Bupati Titu Eki Akui Kabupaten Kupang Belum Banyak Berubah


sergapntt.com [KUPANG] – Bupati Kabupaten Kupang, Ayub Titu Eki mengaku tingkat keberhasilan pembangunan di Kabupaten Kupang selama tahun 2011 belum sesuai dengan harapan. Bahkan bisa dibilang tak ada perubahan sama sekali.
“Untuk menyampaikan informasi jalannya pembangunan selama tahun 2011, saya mengawalinya dengan kebesaran hati. Saya harus mulai bahwa kita nampak berjalan di tempat, belum banyak kemajuan sebagaimana kita harapkan. Saya katakan begini, karena kalau kita melihat apa yang kita capai selama tahun 2011 dengan harapan kita menjadi Kabupaten Unggul, justru sebagai tanggung jawab yang besar dan berat untuk melakukan banyak perubahan,” ungkap, Ayub Titu Eki, belum lama ini.
Hal itu terjadi bukan saja melihat kedepan untuk mewujudkan Kabupaten Unggul. Tapi disebabkan banyak hal yakni komitmen aparat pemerintah (PNS), di mana dalam rapat koordinasi yang dilihatnya adanya pembantahan melulu. “Karena kita membuat rancangan visi menjadi Kabupaten Unggul, tetapi Kabupaten Unggul belum meresap didalam pikiran pimpinan SKPD dan staf. Berarti bahwa pernyataan ini bukan hanya pernyataan visi bupati dan wakil bupati, tapi pernyataan visi dari seluruh birokrasi dan masyarakat yang terlibat dalam mewujudkannya,” kata Ayub yang didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kupang, Hendrik Paut dan Plt Kabag Humas, Stefanus Baha.
Dijelaskan, birokrasi yang artinya meja pelayanan, jadi entah pimpinan maupun staf harus melayani. “Ketika kita melayani tahu dalam hal apa kita melayani, berarti ada pembenahan dalam tupoksinya. Hal yang menyolok yang kami minta baru-baru adalah menyangkut rapat koordinasi terakhir yang saat ini sedang dilakukan, saya bilang kita harus menunjukkan kinerja kita dan kinerja Kabupaten Kupang khususnya kinerja birokrasi diukur dalam empat hal,” jelasnya.
Empat hal itu jelas Ayub yakni bagaimana menghasilkan uang dan menghasilkan uang itu indikatornya adalah PAD. Kalau PAD-nya meningkat dan terus meningkat, menunjukkan punya kinerja. “PAD tadi saya tanya sementara belum 100 persen. Tahun 2009 dari target Rp 17 miliar kita realisasi Rp 23 miliar. Tahun 2010 dari target Rp 24 miliar kita capai Rp 32 miliar. Tahun 2011 dari target Rp 34 miliar realisasi Rp 30 miliar. Loh kok menurun? Tapi evaluasi sementara berlanjut. Berarti tahun ini ada suatu kemunduran, inikan berarti kinerja kita menurun,” katanya.
Hal kedua yakni bagaimana menghabiskan uang karena tanpa mencari uang diberi peluang oleh pemerintah pusat sebagai konsekuensi bagian NKRI. Ada DAK dan DAU, tanpa mencari uang sudah diberikan oleh pemerintah pusat.
“Nah, paling susah kalau mencari uang daripada menghabiskan uang. Tapi konyol juga kalau menghabiskan uang saja sudah susah. Kadang ada pencapaian pemanfaatan uang itu juga ada yang tidak penuh. Bukan saja menyelesaikan uang yang kemudian dibuktikan dengan  kwitansi, tetapi harus ada bukti. Misalnya bangun jalan di masyarakat, jalannya harus bangun. Uang habis untuk bangun rumah, rumahnya juga harus ada, itukan kinerja. Uang yang dihabiskan harus punya dampak perubahan bahwa dengan belanja uang ratusan miliar atau ratusan juta dampaknya apa di masyarakat, ini harus ada,” bebernya.
Hal ketiga jelas Ayub adalah bagaimana menghasilkan uang tanpa menggunakan uang. Bagaimana membuat perubahan tanpa menggunakan uang. “Masyarakat di kampung sering membuat perubahan tanpa uang, termasuk perubahan pola pikir untuk hidup hemat. Untuk membiasakan mengerjakan sesuatu yang produktif, sebab hakekat pembangunan kita bukan hanya pembangunan fisik belaka, tapi juga pembangunan manusia. Di dalam kita punya visi menjadi Kabupaten Unggul di tahun 2015 dalam pembangunan komunitas penduduk. Misalnya manusia pembangunan berarti bukan semata-mata kepada fisik. Apa artinya kita membangun fisik tapi memiliki mental yang tidak baik. Karena itu kita juga mendorong bagaimana menciptakan perubahan dan masyarakat. Jadi tidak ada alasan kita mau unggul tapi uang terbatas,” jelasnya.
Hal keempat menurutnya bagaimana menyelesaikan masalah. Itu suatu kajian visi kehidupan manusia, tidak mungkin ada kehidupan tanpa masalah. Karena itu, jangan menyerah pada masalah apalagi membiarkan masalah. Karena masalah kecil dibiarkan bisa menjadi besar.
“Saya melihat kita jalan ditempat karena kinerja masih kurang baik. Saya mulai dari birokrasi, karena kita dipercaya oleh negara dan kita dibayar oleh negara untuk mengerjakan itu,” terangnya.
By. LITA

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.