Guterres pernah kalah tipis dari Ramos Horta pada pilpres 2007 mewakili Fretilin. Namun kini kondisi berbalik. Rakyat Timor Leste seakan sudah muak dengan pemerintahan yang lama.
“Umumnya, tidak ada orang ingin berinvestasi di negara tidak stabil, di mana terjadi konflik,” ujarnya.
Pilpres Timor Leste telah diwarnai dengan isu perekonomian yang telah tumbuh 9,9 persen pada medio 2007-2010. Pertumbuhan ini didorong oleh pendapatan minyak mencapai US$ 8 miliar.
Meski demikian Timor Leste tetap diganggu oleh masalah, seperti memiliki pemerintahan sipil lemah dan pendidikan tenaga kerja rendah dengan tingkat pengangguran lebih dari 20 persen.
“Kami masih membangun sebuah negara, kami masih memperkuat sebuah negara, tetapi kita juga harus menyediakan kebutuhan dasar dan tuntutan rakyat kita,” kata Guterres.
Guterres telah menjadi oposisi pemerintahan berkuasa dengan menuding pemerintahan perdana menteri Xanana Gusmao gagal membangun Timor Leste. Diungkapkan, dalam lima tahun pemerintahan, hampir US$ 5 miliar telah dikeluarkan untuk negara kecil berpenduduk 1,2 juta orang itu. Namun, ekonomi tidak berkembang produktif dan kehidupan masyarakat dalam setiap aspek malah semakin sulit, bahkan tidak ada perbaikan infrastruktur.
“Saat ini lebih sedikit akses terhadap air dan sanitasi. Kesehatan masyarakat, pendidikan dan sekolah semua mundur, ini menandai kegagalan,” ucapnya.
Sementara rival Guterres, Taur Matan Ruak mendapat dukungan dari partai koalisi dipimpin perdana menteri Xanna Gusmao, CNRT. Ruak merupakan veteran angkatan bersenjata yang juga berjuang selama 24 tahun menuntut kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia. CNRT memiliki pengaruh besar dalam menentukan hasil pilpres Timor Leste.
Pemerintahan koalisi CNRT memiliki dukungan besar setelah meningkatkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi dengan membangun jaringan listrik dan memberantas kelaparan selama lima tahun pemerintahan.
“Saya mengucapkan selamat kepada dua kandidat yang terus melaju ke putaran kedua,” kata Horta dalam suatu jumpa pers di Ibukota Dili.
Horta merupakan salah satu tokoh yang turut mengupayakan kemerdekaan dan membangun Timor Leste sebagai negara merdeka pada 2002. Peraih Nobel Perdamaian 1996 itu pernah menjadi menteri luar negeri dan perdana menteri bagi Timor Leste.
“Di tengah malam pada 19 Mei, saya akan menyerahkan kepemimpinan negara kepada presiden baru, yakni satu dari dua orang yang sekarang menuju putaran kedua,” kata Horta, Senin (19/3/12).
Pilpres Timor Leste secara umum berlangsung aman dan damai. Itu sebabnya, Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon mengucapkan selamat kepada rakyat Timor Leste. Dia bangga karena pemilu dapat dilakukan dalam suasana tenang dan tertib.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.



Tinggalkan komentar