Hasil Petani Harus Meningkat Tahun 2012


sergapntt.com [MENIA] – Para camat, kepala desa serta Dinas Pertanian diminta memantau dan mengawasi setiap kegiatan masyarakat menjelang musim tanam tahun 2012. Sehingga, hasil produksi petani bisa meningkat.
Hal ini disampaikan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat menyampaikan sambutan pada sidang III DPRD dalam rangka pembahasan RAPBD tahun 2012, Senin (12/12). Dikatakan, pihaknya telah meminta Dinas Pertanian untuk melakukan pemetaan wilayah untuk pembagaian traktor dalam membantu masyarakat dalam mengolah lahan. Lahan yang dibiarkan tidak diolah oleh masyarakat karena keterbatasan sarana pertanian menjadi tanggung jawab dinas teknis untuk membantu dengan peralatan yang modern.
“Saya telah perintahkan Dinas Pertanian untuk lakukan pemetaan wilayah dan melakukan penyebaran semua petugas penyuluh secara merata ke masyarakat untuk melihat apa yang menjadi keluhan masyarakat. Jika ada lahan tidur yang dibiarkan karena tidak bisa diolah secara manual, maka kerahkan masyarakat dan bantu dengan peralatan yang ada. Kalau menunggu masyarakat yang melakukan itu, maka sangat tidak mungkin karena kalau hanya menggunakan tangan saja untuk mengolah lahan yang begitu luas, maka hujan sudah datang tapi lahan belum siap,” ujarnya.
Ditegaskan, musim tanam 2011-2012 harus menjadi tonggak untuk melakukan gerakan ketahanan pangan sesuai dengan harapan pemerintah pusat serta mengantisipasi terjadinya rawan pangan di Kabupaten Sabu Raijua. Untuk itu, petugas yang ada di Dinas Pertanian harus didorong bagaimana melakukan penyadaran kepada masyarakat bawah, sehingga para petani bisa melihat potensi apa saja yang ada diwilayahnya yang bisa digarap dengan maksimal.
“Saat ini Dinas Pertanian sudah memiliki peralatan pertanian yang baik walaupun belum cukup. Katakanlah ada traktor besar dan handtracktor. Fasilitas ini sudah sangat menunjang para petani dalam menggiatkan petani dalam menggiatkan usaha taninya pada musim hujan nanti. Yang sangat sulit adalah bagaimana memberikan keyakinan kepada  para petani pada saat ini. Jadi dinas jangan hanya mengumpulkan peralatan lalu dijaga dikantornya,” tukasnya.
Dirinya menegaskan, bicara soal ketahanan pangan, maka leading sector-nya adalah pertanian, sehingga petaninya harus digerakkan dan dibantu dengan peralatan yang modern sehingga mengurangi beban yang ditanggung petani. Seruan presiden untuk kawasan Indonesia timur harus didorong untuk menuju ketahanan pangan.
“Kalau bicara ketahanan pangan, maka leading sector-nya adalah pertanian. Jadi pertanian ini harus digerakkan secara terus menerus. Orang di Sabu harus tahu dan mau sebenarnya, bukan hanya tahu saja tapi tidak mau melakukannya. Dalam rangka ketahanan pangan inilah, maka saya harus mendorong untuk melengkapi peralatan pertaniannya demikian juga dengan pupuk dan obat-obatan,” tukasnya.
By. SBR

Bank NTT Buka USPD di Sabu Timur


sergapntt.com [MENIA] – Bank NTT mulai melebarkan sayapnya hingga ke kecamatan-kecamatan dalam rangka memberi pelayanan yang lebih dekat dengan pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan telah diresmikannya unit simpan pinjam desa (USPD) Kecamatan Sabu Timur yang diresmikan oleh Wakil Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke, Rabu (14/12).
Kepala Cabang Pembantu (Capem) Bank NTT, Saul Wenyi dalam sambutannya mengatakan, kantor USPD yang berada di Kecamatan Sabu Timur adalah bagian dari kantor Bank NTT yang berada di Seba, sehingga sistem pelayanannya tidak berbeda dengan kantor yang ada di Seba.
“Pada hari ini Bank NTT yang berada di seluruh kabupaten yang ada di NTT juga meresmikan unit simpan pinjam desa dan diresmikan oleh gubernur secara simbolis,” ujarnya.
Saul menjelaskan, mengapa harus ada kantor USPD seperti itu, karena dalam rangka mewujudkan misi Bank NTT sebagai pelopor penggerak ekonomi rakyat, sehingga jangkauan pelayanan dilakukan hingga ke desa-desa melalui pembiayaan kelompok usaha mikro (UKM) pada sektor ekonomi unggulan yang ada di pedesaan.
Selain itu katanya, Bank NTT juga memberikan kesempatan bagi masyarakat pedesaan untuk mendapatkan pelayanan perbankan dalam hal penyimpanan uang dalam bentuk tabungan. “Bank NTT sebagai lembaga keuangan milik pemerintah daerah dan masyarakat berkewajiban untuk turut serta memberdayakan usaha ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Di sadari kata Saul, pelayanan terhadap kelompok-kelompok usaha mikro selalu berhadapan dengan sulitnya memenuhi ketentuan-ketentuan perbankan seperti surat-surat izin dan lain-lain. Sebab itu, maka perlu ada perubahan pola pendekatan dan cara pandang terhadap kelompok usaha mikro dengan pola pelayanan yang lebih praktis.
“Kenapa USPD ini dibuka pertama di Sabu Timur? Karena setelah kita lihat, maka Sabu Timur merupakan terminal dari dua kecamatan yang lain seperti Liae maupun Sabu Tengah, di mana perputaran ekonomi juga di wilayah ini lebih lancar dari kecamatan lainnya. Dalam waktu dekat juga USPD seperti ini akan kita buka di Raijua,” ujar Saul.
Sementara, Wakil Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke dalam sambutannya mengatakan, peresmian USPD di Sabu Timur merupakan tonggak sejarah bagi masyarakat setempat. Untuk itu, maka kehadiran Bank NTT di tengah-tengah masyarakat desa diharapkan bisa bersama-sama pemerintah dalam rangka menggeliatkan ekonomi pedesaan.
“Bank NTT harus bisa maju bersama rakyat. Demikian juga sebaliknya, rakyat harus maju bersama Bank NTT. Bank NTT harus bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan tentu bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah sangat mendukung itu,” tegasnya.
Dirinya berharap agar masyarakat Sabu Timur dan sekitarnya harus menggunakan kesemapatan yang ada, sehingga usaha kecil yang dihidupkan bisa berjalan dengan baik seiring dengan berkembangnya Kabupaten Sabu Raijua.
Acara peresmian USPD Sabu Timur diawali dengan ibadah yang dipimpin Pdt Marselina Bessi Radja Kana dan dihadiri tokoh masyarakat, para kepala desa serta masyarakat sekitar.
By. SBR

Jaga Kelestarian Kawasan Mata Air


sergapntt.com [MENIA] – Budaya masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua yang begitu mudah menebang pohon tanpa menanam kembali, sehingga menjadi ancaman bagi kelestarian alam menjadi perhatian pemerintah setempat. Untuk itu, pemerintah akan mengeluarkan aturan yang melarang penebangan pohon secara besar-besaran apalagi pohon yang berada dikawasan mata air.
Hal ini disampaikan Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome ketika melakukan sosialisasi mengenai program revolusi hijau kepada para kepala sekolah belum lama ini di SMPN 1 Sabu Barat.
Dikatakan, untuk mengantisipasi penebangan pohon secara massal dengan menggunakan gergaji mesin atau sensor, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua akan menertibkan dan memberi arahan kepada para pemilik sensor yang ada di Kabupaten Sabu Raijua.
“Budaya yang ditinggalkan oleh orang tua kita hanya bagaimana cara memegang pisau dan parang untuk memotong dan menebang. Sekarang kita ubah dengan bagaimana mengajarkan anak-anak kita untuk memegang besi gali, supaya mereka bisa menanam di mana saja mereka berada,” ujar Marthen.
Saat ini kata Marthen, sudah banyak masyarakat yang memiliki sensor, sehingga dengan mudah dapat melakukan penebangan pohon dengan cepat dan tidak terkendali oleh pemerintah. Akibatnya, banyak pohon besar yang hidup disekitar mata air telah menjadi korban tanpa memikirkan dampak dari penebangan tersebut.
“Saya sudah minta dinas terkait, bahkan kepada para camat dan kepala desa untuk mendata masyarakat yang memiliki sensor,  sehingga mereka diberi arahan dan bisa ditertibkan penggunaan alat tersebut. Karena dengan mesin itu, maka dalam sekejab pohon-pohon besar itu akan habis sementara untuk menanam kembali susah sekali.  Apalagi, hingga menjadi pohon besar membutuhkan waktu yang lama. Itu yang harus diberi pengertian kepada masyarakat,” jelasnya.
Dijelaskan, dalam aturan kehutanan sudah jelas mengatakan, masyarakat dilarang menebang kayu pada kawasan hutan tanpa izin Menteri Kehutanan, termasuk menangkap atau memindahkan satwa liar (wild life) endemik spesifik pulau Sabu Raijua. Sedangkan penebangan kayu diluar kawasan hutan wajib mendapatkan izin dari bupati melalui dinas yang berwenang.
“Yang jadi persoalan, masyarakat disini belum tahu secara jelas mana yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan atau belum, sehingga jika pada musim panas dan ketika membutuhkan kayu bakar, maka mereka tidak mau tahu apa itu dilarang atau tidak mereka tinggal tebang saja. Itu yang tidak boleh terjadi. Kalau tidak, maka daerah yang tandus ini akan semakin gersang,” tambahnya.
Diakui, tradisi kehidupan orang Sabu yang memotong kayu bakar pada musim kemarau untuk masak gula Sabu, juga harus diubah, sehingga pohon yang ada bisa bertumbuh menjadi besar dan bermanfaat untuk menyerap air kala musim hujan.
Selain penertiban terhadap pemilik sensor, Marthen juga akan meminta aparat yang ada untuk menertibkan senapan angin yang ada di masyarakat. Sebab, dengan senapan yang dimiliki memudahkan masyarakat untuk menembak burung-burung yang ada di Sabu Raijua tanpa terkecuali, apakah itu burung yang dilindungi dan harus dijaga keberlangsunganya di Sabu atau tidak.
“Dengan senapan angin, mereka gampang saja menembaki setiap ada burung. Padahal ada satwa yang menjadi ciri khas kita di Sabu yang tidak boleh kita tangkap dan harus dilindungi. Kalau dulu, banyak sekali burung di Sabu tapi sekarang mana ada lagi. Coba kita jalan kemana-mana kita sudah jarang melihat burung atau mendengar kicauannya. Untuk itu dari sekarang kita harus antisipasi lewat penertiban senapan angin yang ada di masyarakat,” tegas Marthen.
By. BS

Hindari Silpa yang Terus Meningkat


sergapntt.com [MENIA] –  Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sabu Raijua meminta agar pemerintah lebih cermat dalam perencanaan setiap kegiatan dengan menyadari keterbatasan yang dimiliki, sehingga setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat diselesaikan tepat waktu dan tidak menimbulkan sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) yang terus meningkat setiap tahunnya.
Demikian pemandangan umum Fraksi PDI Perjuangan terhadap nota keuangan atas rancangan APBD Kabupaten Sabu Raijua tahun anggaran 2012 yang disampaikan pada paripurna, Senin (12/12) lalu.
Fraki PDI Perjuangan berpendapat, pencapaian target pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp  4 miliar lebih dari terget Rp 2 miliar lebih harus menjadi semangat bagi pemerintah untuk terus mengoptimalkan potensi PAD yang ada di Kabupaten Sabu Raijua.
Bupati Sabu Raijua dalam tanggapannya atas pemandangan umum fraksi-fraksi yang dibacakan Wakil Bupati, Nikodemus Rihi Heke mengatakan sependapat dengan harapan Fraksi PDI Perjuangan agar pemerimntah secara cermat merencanakan setiap kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga bisa selesai tepat waktu.
Bupati menjelaskan, pos PAD yang memberikan kontribusi terbesar sehingga tercapainya target yang ada lain-laib PAD yakni jasa giro. Upaya peningkatakan PAD akan menjadi komitmen pemerintah melalui kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi pada setiap tahun anggaran.
Sementara Fraksi Partai Golkar DPRD Sabu Raijua pada pemandangan umumnya menyarankan agar dalam meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan pendidikan, pemerintah perlu memperhatikan pembiayaan kegiatan penunjang seperti peningkatan kompetensi tenaga pendidik. 
Selain itu, pemerintah juga perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memperhatikan para mahasiswa asal Sabu Raijua yang berprestasi dalam bidang pendidikan dengan pemberian beasiswa terutama bagi mereka yang tidak mampu.
Pemerinta juga bisa secara bertahan supaya mengupayakan pemberian tugas belajar bagi guru dan pegawai yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan di bidangnya.
Menanggapi pendapat Farksi Partai Golkar, pemerintah menyatakan sependapat untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas termasuk memperhatikan mahasiswa yang kurang mampu, namun berprestasi dalam dunia pendidikan. Untuk guru dan pegawai yang belum memiliki kualifikasi dalam bidang tugasnya, maka pemerintah akan berupaya untuk diberi tugas belajar sesuai dengan kemampuan keuangan yang ada.
By. SB

 

Siap Amankan Revolusi Hijau


sergapntt.com [MENIA] – Dalam rangka menyukseskan program revolusi hijau yang diluncurkan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome yang melibatkan seluruh siswa yang ada di Kabupaten Sabu Raijua, ditanggapi positif Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (PKPO) Sabu Raijua.
Kepala Dinas PKPO, Alex Nawa, Senin (12/12) mengatakan, sesuai arahan bupati, maka Dinas PKPO sudah melakukan koordinasi dengan semua kepala sekolah untuk segera melaksanakan apa yang menjadi tujuan pemerintah.
“Kami sudah menindaklanjutinya dengan terus berkoordinasi dengan para kepala sekolah supaya segera merealisasikannya dengan menyuruh para siswa untuk menyiapkan berbagai jenis anakan untuk di koker, sehingga pada musim hujan ini sudah bisa ditanam pada lokasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” ujarnya.
Alex menjelaskan, jumlah siswa yang ada di Sabu Raijua mencapai 20 ribu lebih yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK, sehingga jika seorang siswa menyiapkan anakan minimal sepuluh anakan, maka ada ratusan ribu anakan yang akan ditanam pada saat musim hujan.
“Memang kita sudah pikirkan soal bagaimana kita menyiapkan kertas koker bagi anak-anak karena itu nanti akan menjadi kendala. Tapi kami optimis kalau kendala ini bisa teratasi dan program revolusi hijau ini bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Sebelumnya, Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat melakukan  pertemuan dengan para kepala sekolah belum lama ini menegaskan, peran kepala sekolah dan pengawas dalam kendali Dinas PKPO sangat penting karena yang akan menjadi pelopor dalam menggerakkan program revolusi hijau adalah para pelajar se-Kabupaten Sabu Raijua.
“Yang dikatakan revolusi hijau ini bukan masalah tanam pohon-pohon saja di situ, tetapi revolusi hijau itu sebenarnya termasuk dalam pemanfaatan pupuk dan pestisida yang tepat waktu dan benar. Dulu program pak Harto telah melakukan revolusi hijau dalam rangka swasembada pangan dan itu berhasil dengan gemilang dan Sabu harus lakukan itu saat ini,” ujarnya.
Untuk itu, guru dan pelajar harus mengambil bagian dalam menyukseskan program yang akan dijalankan. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam rangka menyukseskan revolusi hijau adalah dengan menugaskan tiap siswa menanam pohon dalam koker masing-masing siswa sepuluh pohon. Setelah itu dilaksanakan, maka pemerintah akan menentukan lokasi untuk ditanami pohon yang telah dikoker lebih dulu oleh siswa.
“Karena itu, maka peran sekolah dan guru dalam hal ini cukup besar. Pelajar bisa menanam pohon apa saja, apakah itu gala-gala, lamtoro  atau gamalina serta jenis pohon lainnya. Yang penting satu siswa harus menanam sepuluh pohon. Soal lokasi nanti kita akan atur kemudian, bisa saja sekolah memulainya dengan menanam pohon di halaman atau menanam pada pagar sekolah,” ujarnya.
By. SBR