Dana BOS Triwulan IV Sementara Proses


sergapntt.com [BA’A] – Realisasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) triwulan I, II dan III pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Rote Ndao telah selesai dan untuk saat ini sementara proses untuk pencairan triwulan IV. Demikian dikatakan Kepala Dinas PPO Kabupaten Rote Ndao, Jonas Lun di ruang kerjanya, Kamis (1/12).
Menurut Jonas, proses pencairan dana BOS untuk  pelaksanaan tugas dan aktivitas di sekolah-sekolah adalah tanggung jawab kepala sekolah, guru dan komite sesuai RAB yang telah disusun. Sementara, Dinas PPO hanya mengajukan permohonan pencairan.
“Proses pencairan dana BOS itu di DPA Dinas PPO. Dari dinas akan mengajukan permintaan ke Bagian Keuangan untuk minta SP2D. Setelah SP2D keluar, maka dana BOS langsung berpindah ke rekening setiap sekolah,” jelasnya seraya menambahkan, apabila terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan dana untuk pembiayaan aktivitas di sekolah, maka itu adalah tanggung jawab sekolah.
Dia berharap, proses pencairan dana BOS triwulan IV bisa cepat. Setelah itu dimanfaatkan oleh sekolah sesuai dengan RAB yang telah disusun kepala sekolah, guru dan komite dan segera memasukkan pertanggungjawabannya ke dinas.
“Saya berharap pemanfaatannya benar dan sesuai RAB yang telah disusun. Setelah itu bukti-bukti diserahkan dan disampaikan pertanggungjawabannya ke dinas,” ujar Jonas.
Menyinggung ada sekolah yang sampai dengan sekarang belum memakai dana tersebut untuk pembiayaan aktivitasnya, Jonas mengatakan, selama ini belum ada pengaduan apa-apa dari sekolah terkait dengan dana BOS. Namun apabila betul seperti itu, maka pihaknya akan memanggil kepala sekolah untuk melakukan pembinaan.
“Tolong teman wartawan informasikan kepada kami sekolah mana yang sampai dengan sekarang masih terkesan mengendapkan dana ini di rekening agar kami tahu dan saya akan panggil sekolah untuk lakukan pembinaan. Karena dana ini peruntukannya jelas sesuai RAB yang telah mereka susun,” pintanya.
By. RT

PAW Anggota DPRD asal PPRN Rote Ndao Dalam Proses


sergapntt.com [BA’A] – Proses Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, Hen Henukh dari PPRN saat ini sementara dalam proses. Hal ini dikatakan Ketua DPD II PPRN Kabupaten Rote Ndao, Yedit Bessie kepada wartawan di kantor bupati Rote Ndao, Selasa (29/11).
Dikatakan, pada prinsipnya ia sebagai pimpinan DPD II sudah mengajukan proses PAW sesuai dengan keputusan DPP untuk melanjutkan proses PAW yang ada. “Proses itu sudah kita ajukan kepada ketua DPRD Rote Ndao, namun sampai dengan saat ini kita belum mendapat respon balik dari ketua DPRD, sejauhmana tindak lanjut terhadap proses itu,” ujarnya.
Menurut Yedit, surat PAW anggota DPRD atas nama Hen Henukh sudah diberikannya kepada ketua DPRD Rote Ndao sejak 6 November 2011, namun sampai sekarang pihaknya belum mendapat tanggapan balik dari ketua DPRD.
Dia berharap agar ketua DPRD bisa bersurat kepadanya agar mungkin ada kendala-kendala dan ada hal-hal yang membutuhkan klarifikasi, maka pihaknya akan melakukanya, sehingga proses itu tidak terlalu lama.
Menjawab alasan esensial apa yang membuat pihaknya melakukan proses PAW terhadap anggotanya, ia mengatakan, pada dasarnya proses PAW terjadi karena Hen Henukh melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan AD/ART partai. Di mana, Hen Henukh sudah beralih ke PPRN kepengurusan Haji Rohim.
“Ketika dia (Hen Henukh, red) masuk ke kepengurusan Haji Rohim, maka dengan sendirinya dia sudah keluar dari PPRN yang sebenarnya dibawah kepemimpinan Amelia Yani yang terdaftar di Departemen Hukum dan HAM. Dokumen tersebut ada pada kami,” katanya.
Surat PAW ini katanya, dikeluarkan oleh DPP Amelia Yani tertanggal 18 Oktober 2011. “Usulan PAW ini bukan dari kami di DPD II, tetapi usulan PAW ini langsung dari DPP,” ujarnya.
By. RT

Presiden SBY Ingatkan Birokrasi Tingkatkan Kualitas Pengabdian


sergapntt.com [BA’A] – Birokrasi sebagai komponen utama penggelolaan pemerintahan negara harus meningkatkan kualitas pengabdian dan kinerja terbaiknya kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Korpri sebagai bagian utama dari jalannya roda pemerintahan dituntut untuk meningkatkan profesionalisme, meningkatkan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan tetap memelihara netralisas sebagai aparatur pemerintahan.
Demikian  sambutan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Penasihat Nasional Korpri yang di bacakan Bupati Rote Ndao, Leonard Haning dalam upacara HUT ke-40 Korpri di alun-alun kantor bupati Rote Ndao, Selasa (29/11).
Berkaitan dengan HUT Korpri katanya, HUT Korpri memiliki tiga kata kunci utama yang sangat penting untuk dijalani bersama. Pertama, meningkatkan pembinaan jiwa Korpri dalam kebhinekaan. Kedua, memperkokoh persatuan dan kesatuan NKRI serta mendukung keberhasilan pelaksanaan reformasi birokrasi.
SBY berpesan sukseskan seluruh agenda percepatan pembangunan menuju tercapainnya Indonesia sebagai negara maju, sikapi secara  responsif dan konstruktif berbagai kritikan masyarakat, wujudkan tata pemerintahan yang baik, laksanakan tugas pengabdian dengan penuh tanggung jawab  dan tetaplah amalkan doktrin Korpri.
Sementara itu, Bupati Rote Ndao, Leonard Haning diakhir sambutan tersebut menambahkan, momentum mengenang 40 tahun HUT Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) tahun 2011 tingkat Kabupaten Rote Ndao mengisyaratkan bahwa momen tersebut bukan acara seremonial belaka apalagi masih adanya implementasi yang belum berkenan dengan regulasi yang berjalan.
Ditambahkan, sembilan tahun Kabupaten Rote Ndao sejak menjadi daerah otonom masih ada banyak hal sisa yang perlu dibersihkan dari lembaga. Hal tersebut dimaksudkan untuk membasmi hal-hal buruk dari anggota Korpri, sehingga secara lembaga dengan mengenang momentum itu kirannya mulai membina aparat yang bersih dan berwibawa.
By. HOR

Kejati NTT Tahan Tersangka Bansos Rote Ndao


sergapntt.com [Kupang] – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT menahan Mantan Kabag Kepegawaian Pemkab Rote Ndao, Fredrik Nale dan Imelda Melur, mantan bendahara rutin bagian kepegawaian Rote Ndao. Kedua tersangka tersebut diduga melakukan tindak korupsi dana bantuan sosial (Bansos) di Kabupaten Rote Ndao Tahun Anggaran (TA) 2007.
Usai diperiksa, keduanya langsung diangkut dengan mobil tahanan kejati NTT menuju Lembaga Pemasyarakatan (LP) Penfui-Kupang, sekitar  pukul 15.50 Wita, Selasa (8/11/11). Sebelum ditahan, keduanya menandatangani surat penyerahan tersangka dari jaksa penyidik ke jaksa penuntut.
Sebelum dibawa ke LP, kepada wartawan Fredrik Nale mengatakan, ada kejanggalan yang terjadi dalam penanganan kasusnya. Sebab, berdasarkan data yang dihimpun penyidik kejaksaan, pencairan dana sekitar 20 Desember 2007,  sedangkan bukti kwitansi pencairan berlaku mundur pada tahun yang sama yakni sekitar 22 Januari 2007. Padahal, pada bulan Desember biasanya tidak ada pencairan dana dan Januari belum ada dana. Dan, kas pun dalam keadaan kosong, karena APBD belum ditetapkan.
“Uangnya dari mana untuk menyalurkan bantuan sosial itu? Apalagi, bagian UP tak ada hubungan dengan bansos,” tandas Fredrik.
Dalam kasus ini, lanjutnya, ada 19 kwitansi yang menjadi alat bukti, dan dirinya membubuhi tanda tangan di empat kwitansi dengan yakni Rp.25 juta dua kali, 62,5 juta, dan Rp60 juta. Pada pemeriksaan pertama, hanya ada dua kuitansi yang sudah ditandatangani, tapi anehnya pada pemeriksaan kedua dua kuitansi lainnya pun sudah dibubuhi tanda tangan.
“Jujur saja, saya tak pernah tanda tangan kwitansi berkaitan dengan penggunaan dana itu. Saya pun tak pernah membuat telaan staf ke bupati. Ada sesuatu yang tidak sesuai dalam penanganan kasus ini,” ujar Fredrik.
Sementara itu, Kepala Seksi Urusan Pidana Khusus Kejati NTT, L. Tedjo Sunarno mengaku, saat ini penyidik kejaksaan yang terdiri dari Kejaksaan Negeri Rote Ndao dan Kejati NTT menyerahkan tersangka ke jaksa penuntut. Dalam kasus ini, ada dua jaksa yang ditunjuk sebagai jaksa penuntut umum yakni dirinya sendiri dan Marthin T. Sunuh.
Dengan penyerahan berkas dan tersangka , lanjut Tedjo, status tersangka ditingkatkan menjadi terdakwa. Jaksa penuntut segera membuat surat dakwaan karena alat-alat bukti sudah lengkap.
By. FLORES

Rote Ndao; Gersang Tapi Mengagumkan !


sergapntt.com [ROTE BNDAO] -> Awal bulan lalu saya melakukan perjalanan ke Rote selama sepekan untuk melihat dari dekat pulau yang sering disebut Gerbang Selatan Indonesia itu. Dari Bandara Sukarno Hatta naik Sriwijaya Air menuju Kupang. Transit kurang lebih lima belas menit di Bandara Juanda Surabaya.
Setelah menempuh penerbangan kurang lebih tiga jam. Akhirnya sampai di Bandara El Tar1 Kupang yang namanya diambil dari nama salah satu mantan Gubernur NTT.
Siang itu tidak bisa langsung menuju Rote, karena satu-satunya alat transportasi menuju Rote adalah kapal feri. Jadwal kapal cepat pun hanya sekali dalam sehari. Ada juga kapal lain, namun waktu tempuhnya lebih lama 3 kali lipat.
Terpaksa melewatkan semalam di Kupang. Menginap di Hotel Flobamor. Hotel tua di tengah kota Kupang dengan tarif 175.000. Menjelang pagi baru sadar kalau tidak order makan sahur. Mengingat hotel ini kecil dan di Kota yang mayoritas penduduknya beragama nasrani, sehingga mungkin jarang ada tamu yang pesan makan sahur. Walhasil malam itu harus puas dengan setangkup roti selai sebagai pengganjal perut. Padahal perut melayu ini tidak bisa dibilang makan kalau tidak menyantap nasi, hehehe,,,,
Esok paginya sebelum jam 09.00 saya sudah stand by di dekat pelabuhan Teluk Kupang dan bergegas melompat ke dek Kapal Ferry cepat Bahari Express Sakti menuju Rote, setelah sebelumnya membeli tiket seharga Rp. 75.000
Kapal Ferry melaju pelan meninggalkan Teluk Kupang. Melewati beberapa karamba tempat budidaya mutiara. Sempat melihat rombongan beberapa ikan lumba-lumba muncul di permukaan laut dan menyemburkan air laut di dekat kapal yang membelah laut.
Tanpa terasa, setelah selama satu jam setengah, kapal merapat di Pelabuhan Baa, yang merupakan pelabuhan utama di Kabupaten Rote Ndao. Pelabuhan ini sangat strategis karena dekat dengan pusat kota. Letaknya di samping kantor kabupaten.
Selain Baa, ada beberapa pelabuhan kecil lainnya, misalnya pelabuhan Papela, Oelaba, Batutua dan Pelabuhan Ndao
Selain pelabuhan, Rote yang diresmikan menjadi kabupaten sendiri berdasarkan Undang Undang No. 8 Tahun 2003 tentang otonomi daerah ini memiliki beberapa pantai yang indah. Yang paling terkenal adalah pantai Nemberala. Dengan pasir yang masih bersih dan angin pantai yang kencang. Cocok untuk berselancar. Selain nemberala, ada juga pantai Oesili dan Tanjung Boa (bua) yang sayang untuk dilewatkan sebagai tempat kunjungan. Banyak juga kepulauan kecil di sekitar Rote, namun yang berpenghuni hanya sekitar 6 pulau.
Di dekat pelabuhan Baa, ada penginapan Ricky. Penginapan kecil mirip kost mahasiswa berukuran 3×3 seharga 75 ribu per malam. Tidak terlalu bagus memang. Kalau ingin yang lebih bagus lagi bisa pilih penginapan Grace. Di sini tersedia minuman kaleng dingin dan air mandi panas (hot sower)
Sayangnya, informasi soal penginapan Grace saya dapatkan setelah saya cek in di Ricky. Jadi yah, dinikmati saja lah,,,.
Untungnya letak Ricky tepat di ujung jalan yang mengitari Lapangan Kota (alun – alun) Rote. Jadi malamnya saya bisa nongkrong sambil mencari kudapan karena di hotel tidak ada makanan yang bisa di pesan.
Suasana malam hari di alun-alun lumayan meriah. Penjaja makanan ngumpul di sudut alun-alun seperti pasar malam. Setelah tengok sana sini. Akhirnya nemu sate sapi. Setelah dicoba, rasanya agak manis. Harus banyak disiram sambal biar krasa pas di lidah yang kurang suka masakan yang cenderung manis ini.
Esok harinya, dengan mobil carteran seharga 400 ribu menuju Lekunik. Ketemu dengan pak Mozes yang jadi kepala bandara Lekunik. Saat ini pembangunan bandara lekunik baru mencapai kurang lebih 70 persen. Bandara Lekunik awalnya dibangun karena ada kebutuhan infrastruktur penunjang untuk pengiriman bantuan pada korban bencana alam di Rote. Namun ke depan menurut pak Mozes sedang diupayakan untuk ditingkatkan statusnya menjadi bandara yang bisa didarati oleh pesawat komersial. Saat ini hanya pesawat hercules dan sejenis fokker yang bisa mendarat.
Dari lekunik perjalanan diteruskan ke arah tenggara. Tepatnya di Pegunungan Mandau. Lereng gunung Mandau menarik karena ada tangga yang dibangun sampai ke pucak gunung. Mirip seperti yang ada di Gunung Bromo – di Probolinggo – Jawa Timur.
Capek juga menapaki tangga sebanyak 359 dalam kondisi puasa pula. Tapi begitu sampai di puncak, pemandangan terasa lepas. Sekeling Rote bisa dilihat bak gugusan noktah berwarna coklat.
Konon, Puncak Gunung Mandau, adalah pertemuan raja-raja di Rote jaman dahulu sebelum membuat keputusan yang menyangkut wilayah Rote (hihi… jadi ingat kebiasaan Pak Harto yang nyekar ke astana inggil makam wonogiri kalau lagi sumpek mikir indonesia hahaha,,,)
Turun dari Gunung Mandau, perjalanan selanjutnya menuju Nemberala. Pantainya cukup sepi dan indah. Yang menakjubkan, saya sempat menangkap ikan Nemo (kayak di film finding Nemo) pakai tangan, tanpa pakai alat! Ikan kecil tersebut berenang di sela-sela rumput laut yang tumbuh di karang yang terendam air laut.
Di dekat Pantai Nemberala ada pulau kosong bernama Pulau Ndana. Pulau ini tak berpenghuni kecuali sekawanan rusa. Namun sekarang ada sekitar 17 orang personel tentara yang ditugaskan di pulau ini. Karena ada sengketa kepemilikan pulau pasir deket Ndana dengan Australia di Mahkamah Internasional. Pemerintah mulai menerjunkan beberapa personel militer ke pulau-pulau terluar. Mungkin belajar dari pengalaman pahit kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan yang diaku oleh Malaysia. Dan celakanya Indonesia kalah pula berperkara di mahkamah international. (sekarang malah lagu rasa sayange, jali-jali, belangkon, angklung, tempe, batik dah dibajak malaysia) di beberapa milis, tagline pariwisata malaysia: Malaysia, The Truly Asia diganti Malingsia, the truly maling in Asia heheh
Oh ya awal bulan ini, salah satu deputi UMNO malah cium keris pas abis pidato, karena keris (konon) identitas melayu…………..capek deyyy!
Ngapain aja sih pak SBY?, kebanyakan tebar pesona kata Bu Mega, khasanah kebudayaan ditilep negeri jiran, eh malah bikin lagu kalau Indonesia Itu bikin rindu, hih bikin gemes deh, kepala negara sok jaim ini. Dipilih mayoritas, koq malah gak tegas banget jadi pemimpin. Ayo pak kita ganyang malaysia, tapi selamatkan Siti Nurhaliza!
Haiyah, koq malah ngelantur ngomongin politik
Mari kita kembali ke Rote!
Sepulang dari Nemberala, sempat buka puasa di warung padang (gile yak, di rote yang jauh dari Washington – apa hubungannya heheh- ternyata ada warung padang. Kayaknya di bulan aja yang gak ada warung padang.
Malamnya kembali nginap di penginapan Ricky. Dan terpaksa berdamai dengan serangan bertubi-tubi nyamuk rote yang ganas. Walhasil, bentol-bentol merah berbekas dengan sukses di lengan dan kaki.
Esok paginya perjalanan dilanjutkan ke daerah Denka, sempat mampir ke dusun oelaba yang menjadi perkampungan nelayan beragama islam.  Mata pencaharian mereka adalah mencari teripang. Menurut pak Adrianus, yang juga ketua Partai Amanat Nasional di Rote, para nelayan di oelaba dulunya adalah pendatang dari Makassar. Namun karena sudah beberapa generasi di Rote, mereka tak ubahnya seperti penduduk Rote asli.
Meski rumah nelayan terlihat sederhana, namun penghasilan dari melaut lumayan besar. Satu kapal yang mencari ikan selama satu bulan di laut bisa menjual tangkapan teripang senilai seratus juta rupiah!
Malamnya sempat mencicipi ikan bakar. Heeeem yummmy. Enak banget makan ikan bakar dan sambal pedas. Setelah itu mendengarkan dua orang tua penduduk oelaba memainkan Sasando.
Sasando merupakan alat musik petik yang menjadi ciri khas rote. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa Rote identik dengan sasando. Begitu juga sebaliknya. Namun yang mengkhawatirkan, hampir tidak ada generasi muda yang tertarik mendalami Sasando. Bukan tak mustahil bila kondisi ini tetap berlangsung, maka petikan lembut sasando bakal menjadi sejarah.
Sepulang dari Denka, sempat mampir sebentar ke rumah penduduk untuk melihat pembuatan gula dari nira (sari buah lontar). Pembuatan gula secara tradisional. Mula-mula air sadapan nira direbus selama kurang lebih empat jam. Setelah itu dituang ke dalam cetakan. Setelah dingin dan mengeras, jadilah gula yang siap dijual.
Air nira juga bisa langsung diminum. Rasanya mirip dengan air kelapa. Bedanya kalau dibiarkan mengendap beberapa hari, rasanya menjadi manis dan agak memabukkan. Rasa hangat menyergap perut saat minum air nira yang sudah mengendap beberapa hari. Mengingatkan saya saat minum fermentasi nira di Tuban – Jawa timur yang dikenal dengan nama ‘legen’ atau ‘tuak’.
Tanpa terasa, berkeliling Rote selama sepekan. Dibalik kendala alam yang panas dan gersang. Rote sebenarnya menyimpan potensi alam yang besar. Mengagumkan! Misalnya potensi peternakan. Hewan ternak dilepas begitu saja. Sesekali dimasukkan ke kandang. Meski besar potensi di bidang peternakan. Kendala yang yang tak kecil juga harus ditaklukkan berupa alam yang gersang. Sehingga sumber makanan ternak berupa rumput alam sulit tumbuh secara optimal sepanjang tahun.
“Permisi’ terdengar suara halus mampir ke telinga kiri saya.
Dengan tergeragap saya menoleh. Wajah manis pramugari tepat sejengkal di samping saya saat mengangsurkan kotak makanan ringan.
Lamunan saya tentang Rote langsung sirna, tersaput senyuman pramugari.
Tanpa terasa, satu jam lagi saya mendarat di Jakarta.
Menjalani rutinitas hidup di Jakarta yang keras.
Tapi tak semuram yang dibayangkan
Karena masih banyak impian-impian yang harus digapai
Dan tentu saja bersama seseorang yang sedang menunggu
Saat pesawat ini menjejakkan roda di Bandara Sukarno Hatta. 
(Catatan Beny Yusuf sepulang dari Rote Ndao)