sergapntt.com [JAKARTA] – Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menjadi politisi bercitra terburuk sepanjang 2011. Hal itu tecermin dari sejumlah pemberitaan di tujuh media cetak nasional selama tahun Kelinci yang gencar memberitakan kasus dugaan korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga yang melibatkan mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.
Hasil penelitian Developing Countries Studies Center (DCSC) mengungkapkan dari 7.476 artikel di Kompas, Media Indonesia, Indo Pos, Republika, Rakyat Merdeka, Suara Pembaruan, dan Seputar Indonesia, mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2011, nama Anas muncul di 1.246 artikel. Sebanyak 3,5% pemberitaan tentang dirinya memberikan citra negatif.
“Selama tahun 2011, citra negatif tokoh-tokoh yang dianalisis tidak begitu mencolok. Dari sembilan tokoh yang dianalisis, citra negatif terbesar adalah Anas Urbaningrum. Itu pun angkanya masih di bawah 4%,” ujar Direktur Riset DCSC Abdul Hakim M.S. dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (7-1).
Citra negatif yang dimaksudnya adalah artikel yang didominasi oleh kritikan, cemoohan, sindiran miring, antipati, dan perbedaan pendapat, baik yang datang dari pengamat, tokoh lain, masyarakat, atau wartawan, yang ditujukan kepada Anas Urbaningrum.
Tema terbanyak dalam artikel yang menyebut Anas Urbaningrum adalah mengenai kasus korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga, yaitu sebanyak 47%.
Politisi Populer
Di acara yang sama, hasil survei juga menempatkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa sebagai tokoh politik yang paling sering muncul di media massa sepanjang 2011. Hal itu, menurut Abdul, akan berpengaruh dalam bursa pemilihan calon presiden 2014 mendatang.
Hasil survei mengungkap nama Hatta muncul sebanyak 32,7% dari 7.476 artikel di tujuh media yang diteliti. “Seseorang kalau sering disebut terus di media massa akan menimbulkan kesan,” ujar Abdul.
Menurut dia, tokoh yang muncul di media massa dan memiliki bobot dapat menimbulkan efek snowball (bola salju). “Efek snowball itu seperti orang yang membaca artikelnya bisa menularkan ke orang lain. Dia punya efek snowball. Ketika cerita itu diberikan ke pemilih pemula, itu berpengaruh dan meneruskannya ke orang lain,” kata dia.
Hatta berada di urutan teratas, diikuti Anas Urbaningrum dengan muncul di 1.246 artikel, Aburizal Bakrie (1.158 artikel), Megawati Soekarnoputri, Ani Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subianto, Sri Mulyani, dan Surya Paloh. “Lalu mengapa kami memilih sembilan tokoh itu? Sebab, mereka yang paling sering muncul di media massa.”
Dalam penelitian itu, lanjutnya, pihaknya hanya mengupas modal kandidat capres 2014 di media massa, dan tidak menelisik tingkat keterpilihan (elektabilitas).
Oleh karena itu, dia mengakui penelitian ini memiliki sejumlah kelemahan. Misalkan Hatta Rajasa memiliki kesempatan dan porsi lebih besar untuk muncul di media massa. Sebab, selain dapat membicarakan politik, dia dapat diminta pendapat soal ekonomi. Selain itu, pemberitaannya pun bermacam-macam, tak hanya pemberitaan positif, tapi juga berhubungan dengan citra buruk suatu tokoh.
By. SANTI POE
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar