Kades Nonokbatan Aniaya Warganya Hingga Pingsan


sergapntt.com [Kefa] – Kepala Desa Nonokbatan, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferdinandus Kiik Usboko tega menganiaya Yoseph Kebo, warganya sendiri, hingga pingsan tak sadarkan diri.
Persitiwa ini bermula ketika anak Yoseb Kebo bernama Yohanes Jemi Kebo secara tak sengaja menyentuh buah dada puteri sang Kades bernama Doly Usboko. Menurut, Jemi Kebo, ketidaksengajaanya itu terjadi ketika ia dan teman-teman sekelasnya, termasuk Doly secara beramai-ramai berebutan minum air usai mengikuti pelajaran praktek olah raga di sekolah mereka, yakni SMP Bian, Biboki Anleu pada Selasa, 15 Mei 2007 lalu. Jemi juga tak menyangka jika sepulang sekolah, Doly mengadukan peristiwa itu ke orang tuanya. Buntutnya, orang tua Doly menuntut orang tua Jemy membayar denda sebesar Rp10 juta. Karena tak disanggupi, keesokan harinya Kades Usboko lantas mencari dan memukuli Jemy di sekolahnya. Setelah itu, si kades memaksa Jemy agar segera memberitahukan kepada orang tuanya agar secepatnya membayar denda yang diminta. Sepulang sekolah, Jemy pun mengadukan perbuatan dan permintaan sang kades kepada orang tuanya. Namun belum sempat Jemy menyampaikan derita yang ia alami, sang kades justru meminta petugas Hansip untuk memanggil ayahnya di rumah. Singkat cerita, ayah Jemy pun dijemput paksa, digiring ke rumah kades lalu dikeroyok beramai-ramai hingga babak belur. Buntutnya, ayah Jemy terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena menderita luka lebam yang cukup parah.
“Saya tidak sanggup bayar denda sebesar itu pak, saya ini petani. Apalagi kasus itu terjadi secara tidak sengaja. Saya dan keluarga sudah minta maaf. Tapi, kami dipaksa harus bayar denda sebesar Rp 10 juta. Saya hanya sanggup bayar Rp. 2 juta. Karena itu, pak Kades dan keluarganya ramai-ramai keroyok saya sampai saya tidak sadarkan diri. Awalnya, saya dijemput oleh hansip, katanya mau selesaikan masalah di rumah pak kades, tetapi sampai disana ternyata saya langsung dikeroyok secara beramai-ramai”, papar ayah Jemy saat ditemui Sergap NTT di RSUD Kefamenanu belum  lama ini.
Ditemui ditempat terpisah, Jemy Kebo mengaku, insiden yang dialami Doly Usboko itu terjadi secara tak sengaja.
“Saat itu saya tidak sengaja. Begitu selesai olahraga, kami berebutan minum air, entah bagaimana, saat itu sikut tangan saya menyenggol buah dada Doly” ucap Jemy, singkat.
Kapolsek Biboki Anleu, Cornelis Leto menjelaskan, kasus penganiayaan tersebut kini sedang diproses.
Kami sudah mendapatkan pengaduan dari korban. Sejumlah saksi juga sudah kami mintai keterangan. Untuk sementara, tiga orang sudah kami tetapkan sebagai tersangka, antara lain Kepala Desa Nonokbatan, Ferdy Kiik Usboko, Manek Ropi dan Maksi Elu. Kami akan proses kasus ini hingga tuntas,” tegasnya.
Kades Jual Beras Raskin
Sementara itu, Kades Naob, Kecamatan Noemuti, TTU, Ayub Metkono nekad menjual besar Raskin (Rakyat Miskin) jatah untuk warga Desa Naob demi kepentingan dirinya sendiri. Aksi Ayub itu dipergoki oleh warganya sendiri. Buntutnya, ratusan warga Desa Naob yang dipimpin Gaspar Taneo dan Agus Sonbay melakukan protes ke DPRD TTU.
Selain melakukan protes, warga juga membawa barang bukti berupa tiga karung beras raskin yang disita dari tangan Sekretaris Desa (Sekdes) Naob, Frans Nitjano, dan dua anggota keluarganya, Helena Nitjano dan Martinus Nitjano. Kedatangan mereka diterima oleh Ketua dan Anggota Komisi B DPRD TTU, Yoseph Hani dan Aloysius Taolin. Kepada warga, Hani berjanji akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan dan meminta pertanggungjawaban sang Kades. Saat itu, Hani juga memanggil dan meminta staf Bagian Ekonomi Setda TTU untuk menjelaskan kepada warga berapa jumlah beras yang dialokasikan ke Desa Naob dan berapa jumlah warga Desa Naob yang berhak menerima beras itu.
“Kasus ini kita sudah dengar dan kami akan turun ke desa bapak ibu sekalian untuk menyelesaikan masalah ini. Kami minta sebuah surat aduan dari warga ke dewan. Kita akan turun dalam waktu dekat ini”, ucap Taolin sembari meyakinkan warga.
Gaspar Taneo dan Agus Sonbay mengaku, awal tahun 2007 lalu, sebanyak 337 Kepala Keluarga (KK) di Desa Naob telah mengumpulkan uang Rp 65.000 per KK. Uang itu untuk membeli beras OPK dan telah diserahkan ke Kades.
“Kami ini warga yang mau ikut aturan, kita sudah ikut aturan tetapi kita dipermainkan oleh Kepala Desa. Dia sudah jelas tertangkap basah sedang menyuruh ojek untuk membawa beras 3 karung ke sekertarisnya Frans Nitjano. Ketika kami tanya dan mendesak untuk segera membagikan beras 4 tahap itu, malah dia balik mengancam dengan mau mempolisikan kami. Karena itu kami datang ke dewan untuk mengadu”, papar Sonbay. (by. judith taolin) 

Wartawan Gadungan Dihajar Massa Hingga Babak Belur


sergapntt.com [Kefa] – Ngaku sebagai wartawan dan Pengurus Uyelindo NTT, Johanis Kefi, ST. MM diduga beberapa kali melakukan penipuan, menghamili gadis, sebut saja Maria dan menjalin kasih dengan istri orang di Desa Sunsea, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Buntutnya, pria asal Kefamananu, ibu kota TTU, yang selalu menenteng secarik surat berlogo Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI) itu babak belur dihajar massa di Perbatasan Negara Republica Demokratica de Timor Leste (RDTL) dan Republik Indonesia (RI).
Aksi penipuan juga dilakukan Kefi di Desa Napan, Miomafo Timur, TTU. Dengan modal selembar surat dari HIPSI atas nama Dewan Pengurus Pusat HIPSI dengan motto Mengemban Aspirasi Bangsa berdasarkan Surat Keputusan (SK) Dirjen Sospol Depdagri Nomor: 72 1998 yang beralamat di Jl. Berlian Raya Kav. 664 Sumur Batu-Jakarta, Telp (021) 4201167 Fax (021) 0223179  itu,  Kefi meminta sejumlah uang kepada masyarakat Miomafo Timur sebagai imbalan peliputan jurnalistiknya. Bahkan, berdalih mencari ongkos pesawat untuk pulang ke Jakarta, Kefi nekad “menodong” sejumlah aparat TNI dan Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan RDTL-RI.
Sejumlah warga yang ngaku turut menganiaya Kefi mengatakan, selain mengaku sebagai wartawan, Kefi juga mengaku sebagai salah satu pengurus Uyelindo NTT. Merasa aksinya aman dan sering berjalan mulus, Kefi mulai merambah kejahatan lain, yakni memacari dan menghamili anak gadis orang. Tak puas dengan itu, Kefi pun “menjamah” istri orang. Karena tak tahan dengan ulah Kefi, puluhan warga perbatasan RDTL-RI dari Desa Napan beramai-ramai mencari dan mengeroyok Kefi hingga babak belur.  
“Kami tidak puas pak, karena dikecewakan berulang-ulang oleh Kefi. Dia mengaku sebagai wartawan dari Jakarta dan pengurus Yayasan Uyelindo. Dia tipu kami sejak Januari lalu,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Desa Napan, Martinus Taeki saat ditemui Mingguan Berita Rakyat  dikediamannya pada Minggu, 1 Juli 2007 lalu.
Hal senada juga diungkapkan Shuhali, Komandan TNI Perbatasan RI-RDTL Wilayah Desa Napan, Miomafo.
“Sejak awal, saya sudah curiga dia itu wartawan gadungan. Karena waktu saya tanya identitasnya, dia hanya menyodorkan sebuah surat kosong yang berkop HIPSI. Saya tetap tidak percaya, lalu dia tidak bisa jawab beberapa pertanyaannya yang saya ajukan, “ papar Shuhali sembari menyodorkan sebuah surat berlogo HIPSI yang disita dari Kefi.
Sejumlah wartawan yang bertugas di TTU mengaku sangat menyesal dengan tindakan dan perbuatan Kefi.
“Kita sangat sesalkan sikap Kefi yang mengaku sebagai wartawan lalu melakukan tindakan penipuan kepada warga dan amoral kepada beberapa gadis desa. Saya meminta kepada warga untuk selalu kritis karena wartawan, terutama wartawan yang tidak memiliki identitas yang jelas dan dalam melakukan tugas jurnalis. Kita berharap polisi segera meringkus oknum-oknum yang ngaku sebagai wartawan, tapi tidak beridentitas yang jelas”, pinta Yan Meko, pria yang ngaku sebagai Kontributor RCTI dari TTU. (by. judith taolin)

PMPB Gelar Diklat Penanggulangan Bencana


sergapntt.com [Kefa] – BENCANA alam seperti  banjir, longsoran, rawan pangan, kekeringan dan epidemi yang kian mewabah kerap melanda berbagai daerah di tanah air, termasuk di daratan Pulau Timor. Boleh jadi ini akibat dari ketidakseimbangan populasi manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti pemukiman penduduk yang semakin meluas dan pembangunan yang tidak melalui kajian dampak lingkungan (Amdal).
Untuk menanggulangi resiko becana-bencana tersebut, belum lama ini Perkumpulan Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) NTT bekerja sama dengan OXFAM dan Yayasan Timor Membangun menggelar Pendidikan dan Latihan (Diklat) tentang dasar-dasar manajemen penanganan resiko bencana kepada puluhan PNS dari berbagai instansi pemerintah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu di Hotel Ariesta Kefamenanu, ibu kota TTU.
Selama Diklat, tampak peserta lebih menekankan pada upaya penanggulangan resiko bencana jangka panjang agar bisa mengurangi resiko yang dapat merenggut nyawa manusia.
Sementara menurut lembaga pemerhati lingkungan hidup DAS Benanain, selama bencana muncul, pemerintah kurang memiliki kapasitas dalam upaya antisipatif dan respons tentang upaya penanggulangan dampak bencana secara berkesinambungan. Pemerintah hanya memberikan bantuan darurat infrastruktur yang mana jauh dari aspek meminimalisir resiko bencana dan tidak memikirkan solusi terbaiknya.
Namun demikian, bila dicermati lebih mendalam terhadap gempa bumi, gelombang tsunami, banjir bandang, tanah longsor, kemarau panjang, hama/penyakit tanaman letusan gunung api bahkan wabah penyakit yang terjadi, itu hanya akibat kelalaian masyarakat sendiri, sehingga untuk mengurangi resiko bencana dimaksud maka  masyarakat perlu dibekali sejak dini.
Direktur PMPB NTT, Yus Nakmofa kepada wartawan usai Diklat menjelaskan, Diklat ini dikhususkan kepada lembaga pemerintah yang merupakan lembaga perencana pembangunan di daerah. “Sejak Maret 2007 kita sudah melakukan kegiatan yang difokuskan kepada DAS Benenain. Kita juga akan lakukan seminar nasional dan memediasi kunjungan silang yang akan dilakukan oleh stakeholder,” ujar Nakmofa.
Mathilda Thall, peserta dari Dinas Sosial Kabupaten TTU mengaku, pelatihan ini sangat bagus bagi Dinas Sosial untuk dijadikan referensi dasar penanganan bencana di TTU. (by. judit taolin)

Delon Hadir Di Festival Band Kefa


sergapntt.com [Kefa] – MAU bertemu Delon? Tak perlu ke Jakarta! Datang saja ke Kefamenanu pada tanggal 06 hingga 10 Agustus 2007. Sebab salah satu ikon Indonesia idol itu akan menjadi bintang tamu pada acara Festival Band yang akan dilangsungkan di Kefamananu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Festival yang akan diikuti grup band se NTT itu akan diselenggarakan oleh Muda Mudi Katolik (Mudika) Gereja Santo Antonius Padua-Sasi Kefamenanu asuhan Pater Antonio Razzoli, OFM CONV dan Pater Andre Budi OFM CONV guna memeriahkan HUT Gereja Paroki St. Antonius Padua-Sasi Kefamenanu dan HUT RI 17 Agustus 2007. 
Ketua Panitia Festival Band yang juga Wakil Bupati Kabupaten TTU, Raymundus Fernandez, S.Pt menyebutkan, festival ini sekaligus sebagai ajang kawula muda mengekspresikan kreasi seni, mengembangkan daya cipta dan sebagai media merajut tali persaudaraan diantara muda-mudi se-NTT.
Event ini terbuka untuk seluruh masyarakat yang memiliki grup band, dengan syarat personil band harus sudah berumur 15 hingga 35 tahun. Lagu yang dilombakan antara lain, Gebyar-gebyar ciptaan Gombloh,  Rumah Kita (God Bless), Semut-semut Hitam (God Bless), 40 judul lagu bebas  serta satu lagu manca negara. Lagu-lagu yang dilombakan tersebut, bisa diaransemen lagi berdasarkan karakter group band masing-masing.
“Karenanya, bagi yang berminat silahkan mendaftarkan grup band-nya di sekretariat Festival Band di Paroki Antonius Padua-Sasi, Kefamenanu. Pendaftaran dibuka tanggal 01 sampai 31 Juli 2007, dan pelaksanaan Festivalnya tanggal 06 sampai 10 Agustus (2007),” ujar Fernandez.
Hadiah yang telah disiapkan sebesar Rp. 40 juta untuk spesifikasi gitaris terbaik, drummer terbaik, basis terbaik, keyboard terbaik dan vokalis terbaik. Bagi band yang berhasil meraih juara umum disediakan satu paket hadiah alat band senilai Rp. 24 juta.
Selain Delon, akan hadir pula Jever cs. Sedangkan dewan juri berjumlah tujuh orang yang berasal dari Jakarta, Kupang, Atambua dan Kefamenanu.
“Hari ini, esok dan ke depan, pemuda harus mau ‘DICIUM’ (Disiplin-Cekatan-Inisiatif-Ulet-Militan) dan mampu menjalin ‘KASIH’ (Kerja-Amal-Santun-Iman-Harapan), sehingga dengan kegiatan akbar ini mampu mempersatukan pemuda dari segala penjuru,” tegas salah satu panitia Festival Band bernama Miguel Atibau.
Pastor Paroki, Antonio Razzoli, OFM CONV mengaku, kegiatan ini bertujuan membangkitkan minat pemuda dalam dunia musik.
“Selain itu sentuhan musik yang merupakan ruang seni bisa membantu kita mengembangkan daya kecintaan kepada budaya TTU khususnya dan Indonesia pada umumnya. Dengan moment ini juga diharapkan bisa mempererat jalinan persaudaraan yang baik diantara sesama muda mudi. Musik sangat indah dan berpengaruh terhadap jiwa manusia, karena itu diharapkan lewat musik kita bisa bersama saling mengenal dalam membangun bangsa. Ibarat  tali gitarnya putus maka bisa digunakan sebagai cincin kasih sayang,” ujar Antonio memberi nasehat. (by. judith taolin)

Ketua Asrama Putri SMPK Oelolok Dianiaya Preman Kampung


sergapntt.com [Kefa] – Malang benar nasib Ketua Asrama Putri Sekolah Menengah Pertama Katholik (SMPK) Oelolok, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, Ny. Theresia Funan (30). Gara-gara melarang anak asuhnya agar jangan dulu berpacaran lantaran belum cukup umur, ia justru dianiaya hingga babak belur oleh preman kampung yang ingin menjalin kasih dengan siswi penghuni asrama yang ia pimpin.  
Ny. Theresia benar-benar tak menyangka jika larangannya itu telah membuat Iman Tusi (20 tahun) dan Donatus Djuki (27 tahun) tersinggung. Ia baru sadar ketika Senin, 29 Januari 2007 lalu, secara membabi buta kedua pemuda yang dikenal sebagai geng kampung Oelolok itu menyerang dan menganiaya dirinya hingga babak belur dan nyaris ditelanjangi. Bukan itu saja, Tusi dan Djuki juga membakar sejumlah pakaian milik beberapa siswi SMPK Oelolok yang tinggal di asrama itu.
Beruntung warga sekitar sigap dan berhasil mengehentikan kebringasan Tusi dan Djuki. Keduanya langsung digiring ke Polsek Insana. Hanya saja yang ditahan hanyalah Djuki. Sebab Djuki dianggap sebagai pelaku utama. Dan, demi peyelidikan lebih lanjut, Djuki pun dikirim dan di tahan di sel Polres TTU. Ironisnya, baru beberapa hari di tahan dan dibawah penjagaan aparat Polres TTU, Djuki justru berhasil kabur alias melarikan diri dari tahanan.
“Katanya dia kabur sejak tanggal 5 Pebruari 2007. Saya juga tahu kaburnya anak saya itu dari polisi,” papar ayah kandung Djuki, Benyamin Yosef di kediamannya, Jumat 1 Juni 2007.
Benyamin mengisahkan, anaknya resmi ditahan sejak 1 Pebruari 2007, namun empat hari kemudian pihak Polres TTU mengaku kalau anaknya telah kabur dari tahanan. Tentu saja perasaan Benyamin menjadi gundah.
“Syukur kalau anaknya benar melarikan diri, tapi bagaimana jika anak saya ternyata mati dibunuh? Sebab sampai sekarang saya belum bertemu bahkan mendengar kabar dimana keberadaan anak saya. Saya hanya sempat bertemu anak saya, ketika dia masih ditahan di di Polsek Insana. Tapi tanggal 2 Pebruari 2007 ketika saya kembali menjenguk anak saya, tiba-tiba polisi beritahu anak bahwa anak saya telah dipindahkan ke tahanan Polres TTU. Saya sempat bertanya kepada polisi itu, kenapa anak saya dipindahkan? Apakah ada surat pemberitahuan kepada keluarga tentang pemindahan itu? Tapi kata polisi itu bahwa tidak ada surat pemberitahuan ataupun surat penahanan. Sejak itulah saya tidak pernah bertemu lagi dengan anak saya. Selang satu minggu kemudian ada kabar dari Polsek Insana bahwa anak saya sudah kabur dari tahanan Polres TTU,” papar Benyamin.
Ia meminta Polres TTU harus bertanggung jawab soal hilangnya Djuki. “Anak saya itu kabur dari tahanan atau sudah mati dibunuh? Kalau betul dia kabur, polisi harus tangkap dia kembali, bukan dibiarkan begitu saja. Entah mau selesaikan secara damai atau proses hukum itu urusan nanti. Yang penting sekarang tunjukan dulu wujud anak saya. Kami sekeluarga terima apapun bentuk sangsi hukum yang diberikan kepada anak saya, baik denda adat maupun hukuman penjara. Tapi yang buat saya bingung itu, kerja polisi itu apa saja sehingga tahanan koq bisa kabur dengan leluasa,” tohoknya.
Kaburnya Donatus Djuki dibenarkan juga oleh Kapolres TTU, AKBP. Ricy S. Paays dan Wakapolres TTU Kompol. Agus Wibowo. Kedua pejabat polisi di TTU itu mengaku hingga sekarang Djuki belum tertangkap. “Kami sudah masukkan Donatus Djuki sebagai DPO-nya (Daftar Pencarian Orang) Polres TTU. Kita sudah sebarkan nama dan fotonya ke seluruh Polres dan Polsek-Polsek sedaratan Timor,” tegas Kapolres.
Sementara Wakapolres Agus Wibowo menjelaskan, kaburnya Donatus Djuki akibat kelalaian anggota Polres TTU dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai polisi. “Kita sudah berikan sangsi kepada anggota yang terbukti lalai melaksanakan tugas. Segaja atau tidak segaja dalam menjalankan tugas, tetap kita hukum,” ucapnya.
Menurut Wibowo, Donatus Djuki adalah tahanan titipan dari Polsek Insana. Sebab, berkas penyidikan dan pemeriksaan tersangka Djuki masih ditangani Polsek Insana. Sayangnya, Kapolsek Insana, Iptu. Herman Lona yang hendak ditemui Mingguan Berita Rakyat tidak berada ditempat. (by. aplasi)