Persamaan Tikus dan Politikus


Pas lagi libur nih. Seekor anak Tikus (AT) bertanya pada Emaknya.
AT : Mak,,, Mak,, kok manusia itu geli banget sih ngeliat kita mak?
Emak : Bukan Geli, tapi Jijik.
AT: Iya,, kenapa Jijik?
Emak: Mungkin karena kita berbulu, hitam, Dan Susah Di Tangkap, dan suka curi-curi makanan sisa.
AT : Apa bedanya sama kucing mak? Kucing juga berbulu, ada yang bewarna hitam, dan juga gesit, dan terkadang juga suka mencuri ikan asin.
Emak: Tapi gak susah di tangkap, karena kucing itu mungkin dirasa manusia lebih lucu dari kita, dan kadang mereka sok manja, dengan pura-pura mengosokkan badannya di kaki para manusia.
AT : Kenapa Nasib Kita Begini Amet Ya Mak?
Emak : Yah apa boleh buat. Mungkin emang kt salah juga kali, kita nyuri2 makanan bekas manusia. Tapi apa boleh buat kan kita laper,, dah gitu manusia gak mungkin baik sama kita, yg adanya kalau ngelihat kita maunya nimpuk pake sapu mulu. Ibarat nih kalau jadi manusia yang ketangkep sama polisi kita bakal bilang “Mencuri karena lasan Ekonomi” untuk kebutuhan sehari-hari gitu nak.
AT : ngomong2 tentang manusia, bukannya kita ada hubungan darah sama manusia yah mak?
Emak : Loh, kok bisa kamu berpikiran begitu?
AT : kalau lagi sembunyi di kolong tv, suka denger dari tvnya mengenai,, mmhh pol,, poliii,,,  poliklinik! Eh salah!!!! ahhh politikus!
Emak : Politikus! ah tentu aja kita berbeda nak.
AT: tapi kok sama-sama ada tikusnya?:
Emak: yang emak tau nih,, politikus itu kerja cuma ngomong2 aja terus, berkoar-koar gak jelas. Padahal sih denger2 gunanya mereka untuk mengatur pemerntahan para manusia, tapi kayaknya gak sesuai kenmyataan nak. Kadang Martabat kita sebagai tikus Tulen lebih tinggi dari Politikus.
AT: mang napa mak?
Emak : Gak jarang politikus itu yg menusuk dari belakang sesama politikus, gak akur kaya kita ini. Apalagi politikus koruptor, amit-amit dah.
AT :  Jenis apa lagi itu mak koruptor?
Emak ; yah pokoknya politikus koruptor itu martabatnya lebih rendah dari pada tikus got, Pakaiannya boleh rapi, muka bolleh berwibawa, makan gak kekurangan, tapi tetep aja doyan nyuri jatah makanan dan jatah hidup manusia lainnya. Gak perduli kalau manusia lainnya itu lebih membutuhkan, bahkan mungkin ada yang meregang nyawa gara2 tindakan mencuri nya si politikus koruptor ini, Tapi tetep saja si koruptor pandai berkelit dan gak merasa berdosa.
AT : wah sungguh gak berpriketikusan mak! Kok bisa bisanya kita disamain sama manusia rendah kaya gitu.
Emak : Iyah mamak juga gak habis pikir, kita memang bau gak sewangi para koruptor, kita memamng jorok gak sebersih dan sementereng para koruptor, tapi seenggaknya tindakan kita itu dilakukan bukan untuk kesenangan, tapi untuk mengisi perut kosong kita. Gak seperti Politikus Kotor, yang semuanya serba berlebihan tapi masih mau juga nyuri dari orang lain yang lebih miskin, demi untuk menuh-menuhi rekening di bank mereka.
AT : udah gitu gak merasa bersalah lagi?
Emak : kayanya sih enggak, buktinya kalau di tangkep dan disidang mereka sering senyum2 gitu, mungkin senang kali masuk tv dan jadi pembicaraan satu negara selama berminggu-minggu.
– The End –
by. COPAS

Orang Maumere di Kupang Gelar Natal Bersama


sergapntt.com [KUPANG] – Ikatan Keluarga Besar Maumere (IKBM) di Kupang bakal melaksanakan misa syukur sekaligus Natal Bersama pada 23 Januari 2012. Natal bersama yang bakal dikuti 1000 Kepala Keluarga (KK) asal Kabupaten Sikka itu akan dilaksanakan di kediaman Ketua IKBM, Kristo Blasin di Penfui Kupang.
Natal bersama kali ini sedikit berbeda. Tak hanya 1000 KK yang diundang. Semua orang Maumere yang berdomisili di Kupang juga turut diajak, termasuk mahasiswa dan para pelajar.
“Ya,,, kita undang semua orang Maumere yang di Kota Kupang. Acara akan dimulai pukul 08.30 WITENG,” ujar Hardy, salah seorang panitia Natal Bersama IKBM kepada SERGAP NTT, Minggu (22/1/12).
Kristo Blasin
Menurut Hardy, acara ini sekaligus silahturahmi antara warga komunitas Maumere yang ada di Kupang. “Setiap hari kan kita sibuk dengan aktivitas kita masing-masing. Ini saatnya kita bisa bertemu, saling berbagi bercerita dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Kegiatan Natal Bersama ini dibenarkan juga oleh Ketua IKBM, Kristo Blasin. “Iya,,,, kita akan gelar acara Natal Bersama. Melalui kesempatan ini juga, saya mengajak semua orang Maumere yang ada di Kupang untuk hadir. Mari kita sama-sama rayakan kebahagiaan ini,” ucapnya, mengajak.
By. BERTA MUDE

9 Orang Tewas Ditabrak Mobil Xenia


sergapntt.com [JAKARTA] – Mobil Xenia warna hitam menabrak belasan pejalan kaki di depan Stasiun Gambir dekat Kantor Kementerian Perdagangan. 9 orang diloporkan tewas, sisanya kritis dan masih dalam penangnanan medis. Mobil tersebut hilang kendali saat melaju dari arah utara ke arah Tugu Tani.

Berikut korban tewas dalam kecelakaan maut itu, Pipit 18 tahun, Ujai (15), Yusuf (2,5), Wawan, Nani, Firmansyah, dan Suyatmi. Satu orang belum teridentifikasi. Delapan korban ini langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Satu  korban lainnya baru saja didatangkan dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Empat korban kritis adalah Siti Mukaromah, 31 tahun, M. Akbar (22), Kenny (9), Indra (11). Mereka berada di RSPAD Gatot Subroto.

Pengemudi yang menabrak bernama Afriani Susanti, 29 tahun dan telah ditetapkan sebagai tersangka itu, beralamat di Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat tabrakan terdapat 4 orang di dalam mobil tersebut.

Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Pusat, Ajun Komisaris Antoni Wijaya, menduga kecelakaan yang menewaskan 8 pejalan kaki ini akibat rem kendaraan rusak.

“Dia mengaku akan berbelok ke arah Tugu Tani, makanya kecepatan diturunkan,” kata AKP Antoni. Namun tersangka mengaku merasakan ada keanehan di rem mobil Xenia-nya, sehingga dia panik dan membanting mobil ke kiri.

“Kebetulan itu adalah trotoar yang sedang ramai pejalan kaki,” kata Antoni.

Menurut keterangan saksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP), mobil menabrak para pejalan kaki dari arah belakang.

Kasus tabrakan ini langsung ditangani Polda Metro Jaya. “Kami juga sedang mendalami penyebab lain dari kecelakaan ini seperti human error,” katanya.

By. SANTI POE

Gema Pemilukada Nagekeo 2013-2018


Andreas Dua
sergapntt.com [NANGARORO] –  Masa kepemimpinan Drs. Johanes Samping Aoh-Drs.Paulus Kadju tinggal satu tahun lagi. Masa kerja Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Nagekeo yang terpilih pada 11 Agustus 2008 itu akan berakhir pada tahun 2013 mendatang. Selalunjutnya 76 ribu lebih pemilih Nagekeo akan memilih Bupati dan Wakil Bupati baru periode 3013-2018.
Santer terdengar para kandidat bupati dan wakil bupati mulai mempersiapkan diri. Bahkan ada yang sudah rajin menemui rakyat hingga ke pelosok-pelosok desa. Figur-figur yang disebut-sebut siap ambil bagian sebagai Calon Bupati pasca Johanes Samping Aoh alias Nani Aoh – Paulus Kadju antara lain, Drs. Piet Nuwa Wea, Servasius Phodi, S.H, dr.Yohanes Don Bosco Do, M.Kes, Drs. Elias Djo dan  Andreas Dua.
Thomas Tiba Owa
Nani Aoh sendiri dipastikan tidak akan maju lagi karena terbentur aturan dan larangan Mendagri. Sebab, politisi gaek ini telah dua kali menjabat sebagai Bupati, yakni Bupati Kabupaten Ngada dan Nagekeo.  Sedangkan Paulus Kadju  diberbagai pertemuan telah menyatakan  sikap akan maju sebagai Calon Bupati. Soal wakil, kata dia, masih dijajaki.  
Lalu siapa Calon Wakil Bupati yang sudah siap tampil? Hingga kini baru Paul Nuwa Feto, Thomas Tiba Owa, Gaspar Batubata, Ahmad Daeng, dan Drs. Loresn Pone yang digembar-gembor telah siap melantai di bursa Pmilukada Nagekeo 2013-2018.

Di pemilukada kali lalu, Nagekeo memiliki jumlah pemilih 76.185 orang, dan 230 TPS yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Aesesa, Aesesa Selatan, Wolowae, Keo Tengah, Nangaroro, Mauponggo dan Boawae.
Paulus Kadju

Kini gema pemilukada perlahan terus merasuki warga Nagekeo. Hampir setiap waktu, isu pemilukada jadi bahan obrolan utama. Yang dibicarakan masih seputar kurang lebih para figur yang bakal maju.


Soal peluang, semua punya peluang. Itu sebabnya, sekarang ini para kandidat sedang intens membangunan komunikasi dengan partai-partai politik guna bisa tancap gas di arena pemilukada. Selain partai politik, sejumlah kandidat pun sedang mengendus peluang di jalur independen. Soal dipilih atau tidak, itu semua tergantung rakyat.

By. ENYA DA BARA

Polisi Tidak Profesional


sergapntt.com [KUPANG] – Kasus salah tembak yang dilakukan polisi di sejumlah tempat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Rote Ndao dan Kota Kupang benar-benar membuat rakyat gerah. Bahkan muak ketika mendengar nama polisi. Apalagi Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang mulai ramai dipergunjingkan doyan ‘memeras’ pelanggar lalu lintas.
Sepekan terakhir polisi kembali disoroti. Kali ini akibat ulah delapan orang anggota Buru Sergap (Buser) Polres Kupang Kota yang salah menembak target dalam sebuah penggrebekan judi Sabung Ayam di Kampung Sabu, belakang Pasar Inpres Naikoten I Kota Kupang, Minggu (15/1/12) sekitar pukul 17.30 WITENG. Maksudnya ingin memberi peringatan, tapi justru peluru mengenai Jefri Mengi Uly (10) dan Darius Bara alias Gus Dur (34).
Menurut Dekan Fakultas Hukum Universitas Katholik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Dr. Frans Rengka, SH.M.Hum, kasus salah tembak terhadap Jefri dan Gus Dur menunjukkan bahwa institusi polisi dalam melaksanakan tugasnya, bukan makin baik, tapi justru tambah buruk. Dari beberapa peristiwa ini membuktikan bahwa polisi tidak profesional. Tidak ada alasan bagi polisi untuk bisa keliru atau salah tembak. Ini kesalahan fatal. Mengapa ? Itu karena lunturnya penghayatan terhadap tugas dan tanggungjawab sebagai aparat yang harusnya mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat.
Kasus salah tembak, kata Frans Rengka, tak akan terjadi, apabila polisi bertindak profesional dengan menggunakan prosedur tetap (protap) penggunaan senjata api. Apalagi insiden penembakan terhadap warga sudah 4 kali terjadi di NTT. Mestinya, dalam melaksanakan tugas polisi harus bekerja dengan informasi yang jelas dan akurat. Misalnya, mau menangkap orang, tentunya polisi harus memiliki sejumlah bukti dan informasi yang jelas. Dan juga harus melalukannya sesuai dengan protap yang berlaku. Bukan asal sembarang tangkap orang. Apalagi sampai menembak.
Untuk itu, langkah pembenahan perlu dilakukan Polri. Pertama; yang harus dilakukan adalah memperketat psikotes dan tes mental hak memegang senjata api (senpi). Para personel polisi yang memegang pelbagai jenis senjata diharuskan melakukan rephysiological test. Sehingga, para anggota yang gagal tes tidak diberikan hak memegang senjata api guna menghindari penyalahgunaan pemakaian.
Kedua; komunikasi aktif atasan dan bawahan. Pemerintahan era Presiden Abdurrahman Wahid memang sukses menggagas pemisahan TNI dan Polri. Tepat di tahun 2002, pemerintahan Presiden Megawati mengeluarkan keputusan ‘perceraian’ TNI-Polri. Di Era reformasi ini, jajaran komandan di kepolisian seharusnya tidak lagi terbiasa menganggap bawahannya sebagai prajurit yang hanya bisa diperintah tanpa diajak berkomunikasi.
Ketiga; jeda hak menggunakan senjata api. Keputusan itu adalah ‘meliburkan sementara’ para anggota polisi yang baru  selesai bertugas dari daerah konflik agar tidak membawa senjata. Hal ini sangat penting dilakukan demi menghindari penggunaan senjata di luar kendali. Karena, dapat dimaklumi bahwa tekanan emosi yang baru usai dinas di wilayah rawan biasanya bervolume tinggi akibat ketegangan dan rasa lelah selama bertugas.
Keempat; melindungi bawahan. Sudah saatnya para pimpinan di kepolisian, baik di tingkat atas maupun di tingkat bawah bertanggung jawab penuh atas tindakan yang dilakukan oleh para bawahan. Tentunya tanggung jawab diberikan selama bawahan memang taat, patuh dan menjalankan tugasnya di lapangan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Pimpinan tidak boleh `mengkambinghitamkan’ bawahan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Polisi tidak boleh meniru kasus pembantaian Santra Cruz di Dili, Timor Timur  tahun 1992 ataupun Trisakti dan Semanggi (1998). Ketika itu, bawahan dan hanya komandan di lapangan saja yang dijadikan ‘tumbal’. Bawahan layak dipersalahkan di hadapan hukum, jika perintah atasan dan prosedur hukum memang dilanggar.
Banyak keluhan juga yang saya dengar dari polisi tentang situasi dilematis ini: menahan kokangan senjata dengan resiko sanksi dari atasan, atau menembak dengan resiko dipersalahkan Komnas HAM, LSM, dan lain sebagainya. Sementara komandan tiarap menyelamatkan diri. Inilah dilema yang selalu mendera polisi di lapangan.
Untuk memperbaiki citra polisi yang mulai cenderung kurang disukai masyarakat, maka pimpinan Polri harus menginstruksikan kepada seluruh jajarannya agar mulai menampilkan keramahtamahan, bukan menyapa rakyat dengan raut menakutkan. Polisi bisa meniru kegiatan yang TNI terapkan seperti bakti sosial dan lain sebagainya.
Khusus untuk anggota Polri yang menjadi Polantas, kata Frans Rengka, sebaiknya tidak asal main tilang atau menghentikan para pengendara sepeda motor maupun mobil hanya demi beberapa lembar uang. Seharusnya, razia yang dilakukan oleh polisi saat ini, seyogianya lebih difokuskan pada operasi penggeledahan senjata api atau senjata tajam, ketimbang STNK dan SIM. Ini, jika kita masih sadar bahwa senjata api ataupun senjata tajam sudah begitu lumrah menyebar untuk aksi kejahatan. Bila operasi ini diberlakukan secara rutin, diharapkan penyebaran berbagai jenis senjata secara illegal bisa diminimalkan. Perlahan-lahan citra polisi pun akan semakin membaik karena dinilai bisa menjadi pengayom masyarakat sekaligus penegak hukum dalam arti sesungguhnya. Tetapi, jika para petinggi Polri tetap enggan berbenah, maka ketidakpuasan masyarakat terhadap kepolisian seperti sekarang ini akan makin sulit dipulihkan.
Sementara itu Kapolda NTT, Brigjen Pol. Rikcy HP Sitohang melalui Kabid Humas Polda NTT, Kompol Ny Anthonia Pah mengaku delapan orang polisi yang menggerebek Sabung Ayam di Pasar Inpres Naikoten I Kupang itu tidak sengaja menembak Jefri dan Gus Dur. Toh begitu, para anggota yang bermasalah tersebut telah ditahan dan diproses hukum direktorat Provesi dan Pengamanan (Propam) Polda NTT sejak Senin (16/1/12).
By. WJ/CP