sergapntt.com [SOE] – Faktor kemiskinan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap derajat hidup masyarakat. Selain mempengaruhi kualitas pendidikan, masalah ekonomi dapat menentukan kualitas kesehatan masyarakat.
Kesehatan Ibu, Bayi Baru Melahirkan dan Anak Balita (KIBBLA) menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian serius pemerintah. Pasalnya, kasus kematian ibu dan anak di Kabupaten TTS sangat tinggi dibanding daerah lain.
Hal ini diungkapkan Plt Kadis Kesehatan TTS, Salmun Tabun dalam acara konsultasi publik terkait Ranperda KIBBLA yang berlangsung di aula hotel Mahkota Plaza, Rabu (21/12). Hadir pada kesempatan itu, Direktur Sanggar Suara Perempuan (SSP) yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten TTS, Rambu A Mella serta sejumlah undangan lainnya.
Salmun Tabun yang juga adalah Sekda Kabupaten TTS mengungkapkan, persoalan kesehatan ibu dan anak telah menjadi perhatian pemerintah. Hal ini melalui program KIA beberapa tahun lalu. Namun mengingat kasus kematian ibu dan anak masih cukup tinggi, maka perlu dibuatkan sebuah regulasi yang mengatur tentang hak dan kewajiban serta sanksi kepada pihak-pihak terkait. Melalui konsultasi publik diharapkan dapat memberikan masukan bagi penerapan Ranperda tersebut.
“Urusan kesehatan ibu dan anak ini sudah diatur dan diprogramkan dalam KIA di tingkat provinsi. Ada juga program KB. Namun kenyataannya belum juga berhasil baik. Sehingga pemerintah bilang, boleh memiliki anak lebih dari dua, namun direncanakan. Sementara untuk merencanakan ini yang sulit untuk masyarakat kita,” kata Salmun.
Di sisi lain, faktor kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan ekonomi. Sementara menurut Salmun, KK miskin di Kabupaten TTS lebih tinggi jumlahnya di banding keluarga yang berkecukupan. Hal ini kata dia, sangat mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak. Sehingga butuh perhatian semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menekan angka yang terus meningkat itu.
“Kepala keluarga miskin di Kabupaten TTS lebih banyak. Padahal sudah banyak intervensi dari pemerintah maupun NGO, namun malah cenderung meningkat. Sementara, kemiskinan punya andil besar terhadap KIBBLA. Selain itu juga dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat. Hal ini bahwa fasilitas kesehatan kita belum memadai. Sehingga melalui ranperda ini kalau sudah ditetapkan menjadi perda, maka kita harap bisa membantu menekan angka kematian ibu dan anak,” beber Salmun.
Data menunjukkan, jumlah kematian ibu dan anak memang menurun setiap tahun. Misalnya, kematian ibu tahun 2010 sebanyak 46 orang dan menurun menjadi 21 per November 2011. Jumlah bayi yang meninggal tahun 2010 sebanyak 108 orang, sementara tahun 2011 turun menjadi 55 orang. Untuk balita, dari 35 yang meninggal tahun 2010, turun menjadi lima pada 2011. Jumlah yang mati melahirkan sebanyak 167 tahun 2010, turun menjadi 74 per November 2011.
“Data menunjukkan bahwa yang meninggal itu berkurang. Namun di sisi lain, pertumbuhan penduduk juga terus meningkat. Maka pemerintah menekannya melalui program KB,” imbuhnya.
By. TR
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar