Kiat Bank NTT Menjadi Agen Pembangunan Daerah


Dirut Bank NTT, Daniel Tagu Dedo
sergapntt.com [KUPANG] – Perbankan memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian. Itu sebabnya, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nusa Tenggara Timur (NTT) alias Bank NTT terus berupaya menjadi bank yang kuat dan profesional, yang mampu mendorong perekonomian NTT hingga ke titik kehidupan rakyat Flobamora yang mapan.
Sejak berdiri, Bank NTT telah menjadi salah satu ujung tombak perekonomian bagi rakyat Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Sabu Raijua, dan Rote Ndao, atau sering disingkat menjadi Flobamora. Bahkan Bank NTT mampu mengatasi kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah. Pelan tapi pasti, Bank NTT diyakini mampu secara efektif ikut memberantas kemiskinan yang masih menghimpit NTT. Keyakinan itu terbukti dengan makin banyaknya rakyat NTT yang menjadi nasabah Bank NTT.
Menurut Direktur Utama Bank NTT, Daniel Tagu Dedo , cetak biru (blue print) BPD yang disusun Bank Indonesia (BI) secara tegas menetapkan tiga pilar pengembangan BPD, yakni meningkatkan ketahanan kelembagaan untuk mengembangkan rasio modal, meningkatkan peran BPD sebagai agen pembangunan daerah (Regional Champion), serta meningkatkan akses masyarakat dalam financial inclusion. Tujuan akhirnya adalah mengurangi angka kemiskinan di daerah.

“Untuk mencapai BPD NTT sebagai Regional Champion,  kita memiliki 3 pilar, yakni pertama: Ketahanan kelembagaan. Maksudnya, sebagai suatu lembaga bank, BPD itu harus kuat. Terutama dari sisi permodalan. Kemudian punya SDM yang profesional,” ujar Tagu Dedo saat ditemui sergapntt.com di ruang kerjanya, Rabu (11/01/12).
Pilar yang Kedua, lanjut Tagu Dedo, BPD sebagai agen pembangunan di wilayahnya (regional of development). Di dalam pilar yang kedua ini, BPD diharapkan kreditnya tumbuh diatas 15 persen. Bahkan kalau bisa  20 persen.  Yang berikut, BPD tidak lagi hanya berharap suntikan dana dari Pemerintah Daerah (Pemda) saja, tapi kita juga mulai menghimpun dana dari masyarakat, yang mana diharapkan porposinya 70 persen dana masyarakat dan 30 persen dana pemda. Yang berikut, penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif. Ini,,, minimal sampai 2014, semua BPD di Indonesia mampu mencapai porsi kredit produktifnya  40 persen.  
Sedangkan pilar yang Ketiga, Bank NTT mampu melayani kebutuhan perbankan masyarakat. Disitu kita dituntut memiliki produk-produk unggulan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Contohnya, sekarang ini, BPD punya tabungan yang namanya Simpanan Pembangunan Daerah (SIMPEDA). Sementara di Bank NTT sendiri namanya Tabungan FLOBAMORA. Ini kita kemas dia menjadi produk unggulan, antara lain bisa diakses melalui mesin ATM. Terus,,, di ATM ada banyak menu pembayaran, misalnya untuk bayar listrik dan air. Bahkan di 2012 ini, kita akan melakukan kerjasama-kerjasama dengan berbagai perusahaan agar pembayaran, misalnya pembayaran kartu kredit atau ansuran, bisa dilakukan melalui ATM. Hal unggulan lainnya, di program ini, kita siapkan hadiah. Di BPD sendiri ada dua hadiah, satu hadiah tingkat nasional (SIMPEDA), hadiah kedua untuk tingkat lokal (Tabungan FLOBAMORA), yakni banjir hadiah itu.
 Ketiga pilar ini dibangun diatas fondasi manajemen resiko dan Good Corporate Goverment (GCG), yakni tata kelola perusahaan yang baik dan transparan. Diharapkan BPD dari tahun ke tahun makin terbuka, makin transparan, terhindar dari money politic, money londry. Jadi makin lama BPD makin profesional. Memang semua itu bertumpu pada SDM. SDM harus punya skill yang baik, yang bisa diandalkan sebagai seorang bankers, bukan bankers jadi-jadian. Yang berikut, bankers yang berwawasan luas. Contoh, NTT ini butuh apa? Butuh infrastuktur. NTT ini punya apa? Punya komoditi-komoditi unggulan. Apa saja itu, dimana lokasinya?  Harus tahu! Sehingga, sebagai seorang bankers BPD, dia tahu bagaimana ikut membangun wilayahnya.
Memang di perbankan itu ada aturan-aturan mainnya. Tapi,,, disitulah butuh skill and knowledge yang hebat dari seorang bankers. Yang dituntut sekarang, BPD harus jauh lebih profesional dari bank lain.  Karena kita punya tanggung jawab untuk bangun daerah ini. Nah,,, bayangkan, dari 33 provinsi, NTT berada di urutan 30. Nah,,, kalau bankers BPD NTT takut ambil resiko dan hanya mau supaya dapat gaji besar, bonus besar, maka sebaiknya jadi bankers bank biasa saja.  Inilah tantangan yang harus diambil bankers BPD NTT.
Yang berikut, bankers juga dituntut untuk jujur dan bertingkah laku baik. Kemuan, dia harus bisa melayani nasabah yang kayak apa pun. Dia harus siap melayani. Apalagi di bank, kita diajarkan untuk  menghadapi komplain nasabah yang paling keras sekalipun. Karena prinsipnya, kita harus tetap menempatkan nasabah sebagai the king, dia raja.
Dijelaskan, BPD NTT memiliki banyak keunggulan komparatif yang tak bisa ditemukan di bank-bank nasional. BPD NTT memiliki karakteristik yang khas dan unik, yang tak bisa digantikan lembaga pembiayaan mana pun.

Secara historis, BPD NTT memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan masyarakat NTT. Itu karena BPD lahir, tumbuh, dan besar di daerah ini. Secara kultural, BPD memiliki hubungan yang istimewa dengan masyarakat, karena BPD terus berinteraksi dengan masyarakat itu sendiri.

BPD dimiliki pemerintah daerah (pemprov, pemkab, dan pemkot). Ikatan yang kuat dengan gubernur, walikota, dan bupati selaku kuasa pemegang saham memberikan akses yang tinggi kepada BPD untuk menggarap captive market di daerah. Maka sesungguhnya, BPD memiliki potensi yang luar biasa besar untuk mengembangkan perekonomian daerah.

BPD bisa menjadi motor dalam mendorong program pro growth, pro poor, dan pro job lewat penyaluran kredit yang produktif di daerah. Karena itu Bank NTT patut didukung untuk menghimpun dana dari pasar modal melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Dengan go public, BPD tak hanya bisa menambah modal untuk ekspansi, tapi juga dapat menerapkan transparansi, akuntabilitas, dan good corporate governance (GCG) yang merupakan prinsip-prinsip dasar perusahaan terbuka.

Dengan go public, BPD pun bisa lebih independen dan steril dari campur tangan pemilik saham. Sudah menjadi rahasia umum jika banyak BPD yang sulit tumbuh akibat besarnya intervensi kepala daerah. Hanya dengan transparansi, akuntabilitas, independensi, dan GCG-lah BPD bisa tumbuh kuat dan siap menghadapi persaingan yang kian ketat pada masa-masa mendatang, terutama dalam menghadapi Asean Community 2015, di mana proteksi dan sekat-sekat regulasi antar negara Asean tak lagi berlaku.

By. CHRIS PARERA

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.