Gubernur NTT: Gemar Baca Jangan Hanya Slogan !


sergapntt.com [KUPANG] -> Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya meminta jajaran Badan Perpustakaan Daerah Provinsi NTT agar pencanangan bulan gemar membaca dan hari kunjungan perpustakaan tidak sekadar slogan tetapi mempunyai makna adanya tanggungjawab bagi setiap lembaga perpustakaan, akan adanya perubahan baik dalam konsep, tujuan, peranan maupun cara pengelolaan perpustakaan agar dapat menggerakan masyarakat menjadi makin sadar informasi.
Permintaan tersebut disampaikan Gubernur saat membuka dengan resmi pameran buku, lomba kepustakaan dan bimbingan teknis perpustakaan desa/kelurahan tahun 2011 di Badan Perpustkaan Daerah Provinsi NTT, Senin (12/9/11).
Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, lanjut Gubernur, sangat berpengaruh dalam perkembangan perpustakaan dan telah merubah konsep dasar maupun peran administrasi akan berubah menjadi partner aktif dalam dunia pendidikan dan peningkatakan pengetahuan, yang berperan mendidik masyarakat untuk dapat memperoleh dan menyeleksi informasi yang semakin banyak tersedia, baik dalam jumlah maupun medianya. Dengan adanya teknologi informasi yang selalu berkembang dengan kecepatan tinggi, kata Gubernur, telah menyediakan peluang bagi perpustakaan dalam menghimpun, menyimpan, mengolah dan menciptakan informasi dengan cara baru.
Gubernur juga meminta agar Badan Perpustakaan NTT melakukan terobosan-terobosan dan menciptakan inovasi-inovasi baru dalam produk dan layanan kepada masyarakat. ”Kerjasama dengan pelbagai pihak harus ditingkatkan karena dengan kemampuan dan keberanian untuk berkomunikasi, bekerjasama dan saling berbagi informasi akan menuju ke arah perbaikan dan perkembangan,” kata Gubernur seraya menambahkan, kegiatan seperti ini merupakan ajang untuk memperkenalkan perpustakaan dan mitranya yang memotivasi masyarakat untuk membaca dan menjadikannya sebagai budaya.
Di tempat yang sama Kepala Badan Perpustakaan Provinsi NTT, Drs. Nahor Talan dalam laporannya mengatakan, tujuan dari kegiatan pameran buku, lomba kepustakaan dan bimbingan teknis perpustakaan desa/kelurahan tahun 2011 adalah membantu masyarakat untuk memperoleh informasi dengan mudah; mengajak masyarakat agar gemar membaca; meningkatkan pemahaman dan pengungkapan informasi tentang perpustakaan secara lengkap, jelas dan terinci yang diperoleh dari bahan bacaan; menumbuhkan kecintaan menulis di kalangan anak dan remaja serta meningkatkan pengetahuan pengelola perpustakaan dalam mengembangkan perpustakaan umum desa/kelurahan.
Menurut Nahor, pameran buku berlangsung selama lima hari dari tanggal 12 hingga 16 September, pemilihan duta baca anak pada 13 September, dan kegiatan bimbingan teknis perpustakaan bagi pengelola perpustakaan desa/kelurahan 14 sampai 16 September 2011. (by. ferry guru)

Ima (21), Diperkosa Majikan Lalu Digilir Pria Hidung Belang


sergapntt.com [ENDE] -> penyesalan selalu datang terlambat. Ibarat menahan kereta dari belakang. Begitulah yang dialami Ima (21), sebut saja begitu. Hampir dua tahun ini ia terpuruk di rumahnya yang tak lebih luas dari sebuah garasi mobil, berdinding batu tanpa semen, dan berlantai tanah. Ia seolah tak mampu bangkit kembali….
Awal tahun 2007, Ima begitu ceria ketika seseorang datang ke rumahnya dan menawari pekerjaan. Apalagi di luar negeri dengan gaji selangit. Hati bocah tamatan SD itu semakin berbunga ketika orangtuanya pun merestui keinginan tersebut.
Si ayah maupun si ibu sama sekali tidak curiga. Yang ada di benak mereka hanyalah bisa segera keluar dari himpitan kemiskinan. Maklum, kedua orangtuanya hanyalah buruh tani. Bukan buruh tani harian, melainkan buruh yang hanya sesekali dipanggil dengan tarif Rp 30.000 sekali panggil. Di mata mereka, orang yang mengambil Ima adalah ”malaikat penolong”.
”Yang penting bawa banyaaaak..,” kata sang ibu.
Ima yang kala itu berusia 17 tahun lalu dibawa pergi oleh sang ”malaikat penolong”. Di depan sang ibu, Ima dijanjikan akan dicarikan pekerjaan sebagai  pembantu rumah tangga di Malaysia dengan gaji jutaan rupiah. Namun, sesampainya di malaysia, ”Saya diperkosa…,” papar Ima penuh emosi saat ditemui di rumahnya.
Kenyataannya, sang ”malaikat penolong” adalah ”setan” yang terus bergentayangan di kampung-kampung kumuh untuk mencari Ima-Ima yang lain. Ima yang punya cita-cita bisa kaya cepat lewat kerja di Malaysia, eh,,, justru diperkosa lalu dipaksa jadi PSK.
”Saya memang berangkat tanpa biaya. Artinya, semuanya sudah diuruskan. Tetapi di Malaysia, saya tidak diberi kerja seperti yang dijanjikan. Majikan saya itu,,,, (Ima terdiam meneteskan air mata,,), lalu saya dijual dan dipekerjakan sebagai PSK,” ujar Ima terbata-bata.
Sesekali ia menarik napas sangat dalam. Kenyataan ini bukan satu-satunya pil pahit yang harus ia telan. Setelah dijual, Ima pun mulai digilir para lelaki hidung belang. Sedikitnya, tiap malam meladeni 3 tamu. Sudah begitu Ima tetap diperas oleh majukannya.
 ”Saya ditagih oleh bos. Katanya saya punya utang 25 ribu ringgit yang dipakai saat saya ke Malaysia,” timpalnya.
Walau tak bergaji, selama 2 tahun di Malaysia, Ima masih bisa dua kali mengirim uang sebesar Rp. 3 juta dan Rp. 4 juta ke orang tuanya. Uang itu hasil tip dari para tamu yang ia kumpulkan. Nasib pilu Ima berakhir ketika suatu saat ia mendapat tamu dari Kantor Imigrasi Malaysia. Begitu mendengar kisahnya, sang tamu menyarankan Ima melarikan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Pihak KBRI menyarankan Ima melaporkan diri ke polisi. Oleh polisi, Ima kemudian diserahkan ke Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Malaysia yang kemudian mengirimnya ke Jakarta.
Tanggal 3 Maret 2009, IOM Indonesia mengembalikan Ima ke pangkuan keluarganya di sebuah desa di Kabupaten Ende. Ima memang telah kembali, tetapi ia tak kunjung pulih. Ia lalui hari dengan mengisap rokok dan tuak (moke) pemberian orang.
Ima hanyalah satu dari ribuan perempuan yang harus menangis pilu. Ia adalah bagian dari lingkaran setan perdagangan manusia yang semakin marak di NTT. Uang yang berputar dalam ”bisnis” haram ini memang luar biasa. Di NTT sendiri, setahun perputaran uang bisa mencapai Rp. 150 miliar. Sedangkan seluruh Indonesia mencapai  sedikitnya Rp 60 triliun per tahun. ”Bisnis” ini hanya kalah tipis dari bisnis pelacuran, yang menghasilkan uang lebih besar. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, bisnis perdagangan manusia di seluruh dunia setiap tahun menghasilkan 31,6 miliar dollar AS. Angka itu hanya kalah dari peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang.
Data-data yang dimiliki berbagai pihak hanyalah fenomena gunung es. Jumlah korban sesungguhnya tidak diketahui dengan pasti. Selama masih terdapat permintaan dan penawaran, ”bisnis” haram ini tidak akan pernah mati.
Secara empiris, sebagian besar korban adalah perempuan. Laki-laki yang menjadi korban perdagangan manusia umumnya adalah remaja laki-laki. Mereka dipekerjakan di jermal atau korban kaum pedofilia. Dalam budaya masyarakat yang patriarki, masih terdapat diskriminasi gender. Perempuan dan anak perempuan seolah hanya jadi pelengkap seksualitas dan dianggap rendah.
Budaya yang sudah mengakar sejak dulu itu, sulit sekali diubah. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kemiskinan, pengangguran, kawin usia dini, serta budaya masyarakat yang hanya mencari kerja bukan menciptakan kerja.
Masyarakat, khususnya perempuan, yang berada dalam kondisi terjepit secara ekonomi dan sosial itu mudah sekali diiming-imingi dan dibujuk oleh para calo. Mereka dijanjikan bekerja di kota atau di luar negeri dengan janji upah yang tinggi. Namun, sesungguhnya yang terjadi adalah penipuan.
Para pelaku perdagangan manusia semakin cerdik. Mereka menciptakan berbagai modus operandi agar calon korban terbujuk dan jejak kejahatan mereka tidak terlacak. Selain dijanjikan bekerja di luar negeri, banyak juga gadis yang dijanjikan menikah dengan orang asing. Pada akhirnya, mereka dipaksa bekerja sebagai pelacur atau pekerja paksa.
Pelaku yang telah tertangkap, belum tentu merupakan otak dari jaringan perdagangan manusia itu. Mereka umumnya hanyalah kaki tangan atau lapis ke sekian dari jaringan yang sangat rumit. Polisi sulit mengungkap karena jaringan mereka begitu rapi dan terorganisasi. ADA YANG MAU IKUT IMA??? (by. hengky woda)

Hadapi Teroris, Presiden AS Ingatkan Seluruh Dunia Tetap Waspada


sergapntt.com [NEW YORK] -> Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperingati 10 tahun serangan 11 September di New York, Washington dan Pennsylvania. Tiga lokasi tersebut dipilih karena ketiganya menjadi tempat terjadinya empat insiden pembajakan pesawat yang berujung pada tewasnya hampir 3000 orang.
Pusat acara peringatan ini sendiri akan dilakukan di World Trade Center, New York, dimana dua menara kembar yang pernah berdiri di sana hancur saat serangan teroris terjadi.
Peringatan kali ini akan diwarnai dengan aksi mengheningkan cipta di waktu yang bertepatan dengan serentetan kejadian pembajakan pesawat oleh para teroris, yaitu saat dua pesawat yang dibajak oleh para teroris menyerang menara kembar, kemudian saat pesawat menghantam Pentagon dan satu pesawat lainnya jatuh di kawasan perladangan di Pennsylvania setelah penumpang menggagalkan aksi para pembajak.
Peringatan di New York akan berlangsung pada siang hari waktu setempat dan akan diwarnai dengan peringatan dengan menempatkan sejumlah nama korban di tepian kolam yang berada di bekas lokasi dua menara kembar.
Saat berbicara pada hari Sabtu waktu setempat, Obama mengatakan Amerika akan tetap kuat meski serangan kerap ditujukan kepada negara itu.
“Sebagai bangsa yang kuat, kita akan dapat terus berjalan,” kata Obama dalam pidato rutin akhir minggunya.
“Terima kasih untuk usaha tidak kenal lelah yang dilakukan oleh para personel militer kita, petugas intelijen, penegak hukum, dan petugas keamanan dalam negeri, tidak ada keraguan, hari ini Amerika menjadi lebih kuat dan al-Qaeda saat ini sedang menuju jalur kekalahannya. Mereka memang akan terus berusaha menyerang kita. Tapi seperti yang kita tunjukan akhir pekan ini kita akan terus waspada,” tambahnya.
Pihak keamanan memperketat pengawasan di New York dan Washington setelah mereka menerima peringatan bahwa al-Qaeda mungkin akan mengirim sejumlah penyerangnya.
Beberapa diantara mereka kemungkinan adalah warga AS dan berencana melakukan pengeboman di salah satu kota tersebut.
Laporan itu sendiri diterima oleh informan CIA akhir pekan lalu, mereka mengatakan informasi itu sebagai informasi “yang kredible namun tidak bisa dikonfirmasi.”
Dalam peringatan yang akan berlangsung hari ini di New York, Obama akan ditemani oleh mantan Presiden George W Bush.
“Amerika tidak akan pernah lupa,” kata Bush dalam acara peringatan di Shanksville hari Sabtu waktu setempat.
“Saya yang semula menjadi presiden dan terfokus pada isu domestik berubah menjadi presiden di waktu perang. Sesuatu yang tidak pernah saya antisipasi dan tidak pernah saya harapkan sebelumnya.”
Obama juga menyerukan agar seluruh negara untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan terhadap teroris.
Obama membuat pernyataan itu dalam pertemuan Sabtu pagi dengan tim keamanan nasional. Menurut pernyataan resmi Gedung Putih, Obama juga mempelajari upaya berkelanjutan untuk mengurangi ancaman potensial teroris. Dia juga mempertimbangkan langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan keamanan negara.
Pertemuan dihadiri Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Janet Napolitano, Penasihat Keamanan Nasional Tom Donilon, Asisten Presiden untuk Keamanan Negara dan Terorisme John Brennan, Direktur Badan Intelijen Pusat David Petraeus, Direktur Biro Investigasi Federal Robert Mueller dan pejabat senior lainnya.
Saat ini, AS dalam situasi siaga tinggi, mengingat adanya info ancaman teror selama hari peringatan 9/11. Ancaman itu pertama kali terungkap Kamis lalu oleh pejabat AS bahwa setidaknya tiga orang berencana meluncurkan serangan bom mobil di kawasan Washington DC atau New York selama peringatan.
“Obama mengarahkan timnya untuk mengejar semua informasi ancaman dan untuk memastikan keadaan tinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan saat kita memperingati serangan 9/11,” bunyi pernyataan itu.
Meski begitu, Obama tak mengubah jadwalnya untuk berpartisipasi dalam berbagai acara peringatan di New York City, Pentagon dan Shanksville, Pennsylvania, yang berada di tengah serangan teroris satu dekade lalu. Tragedi itu menewaskan hampir 3.000 orang.
Menlu AS Hillary Clinton juga mengatakan ancaman teror untuk sementara masih belum jelas. Pihak intelijen sudah menunjuk elemen Al Qaeda berada di belakang plot. Pejabat intelijen sejauh ini sudah membuat sedikit kemajuan dalam mengidentifikasi calon penyerang.
Jeritan Menyayat Hati
Pada umumnya ribuan korban serangan 11 September 2001 tewas mengenaskan tanpa sempat memberi pesan terakhir. Namun, dengan perkembangan teknologi dunia melalui radio, ponsel, telepon-telepon kantor di Twin Towers dan bahkan telepon di dalam pesawat yang dibajak, sejumlah korban sempat terekam saat menjerit, berteriak atau dalam menyampaikan pesan terakhirnya. Pesan terakhir itu sangat menyentuh dan menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Alice Hoagland, ibu dari Mark Bingham, penumpang pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan 93, mencoba menelepon putranya setelah melihat berita mengejutkan tentang pembajak pesawat. Mark tidak menjawab, maka Alice mengatakan kepadanya, suaranya sangat tenang dan layaknya seorang ibu, “Cobalah mengambil alih pesawat…. Kumpulkan sejumlah orang dan lakukan yang terbaik yang dapat kamu lakukan untuk mendapatkan kontrol (atas pesawat itu).”
Telepon ke layanan darurat adalah telepon terakhir dari broker asuransi Kevin Cosgrove ketika kantornya di Lantai 99 di Menara Selatan mulai ambruk. “Oh, Tuhan …. Aaaaarrggggghhhh!” Cosgrove, wakil presiden perusahaan pialang Aon Corp, terdengar berteriak pada pukul 09.58. Suaranya lalu menghilang di tengah suara tabrakan dari menara yang runtuh.
Para penumpang dan awak dari empat pesawat yang dibajak juga sempat membuat upaya terakhir agar tetap hidup. Pramugari pemberani Betty Ong, dalam pesawat American Airlines dari Boston dengan nomor penerbangan 11, menelepon menara kontrol. Ia dengan tenang menjelaskan bagaimana dua rekannya telah ditusuk. “Kokpit tidak menjawab telepon. Saya pikir kami sudah dibajak,” katanya pada pukul 08.19. Kurang dari setengah jam kemudian, Ong dan semua penumpang pesawat itu lenyap dalam bola api di Menara Utara World Trade Center.
Melissa Doi, seorang manajer berumur 32 tahun di IQ Financial Systems yang berkantor di Lantai 83 Menara Selatan World Trade Center, sempat menelepon layanan darurat selama setidaknya empat menit. Doi, dengan suara yang sangat ketakutan, kontras dengan nada tanpa emosi operator, menggambarkan betapa panas suhu di tempatnya berada dan itu membuatnya sulit bernapas.
“Saya akan mati, ya, kan?” jeritnya. “Tidak, tidak, tidak, tidak,” jawab operator. “Saya akan mati,” kata Doi lagi. “Bu, bu… panjatkan doamu,” kata operator yang mencoba menenangkannya. “Tolong Tuhan,” kata Doi. Percakapan itu berakhir tak lama setelah Doi menjerit dengan suara keras, “Tolong!”
Mark Bingham, yang Alice Hoagland panggil “sweetie” dalam pesan itu, diyakini telah membantu dalam memimpin sebuah perlawanan terhadap para pembajak yang menyebabkan pesawat yang mereka tumpangi akhirnya jatuh di sebidang lahan di Pennsylvania. Para pembajak semula ingin mengarahkan pesawat itu ke Washington.
Penumpang pesawat United dengan nomor penerbangan 175, Brian Sweeney, juga meninggalkan pesan untuk istrinya, Julie, hanya beberapa menit sebelum pesawat itu menabrak Menara Selatan. Setelah mendengar suara otomatis pada mesin penjawab, Sweeney meninggalkan pesannya dengan kata-kata sederhana, tetapi menyentuh. “Dengar, saya berada di pesawat terbang yang telah dibajak,” katanya. “Saya hanya ingin kamu tahu saya benar-benar mencintaimu. Saya ingin kamu berbuat baik, berbahagialah. Sama juga buat orangtua saya dan semua orang. Saya benar-benar mencintaimu.”
Sebagian besar keluarga korban tidak sempat  mengucapkan kata perpisahan. Korban yang tewas di World Trade Center bahkan banyak yang tidak teridentifikasi jenazahnya.
Ada sejumlah korban yang sempat melakukan obrolan terakhir dengan keluarga mereka. Beverly Eckert ingat betapa senangnya ia ketika menerima telepon dari suaminya, Sean Rooney, pada sekitar pukul 09.30. Ia menduga suaminya berhasil meloloskan diri dari kantornya di Twin Towers.
Namun, ia bilang sama saya, dia berada di lantai 105 dan saya langsung tahu bahwa Sean tidak akan pernah pulang. Setelah berbicara beberapa menit, ia berbisik, “‘Saya mencintaimu.” Itu dikatakan berulang. Lalu, tiba-tiba saya mendengar ledakan keras,” tulis Eckert di majalah New York minggu ini. Setelah suara itu, suaminya masih hidup, tetapi mereka berdua tahu itu adalah suara gedung yang mulai runtuh. “Saya menyebut namanya berulang-ulang di telepon. Lalu saya hanya duduk meringkuk di lantai sambil memegang telepon.”
Serangan 11 September 2001 adalah empat serangan terorisme yang terjadi pada tanggal 11 September 2001 atau biasanya dikenal Peristiwa 9/11. Para teroris membawa empat pesawat dan menabrakkan ketiganya ke bangunan di Amerika Serikat. Sebenarnya targetnya ada empat bangunan, namun pada kasus terakhir, para teroris gagal.
Kronologis peristiwa 11 September
§  American Airlines Penerbangan 11, yang menabrak menara World Trade Center utara
§  United Airlines Penerbangan 175, yang menabrak menara World Trade Center selatan
§  American Airlines Penerbangan 77, yang menabrak The Pentagon.
§  United Airlines Penerbangan 93, yang menabrak ke tanah.
§  Para teroris itu ingin menabrakkan pesawat ke U.S. Capitol Building atau Gedung Putih. Penumpang di pesawat itu mencoba mengambil alih pesawat, dan para teroris menabrakkan pesawat cepat saat pesawat jatuh.
§  Tiap orang dari keempat pesawat tewas, termasuk seluruh penabraknya. Ribuan jiwa di World Trade Center dan Pentagon juga tewas, dan kedua menara World Trade Center jatuh dan hancur. Inilah serangan terbesar oleh orang non-Amerika pada AS sejak 1814.
Korban serangan 11 September 2001 selain merenggut 2.646 jiwa warganegara Amerika Serikat juga 327 orang warganegara asing, yakni Britania Raya 67 orang. Korea Selatan 28, Kanada dan Jepang 24. Kolombia 17 orang, Jamaika, Meksiko dan Filipina 16. Australia dan Jerman 11 orang. Italia 10 orang dan 1 orang Indonesia (by. heru)

Menguak Misteri Lubang Buaya


sergapntt.com [JAKARTA] -> Hujan turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.
Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.
Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.
Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.
Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.
Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.
Pembunuhan atas para perwira itu jadi anti klimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.
Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.
Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan 5”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.
Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.
Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.
Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.
Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.
Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan. Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.
Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.
Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. —Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur—
Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.
Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K. Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.
Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.
“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.
Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.
Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan —wilayah selatan Indonesia— hingga Pulau Buru —wilayah timur Indonesia—. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.
Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar —kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno— akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.
Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.
Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.
Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.
Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.
Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.
Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.
Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.
Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.
Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.
Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.
Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.
Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.
Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.
Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.
Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.
Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.
Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth, pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.
Cerita-cerita mistis barangkali sama absurdnya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya para jenderal. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.
Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr. Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.
Saskia Eleonora Wieringa, seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia, menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya.
“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.
Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.
Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.
Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A. Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”
Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober 1965.
Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).
Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.
Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru. (by. wati/agus)

TKW Asal Bajawa Dijadikan Pelacur Di Malaysia


sergapntt.com [KUALA LUMPUR] -> Mengadu nasib di negeri orang tidaklah selalu menyenangkan. Banyak TKI bernasib malang di luar negeri, meskipun diakui tidak sedikit pula yang berhasil alias sukses membawa pulang jutaan rupiah. Nasib yang dialami Eta (20), Sonya (22)  dan Ansi (28) bisa menjadi contoh.
Kemarin sore, Eta tampak duduk termenung. Pandangannya kosong. Ia seakan tengah merenungi nasib malang yang tengah menimpanya di luar negeri. Harapan untuk memperoleh gaji yang besar sebagai TKI di Malaysia pupus. Keinginannya mendapatkan lembaran uang ringgit Malaysia pun tinggal impian. Wanita belum berkeluarga itu mengaku berasal dari Bajawa, NTT. Pada 2008 silam, ia mendapat informasi tentang lowongan kerja di Malaysia dari Herman. Laki-laki asal Bajawa itu pula yang kemudian memberangkatkan Eta ke Malaysia.
Informasi yang diperoleh Eta, Herman adalah seorang penyalur TKI ke luar negeri, termasuk ke Malaysia. Karena itu, ketika ditawari untuk berangkat kerja di Malaysia, Eta pun langsung menyanggupinya. Di sana, ia dijanjikan bekerja sebagai pelayan restoran dengan gaji per bulan 700 ringgit (1 ringgit = Rp 2.500). Namun, sesampai di Malaysia, gadis berparas cantik itu ternyata tidak dipekerjakan di restoran, tetapi dijadikan sebagai wanita pemuas napsu lelaki hidung belang.
“Saya disekap di sebuah kamar. Disitu saya diberitahu oleh Acong, salah seorang agen penyalur di Malaysia, bahwa kerja saya bukan pelayan restoran, tapi ‘melayani’ tamu-tamu,” paparnya.
Ia mengaku hingga sekarang TKW yang disekap dan dijadikan pelacur di sana ratusan orang. Mereka ada yang disekap di hotel, apartemen, penginapan, dan tempat-tempat rahasia lain. Mereka ada yang kabur dan kemudian lari ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia di Kuala Lumpur, ada juga yang masih disekap dan sampai sekarang masih dijadikan sebagai pelacur. Eta termasuk TKW yang beruntung karena bisa kabur dari rumah tempat dia disekap.
Saat ke negeri jiran,  Eta diberangkatkan melalui Medan menuju Dumai (perbatasan Malaysia-Indonesia). Di sana ia dijemput lalu akhirnya disekap. Ditempat sekapan, sudah ada tiga wanita lain, yang belakangan diketahui juga disekap seperti Eta.
“Meskipun disekap beberapa hari, beruntung saya belum diapa-apakan,” katanya.
Sekali waktu Eta kabur. Saat kabur itulah Eta diselamatkan oleh seseorang yang mengaku sebagai polisi. Eta percaya saja dengan laki-laki itu. Apalagi pria tersebut menunjukkan tanda pengenal. Karena masih malam, Eta kemudian disuruh istirahat sampai menunggu pagi. Ia kemudian diinapkan di sebuah penginapan di sana. Saat itu ia diberi minuman agar bisa istirahat dengan tenang. Namun, beberapa saat setelah minum, kepalanya terasa berat dan ia pun tidak ingat apa-apa. Saat terbangun, ia baru sadar bahwa dirinya telah “dikerjai”.
“Semula saya berpakaian lengkap, tapi ketika terbangun sudah lepas semua.”
Nasib malang juga dialami Sonya (22), asal Rote. Perempuan berparas cantik itu juga mengaku disekap satu bulan empat hari di sebuah apartemen di Malaysia. Sebagaimana Eta, Sonya juga dijadikan wanita panggilan tanpa bayar.
Ia menceritakan, keberangkatannya ke Malaysia karena ingin mendapatkan uang yang banyak. Janda muda tanpa anak itu memang belum lama bercerai dari suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia kemudian ke luar negeri.
Sonya berangkat ke Malaysia pada 12 Februari 2007. Ia berangkat ke luar negeri, semula karena didatangi seseorang bernama Aleks dan David. Waktu itu, ia diberi informasi dan dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Penampilan Aleks dan David sangat meyakinkan, sehingga Sonya pun tertarik dan bersedia menjadi TKI. Apalagi gratis.
Ia diberangkatkan lewat Pontianak (Kalimantan) dengan naik pesawat. Dari Pontianak terus menuju Kucing (Malaysia) dengan jalan darat. Kemudian dari Kucing terbang menuju Kuala Lumpur.
Di ibu kota negara tetangga itulah, ia dijemput oleh seseorang bernama Acong (agen penyalur) dan dibawa ke apartemen.
” Acong kemudian jual saya kepada Ibrahim dengan harga 3.500 ringgit. Setelah itu, saya dibawa Ibrahim dan diinapkan di rumahnya, yang alamatnya saya tidak tahu. Di sana saya di,,,,,” tuturnya, menahan isak.
Sonya mengatakan, sampai sekarang banyak wanita asal NTT yang ditipu dan dijadikan wanita penghibur di Malaysia. “Wanita-wanita itu rata-rata disekap di sebuah tempat dan diperjakan pada malam hari agar melayani tamu-tamu di hotel. Mereka puluhan orang. Yang berhasil kabur dan sekarang tinggal di penampungan KBRI saja sekitar 10 orang. Yang tidak bisa kabur dan masih disekap masih banyak, ratusan. Mungkin ribuan,” ujarnya.
Sonya menyebutkan, pada siang hari dirinya disekap di rumah Ibrahim. Rumah itu dijaga sejumlah tukang pukul. Pada malam hari dirinya dibawa ke hotel dan dipaksa melayani tamu-tamu hidung belang. Perlakuan itu dia alami setiap malam. Ia tidak boleh beristirahat. Bahkan, meskipun sakit ia tetap harus melayani para tamu.
Sonya mengaku rata-rata setiap malam harus melayani 4-5 orang. Kalau hanya melayani 3 tamu ia dimarahi. Bukan hanya itu, ia juga dihukum dengan cara dikunci dalam kamar kecil dan tidak diberi makan satu hari penuh.
Bagaimana dengan gaji? “Saya tidak digaji sepersen pun. Gaji yang dijanjikan penyalur di Indonesia Rp 2,5 juta per bulan hanyalah impian,” ungkapnya.
Dia menuturkan, uang bayaran dari para tamu semuanya diterima Ibrahim. Per tamu membayar 158 ringgit untuk waktu 45 menit. Kalau satu malam penuh membayar 700 ringgit.
Jika kebetulan tamunya berbaik hati, Tarmini diberi tips 10 ringgit. Namun, itu jarang terjadi. Sebaliknya, beberapa tamu malah memperlakukannya secara tidak manusiawi. “Tamu yang kurang ajar itu sering memperlakukan saya seperti ‘anjing’. Kalau tidak menurut kemauannya, tamu itu protes, dan saya dimarahi oleh tukang pukul. Daripada dimarahi, terpaksa saya menuruti kemauannya,” tutur Sonya sambil kembali menyeka air mata.
Sewaktu berada di penyekapan, ia tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar bisa keluar dari apartemen “neraka” tersebut. Doa Sonya pun terkabul. Pada Minggu 20 Maret 2009 Sonya berhasil kabur.
“Saya kabur pukul 16.00. Saya lari dari lantai 24 lewat jendela. Saya tidak tahu nama apartemen yang dijadikan untuk menyekap saya. Yang saya tahu, saya disekap di lantai 24.”
Begitu sampai di bawah, ia kemudian naik taksi menuju KBRI di Jl Tun Razak 233 Kuala Lumpur 50400, Malaysia. Sopir taksi itu kebetulan orang Sunda (Indonesia). Ia kemudian tidak mau dibayar begitu mengetahui nasib malang yang menimpa Sonya.
Wanita itu menyatakan kapok pergi ke luar negeri sebagai TKI. Walau diiming-imingi bayaran atau gaji berapa pun, ia tidak akan tertarik. Ia tampak trauma sekali. Setelah pulang ke Tanah Air suatu saat nanti ia berencana akan menjadi buruh tani.
Diceritakan, TKW yang dipekerjakan sebagai wanita penghibur di Malaysia kalau hamil langsung dibawa ke Pontianak, Kalimantan. Di sana mereka disekap oleh agen penyalur sampai melahirkan. Setelah itu, dibawa lagi ke Kuala Lumpur untuk dijadikan PSK.
Hingga kini Sonya enggan pulang ke kampung halamannya, karena malu. Dia hanya menitip pesan untuk orang tuanya, Ny. Wilhelmina. “Mama, maaf ya. Di Malaysia saya tidak berhasil. Saya tidak bisa mengirimkan uang,” katanya sambil terisak-isak.
Sonya mengaku sampai sekarang ibunya belum mengetahui nasib yang menimpanya, termasuk keberadaanya saat ini di Batam.
Sebagaimana Eta dan Sonya, Ansi (28) cewek asal Sumba ini juga mengalami nasib yang sama. Perempuan ini mengaku tertipu dijadikan pelacur. Ansi yang memiliki postur tubuh tinggi semampai dan berambut panjang itu kemudian menceritakan bagaimana bisa sampai ke Malaysia. Ia berangkat pada September 2005 lewat jasa seseorang bernama Helen, yang belakangan diketahui sebagai penyalur (agen) ilegal. Ia berangkat bersama tiga temannya. Perjalanan ke Malaysia lewat Jakarta, terbang ke Pontianak. Dari Pontianak ia naik mobil (jalan darat) ke Kucing (Malaysia). Setelah itu menuju Kuala Lumpur dengan pesawat terbang. Di Kuala Lumpur, Ansi yang memiliki hidung mancung itu tinggal di sebuah apartemen di kawasan Bukit Bintang bersama seorang temannya. Dari sanalah ia mulai mencium gelagat tidak baik. Sebab, saat di Tanah Air ia dijanjikan akan bekerja di toko, tetapi ternyata tidak. Lebih dari itu, beberapa hari dirinya hanya diajak berputar-putar kota Kuala Lumpur. Pada suatu saat, agen penyalurnya ‘menyatron’ dirinya. Semula ia tidak mau, tetapi justru dimarahi dan dipaksa melayani.
Pernah suatu hari ia melarikan diri, tapi tertangkap lagi oleh agen. “Agen itu bernama Maeng. Anak buahnya banyak. Jadi, kalau perempuan sudah berada di tangannya sulit melarikan diri,” ujarnya sambil menyibakkan rambut hitamnya.
Karena berusaha kabur, Ansi pun mendapat hukuman, yakni dikunci di dalam kamar kecil dua hari. Bagaimana ia bisa kabur? Wanita itu menuturkan, suatu saat ada tamu yang minta dilayani dan ditemani beberapa hari. Ketika tamu itu pergi bekerja dan ruangan tidak dikunci, dirinya langsung kabur menuju KBRI. (by. destha/eko/herry)