Anak Kurang Gizi dapat MP-ASI


sergapntt.com [MENIA] – Puluhan anak di Kelurahan Limaggu Kecamatan Sabu Timur yang dideteksi mengalami kekurangan gizi mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian MP-ASI dilakukan bidan desa dan kader posyadu secara bergiliran sesuai dengan jadwal posyandu di masing-masing lingkungan.
Bidan yang melayani di Pustu Kelurahan Limaggu, Agustina A Uly kepada wartawan saat pemberian MPASI kepada anak-anak di Posyandu Raepuhana menjelaskan, tidak semua anak yang datang ke posyandu mendapatkan jatah MP-ASI, tapi lebih diutamakan bagi anak-anak yang didata mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk.
“Tidak semua anak yang kami layani diposyandu mendapat makanan pendaping ASI, tapi kita lebih utamakan bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi dan gizi buruk,” jelasnya.
Dikatakan, khusus untuk Posyandu Raepuhana ada 27 anak yang mengalami kekurangan gizi, sementara tujuh orang lainnya mengalami gizi buruk.
“Kalau secara keseluruhan di Desa Limaggu, maka jumlahnya lebih banyak lagi yang kurang gizi dan gizi buruk. Untuk itu, maka kita lebih memprioritas mereka, tapi kalau ada yang sisa kami juga berikan bagi anak-anak lainnya yang dilayani oleh posyandu,” ujarnya.
Dijelaskan, sebelum mengenalkan MP-ASI, bayi terbiasa dengan pola menyusu yang teratur tanpa henti. Terkadang, akan sangat mengganggunya jika ia harus berhenti di sela-sela acara makannya sekarang. Untuk itu, berikanlah anak sedikit ASI atau susu formula sebelum memberikan MP-ASI. Sehingga, ia tidak terlalu kelaparan yang sangat mungkin membuatnya marah atau frustasi.
Di hari-hari pertama pemberian MP-ASI, bayi biasanya hanya memerlukan sedikit makanan padat. Misalnya, 2-3 sendok kecil penuh. Dimulai dari satu kali pemberian MP-ASI per hari. Misalkan saat makan siang. Kemudian dapat ditingkatkan menjadi tiga kali sehari (makan pagi, makan siang dan makan malam).
“Yang perlu diingat, ukurlah selalu suhu dari makanan sebelum diberikan kepada si kecil. Dudukkan bayi Anda di pangkuan atau di kursi makan bayi. Cobalah membuat acara makan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Senyumlah selalu dan ekspresikan bagaimana senangnya acara makan. Jangan lupa ajaklah ia bicara saat Anda menyuapinya. Ingat makan bagi anak adalah lebih dari sekadar acara pemenuhan nutrisi. Tetapi masa pembelajaran yang baik dan menyenangkan,” ujarnya.
Ditambahkan, kesiapan setiap bayi untuk menerima makanan lain selain ASI ataupun susu formula berbeda-beda. Waktu pemberian makanan padat haruslah tepat, karena jika terlalu awal memberikan makanan pendamping ASI dapat membuat selera bayi mengkonsumsi ASI menjadi berkurang. Sebaliknya, jika terlalu lama dalam memberikan makanan pendamping ASI akan menyebabkan bayi sulit menerima, bahkan menolak sama sekali makanan yang diberikan.
Karena itu, maka orang tua harus mengetahui dengan tepat kapan waktu yang tepat untuk memberikan si kecil makanan pendamping ASI.
By. SBR

Pustu Lederaga Tidak Punya Tenaga Medis


sergapntt.com [MENIA] – Hampir semua desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Sabu Raijua telah memiliki gedung puskemas pembantu (pustu) yang dibangun baik dengan dana APBD maupun dengan dana lainnya seperti PNPM. Sayangnya, keberadaan pustu tidak dibarengi dengan ketersediaan tenaga medis yang akan melayani kesehatan masyarakat.
Pengeluhan mengenai pustu yang dibiarkan mubazir tanpa ada petugas medis sudah sering dilontarkan masyarakat. Seperti diungkapkan, Djadi Raga, Kepala Desa Lederaga Kecamatan Hawu Mehara belum lama ini.
Sebagai pemerintah desa, ia meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua segera menugaskan petugas medis untuk melayani masyarakat di Desa Lederaga. Pasalnya, setiap ada masyarakat yang sakit dan membutuhkan pertolongan medis, maka harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer menuju Puskesmas Tanajawa.
“Kasihan masyarakat yang tidak punya kendaraan, mereka harus berjalan cukup jauh ke puskesmas, sehingga kami minta supaya pak bupati segera menempatkan petugas medis di Lederaga. Paling tidak kalau ada masyarakat yang kena demam, maka mereka sudah bisa berobat ke pustu dan tidak lagi harus berjalan jauh ke Puskesmas Tanajawa,” ujarnya.
Dijelaskan, Pustu Tanajawa sudah dibangun sejak tahun 2007, namun dari sejak dibangunnya pustu hingga saat ini belum pernah ada petugas yang menempati pustu tersebut. Pengeluhan soal tidak ditempatkannya tenaga medis sudah disampaikan berkali-kali kepada pemerintah yang lebih atas baik sejak masih bergabung dengan Kabupaten Kupang hingga Sabu Raijua telah menjadi kabupaten otonom.
“Kita sudah berkali-kali mengeluhkan masalah ini kepada bapak-bapak yang diatas namun hingga sekarang permohonan kami belum terjawab. Kami berharap agar setelah kita jadi kabupaten, maka harapan masyarakat bisa cepat terwujud dalam waktu dekat,” harapnya.
Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sabu Raijua, U Wibowati yang dikonfirmasi mengenai permintaan masyarakat Lederaga kepada Timor Express menjelaskan, tenaga kesehatan yang ada di Sabu Raijua saat ini masih sangat kurang, sehingga dinas belum bisa menempatkan petugas medis pada setiap pustu yang ada di desa.
Walau demikian, dinas telah mengatur agar setiap pustu yang ada di masing-masing desa dan kelurahan tetap dilayani oleh petugas dengan cara membagi wilayah kerja dari para tenaga medis.
“Jadi untuk mengantisipasi kekurangan tenaga medis, maka kita sudah bagi wilayah kerja bagi para petugas di lapangan. Misalnya dalam satu kecamatan para bidan dan perawat yang ada harus melayani beberapa desa dan kelurahan dan mereka sudah menjadwalkannya. Misalnya di Kecamatan Hawu Mehara ada belasan desa, maka dengan tenaga medis yang ditugaskan disana, mereka sudah membagi wilayah pelayanan masing-masing,” jelasnya. 
Dikatakan, puskesmas pembantu berperan dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat pada penanganan dasar untuk penyakit yang sering terjadi pada masyarakat seperti demam, ISPA dan sebagainya.
“Peranan pusksmas pembantu sifatnya hanya penanganan pertama untuk penyakit dasar yang sering ada pada masyarakat. Umumnya pada penyakit yang sering berjangkit pada anak-anak misalnya penyakit demam, ISPA dan flu. Sedangkan untuk penyakit yang sifatnya berat itu harus di rujuk ke puskesmas induk atau rumah sakit,” paparnya.
By. SBR

Perda Penertiban Ternak Di Sabu Raijua Segera Dilaksanakan


sergapntt.com [MENIA] – Memasuki musim tanam (MT) 2011-2012 peraturan daerah (perda) tentang penertiban ternak di Kabupaten Sabu Raijua harus dilaksakan, sehingga tidak lagi menjadi masalah bagi masyarakat. Permintaan ini disampaikan Camat Hawu Mehara, Agust M Mangi Radja belum lama ini di Mehara.
Dikatakan, kebiasaan masyarakat dengan melepas ternak dan peliharaan mereka tanpa dijaga dengan baik akan merusak tanaman yang ditanam tidak boleh lagi terjadi. Selain itu, keamanan lalulintas di jalan raya menjadi tidak aman akibat berkeliarannya hewan di jalan-jalan.
“Kebiasaan masyarakat kita di Sabu ini kan adalah melepas ternak mereka setelah panen selesai. Dengan telah ditetapkannya regulasi berupa perda yang mengatur tentang penertiban ternak, maka itu harus segera dilaksanakan secara baik dan bersama-sama. Kenapa kita lakukan, sebab akan menjadi percuma kita menanam atau melakukan penghijauan kalau ternak dibiarkan saja begitu merusak tanaman,” ujar Agust.
Dirinya mengaku, regulasi berupa peraturan daerah tentang penertiban ternak yang telah ditetapkan sudah disosialisasikan kepada masyarakat. Namun hingga saat ini masih banyak ternak yang dilepas, sehingga diperlukan tindakan tegas melalui operasi yang melibatkan banyak unsur.
Dikatakan, setelah melakukan penertiban terhadap ternak masyarakat, maka pemerintah Sabu Raijua akan menindaklanjutinya dengan menyiapkan pakan yang cukup bagi ternak. Cara tersebut tidak lain yakni ketika program penghijauan telah berjalan dengan baik.
“Pemerintah Sabu Raijua telah menyikapinya dengan bagaimana menyiapkan pakan yang cukup yaitu dengan menggalakkan hijauan makan ternak. Kita tahu bahwa ternak di Sabu sangat kesulitan pakan jika sudah musim kemarau, sehingga tanaman apa saja yang ada mereka makan. Batang jagung dan batang kacang yang kita tanam bisa menjadi pakan buat ternak, sehingga kita tidak membiarkan ternak yang ada mati begitu saja,” katanya.
Dirinya yakin bahwa dengan ditertibkannya ternak masyarakat, maka tumbuhan akan tumbuh di mana-mana dengan baik dan dengan sendirinya, pakan bagi ternak juga akan tersedia di Sabu Raijua.
By. SBR

Enam Kelompok Nelayan Di Sabu Dapat Perahu Lampara


sergapntt.com [MENIA] – Dalam rangka membantu nelayan dalam meningkatkan hasil produksi ikan di wilayah perairan pulau Sabu, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua kembali memberikan bantuan berupa enam unit perahu lampara yang dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira tome bersama anggota DPRD, bertempat di kantor Dinas Pertanian Kehutanan Kelautan dan Perikanan, Sabtu (3/12/11).
Dari enam kelompok yang mendapatkan bantuan, ada dua kecamatan yang tidak dijatahi perahu lampara yakni Kecamatan Hawu Mehara dan Kecamatan Sabu Timur. Sementara, Kecamatan Sabu Barat dan Kecamatan Sabu Tengah masing-masing mendapatkan dua unit perahu lampara. Sementara, Kecamatan Liae dan Raijua mendapat jatah masing-masing satu unit.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome mengatakan, ada puluhan proposal yang dimasukkan kelompok nelayan untuk mendapatkan bantuan perahu lampara dari pemerintah. Namun karena bantuan yang ada terbatas, maka dinas teknis melakukan verifikasi serta memberikan pembobotan bagi kelompok nelayan sehingga bagi yang mendapat bantuan memang sudah dipilih sesuai dengan penilaian dari dinas.
“Pasti banyak kelompok yang kecewa, tapi bantuan yang ada sangat terbatas sesuai dengan anggaran yang ada. Kelompok yang mendapat bantuan ini sudah diseleksi secara ketat,” ujarnya.
Dikatakan, untuk menunjang nelayan dalam pengawetan ikan hasil tangkapan, maka pemerintah sudah membangun pabrik es mini sehingga nelayan tidak sulit mencari es untuk pengawetan. Selain itu, pemerintah juga lewat Dinas Perindustrian sudah melakukan pelatihan-pelatihan kepada kelompok masyarakat bagaimana mengawetkan ikan secara baik serta membuat berbagai macam makanan dari bahan baku ikan seperti bagaimana mengolah ikan menjadi abon.
Khusus untuk potensi laut ujarnya, harus diakui bahwa kekayaan yang terkandung di laut Sabu belum bisa dioptimalkan kerena berbagai keterbatasan sarana dan teknologi sehingga orang Sabu Raijua hanya bisa menonton orang luar mengeruk kekayaan yang ada di laut.
“Nelayan Sabu kan katanya hebat-hebat, jadi dengan adanya bantuan ini harus bisa menunjukan kehebatannya. Kita jangan hanya bangga memiliki laut Sabu yang kaya raya, sementara kita kalah bersaing dengan nelayan yang datang dari luar daerah ini,” tantang Marthen.
Untuk itu, melalui bantuan peralatan modern yang sudah diberikan pemerintah kepada nelayan, maka pemerintah juga sudah siap melakukan program pengembangan potensi kelautan.
Selain itu, Marthen juga menyinggung bahwa ada berbagai potensi selain penangkapan ikan yang juga sementara dilakukan seperti budidaya rumput laut di air dalam dengan sistem long line, membuat tambak ikan maupun udang serta membuat tambak garam dengan lahan yang memadai untuk diproduksi dan bisa dijual ke luar daerah.
“Kita sudah bertekad akan jadikan Sabu Raijua sebagai destinasi kelautan, sehingga semua potensi yang ada kita harus mampu kelola dengan baik. Kita bisa buat tambak ikan yang laris dipasar lokal maupun nasional. Untuk mengoptimalkan semua potensi kelautan disini, maka pemerintah sudah bertekad untuk membuat PD Kelautan, sehingga semua produksi kelautan bisa diatur dengan baik. Kita jangan lagi melihat dan menonton orang luar membagi bagi uang di atas laut Sabu dengan cara mengeruk hasil laut kita. Dengan teknologi penangkapan ikan dan pengawetan, maka bukan hal yang mustahil Sabu Raijua menjadi pemasok ikan bagi NTT dan daerah lain di Indonesia bahkan kalau bisa kita pasok ke luar negeri,” tegas Marthen.
By. SBR

Malaria dan Diare Jadi Ancaman Saat Pergantian Musim


sergapntt.com [MENIA] – Kasus diare dan malaria yang sering terjadi di Kabupaten Sabu Raijua mendapat perhatian pemerintah dalam berbagai tingkatan. Untuk itu, maka masalah kesehatan menjadi prioritas searah dengan misi pemerintah saat ini.
Demikian dikatakan Camat Sabu Timur, Simon Mone Heme kepada Timor Express terkait akan beralihnya musim panas dan musim hujan di mana penyakit maria dan diare selalu mengancam warga. Selain masalah malaria, persoalan kekurangan gizi dan gizi buruk juga tetap dalam pengendalian pemerintah melalui petugas kesehatan yang ada di puskesmas maupun pustu.
Dikatakan, dalam setiap musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) masyarakat selalu mengusulkan agar dalam mengantisipasi peningkatan penyakit malaria, maka diharapkan agar pemerintah bisa membantu dengan memberikan kulambu dan abate secara gratis kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyakit malaria.
“Di bidang kesehatan ada kegiatan prioritas yang diusulkan masyarakat yakni kulambunisasi dan abatenisasi. Selain itu mereka juga minta obat pencelup yang berfungsi untuk membunuh jentik nyamuk yang ada dalam bak mandi atau sarana penampung air milik masyarakat. Warga juga meminta agar dilakukan fogging di beberapa desa yang memang menjadi sarang penyakit malaria. Beberapa persoalan ini yang menjadi prioritas karena pada tahun 2011 ini ada peningkatan penderita malaria di wilayah Kecamatan Sabu Timur dan kita sudah masukkan ini dalam kegiatan prioritas dalam musrenbang,” jelas Simon.
Ditambahkan, masyarakat juga mengusulkan agar masing-masing desa memiliki alat penyemprotan nyamuk yang disimpan di kantor desa, sehingga masyarakat bisa sewaktu-waktu menggunakannnya. Disamping itu, masyarakat juga meminta agar stok obat malaria harus selalu tersedia baik di puskesmas hingga ke pustu-pustu yang ada di desa.
Dirinya merincikan, ada beberapa desa yang sering menjadi sasaran penyakit malaria yakni Desa Keliha, Kudjiratu, Bodae, Huwaga dan Desa Lobodei.
Selain masalah penyakit malaria dan diare, masyarakat juga mengusulkan agar pemerintah bisa memperhatikan masalah kekurangan gizi yang dialami balita khususnya di Kecamatan Sabu Timur dengan cara pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami kurang gizi.
“Jika dihitung secara keseluruhan angka balita kurang gizi di wilayah ini jumlahnya cukup banyak sehingga perlu diberi prioritas. Memang usulan untuk dilakukan pemberian makanan tambahan ini hanya dari beberapa desa, tapi kalau dihitung secara kecamatan, maka jumlah anak yang kurang gizi cukup banyak. Untuk tahun ini PMT sudah dibagi dan diserahkan langsung oleh pak bupati,” pungkas Simon.
By. SBR