Warga Tiga Kecamatan dapat Bibit Jagung


sergapntt.com  [ATAMBUA] – Guna mendukung produksi jagung pada musim tanam 2011-2012, Novanto Center membagikan 500 kilogram bibit jagung kepada masyarakat 10 desa di tiga kecamatan yakni Kecamatan Weliman, Wewiku dan Rinhat.
Untuk Kecamatan Weliman, warga desa yang mendapatkan pembagian bibit jagung antaranya Desa Leunklot, Taaba dan Desa Haliklaran, Laleten, Bonetasea dan Umalawain. Kecamatan Rinhat antaranya Desa Saenama dan Kecamatan Wewiku Desa Biris, Seserai dan Badarai.
Demikian dikatakan, koordinator Novanto Center Kabupaten Belu, Jefri Nahak ketika menghubungi, Selasa (13/12) melalui telepon selularnya disela-sela membagikan bantuan bibit jagung.
Dikatakan, bibit jagung yang dibagikan oleh Novanto Center pada musim tanam tahun ini bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi jagung petani. Selain itu, pembagian bibit juga sebagai bentuk kepedulian Novanto Center terhadap masyarakat petani dalam memperkuat kehidupan ekonomi masyarakat, terutama memproduksi jagung dalam jumlah dan kualitas yang bagus.
“Ini adalah langkah konkrit pak Setya Novanto melalui Novanto Center membantu masyarakat dalam hal bibit, sehingga masyarakat dapat memproduksi hasil pertanian berupa jagung dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya,” kata Jefri.
Sekretaris DPD II Partai Golkar Kabupaten Belu itu mengatakan, jagung yang dibagi pada masyarakat 10 desa dari tiga kecamatan merupakan sumbangan secara cuma-cuma dari Novanto Center, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan musim tanam ini dengan baik dan pada gilirannya produksi jagung meningkat. Ketika meningkat, pasti membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat sendiri.
“Bibit jagung yang dibagikan gratis dan semua untuk membantu dan mengatasi kekurangan bibit jagung di masyarakat petani,” katanya.
Dikatakan, pihaknya berharap bibit jagung yang diberikan dapat digunakan pada musim tanam ini untuk meningkatkan produksi jagung dan bukan untuk kepentingan konsumsi. “Kami berharap bibit jagung ini dimanfaatkan sebaiknya pada musim hujan ini,” bilangnya.
Menyoal bantan lain pada musim tanam ini, dia mengatakan, sampai saat ini barulah bantuan bibit jagung yang diberikan. Pihaknya belum mengatahui bantuan lainnya untuk petani sebagai dukungan kepada petani meningakatkan produksi jagung bagi keluarga petani masing-masing.
By. ATB

 

Kejari Ajukan Memori Kasasi Kasus Korupsi Pengadaan Ambulans


sergapntt.com [ATAMBUA] – Kejaksaan Negeri (Kejari) Atambua akhirnya memenuhi janjinya untuk menyerahkan memori kasasi ke Mahkamah Agung (MA) melalui Pengadilan Negeri (PN) Atambua, Senin (12/12) terkait dengan putusan bebas atas terdakwa Frid Atok yang tersangkut dugaan korupsi pengadaan empat unit ambulans pada Dinas Kesehatan Kabupaten Belu.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Atambua, Gasper A Kase yang dihubungi, Selasa (13/12) melalui telepon selularnya mengatakan, pihaknya melalui jaksa penuntut umum (JPU) telah mengajukan dan menyerahkan memori kasasi ke MA melalui PN Atambua, Senin (12/12) atas putusan bebas melalui disenting opinion majelis hakim PN Atambua.
“Memori sudah kami ajukan, Senin kemarin melalui PN Atambua. Saat ini tinggal menunggu proses di MA nanti,” kata Gasper Kase. Dikatakan, dengan penyerahan memori kasasi, maka proses hukum atas terdakwa Frid Atok belum selesai dan dinyatakan belum berkekuatan hukum tetap. Hasil dari kasasi barulah dinyatakan berkekuatan hukum tetap, apapun hasilnya.
Dia berharap, kasasi yang diajukan bisa diputuskan oleh MA berdasarkan fakta-fakta yang diajukannya.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pidana khusus (Pidsus) Kejari Atambua, Patrik Neonbeni  menjelaskan, pihaknya sejak, Senin lalu sudah mengajukan memori kasasi ke MA melalui PN Atambua terkait dengan putusan bebas terhadap terdakwa dugaan korupsi pengadaan empat unit ambulans, Frid Atok. “Kami sudah ajukan memori kasasi ke MA melalui PN Atambua,” urainya.
Diuraikan, putusan bebas oleh majelis hakim dalam perkara pengadaan ambulans dengan terdakwa Frid Atok selaku kontraktor pada intinya majelis hakim salah menerapkan peraturan hukum atau tidak menerapkan sebagaimana mestinya.
Karena kesalahan menerapkan peraturan hukum, pihaknya menuangkan argumen-argumen yang mendukung pernyataannya, dalam memori kasasi yang diajukan ke MA melalui PN Atambua.
Pada kesempatan itu, dia memberikan apresiasi kepada salah satu anggota majelis hukum, almarhum Robert Simbolon karena sangat tepat analisisnya dalam disenting opinion yang berbeda pendapat dengan hakim lainnya yakni Deson Togatorop dan Frans Mamo serta sependapat dengan JPU yang menyatakan terdakwa bersalah dan harus dihukum.
Patrik Neonbeni berharap, memori kasasi yang didalamnya tergambar jelas soal kasus tersebut dapat diputuskan secara benar dan pada gilirannya terdakwa dapat dihukum karena merugikan negara dengan nilai mencapai Rp 100 juta lebih. “Kami hanya bisa berharap, putusan MA berdasarkan fakta-fakta yang kami ajukan, bukan seperti yang diputuskan oleh dua majelis hakim Pengadilan Negeri Atambua beberapa waktu lalu,” pungkasnya.
By. TMR

 

Satlantas Operasi pada Hari Minggu


sergapntt.com [ATAMBUA] – Kasatlantas Polres Belu, AKP Apolinario da Silva yang dihubungi, Selasa (13/12) di ruang kerjanya menegaskan, pihaknya akan terus melakukan operasi penertiban lalulintas di jalan  raya. Tidak saja dilakukan pada hari kerja, pada hari libur maupun Jumat dan Minggu akan tetap dilaksanakan operasi terhadap pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan lainnya.
“Hari Minggu, Jumat dan hari libur kami tetap akan operasi terhadap kendaraan bermotor,” jelasnya.
Dikatakan, berdasarkan hasil evaluasi tahun 2010 tingkat Polda terhadap tingkat kecelakaan lalulintas di NTT ternyata sangat tinggi. Hal ini akibat dari kepolisian khususnya Satlantas terlalu banyak memberikan toleransi kepada pengguna jalan, di mana pada hari libur nasional, hari Jumat, Minggu dan hari keagamaan lainnya pengedara kendaraan dibiarkan bebas tanpa diambil tindakan. Akibatnya banyak terjadi kecelakaan lalulintas.
Mengingat toleransi yang berlebihan ujar perwira pertama itu, kepolisian khususnya Satlantas mulai memberlakukan operasi penindakan kepada pengendara sepeda motor maupun mobil, termasuk hari Minggu, Jumat dan hari libur nasional. “Karena toleransi, masyarakat menyalahartikan kalau hari Jumat, Minggu dan hari libur besar tidak ada operasi dari Satlantas. Namanya aturan tidak mengenal hari, jadi operasi tilang tetap jalan,” urainya.
Ia menambahkan, pihaknya akan tegas dan tidak main-main dengan kondisi ini. Kepolisian hanya memberikan toleransi kepada masyarakat yang akan ke gereja pada hari Minggu terlebih pada pukul 06.00-11.00 Wita dan sore hari pada pukul 17.00-19.00 Wita.
Selebihnya dari jam tersebut, pihaknya akan melakukan operasi penertiban bagi pengguna jalan. Pada hari Jumat, pihaknya juga akan memberikan toleransi kepada umat muslim menjalankan sholat Jumat pada pukul 12.00-13.30 Wita. Lewat dari jam tersebut akan ditilang.
Dia menguraikan, pihaknya akan seutuhnya menegakkan aturan yang semuanya bukan untuk kepentingan polisi melainkan kepentingan setiap pengguna jalan. Selain itu penegakkan aturan juga untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam berlalulintas di jalan.
Kepolisian khususnya Satuan Lantas telah menerapkan penindakan dari pada edukasi. Penindakan kini mencapai 80 persen dari edukasi. “Kalau ada pelanggaran, kami langsung tindak, karena edukasi sudah banyak sekali diberikan, sehingga memanjakan pengguna jalan,” sergahnya.
Dengan peningkatan persentasi penindakan, pelanggaran lalulintas mengalami penurunan. Tahun 2010 angka pelanggaran mencapai 2.592 pelanggaran, sedangkan pada tahun 2011 setelah ditingkatkan penindakan, mengalami penurunan kasus pelanggaran sebanyak 37 persen atau 1.627 angka pelanggaran. Mayoritas pelanggaran yang terjadi antaranya berboncengan tiga, berboncengan dua orang tanpa helm, tidak memiliki SIM, tidak ada STNK, surat-surat mati, mabuk dan knalpot racing.
Untuk angka kecelakaan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan, di mana pada tahun 2010 ada 95 kasus lakalantas dengan rincian 33 orang meninggal, 59 luka berat. Pada 2011 turun drastis sebanyak 51,3 persen dari tahun sebelumnya. Di mana lakalantas hanya 54 kasus. Dari angka tersebut, meninggal dunia sebanyak 20 orang dan luka berat 36 orang.
Menurutnya, dalam operasi cipta kondisi, pihaknya akan melakukan operasi terhadap semua pengendara, termasuk anggota TNI yang melakukan pelanggaran. Kalau untuk TNI, pihaknya akan berkoordinasi dengan POM ketika ada pelanggaran dan semua sudah ada kerja sama.
Dia mengharapkan masyarakat pengguna jalan untuk menaati aturan lalulintas, karena dengan menaati aturan yang ada pastinya akan nyaman dan aman. Sebaliknya, tidak akan menimbulkan ketidakamanan bagi diri sendiri dan orang lain.
By. ATB

Rela Jadi “Simpanan” Karena Tak Sudi Hidup Miskin


sergapntt.com [KUPANG] – Hidup miskin kadang membuat sebagian orang tak nyaman. Begitupun dengan Inggrit (26) —nama samaran—. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga yang morat-marit, usai lulus SMA  gadis manis asal sebuah kabupaten yang berdekatan dengan benua Australia itu hengkang menuju ke Kota Kupang. Sayang, di kota penuh karang ini ia terperangkap maksiat.
Inggrit setahun kemudian setamat SMA, bisa dibilang gadis belia dengan bau harum semerbak. Ia cantik, mulus dan seksi yang selalu tampil wangi mempesona sepanjang hari. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu tercengang. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika tak menggodanya.
Kisah suramnya dimulai ketika di pertengahan tahun 2010 lalu, ia berkenalan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai PNS. Melalui pria yang belakangan jadi pacarnya itu, ia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di sebuah instansi pemerintah di Kota Kupang. Setahun lebih tugasnya hanya melakukan pekerjaan administrasi surat menyurat. Suatu ketika ia dimutasikan ke sebuah dinas. Disana ia ditugaskan membantu sekertaris si Kepala Dinas (Kadis). Senangnya bukan kepalang. Di tempat baru dengan suasana baru, dia dapat pula hal-hal baru. Apalagi pekerjaannya tidak monoton. Malah kadang ia mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu bosnya yang kebanyakan datang dari kalangan pejabat dan pengusaha.
Tiga bulan menjadi sekertaris, Inggrit berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan, lengkap dengan isi kantong yang tebal. Maklum pria yang bersangkutan masuk kategori pejabat kecil yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya, om Tajir. Itu karena kesehariannya ia agak boros.
Dia memang tidak mudah lagi. Walau begitu, ia masih punya pesona. Masih romantis, bisa dibilang begitu! Sebulan setelah perkenalan, lewat HP om Tajir berhasil memikat Inggrit dengan gombal-gambulnya. Ia lalu mengajak Inggrit jalan-jalan. Mulai dari makan di restoran paling mahal di Kota Kupang hingga berbelanja, mulai dari pakaian, peralatan kosmetik hingga hand phone bermerk. Mendapat pelayanan ekstra seperti ini, tentu saja Inggrit senang bukan kepalang. Kapan lagi? Pikirnya! (Kira-kira begitu gejolak hatinya saat itu)
Sebulan kemudian, Inggrit kembali diajak makan dan berbelanja. Kali ini dia benar-benar dibuat happy abis. Apa yang ia mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Inggrit benar-benar puas. Ia merasa seperti hidup di kayangan yang semua kebutuhan serba ada.
Habis berbelanja, jelang malam tiba keduanya beranjak pulang. Dalam perjalanan, om Tajir dengan penuh semangat bercerita mengenai keadaan rumah tangganya. Kata om Tajir, hampir empat tahun terakhir ini hidupnya bagai mati suri. Ia sering kesepian. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat ini yang jadi masalah, ha…..ha….ha…,” imbuh om Tajir ngakak. Inggrit pun ikut-ikutan tertawa.
Kala itu jarum jam telah menunjukan pukul 21.00 WITENG. Mobil yang dikemudikan om Tajir terus melaju kencang. Namun ketika memasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Tajir membelokkan arah mobilnya menuju sebuah motel yang biasa dipakai untuk tempat esek-esek. Inggrit sebenarnya sudah menebak apa yang akan dilakukan om Tajir nanti setibanya di motel. Inggrit ingin menjerit, tapi jujur dia tak kuat. Hatinya sudah terlanjur terpikat rayuan dan kantongnya om Tajir. Betul kata perasaannya, di motel itu Inggrit benar-benar “diseruduk”.
Sejak itu, om Tajir seperti kecanduan. Inggrit lantas dijadikan istri simpanannya dengan syarat, selain dia, tak boleh lagi ada laki-laki lain yang mampir di kehidupan Inggrit. Alhasil, Inggrit lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer. Sejak itu pula semua kebutuhan hidup Inggrit dipenuhi om Tajir.
Tapi usia tua benar-benar jadi penghalang. Setelah begitu bergairah di babak awal, empat bulan kemudian “serangan” om Tajir mulai kendur tak bertenaga. Kebut cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajak tidur, om Tajir hanya mampu mengelus-ngelus. Inggrit sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, Inggrit dapat ilham bahwa dia ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh harta dan rupiah. Misalnya saja tiba-tiba suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh tak jauh-jauh amat. Dengan begitu tak usah repot-repot bekerja. Tinggal menikmatinya saja. Uh,,,, dasar,,,,!
Tapi,,,,! Inggrit kecewa berat, saat om Tajir menolak ajakannya untuk menikah. Berulangkali diminat, berulangkali pula Om Tajir menolak. Karena kesal Inggrit pun mengancam, “Kalau lu tak mau menikahi beta, maka beta akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu”. Mendengar itu, om Tajir seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan main. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat.
Inggrit akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Tajir berjanji akan memberikannya uang juta rupiah, asal dia mau diam dan terus merahasiakan perselingkuhan mereka. Om Tajir ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang dengan segepok uang. Setelah uang diserahkan, om Tajir langsung pamit dan tak mau lagi berhubungan dengan Inggrit. Walaupun hanya sekedar lewat telepon atau SMS.
Toh begitu, dalam hati, Inggrit merasa telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdayai lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan. Hus,,, ngajak dosa bareng ya,,!
Lepas dari om Tajir, Inggrit menjalin hubungan asmara dengan bang Ol –sebut saja begitu–. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan.
Bang Ol mulai punya gelagat tertarik pada Inggrit saat secara tidak sengaja keduanya bertemu dalam sebuah acara pesta pernikahan. Matanya selalu genit memandangi Inggrit. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, Inggrit mulai pasang perangkap. Berhasil! Seminggu kemudian, bang Ol mengajaknya kencan. Hanya saja kali ini Inggrit diajak ke Bali. Disana mereka merengkuh nikmat melupakan dosa. Hubungan mereka pun berlanjut. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinas bang Ol. Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah Inggrit datangi, misalnya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, bahkan hingga Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu Inggrit bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang Inggrit bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Tajir dan bang Ol. Benaknya sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya dengannya. Namun karena kemiskinan yang pernah dia rasakan bersama keluarganya, perasaan itu akhirnya pupus. Dalam sanubarinya seakan tertanam tekad, “Aku rela jadi simpanan, asalkan aku mendapat harta dan rupiah yang banyak. Biar aku tidak miskin lagi”.  
Bagi Inggrit, lebih bagus menjadi wanita simpanan atau gundik para pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatnya sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Inggrit mengakui, perasaan risih selalu menemani kehidupan hari-harinya. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang ia dapat. Maklum, warga sekitar tempat tinggalnya tak tahu dari mana sumber uang yang ia geruk. Bahkan, orangtuanya pun kaget minta ampun begitu tahu kalau Inggrit telah menjadi kaya raya, memiliki rumah dan mobil. Namun Inggrit selalu berhasil memberi alasan dengan dalih semua kekayaan yang ia miliki itu diperoleh dari hasil kerjanya sebagai karyawan di sebuah LSM berdonatur luar negeri. Inggrit sadar apa yang ia lakukan itu dosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Disisi lain, dia tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubungan Inggrit dengan bang Ol sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu bang Ol meminta persetujuan Inggrit untuk mengakhiri hubungan mereka. Inggrit sih setuju-setuju saja. Baginya yang penting ada upah. Setidak-tidaknya untuk ongkos kesendiriannya. Setuju! Bang Ol lalu memberinya uang. Jumlahnya lumayan buat foya-foya selama setahun. Dengan uang itu pula Inggrit kemudian membuka usaha kecil-kecilan. Sebuah mini market berdiri anggun di samping rumahnya.
Inggrit sendiri tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. “Capek,” katanya. Dia ingin menikah dan hidup normal seperti orang kebanyakan. Memang kadang dia malu terhadap dirinya sendiri. Tapi mau bilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Dia hanya bisa pasrah menanti jodoh sembari berharap Tuhan mau mengampuninya. Semoga!
By. CHRIS PARERA

Pemilukada,,,,,,,,,!


Sebelum pemilukada, rakyat selalu menjadi yang nomor satu. Sang calon sangat sensitif publik. Persoalan dan penderitaan rakyat terbentang seperti “balok” di pelupuk mata. Namun, sudah lumrah, balok itu menjadi setitik noktah, malah nyaris tak tersentuh ketika kursi panas sudah diduduki. Mengapa?
Pemilukada seperti layar lebar, sejenak mengangkang ke pikiran dan membooming. Kemudian, lewat waktu, ia terbujur nyaris mati. Pamflet, selebaran, spanduk, kampanye bercampur massa merupakan bagian dari hipnotisasi itu. Semua pikiran seperti tertekuk, menyorot tajam pada sosok yang ingin memimpin. Pikiran pada kehidupan menjadi gamang. Kehidupan nyata lantas terlupakan, karena kata dan janji itu seperti mencerapkan bahasa hiburan tak berhenti, dengan kepuasaan berjengkal-jengkal.
Visi dan misi tertulis seperti kata-kata hidup yang terlahir dari pembacaan kilas rangkai harapan massa. Namun, penggelembungan itu menjadi santet, seperti meneror dan mengintimidasi tanpa rasa sakit dan takut. Malah orang terbawa menjadi satu hati karena tak sadar tersiksa dalam kerangkeng itu. Sosok, lebih sesak karena menilai sendiri kebenarannya. Sosok seperti mengutuk, menularkan wabah pada masyarakat. Namun, tiada seorang pun tahu, seperti apa dirinya menjadi, sebelum tersohor menjadi calon. Sosok menjadi popok, begitu pasrah menampung “kotoran”, seolah-olah sekian mendengarkan, merasa senasib dan sepenanggungan, dan mengkahyalkan kebahagiaan bersama dari sebuah kursi, dengan kue yang diperebutan banyak kepentingan.
Celah ini menjadi semakin takabur, karena bercampur dengan mamon (duit). Tangan terendah membuka dan mengatup, dengan genggaman penuh durian jatuh. Apa pula yang terjadi, kehidupan itu terkapar dalam gengaman antara duit dan saku, perut dan kehendak.
Satu piring ubi tatas bisa diganti dengan Rp 50 ribu bahkan Rp 100 ribu per kepala keluarga, hanya untuk mencari pendukung. Benar-benar “Bantuan Tunai Langsung.” Sementara parpol berpesta pora, KUPD kegenitan, sosok mengelus kursi, toh rakyat tetap gigit jari. Cuma bisa melihat, mendengar, mengagumi, namun tiada pernah bisa memiliki duit sekitar Rp 10 juta, bahkan sepanjang hidupnya, pada tawar menawar di lantai bursa pencalonan tersebut. Pemilukada, memiskinkan atau malah memperkaya? Benar! Dua-duanya sedang bertarung untuk memiskinkan dan memperkaya, tergantung pada siapa membayar siapa, menang atau kalah.
Sesudahnya, menguap menjadi senyap! Menjual daerah, semua mata tengah memandang. Ada emas, batubara, fosfor, biji besi, panas bumi. Katanya, potensial! Krisis energi, minyak melambung, dolar makan rupiah, tetapi pemilukada tetap hiruk pikuk. NTT itu miskin, tertinggal. Bocah-bocahnya kurang gizi. Tetapi, kok sebagian dari mereka di tanah rantau (kaum diaspora NTT) gemuk-gemuk? Tiga kenyataan ini adalah pilihan sambung bersambung.
Pertama, melihat potensi, pemimpin terpilih membubuhkan tanda tangan pada kontrak karya, dan sebuah daerah dari hektar luas pertanian, perkebunan, peternakan, perkampungan melayang ke meja para kuasa tambang. Kedua, tambang menghidupkan pendapatan daerah, menumbuhkan perekonomian dan berakibat pada pendapatan per kapita. Atau merupakan jalan keluar zero to zero, setelah pesta politik itu berakhir dengan utang? Ketiga, bocah-bocah itu kehilangan tempat bermain dan makanan mereka, karena ladang mereka sudah disulap menjadi ladang proyek. Keempat, dengan cara apa lagi untuk meyakinkan sang terpilih bahwa ruang hidup yang sudah terpelihara bertahun-tahun itu hanya perlu ditriger menjadi lahan usaha yang local contain. Kelima, penghematan dan pertumbuhan, efisiensi dan elaborasi hanya bisa datang dari pencermatan ruang hidup dan kebiasaan boros memboros.
Tradisi yang boros, agama yang boros, pendidikan yang boros, energi yang boros, informasi yang boros, politik yang boros, dan waktu yang boros. Ini yang harus diubah. Mulai menyikapi krisis energi, inflasi, dengan tidak memboros! Namun, persoalannya ada pada sang terpilih. Sering dan sangat mungkin, daerah, hektar per hektar dijual dengan MOU dan tanda tangan. Rakyat menggelepar. Pemilukada, dari pesta menjadi utang. Utang dibayar tanah. Tanah dibayar tangis dan darah. Dan NTT, dari potensial menjadi potensialan (ha…ha…..ha….!). 
By. COPAS