sergapntt.com [KUPANG] – Amarah itu emosi. Emosi itu ibarat sebuah garpu pengangkat jerami, yang mempunyai tiga gigi. Gigi yang pertama adalah “berpikir”. Gigi kedua adalah ketegangan fisik. Gigi ketiga adalah tingkah laku, berupa reaksi terhadap suatu situasi. Reaksi inilah yang mengkomunikasikan informasi, sekaligus mengungkapkan ketidaksenangan kepada orang lain.
Begitulah cerminan sikap orang Timor yang tergabung dalam Persehatian Orang Timor (POT) saat ‘menggugat’ Jefri Riwu Kore dan Kristo Blasin (Jeriko) karena ditetapkan oleh Partai GERINDRA dan PDIP sebagai Calon Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017.
Kemarahan POT, mulanya ditujukan kepada Ketua DPD Partai GERINDRA Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay. Esthon dinilai telah mengkhianati POT. Sebab, menurut Ketua POT, Jonathan Nubatonis; jauh sebelum suksesi Pilgub 2008 dan terpilih menjadi wakil gubernur mendampingi Frans Lebu Raya, Esthon bersama POT telah membangun komitmen agar selalu mengutamakan kepentingan POT dalam setiap gawe politik, terutama pesta demokrasi lima tahunan di tanah Timor.
Maklum Esthon dianggap sebagai pintu masuk orang Timor ke lajur kekuasaan. Sebab, Esthon merupakan satu-satunya orang Timor yang sedang memimpin partai dan menjabat sebagai wakil gubernur NTT. Sayang, komitmen tak terlaksana dalam Pemilukada Kota Kupang. Esthon lebih memilih Jefri Riwu Kore yang nota bene orang Sabu, sebuah pulau yang berbatasan langsung dengan Australia.
Padahal stok kader Timor cukup banyak dan punya potensi sama dengan Jefri Riwu Kore. Sebut saja, Gustaf Oematan dan Hengky Benu. Kedua kader Timor ini cukup diminati warga Kota Kupang. Walaupun dalam survei politik yang dimainkan Gerindra menempatkan Jefri Riwu Kore di nomor urut satu.
Sebagai orang Timor, Jonathan Nubatonis, Hengky Benu dan Gustaf Oematan cs tak terima dengan keputusan Gerindra. Walaupun Esthon telah berkali-kali mengatakan, keputusan Gerindra itu berdasarkan hasil survei dan pleno DPP Gerindra.
Kemarahan terus melebar, melalui sebuah ritual adat yang dilaksanakan di sebuah restoran di Kota Kupang, POT menarik dukungan terhadap FREN jilid I, termasuk rencana FREN jilid II di pilgub 2013 mendatang.
Tak hanya itu, mereka juga menyatakan tidak mendukung Jeriko sebagai Calon Walikota dan Wakil Walikota pasca Dan Adoe – Dan Hurek. Bagi mereka, lebih baik tidak memilih, daripada memilih Jeriko.
Pernyataan ini membuat FREN pening. Itu sebabnya, sejumlah PNS dilingkup Setda NTT dikerahkan untuk melawan orang Timor sekaligus memenangkan Jeriko di Pemilukada Kota Kupang.
Dimotori pejabat-pejabat eselon II, para pegawai negeri sipil yang dilarang undang-undang agar tidak berpolitik praktis mulai diterjunkan FREN ke lapangan tanding pemilukada dengan target menang.
Toh begitu sebagian besar orang Timor yang berprofesi sebagai PNS tak mau seperti kerbau dicocok hidung. Bathin mereka menolak sikap pilih yang ditunjukan FREN. Kenapa tidak sandingkan Gustaf Oematan – Kristo Blasin atau Hengky Benu – Kristo Blasin? Kenapa mesti Jeriko? Apa untungnya? Toh Jeriko belum tentu menang. Buktinya, di pemilukada kali lalu Jefri kalah. Padahal sebelum pemilukada dilaksanakan, Jefri kesana-kemari sudah sesumbar menang. Begitu kira-kira protes yang diajukan POT.
Kini Jeriko jadi bidikan utama. Kemarahan POT akan ditumpahkan kepada Jeriko. Karena Jeriko dianggap sebagai penyebab tergusurnya orang Timor dari Gerindra.
By. SHERIF
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar