre jelaskan, pengajuan usulan ini berangkat dari pengalaman sebelumnya dimana NTT sebagai tuan rumah penyelenggaraa peringatan Hari Pers Nasional pada Februari 2011 lalu. Pada kesempatan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama ibu negara serta sejumlah menteri kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Kesuksesan itulah mendorong pemprov mengajukan usulan untuk menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional di bidang ke-PU-an.
“Gubernur sudah dua kali mengajukan surat ke Menteri PU agar NTT ditetapkan sebagai tuan rumah konreg wilayah Timur yang mencakup 17 provinsi,” ungkap Andre.
Menjadi tuan rumah, lanjutnya, NTT pasti mendapat manfaat yang cukup besar baik dari aspek ekonomi maupun kebijakan anggaran. Dengan dihadiri sekitar 1.500 orang jajaran ke-PU-an dari 17 provinsi dan kabupaten/kota serta jajaran kementerian PU, uang yang akan dibelanjakan selama berada di NTT cukup besar. Selain itu, sebagai tuan rumah, pasti mendapat perhatian lebih dalam rangka pengalokasian anggaran yang bersumber dari Kementerian PU.
“Biasanya sebagai tuan rumah, ada manfaat lebih yang kita dapatkan dari alokasi anggaran yang bersumber dari APBN,” kata Andre.
Menurutnya, usulan jadi tuan rumah tersebut sebagai bagian dalam rangka menyongsong Sail Komodo 2013. Dengan alokasi anggaran yang diharapkan dapat memadai, infrastruktur jalan dan jembatan di NTT terutama di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat bisa dibenahi. Karena dengan alokasi anggaran seperti sekarang, baik yang bersumber dari APBN maupun APBD sangat tidak mencukupi membiayai program kegiatan di bidang ke-PU-an. Idealnya, alokasi yang dibutuhkan setiap tahun sekitar Rp5 triliun.
“Sangat diharapkan, tidak hanya membahas aspek pembangunan di NTT tapi lebih dari itu harus diikuti dengan politik anggaran yang memadai,” ujar Andre.
Tentang kinerja tahun 2011, Andre sampaikan, hingga akhir November realisasi fisik sudah mencapai 80 persen dan keuangan sudah 70 persen. Diupayakan hingga akhir Desember nanti, realisasi fisik bisa mencapai 100 persen. Sedangkan realisasi keuangan dipastikan tidak mencapai 100 persen yang diakibatkan oleh efisiensi. Dimana sekitar Rp7,8 miliar lebih dana yang tidak mungkin dipakai karena adanya sisa lelang. Ini bukan merupakan kegagalan melainkan sebuah bentuk prestasi karena mampu mengefisiensi pengelolaan keuangan.
Menyinggung soal antisipasi yang dilakukan terhadap kemungkinan ambruknya jembatan di NTT, Andre tegaskan, sudah diantisipasi sejak tahap pengerjaan. Karena sudah dihitung dengan faktor keamanan sebesar 2,5 persen dari beban maksimal yang dilalui kendaraan. Misalkan, dalam hitungan, jembatan itu akan dilalui kendaraan dengan tonase 1.000 kg, maka rancangan jembatannya 2.500 kg. Jembatan di NTT sangat kecil kemungkinan ambruk akibat salah perencanaan.
“Walau demikian, kami akan mendata kembali seluruh infrastruktur jembatan di NTT untuk mengantisipasi cuaca ekstrim dan kemungkinan lainnya,” papar Andre.
By. FLO
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar