Pantia RAN-HAM terbentuk


sergapntt.com [MENIA] – Pemerintah melalui Kepres Nomor 40/2004 telah menetapkan Rencana Aksi Nasional HAM (RAN-HAM) 2004–2009. RAN-HAM seiring dengan proses perubahan di level UUD 1945 dan sejumlah undang–undang yang menegaskan pemenuhan, perlindungan dan penghormatan HAM. Tercermin dalam Kepres tersebut menyatakan bahwa hak asasi manusia (HAM) merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng.
Karena itu, HAM harus dihormati, dimajukan, dipenuhi, dilindungi dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun. Demikian dikatakan Wakil Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke saat melakukan pengukuhan panitia RAN-HAM tingkat Kabupaten Sabu Raijua, Sabtu (10/12).
Dikatakan, secara general, tujuan RAN-HAM adalah untuk memaksimalkan upaya penegakan hukum dan HAM serta memaksimalkan peran Polri termasuk melibatkan peran masyarakat sipil secara aktif dan signifikan. Namun sejauh ini publik masih mempertanyakan dan menyangsikan efektivitas keberhasilan dan manfaat dari pelaksanaan RAN-HAM dan Polmas terutama dalam kurun lima tahun terahir. Harapan yang begitu tinggi dari masyarakat terhadap kesungguhan pemerintah dan Polri untuk melakukan mendorong agenda reformasi di bidang penegakan hukum dan HAM serta institusi Polri nampaknya masih belum terpenuhi.
“Pelanggaran HAM tidak saja dapat dilakukan oleh negara (pemerintah), tetapi juga oleh suatu kelompok, golongan, ataupun individu terhadap kelompok, golongan atau individu lainnya. Selama ini perhatian lebih banyak difokuskan pada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, sedangkan pelanggaran HAM oleh warga sipil mungkin jauh lebih banyak, tetapi kurang mendapatkan perhatian. Oleh sebab itu perlu ada kebijakan tegas yang mampu menjamin dihormatinya HAM di Indonesia dan khsususnya di Kabupaten Sabu Raijua,” ujarnya.
Untuk menghindari hal-hal yang dapat melanggar HAM, maka perlu dilakukan dengan langkah-langkah seperti meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara, menegakkan hukum secara adil, konsekuen dan tidak diskriminatif. Selain itu, meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam masyarakat agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing serta memperkuat dan melakukan konsolidasi demokrasi.
“Tuntutan untuk menegakkan HAM sudah sedemikian kuat, baik dari dalam negeri maupun melalui tekanan dunia internasional, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu perlu adanya dukungan dari semua pihak seperti masyarakat, politisi, akademisi, tokoh masyarakat dan pers agar upaya penegakan HAM bergerak ke arah positif sesuai harapan kita bersama,” katanya.
Sebagai ketua RAN-HAM Sabu Raijua, Nikodemus menegaskan, penghormatan dan penegakan terhadap HAM merupakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Pembangunan bangsa dan negara pada dasarnya juga ditujukan untuk memenuhi hak-hak asasi warga negaranya. Diperlukan niat dan kemauan yang serius dari pemerintah, aparat penegak hukum dan para elite politik agar penegakan HAM berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan memastikan bahwa hak asasi warga negaranya dapat terwujud dan terpenuhi dengan baik. Sudah menjadi kewajiban bersama segenap komponen bangsa untuk mencegah agar pelanggaran HAM di masa lalu tidak terulang kembali di masa kini dan masa yang akan datang.
By. JES

BRI Isi HUT 116 Dengan Gerakan Penghijauan


sergapntt.com [MENIA] – Dalam rangka merayakan hari ualang tahun BRI yang ke-116 yang akan jatuh pada 16 Desember 2011, BRI Unit Sabu-Seba melaksanakan gerakan penghijauan pada lahan seluas satu hektare di Desa Keduru Kecamatan Sabu Timur, Sabtu (10/12). Tanaman yang ditanam pada lokasi penghijauan tersebut terdiri dari tanaman umur panjang seperti mahoni, terambesi, angsana dan sengon.
Kepala BRI Unit Sabu-Seba, Guntoro Sutanto di Desa Keduru mengatakan, penghijauan yang dilakukan BRI selain dalam rangka merayakan ulang tahun, juga untuk menyukseskan program nasional yakni menanam satu miliar pohon serta menyukseskan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua yaitu program hutan rakyat mandiri dan revolusi hijau.
“Hari ini seluruh kantor BRI di bawah BRI Cabang Kupang melakukan penghijauan di beberapa lokasi yang telah ditentukan seperti di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sabu Raijua,” ujarnya.
Dikatakan, lahan yang ditanami oleh berbagai jenis pohon oleh BRI telah ditetapkan oleh Pemerintah Sabu Raijua sebagai lokasi penghijauan, di mana Pemkab akan melakukan penanaman pada lahan seluas 10 hektare pada saat penanaman satu miliar pohon.
Sebagai bank pertama yang melayani masyarakat Sabu Raijua, maka BRI memiliki tanggung jawab untuk sama-sama membangun bersama masyarakat dengan menyukseskan berbagai program pemerintah.
Dikatakan, dalam melaksanakan penanaman di Desa Keduru pihaknya menggandeng kelompok pemuda garuda nusantara Sabu Raijua serta bekerja sama masyarakat dan pemerintah desa setempat.
“Kegiatan seperti bukan ini baru pertama kali kita buat, karena sebelumnya kita telah melakukan penghijauan di Desa Eilode Kecamatan Sabu Tengah pada bulan Sepetember lalu. Ini juga merupakan cara BRI mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta memperkenalkan berbagai produk seperti kredit usaha rakyat (KUR). Lewat KUR ini masyarakat bisa memanfaatkan jasa BRI dalam memberikan kredit bagi masyarakat ekonomi kecil dan menengah,” jelasnya.
Diakui, sebagai orang baru yang dipercayakan untuk memimpin BRI Unit Sabu-Seba, maka berbagai terobosan untuk memperkenalkan BRI dan berbagai bentuk produknya kepada masyarakat, maka pihaknya sudah beberapa kali mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan.
“Dalam berbagai kegiatan olahraga yang dilaksanakan disini kita turut mengambil bagian, apakah itu dengan menjadi sponsor tunggal atau pendukung hingga pada kita membentuk tim olahraga. Ini merupakan wujud dari program corporate social resposibility (CSR) BRI dalam mendukung program yang saat ini sementara dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, maka BRI Unit Sabu-Seba ikut mengambil bagian dalam program tersebut. Ini juga merupakan komitmen kita untuk bersama pemerintah maupun masyarakat dalam membangun daerah ini,” ujarnya.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome memberikan apresiasi kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga seperti BRI Sabu yang turut mendukung dan mengambil bagian dalam menyukseskan program hutan rakyat mandiri. Dia berharap, jika semua masyarakat yang ada di Sabu Raijua melakukan hal yang sama, maka dalam tempo yang tidak terlalu lama Sabu Raijua akan menjadi hijau. Dikatakan, kesan gersang yang ada di pulau Sabu Raijua tidak saja karenakan oleh minimnya mata air atau curah hujan yang sedikit, namun belum ada program khusus dari pemerintah, bagaimana bersama-sama dengan masyarakat melakukan penghijauan pada setiap lahan yang dianggap kritis dan tidak bisa digunakan untuk tanaman seperti jagung maupun kacang.
By. JES

Kepsek dapat Bonus, Jika Hasil UN Memuaskan



sergapntt.com [MENIA] – Angin segar ditiupkan Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome kepada para kepala sekolah yang hasil ujian nasional (UN) mencapai angka kelulusan seratus persen dengan nilai ujian yang bagus. Bupati berjanji akan memberikan bonus berupa perjalanan ke luar daerah untuk melakukan studi banding jika ada kepala sekolah yang berhasil mencapai target yang telah ditetapkan.

Hal ini dikatakan Marthen Dira Tome saat memberi arahan kepada para kepala sekolah se-Kabupaten Sabu Raijua dalam kegaiatan diklat peningkatan komptensi kepala sekolah di Gereja Pulau Patmos, Rabu (7/12/11).
“Dalam menghadapi UN tahun depan saya minta supaya para kepala sekolah bisa menjadi top manajer yang baik, sehingga apa yang menjadi harapan kita agar persentase kelulusan meningkat dengan nilai UN yang bagus bisa tercapai. Bagi para kepala sekolah yang mencapai persentase kelulusan seratus persen dan nilai ujiannnya bagus akan diberi bonus perjalanan ke luar daerah untuk melakukan studi banding,” ujarnya.
Untuk itu, dirinya meminta agar semua data peserta UN tahun 2012 harus sudah disiapkan secara baik, sehingga tidak ada yang tercecer. Untuk menghadapi UN, maka telah dilakukan berbagai kegiatan baik itu Bedah SKL dan Center MIPA hingga pada try out bagi para siswa yang akan mengikuti UN.
“Program jam wajib belajar yang ada harus benar-benar dilaksanakan oleh semua elemen yang ada terutama para orang tua dalam hal mengontrol anak-anak pada jam belajar. Kita sudah bentuk tim yang terdiri dari polisi maupun Pol PP untuk melakukan razia dan mengontrol dari rumah ke rumah apakah benar pada saat jam belajar para siswa itu memang lagi belajar,” tegasnya.
Marthen menegaskan agar para kepala sekolah dan guru tidak boleh merekayasa hasil ujian nasional dan membiarkan ujian berjalan apa adanya untuk mengetahui apa yang menjadi persoalan, sehingga tingkat kelulusan menjadi rendah. Alasan klasik yang ditonjolkan ketika hasil UN merosot adalah karena Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) menaikkan standar kelulusan. Padahal ada ada berbagai faktor penyebab kenapa hasil UN tidak mengalami peningkatan.
“Yang kita ingin adalah kondisi apa adanya. Setelah pelaksanaannya supaya kita bisa melihat benang kusutnya di mana. Sakit apa sih pendidikan ini kok persentase kelulusannya menjadi rendah. Alasannya kan BSNP menaikkan standar kelulusan. Nah kalau memang naikkan standar kelulusan kenapa juga mutu pendidikan tidak dinaikkan, sehingga semuanya berikut-ikutan. Yang jadi persoalan adalah naiknya standar kelulusan kemudian mutu tidak naik, maka itu ambruk di mana-mana,” pungkas Marthen.
Untuk itu, maka para kepala sekolah wajib memberikan penekanan-penekanan kepada para guru sehingga para guru bisa melakukannya dengan baik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sabu Raijua, maka pemerintah telah menindaklanjuti dengan berbagai kegiatan seperti Center MIPA bagi para guru serta pendidikan dan pelatihan bagi para kepala sekolah dan para pengawas, sehingga bisa melakukan pembinaan pendidikan kepada para guru di tingkat sekolah sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih baik.
“Ada delapan standar pendidikan yang ditetapkan oleh BNSP, dari semua itu bisa kita atur-atur. Tapi yang tidak bisa kita lakukan yaitu standar proses. Ini sulit kita lakukan, karena itu maka proses belajar mengajar yang baik dan benar serta menyenangkan bagi anak didik akan memberi hasil yang baik pula,” tegas Marthen.
By. SBR

 

Menyatukan Persepsi Untuk Membangun Sabu Raijua


sergapntt.com [MENIA] – Peningkatan kualitas aparatur negara diarahkan untuk terwujudnya kesamaan persepsi demi mencapai suatu tujuan yang mampu menjamin kelancaran dan keterpaduan tugas dan fungsi pemerintahan. Aparatur negara dituntut untuk senantiasa memiliki sikap dan perilaku yang menunjang pengabdian, kejujuran dan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Upaya meningkatkan kualitas aparatur negara harus terus ditingkatkan sesuai dengan tekad mewujudkan aparatur pemerintah yang bersih dan berwibawa.
Harapan ini dilontarkan anggota DPRD Sabu Raijua dari Fraksi Partai Golkar, Simon Dira Tome belum lama ini. Dikatakan, dalam upaya melaksanakan otonomi daerah, maka keuangan daerah merupakan bahan bakar yang dapat menggerakkan roda pemerintahan daerah melalui program dan kegiatan. Karena itu, penyelenggaraan program dan kegiatan pada instansi pemerintah harus dilaksanakan secara tertib, terkendali, efisien dan efektif.
Untuk itu, diperlukan suatu sistem pengendalian internal yang dapat memberikan keyakinan yang cukup. “Untuk itulah, maka seorang PNS dituntut untuk bekerja secara profesional sesuai dengan bidang tugasnya. Selain itu, dalam membangun daerah ini diperlukan persamaan persepsi dari semua aparatur yang ada, sehingga dalam tugas pelayanan kemasyarakat bisa berjalan secara maksimal dan serah dengan apa yang menjadi tujuan kita bersama,” ujarnya.
Untuk itu ujarnya, setiap penyelenggaran program atau kegiatan pada instansi pemerintah harus melaporkan pengelolaan keuangan negara atau daerah secara andal, mengamankan aset negara atau daerah dan mendorong ketaatan terhadap perundang-undangan yang dalam penerapannya harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta mempertimbangkan ukuran, kompleksitas dan sifat dari tugas dan fungsi dari instansi pemerintah tersebut.
Dijelaskan, pemerintah pusat telah mengeluarkan peraturan pemerintah Nomor 60/2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah. Sebagai peraturan lebih lanjut dari Pasal 58 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 1/2004 tentang perbendaharaan negara yang dilandasi pada pemikiran bahwa sistem pengendalian intern melekat sepanjang kegiatan dipengaruhi oleh sumber daya manusia.
Diharapkan, dengan kegiatan yang dilaksanakan tersebut dapat mewujudkan visi Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terutama dalam mewujudkan Sabu Raijua menjadi kabupaten yang maju inovatif dan bermartabat perlu didukung oleh sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan tugas yang lengkap.
By. SBR
            

Dira Tome Luncurkan Program Revolusi Hijau


sergapntt.com [MENIA] – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua dibawah kepemimpinan Bupati Marthen Dira Tome saat ini seakan sedang berperang dengan kondisi tandus dan kering di wilayah tersebut. Pemkab Sabu Raijua meluncurkan program baru yakni program revolusi hijau.
Program ini akan melibatkan seluruh masyarakat Sabu Raijua serta seluruh pelajar yang ada mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Hal ini disampaikan Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat melakukan pertemuan dengan seluruh kepala sekolah se-Kabupaten Sabu Raijua di aula SMPN 1 Sabu Barat, Selasa (6/12).
Marthen menegaskan, pertemuan dengan para kepala sekolah sangat penting karena yang akan menjadi pelopor dalam menggerakkan program revolusi hijau adalah para pelajar se-Kabupaten Sabu Raijua.
“Yang dikatakan revolusi hijau ini bukan masalah tanam pohon-pohon saja di situ. Tetapi revolusi hijau sebenarnya termasuk dalam pemanfaatan pupuk dan pestisida yang tepat waktu dan benar. Dulu program pak Harto telah melakukan revolusi hijau dalam rangka swasembada pangan dan itu berhasil dengan gemilang dan Sabu harus lakukan itu saat ini,” ujarnya.
Untuk itu, guru dan pelajar harus mengambil bagian dalam menyukseskan program yang akan dijalankan. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam rangka menyukseskan revolusi hijau adalah dengan menugaskan tiap siswa menanam pohon dalam koker masing-masing siswa sepuluh pohon. Setelah itu dilaksanakan, maka pemerintah akan menentukan lokasi untuk ditanami pohon yang telah dikoker lebih dulu oleh siswa.
“Karena itu, peran sekolah dan guru dalam hal ini cukup besar. Pelajar bisa menanam pohon apa saja, apakah itu gala-gala, lamtoro atau gamalina serta jenis pohon lainnya. Yang penting satu siswa harus menanam sepuluh pohon. Soal lokasi nanti kita akan atur kemudian. Bisa saja sekolah memulainya dengan menanam pohon di halaman atau menanam pada pagar sekolah,” ujarnya.
Dikatakan, jumlah siswa SD di Sabu Raijua saat ini mencapai 12 ribu lebih, belum lagi ditambah dengan siswa SMP dan SMA. Sehingga, jika satu siswa menanam sepuluh pohon, maka ada ratusan ribu pohon yang akan ditanam pada musm hujan kali ini.
“Itu baru anak sekolah yang berperan. Kalau ditambah dengan seluruh masyarakat yang ada diwilayah ini, maka saya sangat yakin jika ini berjalan sesuai harapan, daerah yang tandus ini akan cepat berubah. Kita bukan sementara menghayal, tapi kita sudah melakukannya sejak April lalu pada lahan-lahan kritis yang ada lewat program hutan rakyat mandiri dan coba pergi lihat semuanya masih hidup dan sekarang hujan sudah tiba. Jadi tanaman yang ada tinggal hidup saja,” ujarnya.
By. SBR