sergapntt.com [KUPANG] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengaku, banyak yang tidak suka adanya Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah yang diluncurkan sejak tahun 2011 lalu.
“Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah tidak disenangi banyak orang. Selain itu program ini juga membuat banyak PNS tidak leluasa dalam pemanfaatan anggaran,” ucap Gubernur saat tampil sebagai pembicara pada acara Seminar Oikumene GBI Mawar Saron Kupang, Jumat (27/1/12).
Dalam seminar yang bertajuk “KasihNya Mengubah NTT” yang dihadiri ratusan jemaat GBI Mawar Saron dan dimoderatori, Pdt. DR. Wiem Gazpers, M.Th itu, Gubernur membawakan materi dengan thema : Program Anggur Merah dalam Mewujudkan Perubahan NTT
Menurut Pdt. Wiem, sebenarnya Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah bukan anggur yang memabukan tetapi justur anggur yang mensejahterakan masyarakat NTT. Sebab, baru kali ini rakyat NTT diberikan dana secara langsung untuk dikelola sendiri demi penguatan ekonomi masyarakat desa itu sendiri.
Melalui dana hibah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengucurkan dana untuk setiap desa sebesar Rp250 juta. Karena sifatnya hibah, maka dana tersebut tidak dikembalikan kepada pemerintah. Namun memerintah wajib mengawal hingga tujuan program tersebut tercapai.
Kata Gubernur, dari segi anggaran, Provinsi NTT selalu mengalami kerugian. Sebab, alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada NTT dihitung berdasarkan luas daratan, bukan luas lautan. Padahal sebagai wilayah kepulauan, NTT sangat membutuhkan suntikan dana yang lebih besar dari biasanya.
“NTT selalu dihitung luas daratan, bukan luas lautan, dan hal ini merugikan NTT dari aspek anggaran,” kata Gubernur.
Dana yang diberikan kepada masyarakat melalui Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah sebut Gubernur, merupakan dana hibah dan menjadi dana abadi di desa atau kelurahan.
“Dana itu tidak dikembalikan kepada pemerintah. Dana itu digunakan untuk memperkuat modal usaha ekonomi produktif yang direncanakan oleh kelompok masyarakat yang ada di desa/kelurahan,” jelas Gubernur.
Gubernur mengungkapkan, sebagai pemimpin di daerah ini, niatnya tulus untuk membantu masyarakat keluar dari jeratan kemiskinan.
“Tekad saya memberikan bantuan pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat adalah agar rakyat tidak terus miskin. Kami sudah bosan hidup miskin,” imbuhnya.
Kata Gubernur, saat ini angka kemiskinan di NTT terus menurun dan telah mencapai 20,48 % seiring data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT September 2011.
Oleh karena itu, Gubernur mengajak jemaat GBI Mawar Saron Kupang untuk berpikir besar. “Saya ajak jemaat untuk berpikir besar sehingga bisa menghasilkan karya besar. Tidak ada orang yang berpikir kerdil menghasilkan karya besar. Berpikir besar itu diberkati Tuhan,” ucapnya.
Gubernur juga meminta dukungan doa agar ia dan Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay yang melekat dengan sandi “FREN” tetap solid, kuat dan sehat memimpin NTT.
“Hati kami untuk rakyat, dan saya ingin rakyat hidup baik. Kami ingin rakyat hidup sehat dan sejahtera,” tegasnya.
Turut hadir dalam kegiatan Seminar Oikumene tersebut, mantan Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe, Karo Umum Setda NTT, Kanisius Beka, SH, Karo Kesra Setda NTT, Drs. Alo Dando, MM, dan Karo Pemerintahan Setda NTT, Drs. Willem Foni, M.Si.
By. VERRY GURU/SAUL KAPITAN
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar