sergapntt.com [KUPANG] – Sedih berkepanjangan,,! Begitulah yang dirasakan Rini (26) —nama samaran—. Pasalnya, perjalan cinta gadis asal Kabupaten Rote Ndao yang kini berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao itu tak pernah mencapai titik akhir. Koq bisa?
Siapa sih yang ingin gagal dalam percintaan? Tidak ada kan! Begitu juga dengan Rini. Namun ia tak menyangka kisah cintanya bakal selalu kandas ditengah jalan. Setiap kali ia merajut kasih bersama pria pujaannya, setiap kali pula ia dikhianati.
Sebagai anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, sejak kecil Rini sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Semua permintaannya pasti selalu dituruti. Karena rasa sayang yang besar itupula, sampai-sampai kehidupan asmaranya juga diatur oleh orang tuanya. Ya,,, waktu dibangku SMA, Rini dilarang untuk berpacaran. Orangtuanya takut kalau-kalau Rini salah bergaul.
Ia baru mulai mengenal dunia pacaran setelah taman SMA dan melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Kota Kupang, walaupun orang tuanya telah mewanti-wanti agar selama kuliah ia tidak boleh berpacaran.
Di Kupang Rini indekost dibilangan Penfui. Ia dikenal sangat cepat beradaptasi dengan teman dan lingkungan barunya. Apalagi teman sekampusnya juga banyak yang seasal dengannya.
Di kampus itu Rini kemudian berkenalan dengan Dani, sebut saja begitu. Mulanya, hubungan keduanya hanya sebatas teman. Namun saling suka mulai merasuk hati tatkala ia bersama Dani sama-sama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Silu, Kabupaten Kupang. Cinlok kali ya,,,! Pelan tapi pasti saling suka tumbuh menjadi rasa cinta yang membara. Tak pelak Dani pun langsung menyatakan cinta. So pasti langsung diterima. Keduanya akhirnya resmi berpacaran.
Hari-hari mereka lalui dengan canda tawa, romantisme dan semua yang indah-indah layaknya orang lagi mabuk asmara. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab, usai diwisuda, Rini dijemput orang tuanya dan kembali ke kampung halamannya. Sedangkan Dani menetap di Kupang. Sejak saat itu mereka terpaksa menjalan hubungan asmara jarak jauh. Jika rindu datang menggigit, teleponlah obatnya. Sekali tersambung, ngobrolnya bisa tiga sampai empat jam. Begitulah yang terjadi selama tiga tahun.
Hubungan mereka terjalin normal hingga Rini diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) di Pemkab Rote Ndao dan Dani diterima sebagai guru Agama disalah satu SMP di Kota Kupang.
Namun tanpa disadari Rini, ternyata selama mereka berjauhan, diam-diam Dani menjalin cinta dengan perempuan lain. Kedok cinta segitiga ini akhirnya diketahui Rini ketika ia mengikuti pra jabatan CPNSD-nya di Kota Kupang.
Ceritanya, usai mengikuti pra jabatan, Rini tak langsung pulang ke Rote Ndao. Ia tetap menginap di hotel yang menjadi tempat kegiatan pra jabatannya. Maksudnya ingin plesir satu dua hari lagi di Kupang, sekaligus bisa bertemu dan bermanja-manja dengan Dani. Namun sayang, harapan itu tak pernah terwujud. Yang terjadi justru sakit hati yang hebat.
Sehari menjelang kepulangannya ke Rote, Rini tiba-tiba dikontak oleh Dani. Singkat kata mereka pun bertemu. Didahului basa-basi, tiba-tiba Dani meminta maaf sekaligus pamitan pada Rini karena ia akan menikah dengan perempuan yang dipacarinya selama Rini berada di Rote Ndao.
Byiarrrrrrrrrrr, bagai disambar petir, Rini spontan jadi kaku. Mulutnya terkatup rapat tak bergerak. Airmatanya menetes tak karuan. Suasana jadi bisu mencekam. Apalagi ketika Dani dengan berani mengatakan sejak seminggu terakhir ia telah menjalani persiapan akad nikah di gereja. Tak lama berselang Dani pun pamit. Ia beralasan calon istrinya sedang menunggu di rumah untuk ke sama-sama gereja guna mengikuti sesi pengembalaan.
Sebenarnya Rani tak kuat melepas Dani pergi. Namun ia tak habis pikir kenapa ketulusan cintanya dibalas dengan kilaf yang tak bisa dimaafkan. Akhirnya, ia pasrah. Dengan hati yang diliput kesedihan, keesokan harinya ia pulang ke Rote Ndao. Galau bercampur asa yang terputus sempat menghampiri dirinya. Namun dengan doa ia akhirnya kuat. Lambat laun ia bisa melupakan Dani.
Seiring berjalannya waktu, dan juga peran teman akrabnya, Rini memulai membuka diri bagi pria lain. Keseringannya datang berlibur di Kupang membuat ia bertemu dengan Oskar, seorang karyawan PNPM Mandiri yang bertugas diwilayah Kabupaten Kupang.
Berangkat dari pengalaman sebelumnya, Rini tidak ingin menjalani hubungannya terselubung dari pantauan keluarga. Setelah resmi berpacaran, Rini langsung memperkenalkan hubungan mereka pada orang tuanya. Tapi niat dan kedatangan Oskar tidak menuai respon. Menurut orang tua Rini, penampilan Oskar yang cuek menunjukan sosok pribadi yang tidak pantas menjadi menantu mereka. Apa lagi diketahui Oskar adalah alumni Fakultas Tehknik yang identik dengan berkepribadian yang kurang baik.
Namun anggapan orang tunya itu tak mengurangi rasa sayang Rini pada Oskar. Perlahan ia berusaha menunjukan pada orang tuanya kalau apa yang dikuatirkan selama ini,,, itu salah!
Namun satu kebiasaan Oskar yang buruk adalah jarang ke gereja. Karena itu Rini berusaha menutupi agar tidak diketahui orang tuanya. Maklum, orang tuanya sangat sensitif dengan masalah yang satu itu.
Ketika didesak agar ke gereja, Oskar selalu memberi 1001 alasan. Termasuk berdalih tidak memiliki pakaian gereja. Untuk kasus yang terakhir, Rini nyatakan sanggup menyelesaikannya. Ditemani Oskar, keduanya mulai keranjingan mendatangi toko pakaian. Seiring hari berganti, setiap ada rejeki, Rini pasti membelikan pakaian baru untuk Oskar. Tapi sayang, prilaku malas ke gereja tidak pernah berubah.
Suatu ketika, tiba-tiba Oskar memberitahu kalau ia baru saja mendapat surat pindah penugasan ke pulau Lembata. Tanpa berprasangka yang aneh-aneh, Rini pun melepas kepergian Oskar. Praktis hubungan mereka hanya terjalin via telepon dan facebook. Oskar berjanji, ditempat tugas yang baru ia tidak akan berbuat yang macam-macam. Rini semakin yakin setelah tiga bulan berlalu, Oskar mulai rajin mengirim uang buatnya. Sebaliknya, untuk memotivasi Oskar agar ke Gereja, Rini selalu mengirim pakaian baru.
Selama Oskar bertugas di Lembata, Rini tak pernah punya firasat buruk. Apalagi setelah didahului dengan janjian, di bulan November 2011 lalu keduanya sepakat bertemu di Kupang. Dalam kebersamaan yang hampir seminggu itu keduanya bahkan sempat melihat beberapa bidang tanah untuk dibeli. Maksudnya, setelah menikah nanti tinggal dibuatkan rumah.
Siapa sangka pertemuan itu ternyata menjadi pertemuan terakhir bagi Rini. Setelah kembali ke Lembata, Rini tak pernah bertemu Oskar lagi. Bahkan lewat telepon sekalipun. Sebagai perempuan Rini mulai cemas. Tapi ia tak mau putus asa. Tiap hari ia terus berusaha menghubungi Oskar via handphone. Tapi sayang nomor yang dituju tidak kunjung aktif. Tiba-tiba suatu hari ia dihubungi seseorang. Ketika telepon berdering, ia melihat nomor panggilan masuk tidak dikenalinya. Setelah menahan sejenak, Rini kemudian menerima panggilan itu. Ya,, Tuhan ternyata itu bukan Oskar. Dari balik telepon terdengar seorang wanita bersuara lantang, “Saya ini istri Oskar. Saya sudah hamil 6 bulan”. Waduh,,,! Bagai disambar geledek, saat itu Rini nyaris pingsan. Namun ia berusaha kuatkan hati.
Untuk memastikan kebenaran kabar menyakitkan itu, Rini kembali berusaha menghubungi Oskar. Namun nomor handphonenya tak pernah aktif. Kini Rini benar-benar pasrah dan tetap berharap suatu saat nanti ada laki-laki yang serius mencintainya dengan segala kekurangan yang ia miliki.
“Kebahagiaan bukanlah seni membangun kehidupan yang bebas dari masalah. Kebahagiaan adalah seni untuk merespons dengan baik ketika masalah menghampiri kita”.
By. JL
1 Komentar
Comments RSS TrackBack Identifier URI


Kasian bnget ea…:(