Makanan Kecil dari Rumput Laut


sergapntt.com [MENIA] – Janji pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja informal dengan mendidik dan melatih masyarakat lewat berbagai keterampilan kini semakin menampakkan hasil. Sejumlah kelompok masyarakat sudah mulai mengolah rumput laut menjadi makanan kecil yang renyak dan gurih seperti dodol, kripik, stik dan berbagai jenis makanan kecil lainnya.
Cita rasa dari makanan yang berbahan dasar rumput laut ini juga beraneka ragam seperti rasa nangka, rasa lemon dan rasa pisang sehingga bau rumput laut tidak terasa lagi.
Yosefin Ratnawati Tome, salah satu pelatih pembuatan makanan dari rumput laut mengatakan, pemerintah sudah membentuk kelompok-kelompok di kecamatan dan desa di mana anggota kelompoknya sudah dilatih bagaimana mengolah rumput laut dalam bentuk makanan kecil.
“Memang sudah ada masyarakat yang mencoba membuat makanan dari rumput laut, namun mereka tidak mampu menghilangkan bau rumput laut serta hasil olahannya tidak renyah. Setelah kami mengikuti pelatihan di luar dengan difasilitasi pemerintah, maka sekarang kita sudah bisa membuat makanan kecil yang gurih dan tidak kalah dari makanan kecil buatan pabrik. Sekarang sudah banyak kelompok-kelompok di desa maupun kecamatan yang difasilitasi oleh pemda untuk memproduksi makanan kecil yang berbahan dasar rumput laut ini. Mereka kita latih dan pemerintah membantu dengan sedikit modal pertama,” ujarnya.
Untuk itu, maka masyarakat yang tergabung dalam kelompok-kelompok pembuatan makanan kecil dari rumput laut ini sudah bisa menghasilkan uang dari hasil olahan mereka.
“Sekarang tinggal pemerintah membuat label serta mengurus izin dari BPOM Kupang, sehingga bisa diproduksi secara besar-besaran. Setiap hari hasil olahan kita sangat laris, padahal kita belum menjual secara bebas. Yang paling laris yaitu dodol, kripik dan stik rumput laut karena selain harganya murah, rasanya juga gurih,” tambahnya.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat melihat kegiatan pelatihan pembuatan rumput laut di Seba mengatakan, hasil olahan rumput laut yang dibuat kelompok cukup membanggakan karena  rasanya tidak berbeda dengan makanan pabrik. Jika ini sudah digerakkan secara besar-besaran, maka akan menjadi lapangan kerja informal bagi masyarakat terutama kaum perempuan di Sabu sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
“Kita memiliki bahan baku berupa rumput laut yang melimpah disini. sekarang tinggak diurus izin produksinya dan dibuatkan label. Kita sudah perintahkan dinas teknis untuk mengurus itu. Industi rumah tangga seperti inilah yang akan menggeliatkan perekonomian kita kedepan. Saya selalu mengatakan bahwa jangan terlalu bermimpi untuk menjadi PNS karena dengan keterampilan seperti ini sudah bisa menghasilkan uang yang cukup,” ujarnya.
Untuk itu, Marthen berpesan agar mutu serta kebersihan makanan hasil olahan harus menjadi perhatian utama sehingga tidak kalah bersaing serta mendapat kepercayaan dari konsumen. “Kalau dulu anak-anak kita jajan di sekolah itu semuanya hasul pabrik, maka sekarang mereka harus menikmati buatan tangan terampil dalam daerahnya sendiri. Berbagai penganan kecil ini menjadi makanan yang bergizi dan bisa menjadi oleh-oleh dari Sabu Raijua,” ujarnya.
By. SE

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.