sergapntt.com [CANBERRA] – Perdana Menteri Australia, Julia Gillard harus dilarikan para pengawalnya ke tempat yang aman setelah dikepung oleh sekelompok pengunjuk rasa asal suku Aborijin pada Kamis (26/1/12).
Gillard dan pemimpin oposisi Tony Abbott sedang ambil bagian dalam acara Hari Nasional Australia di sebuah restoran di ibukota Australia, Canberra, ketika sekitar 500 orang Aborijin mengepung gedung tersebut.
Mereka juga memukul-mukul jendela. Sekitar 50 polisi kemudian mengawal Julia Gillard dan Tony Abbot keluar dari pintu samping ke mobil.
Gillard kehilangan sepatu ketika ia dan Tonny Abbot menyelamatkan diri.Tony Abbot tampaknya menjadi sosok yang menjadi incaran pemrotes yang meneriakkan kata-kata “malu” dan “rasis” di luar restoran.
PM Gillard tidak mengalami luka dan setelah insiden tersebut. “Satu-satunya hal yang membuat marah saya adalah insiden ini mengalihkan perhatian dari acara yang begitu sangat bagus,” kata Gillard kepada para wartawan seperti dikutip kantor berita AP.
Pengunjuk rasa menggelar demonstrasi untuk menuntut hak-hak penduduk asli dan mereka berkemah di satu titik kawasan yang dikenal dengan nama “Aboriginal Tent Embassy”.
Mereka telah mendirikan tenda dan tempat penampungan di ibukota Australia itu yang menjadi lokasi kunci protes menentang Hari Nasional Australia.
Hari Australia menandai kedatangan para pemukim Inggris pada 26 Januari tahun 1788. Warga Aborijin mengangap hari itu sebagai Hari Invasi karena wilayah Australia diduduki tanpa ada traktat dengan penduduk asli.
Anggota Komisi Keadilan Sosial warga Aborijin dan Pulau Selat Torres Mick Gooda mengaku terkejut dengan aksi unjuk rasa warga Aborigin itu.
“Sebuah unjuk rasa yang agresif, memecah belah dan mengintimidasi seperti itu tidak pernah mendapat tempat dalam pembicaraan terkait masalah warga Aborijin dan Pulau Selat Torres atau dalam masalah lain,” kata Gooda kepada radio ABC.
“Meskipun ada kemarahan, frustrasi dan sakit hati di antara warga asli Australia, kami seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan diri kami sendiri,” tambah Gooda.
“Meskipun ada kemarahan, frustrasi dan sakit hati di antara warga asli Australia, kami seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan diri kami sendiri”, tegasnya.
Pemimpin warga asli Australia yang juga bekas Presiden Partai Buruh Australia, Warren Mundine mengatakan semua yang bertanggung jawab atas aksi hari Kamis harus mendapatkan sanksi.
“Tak seorang pun, termasuk perdana menteri negeri ini, yang patut mendapat perlakuan seperti itu,” kata Mundine.
“Saya yakin orang-orang yang menyebabkan masalah ini terjadi hukum harus dijatuhkan atas mereka,” tambah dia.
Sementara itu pada Jumat (27/1) sekitar 200 orang pengunjuk rasa yang marah melakukan aksi yang dimulai dari Tent Embassy menuju Gedung Parlemen di Canberra. Sepanjang perjalanan menuju Gedung Parlemen mereka menyanyi dan menari sambil membakar bendera Australia.
Suku Aborijin yang telah mendiami Australia sejak ribuan tahun lalu diyakini berjumlah sekitar satu juta orang saat bangsa kulit putih mulai mendiami Negeri Kanguru itu. Namun kini, dari 22 juta rakyat Australia jumlah warga Aborijin tinggal 470.000 jiwa saja.
Tak hanya jumlahnya yang menyusut, Aborijin menjadi suku minoritas yang paling rendah taraf hidupnya.
Angka harapan hidup warga Aborijin paling rendah dibanding warga dari etnis lainnya. Selain itu, jumlah warga Aborijin yang menjadi penghuni penjara dan menderita penyakit berat juga jauh lebih tinggi ketimbang etnis lainnya.
By. BBC
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar