Siswa di Sabu Butuh Buku-Buku Pelajaran


sergapntt.com [MENIA] – Salah satu faktor ketertinggalan siswa dalam dunia pendidikan adalah ketersediaan buku mata pelajaran, sehingga siswa dipaksa untuk mencatat semua mata pelajaran dari buku cetak milik  guru. Untuk bisa bersaing dengan daerah lain, maka buku mata pelajaran wajib dimiliki setiap siswa, sehingga mereka bisa belajar sendiri di rumah tanpa harus dibebani dengan mencatat setiap pelajaran di sekolah.
Hal ini dikatakan anggota Komisi B DPRD Sabu Raijua, Simon Dira Tome ketika ditanya soal keterbatasan yang dialami dunia pendidikan di Sabu Raijua belum lama ini di Menia.
Simon Dira Tome mengatakan, pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua belum bisa bersaing dengan daerah lain di luar Sabu. Dampak tersebut terjadi akibat beberapa faktor seperti ketersediaan tenaga pendidik yang masih minim dan tidak memiliki kompetensi pada bidangnya secara spesifik. Selain itu, ketersediaan buku mata pelajaran sebagai pegangan siswa belum bisa dijangkau siswa dan orang tua karena masalah ekonomi masyarakat yang masih rendah.
“Kita tahu bahwa kita masih tertinggal dalam bidang pendidikan oleh daerah lain, tapi itu tidak boleh membuat semangat belajar kita menjadi rapuh. Kita memang masih harus menulis setiap pelajaran yang di dikte oleh guru yang ada dalam buku cetak karena kita belum mampu untuk membelinya sendiri sehingga waktu belajar lebih banyak mencatat daripada harus mengerjakan soal-soal atau praktek. Ini yang masih menjadi pergumulan kita semua di Sabu Raijua,” ujarnya.
Untuk itu, dirinya berharap agar di tahun-tahun mendatang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua dalam hal ini Dinas Pendidikan harus secara pelan-pelan menganggarkan dana untuk pengadaan buku mata pelajaran bagi siswa, karena salah satu penentu yang akan mengangkat dunia pendidikan adalah ketersediaan buku pelajaran sesuai dengan kurikulum yang ada.
“Memang ada perpustakaan sekolah, tapi isi perpustakaan itu juga masih sangat terbatas. Sementara pelajaran yang ada selalu berubah-ubah dari pusat sehingga mau tidak mau siswa harus mencatat setiap pelajaran yang ada. Tidak sama dengan siswa yang ada di luar yang buku mata pelajarannya mereka punya masing-masing. Sehingga ketika guru memberikan pekerjaan rumah anak-anak tinggal melihatnya di buku pelajaran untuk di kerjakan,” ujarnya.
Pihaknya memberi apresiasi kepada kelompok anak muda asal Sabu yang hidup di Jakarta yang baru-baru ini membantu siswa dengan sepatu dan tas sekolah serta seragam. “Kita sangat berterima kasih bagi mereka yang sudah mau membagi rejekinya buat anak-anak di Sabu. Kita berharap agar kedepan ada bantuan lain berupa buku-buku bekas pakai yang tidak lagi digunakan oleh siswa di luar pulau Sabu, namun masih bisa digunakan dan masih sesuai dengan kurikulum yang berlaku,” harapnya.
By. AS

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.