Selayang Pandang Reba Nage Jerebu’u


Reba Nage Jerebu’u 3 Januari 2012          foto: yanthy sidhu

sergapntt.com [JEREBU’U] – Reba dikenal sebagai upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan rasa terima  kasih terhadap jasa para leluhur. Upacara ini juga digunakan untuk mengevaluasi  segala hal tentang kehidupan bermasyarakat pada tahun sebelumnya yang telah  dijalani. Melalui upacara ini, keluarga dan masyarakat  meminta petunjuk kepada tokoh agama dan tokoh adat untuk dapat menjalani hidup  lebih baik pada tahun yang baru. Biasanya, upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya  di bulan Januari atau Februari.       

    
Tuan rumah untuk  upacara ini selalu bergiliran pada setiap tahunnya. Sehari sebelum perayaan  Reba dimulai, dilaksanakan upacara pembukaan Reba (su’i uwi). Pada malam sui uwi dilakukan acara makan minum bersama (ka  maki Reba) sambil menunggu pagi.
Pada pagi harinya, ketika upacara  berlangsung, para tamu disediakan makanan dan minuman siap saji (Ngeta kau bhagi ngia, mami  utu mogo. Kaa si papa vara, ini su papa pinu). Hidangan utama dalam pesta  ini adalah ubi. Bagi warga Kabupaten Ngada, ubi diagungkan sebagai sumber makanan yang  tak pernah habis disediakan oleh bumi. Karena itu, warga Ngada tidak akan  pernah mengalami rawan pangan ataupun busung lapar. 
Memasuki lokasi Reba Nage Jerebu’u
Selama upacara Reba  berlangsung diiringi oleh tarian para penari yang menggenggam pedang panjang (sau) dan tongkat warna-warni yang pada  bagian ujungnya dihiasi dengan bulu kambing berwarna putih (tuba). Sebagai pengiring tarian adalah alat  musik gesek berdawai tunggal yang terbuat dari tempurung kelapa, atau dari  labu hutan.
Sebagai wadah resonansinya alat musik ini ditutupi dengan kulit  kambing yang pada bagian tengahnya telah dilubangi. Sedangkan penggeseknya  terbuat dari sebilah bambu yang telah diikat dengan benang tenun yang telah  digosok dengan lilin.  
Reba  biasa dilakukan tiga sampai empat hari. Sebelum pelaksanaan upacara tari-tarian  dan nyanyian (O Uwi) diadakan misa  inkulturasi di gereja yang dipimpin oleh seorang pastur. Beberapa  rangkaian upacara juga diiringi dengan koor nyanyian gereja, dan menggunakan  bahasa lokal Ngada. Upacara ini memang memadukan unsur adat dengan agama.
Bupati dan Wakil Bupati foto bersama jajarannya dan warga setempat
ditengah pesta Reba Nage Jerebu’u

Di luar gereja, suasana  upacara adat bertambah meriah, ketika para penonton dan penari disodori satu  dua gelas arak (tua ara). Ini  merupakan tradisi setiap orang Ngada yang hadir dalam upacara tersebut. Namun  demikian, Reba tidak sekadar pesta hura-hura, tapi wujud kegembiraan (gaja gora) masyarakat Ngada dengan tetap  menjaga nuansa rohani.

Upacara Reba dapat  disaksikan di beberapa kecamatan di Kabupaten Ngada, misalnya di Jerebu’u, Aimere, Bajawa, dan Mataloko. 3 Januari 2012 lalu, warga Ngada terkonsentrasi mengikuti prosesi Reba Nage Jerebu’u.
By. CHRIS PARERA/YANTHY SIDHU

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.