sergapntt.com [Papu’u] – Bangunan proyek di lokasi Tranmigrasi Lokal (translok) Papu’u, Kabupaten Sumba Timur dalam kondisi memprihatinkan. Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Disnakertras) pimpinan Yohanes Ola Samon, SH bersama rekanan kontraktor perlaksananya dipertanyakan.
Sejumlah penghuni translok Pupuu di Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur disinyalir sudah meninggalkan lokasi translok. Pasalnya, mereka tidak puas dengan kondisi bangunan yang sudah mulai rusak.
Pantauan Mingguan beritas Rakyat di lokasi translok, bangunan yang dikerjakan sebanyak 75 unit rumah tinggal. Sebagian besar bangunan rumah dalam kondisi yang memiriskan hati. Betapa tidak? Ada rumah yang sejumlah tiang utamanya sudah dimakan rayap, sengnya bocor, lantainya pecah-pecah, bahkan ada yang temboknya bisa menjadi arena ‘ciluuk-baa’ karena jebol.
Sejumlah penghuni yang berhasil ditemui di tempat itu, mensinyalir jenis kayu yang dipakai sangat tidak layak. Ada yang menduga kontraktor menggunakan kayu mangga dan kapok hutan.
Sejumlah bangunan MCK tidak bisa dipakai lagi. Selain atapnya bocor, juga ditemui sejumlah WC yang dindingnya jebol. Tidak heran jika kondisi ini melahirkan sinisme bernada ironis dari sejumlah rekan kuli disket. “WC ini adalah WC jengkys, bebas hambatan muka belakang. Beratapkan langit dan berdindingkan angin sepoi-sepoi,” tukas seorang rekan wartawan mengomentari kondisi salah satu WC yang tidak lagi beratap.
Bernadus (30), warga RT 12/RW 24 yang ditemui di lokasi translok mengaku rumahnya sudah tidak layak lagi ditempati setelah seminggu dihuni. “Ketika masuk dulu, kami sudah disibukkan dengan membersihkan debu bubuk kayu yang dimakan rayap. Selain itu jika hujan turun air masuk kedalam rumah. Dinding juga basah kena rembesan air, ” keluhnya, didampingi isteri dan anaknya yang masih balita.
“Kalau hujan kasihan kami, apalagi anak saya. Juga di WC, lubang closetnya tersumbat, ” imbuh isteri Bernardus.
Yacobus Djami dan Benyamin Maramba Awang pun senada. Ketua RT 12/24, Mutu Pabundung pun mengamini keluhan warga. “Benar itu semua. Ketika kami baru tempati rumah, lantai rumah sudah pecah-pecah. Hal yang sama juga terjadi pada kayu bangunan. Intinya, rumah di translok itu belum ditempati saja sudah hancur. Saya lihat, ini akibat dari pemborong yang tidak teliti dan bekerja kurang tanggungjawab. Petugas Nakertrans juga sudah turun lokasi, namun setelah itu tidak ada langkah lanjutannya,” tukas Mutu.
Yacobus mengeluhkan tidak respeknya Disnakertrans terhadap berbagai keluhan warga. “Kami sudah sampaikan keluhan ini dalam Musrenbangdes namun hingga kini tidak ada tanggapan berarti dari dinas,” timpalnya dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah Sabu.
Kadis Nakertrans Sumtim, Yohanes Ola Samon, SH dalam bebebrapa kali kesempatan ditemui nampak mengeluarkan statemen yang berubah-ubah. Terkesan, Ola Samon menutupi-nutupi kondisi riil dengan mencari berbagi argumen pembenaran. Wartawan juga dipersulit untuk mendapatkan data berupa Skep dan RAB terkait pembangunan Translok yang didanai dari DAU 2006 senilai dari Rp 1,3 miliar itu. Sebelumnya, ia menyanggupi untuk menunjukan data/dokumen proyek kepada wartawan. Namun, setelah realita translok Papuu diungkapkan Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe ketika memberikan sambutan dalam Raker Adkasi akhir Mei lalu, Ola Samon justru menolak menunjukkan data/dokumen ketika diminta wartawan. “Sebenarnya apalagi yang mau dilihat. Semuanya sudah dikerjakan sebagaimana mestinya. Lagipula, kerusakan yang ditemui sudah dan akan diperbaiki oleh kontraktor. Juga, setelah saya konsultasikan dengan kawan-kawan, disepakati tidak boleh kami tunjukkan, karena itu adalah dokumen negara, ” tandasnya berkelit dengan nada tinggi.
Di tempat terpisah, Kabag Pembangunan Setda Sumtim, Gerald Haling Palakehelu, SH, MSi menjelaskan bahwa pihaknya akan segera menyikapi persoalan translok ini dengan menurunkan tim ke lokasi. Ya, “Kami akan turun cek lokasi. Jika memang bermasalah maka sudah barang tentu menjadi tanggungjawab kontraktor dan dinas terkait,” tukas Gerald.
Hal serupa ditegaskan Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Ir. Yuspan Pasande, MSi ketika ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. Dia berjanji akan melihat langsung lokasi tersebut dan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Nakertrans sebagai pengguna anggaran. “Kami akan tinjau lapangan dan mencek apakah rumah disana dikerjakan sesuai bestek atau tidak. Namun, terima kasih, ini info bagus untuk kami. Keluhan warga memang harus segera disikapi dengan turun langsung ke lapangan. Tentunya, kondisi di lapangan nantinya bisa menjadi catatan tersendiri bagi kami untuk lebih jeli melakukan pengawasan dan bila perlu dalam menentukan kontraktor harus lebih berhati-hati. Kontraktor juga harus bertanggungjawab jika memang keluhan warga itu realistis,” jelasnya.
Siap Perbaiki
Sementara itu, Direktur PT Tunas Berdikari, Ridwan Oentono yang menjadi kontraktor pelaksana pembangunan Translok Papu’u berjanji akan segera memperbaiki berbagai kerusakan yang dikeluhkan warga. “Kami akan perbaiki kerusakan yang ada. Kami tinggal menunggu koordinasi dengan Disnakertrans,” ujarnya, kepada Mingguan Berita Rakyat.
Dia menampik sinyalemen yang menyebutkan bahwa pihaknya bekerja tidak sesuai bestek. “Kami rasa telah bekerja sesuai bestek, sebelumnya kami kerjakan ada pengawas dan konsultan. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Memang kami akui, dari ribuan batang kayu yang digunakan untuk pembangunan rumah di lokasi tersebut, bisa saja tersisip kayu basah. Tapi terus terang kami tidak sengaja melakukannya,” tandas Ridwan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Sumtim ini.
Tidak hanya itu, Ridwan juga berkelit, dengan menyatakan kerusakan yang terjadi bukan karena dikerjakan tidak sesuai bestek namun karena lamanya tenggat waktu rumah ditempati warga. Juga, karena ulah ternak yang dilepas berkeliaran. “Setelah selesai dibangun, tidak langsung ditempati warga. Ada tenggat waktu cukup lama. Saya juga curiga ada yang sengaja bikin rusak dan bisa juga karena diterjang ternak yang dilepas berkeliaran,” kilahnya.
Ridwan malah mensinyalir adanya permainan sejumlah oknum pengusaha lainnya untuk menjegalnya terkait pelaksanaan tender proyek translok di Yubu Wai. “Jujur, saya curiga keadaan ini justru dimainkan oleh oknum-oknum lain yang ingin jegal saya. Apalagi dalam waktu dekat akan ada tender proyek Translok Yubuwai. BPK dan Banwas dalam laporan pemeriksaan sebelum proyek itu diserahterimakan tidak menemukan kesalahan dalam pelaksanaan proyek ini. Tapi tetap akan kami perbaiki, jika memang ada kerusakan. Jangankan dalam masa pemeliharaan, lewat masa pemeliharaan pun akan tetap kami perbaiki. Ini untungnya, jika proyek dikerjakan kontraktor lokal. Kami tidak bisa lari kemana-mana,” ungkap dia.
Rupanya Ridwan tak sekedar membual. Pantauan Mingguan Berita Rakyat di lokasi translok, nampak sejumlah rumah dan ragam kerusakannnya sudah diperbaiki. Namun demikian, masih ada warga yang merasa diperlakukan sebagai ‘anak tiri’, dikarenakan rumah mereka belum juga terjamah perbaikan.
Meski sempat nampak ragu dan takut untuk memberi keterangan, namun mereka akhirnya mau bercerita. Diduga mereka tak mau memberi penjelasan kepada pers karena telah diintimidasi oknum-oknum tertentu. Warga mengaku salut dengan kontraktor pelaksana yang mau memperbaiki kerusakan bangunan. “Tanggungjawab itu diwujudkan sejak dari awal mengerjakan pekerjaan proyek, bukan hanya setelah muncul masalah baru katakan bersedia bertanggungjawab,” tandas senada sejumlah pihak. (by. saw)