Pengakuan Miris Mantan Honorer Setda NTT, “Tubuhku Boleh Digilir, Asal Aku Dibayar”


sergapntt.com [KUPANG] – KEGETIRAN hidup menjanda benar-benar dirasakan dara manis asal pulau Sumba, sebut saja Sonya. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga terus melorot dari tahun ke tahun, usai lulus SMA  Sonya memutuskan merantau ke kota Kupang. Mulai dari berdagang hingga bekerja di perusahaan swasta ia pernah geluti. Namun semua pekerjaan itu tak membuatnya betah. Tak lama berselang ia pun menjadi pegawai honorer di lingkup Sekertariat Daerah (Setda) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tempat inilah ia akhirnya terjebak dalam dunia perselingkuhan. Belakangan lelaki yang dipilih hanyalah para pejabat berkantong tebal. Maklum, Sonya berprinsip; ada uang abang disayang, tak ada uang abang sebaiknya jauh-jauh. Benarkah? Berikut kisahnya:
Orang-orang menyebutku wanita belia dengan bau harum semerbak. Aku tak tahu kenapa orang-orang menjuluki aku seperti itu. Aku hanya bisa menerka, mungkin karena aku ini tergolong wanita cantik, mulus dan seksi yang selalu pakai parfum pilihan. Entah benar atau tidak, teman-temanku mengaku kalau raut wajah dan postur tubuhku mirip artis cantik Sofia Lajuba. Setiap orang yang berpapasan denganku selalu tercengang akan kecantikanku. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika mereka tak menggoda. Tapi tidak jarang pula aku mendengar julukan itu hanyalah sindiran belaka. Apalagi setelah aku diketahui sebagai Wanita Idaman Lain (WIL) alias wanita simpanan sejumlah oknum pejabat. Sebab bau harum yang sesungguhnya hanya keluar dari tubuhku bila aku sedang digilir di atas ranjang. Aku lupa, kapan dan siapa yang pertama kali mengatakan seperti itu. Yang pasti, aku agak kesal dengan ledekan tersebut.
Ah…aku mulai saja catatan hidupku dari awal. Aku adalah wanita lulusan SMA yang dilahirkan di sebuah kampung kecil di Kabupaten Sumba Barat, NTT. Aku berdarah blasteran Sumba-Manado. Lulus SMA aku merantau ke Kupang untuk mencoba mengadu nasib. Aku pernah bekerja membantu tante berdagang di pasar Inpres Naikoten I Kupang. Aku tak betah. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa jauh-jauh aku datang ke Kupang hanya untuk jadi pedagang. Dari situ aku kemudian melamar kerja ke sebuah perusahaan jasa konstruksi. Aku lalu ditempatkan di bagian administrasi. Pekerjaanku hanya mencatat surat masuk dan surat keluar. Kadang membantu sebagai resipsionis atau penerima telepon. Tapi lagi-lagi aku tak betah. Karena orang yang aku temui setiap hari kurang membangkitkan semangat kerjaku. Sudah begitu, gajiku kecil pula. Maklum, selera dan kebutuhanku cukup tinggi. Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti. Selepas itu aku menganggur hampir setahun lebih.
Baru di pertengahan Agustus 2002, aku berkenalan dengan seorang teman pria yang telah lama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kantor Gubernur NTT. Saat itu kata dia, dikantornya sedang membutuhkan seorang tenaga honorer yang mampu mengoperasikan komputer. Kebetulan aku bisa. Tak menunggu lama aku lantas melamar ke sana. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, aku akhirnya diterima. Setahun lebih tugasku hanya melakukan pekerjaan administrasi yang berhubungan dengan komputer.
Suatu ketika aku dimutasikan ke salah satu bagian menjadi sekertaris salah satu pimpinan di Kantor Gubernur NTT. Aku sangat senang kerja disitu. Soalnya sering menemukan hal-hal baru. Apalagi pekerjaan yang aku lakukan tidak monoton. Malah aku kadang mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu yang hendak bertemu bosku. Maklum, tamu bosku kebanyakan berasal dari kalangan pejabat dan pengusaha sukses.
Suatu kali bosku didatangi wanita paruh baya yang masih kelihatan montok dan cantik. Tanpa menghiraukan aku yang duduk persis disamping pintu masuk ruang kerja pimpinan, dia langsung menerobos masuk menemui bosku. Merasa heran dengan kedatangan tante bos genit itu, aku pun pasang telinga. Dari hasil nguping baru ketahuan kalau ibu itu ternyata “piaraan” bosku. Dalam pembicaraan itu, si ibu mengaku hendak ke Jakarta untuk suatu urusan bisnis. Bosku diminta ikut. Namun sebelum itu bosku diminta mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Katanya, untuk keperluan di Jakarta nanti. Selanjutnya, bosku tidak masuk kantor selama satu minggu. Istrinya menelpon ke kantor, sewot dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara aku yang menerima telepoh hanya bisa tertawa geli dalam hati.
Tiga bulan menjadi sekertaris, aku berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan ganteng plus berkantong tebal. Ia termasuk kategori “orang kecil” yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya dengan sebutan om Gaul. Maklum, dalam kesehariannya dia agak parlente. Ia memang tidak mudah lagi. Walaupun begitu, ia masih punya pesona tersendiri. Masih romantis, gitu loh!.
Sebulan setelah perkenalan, lewat telepon om Gaul berhasil memikat aku dengan rayuan manisnya. Ia mengajakku jalan-jalan. Aku dibawa ke restoran yang paling mahal di Kota Kupang. Dia juga mengajak aku membeli pakaian, peralatan kosmetik dan berbagai kebutuhan lain, termasuk sebuah hand phone bermerk. Otomatis hatiku senang.
Tepat di bulan Desember 2004, lagi-lagi om Gaul mengajak aku makan dan berbelanja. Kali ini aku benar-benar dibuat happy abis. Apa yang aku mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Aku benar-benar puas. Aku merasa seperti hidup di surga.
Habis berbelanja, jelang malam tiba kami sepakat untuk pulang. Dalam perjalanan, om Gaul dengan penuh semangat bercerita kepadaku mengenai keadaan dan kondisi rumah tangganya. Bahkan kata dia, hampir empat tahun terakhir hidupnya seakan mati. Ia kadang kesepian jika malam tiba. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es batu tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat kan tidak begitu ha…..ha….ha…,” ucap om Gaul sambil tertawa ngakak. Aku ikutan tertawa. Sementara mobil yang dikemudikan om Gaul terus melaju kencang. Mamasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Gaul membelokkan arah mobilnya menuju Hotel Biogenvile yang terletak di seputaran Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan om Gaul nanti setelah tiba di motel itu. Aku bagaikan umpan lezat yang siap diterkam singa lapar. Aku ingin menjerit, namun jujur aku tak kuat. Hatiku terlanjur terpikat oleh rayuan dan kantong tebalnya. Betul kata perasaanku, di motel itu aku benar-benar “diseruduk” habis-habisan. Pertahananku jebol diterjang rudal. Sakit sekali rasanya. Maklum baru pertama. Tapi belakangan aku menikmatinya juga. Peristiwa itu takkan hilang dari ingatanku. Karena dalam sejarah hidupku, ini kali pertama aku ditiduri pria.
Sejak itu, om Gaul seperti kecanduan. Aku lantas dijadikan istri simpanannya. Konsekwensinya, selain dia, tak boleh ada laki-laki lain yang boleh meniduriku. Aku lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer ditempatku bekerja. Aku setuju. Sejak itu semua kebutuhan hidupku dipenuhi oleh om Gaul.
Tapi usia tua menjadi penghalang. Setelah begitu bergairah, empat bulan kemudian “lambaian” dan “jab-jab” om Gaul mulai kendur. Serangan cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajakku tidur, om Gaul hanya mampu mengelus-ngelus tubuhku. Aku sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, aku dapat ilham bahwa aku ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh uang sangat besar kemungkinannya. Contohnya kalau suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh ketanganku. Dengan begitu aku tak usah repot-repot kerja. Aku tinggal menikmatinya saja. Tapi aku kecewa berat, saat aku tantang menikah, om Gaul menolak dengan halus. Dengan berbagai cara ia mulai menghindar. Karena kesal aku lalu mengancam, kalau tak mau menikahiku, aku akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu. Mendengar itu, om Gaul seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan kepalang. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat di jagat NTT. Saya akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Gaul berjanji memberikanku uang puluhan juta rupiah, asal aku diam dan terus merahasiakan perselingkuhan kami. Om Gaul ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang kepadaku dengan membawa sejumlah uang kurang lebih Rp. 70 juta-an. Setelah menyerahkan uang itu, dia langsung pergi meninggalkanku dan tak mau lagi berhubungan denganku. Walaupun hanya sekedar lewat telepon untuk melepas rindu. Toh begitu, dalam hati, aku merasa aku telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdaya lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan.
Lepas dari om Gaul, aku menjalin hubungan asmara dengan –sebut saja – om Sadam. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat NTT. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan. Om Sadam mulai punya gelagat tertarik padaku saat secara tidak sengaja kami bertemu dalam suatu acara pernikahan sahabatku yang juga ternyata keponakannya. Matanya selalu genit memandangiku. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, aku mulai pasang perangkap. Kali ini aku pun berhasil. Tak lama berselang, om sadam mengajakku makan di restoran. Aku menurut saja. Dan sudah lebih dari empat kali, ia mengajakku kencan. Bak gayung bersambut, akupun menurutinya. Hanya saja kali ini aku diajak ke Denpasar-Bali. Berdalih melakukan perjalanan dinas, om Sadam terbang melalui bandara El-Tari Kupang menuju bandara Ngura Rai Denpasar. Sedangkan aku telah lebih dahulu dan menunggu di salah satu hotel yang telah diboking om Sadam di seputaran Nusa Dua-Bali. Aku dan om Sadam benar-benar menikmati pertemuan itu. Hubungan kami pun berlanjut dari tahun ke tahun. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinasnya.Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah aku singgahi, diantaranya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, dan Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu aku bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang aku bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Gaul dan Om Sadam. Benakku sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya denganku. Namun karena kemiskinan yang pernah aku rasakan bersama keluargaku, perasaan itu aku pupuskan. Dalam sanubariku seakan tertanam tekad bahwa badanku boleh digilir, asal aku dibayar mahal. Lebih bagusnya menjadi wanita simpanan atau gundik pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatku sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Risih memang ketika aku menjalani kehidupan hari-hariku. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang aku dapatkan. Maklum, masyarakat sekitar tempat tinggalku tak tahu dari mana sumber uang yang aku ‘sedot’. Bahkan, orangtuaku kaget minta ampun begitu tahu aku telah memiliki rumah dan mobil. Namun aku selalu berhasil memberi alasan dengan dalih bahwa semua kekayaan yang aku miliki ini, aku peroleh dari hasil kerjaku, termasuk menjadi karyawan sebuah LSM milik orang Jerman yang ada di Kota Kupang. Aku memang berdosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubunganku dengan Om Sadam sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu Om Sadam meminta persetujuanku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku setuju. Tapi, seperti biasa, aku harus mendapat ganti rugi. Setidak-tidaknya untuk biaya kesendirianku. Tuntutanku itu mendapat kata sepakat. Om Sadam memberikanku uang kurang lebih Rp 100 juta. Dengan uang itu aku kemudian membuka usaha dagang kecil-kecilan. Aku juga tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. Aku capek. Aku ingin menikah. Namun semua itu tergantung jodoh yang akan diberikan oleh Sang Khalik. Memang kadang aku malu terhadap diriku sendiri. Tapi mau dibilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Aku pasrah pada keadaan. Semoga aku diampuni Tuhan. (Diceritakan Sonya saat ditemui Chris Parera di kediamannya di bilangan Kota Baru, Kota Kupang pada 16 April 2007). 

2 Komentar

  1. jadi istri saya aja mau gak…???? asal mau tobat

  2. Wau….
    Yang ginian bikin bulu merinding…
    Mantab gan bikin cenat cenut
    Ijin ninggalin jejak ya gan…
    thx


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan ke roman Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.