sergapntt.com [SOE] – Kantor Bappeda TTS, awal pekan silam, heboh besar. Pasalnya, dua pejabat eselon III di intansi itu, yang saban hari selalu bermain gila alias berkelakar, terlibat adu jotos serius hingga berdarah-darah. Persoalannya sepeleh saja. Kini keduanya harus berurusan dengan aparat kepolisian.
Awal pekan lalu, Kantor Bappeda TTS digemparkan oleh perkelahian antara Sekretaris Bappeda TTS, Rafael Aploegi dengan Kepala Bidang Sosial Budaya (Kabidsosbud), Daniel Nifu. Ceritranya, sepulangnya Rafael Aploegi mengikuti persidangan di DPRD TTS, didapati Daniel Nifu sedang nongol di ruang kerjanya. Rafael lalu menyampaikan kepada Daniel bahwa dirinya baru saja mengikuti rapat di Dewan, dan rapat ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Rafael lalu meminta Daniel menyelesaikan RKA tahun 2007 untuk dilaporkan ke DRPD TTS. Daniel lalu balas mengatakan, RKA 2008 juga sudah selesai. Sebenarnya, jawaban Daniel ini hanya berkelakar saja, karena keduanya biasa berkelakar.
Tapi, rupanya jawaban Daniel yang bernada kelakar ini ditanggapi serius oleh Rafael. Rafael pun tersinggung sehingga berlanjut perang mulut cukup seru.
Aksi saling dorong pun tak terhindari. Ibu Klara, salah seorang staf Bappeda TTS, yang kebetulan berada dekat mereka pun tak berhasil melerai Rafael yang tampak lagi naik pitam. Malah Rafael balik menghardik Ibu Klara, “Kau minggir, nanti saya anggap kau laki-laki saya kucak kau.” Ibu Klara pun menghindar karena takut dikasari.
Kendati Daniel berupaya minta maaf berulang kali, toh Rafael tidak menggubrisnya. Ini ibarat ronde pertama. Selepas aksi saling dorong-mendorong itu, Rafael meninggalkan Daniel kembali ke rumah mengganti pakaian dinasnya. Beberapa saat kemudian Rafael sudah tiba di Kantor Bappeda mengenakan pakaian biasa. Dendam Rafael tak pupus, dia memulai lagi dengan ronde kedua, dengan cara mengejar Daniel yang saat itu hendak menyelamatkan diri ke ruang Kepala Bappeda TTS, Ir. Yaan Tanaem.
Tatkala Daniel hendak tiba di pintu masuk ruang Kepala Bappeda, Rafael langsung menghadangnya sambil melototkan matanya ke muka Daniel sambil mengatakan, “Sekarang saya datang bukan sebagai Sekretaris Bappeda, tetapi sebagai seorang Rafael Aploegi. Mari kita mulai berkelahi.”
Spontan Rafael menjotos wajah Daniel dan darah segar pun keluar, bahkan sebagian muncrat ke wajah Rafael. Batang hidung Daniel patah nyaris tidak bisa bernapas lagi. Tatkala beberapa pegawai berusaha melerai dua pejabat penting Bappeda itu, Daniel ambil kesempatan mememarkan wajah Rafael.
Wajah keduanya babak belur dan saling bergulingan di tanah. Kepala Bappeda yang waktu itu mengenakan jas, terpaksa ditanggalkan karena dibasahi darah.
Setelah perkelahian itu diredam, tampak Kepala Bappeda sempat memanggil keduanya, tapi tidak digubris juga. Daniel serta merta meninggalkan Kantor Bappeda untuk menyerahkan diri bersama barang bukti berupa darah segar yang masih menempel di pakaian dinasnya.
Sebaliknya Rafael langsung menemui dan mengadu pada Sekda TTS, Drs. Alfred M. Kase, M.Si. Mendengar pengaduan itu, Kase tidak bisa berbuat banyak selain diam dan mendengarkan kronologis kejadian itu.
Kepada SERGAP NTT, Kase mengaku kesal bahkan heran dengan dua pejabat penting di TTS yang bertindak bak perman itu. “Saya tidak tahu mereka punya otak taruh di mana,” papar Kase.
Rafael pun enggan berkomentar ketika diwawancarai Vista Nusa. Rafael justru sibuk menghubungi Asisten II, Drs. Salmun Tabun, M.Si dan pejabat lain yang masih berada di Kantor Bupati TTS siang menjelang sore itu.
Kondisi Rafael yang memar, kusut dan berlumuran darah, pakaiannya sobek dan penuh debu saat berguling di tanah waktu berkelahi, menarik perhatian banyak pegawai.
Kepala Bappeda, Ir. Yaan M.J. Tanaem saat dikonfirmasi tidak mau berkomentar banyak soal perkelahian anak buahnya itu. Ia terlihat kecewa dengan tindakan yang tidak bermartabat itu. “Saya tidak tahu setan apa yang merasuki pikiran mereka sampai berkelahi seperti itu. Tidak tahu mereka emosi macam apa,” tandas Tanaem.
Kendati kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian, toh Tanaem berharap keduanya bisa selesaikan secara kekeluargaan.
Kapolres TTS, AKBP Suprianto melalui Kasat Reskrim, Yeter B. Selan membenarkan kasus ini sedang ditanganinya. “Mereka sudah melaporkan kejadian ini ke sini (kepolisian) dan masih kami proses,” ujar Selan.
Daniel tampak mengalami penderitaan yang cukup serius dan mendapat perawat medis karena batang hidungnya patah bahkan sempat dirontgen.
Saat ditemui Vista, dia kembali menjelaskan bahwa peristiwa itu berawal dari ucapan kelakarnya, “RKA 2008 juga sudah”, kendatipun kenyataannya untuk tahun 2007 saja belum masuk, tapi ini ditanggapi serius oleh Rafael sehingga berbuntut perkelahian berdarah.
“Saya sendiri tidak mengerti sampai dia (Rafael) bisa menyerang saya seperti itu. Padahal kami biasa kelakar,” jelas Daniel, sambari berharap peristiwa ini tidak terulang lagi.
Daniel mengaku sudah berulang kali minta damai, tapi Rafael tidak ambil pusing. “Kami rekan kerja yang selalu berurusan di kantor setiap saat. Jadi saya minta damai saja,” tambah Daniel. (by. sipri atok)
