Terkadang masyarakat salah mempresepsikan arti Otonomi Daerah (Otda) yang sesungguhnya. Padahal semangat kedaerahan dalam era Otda sekarang ini harusnya diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam rangka membangun daerah. Berikut komentar Kepala Biro (Karo) Bina Mitra Polda NTT, Komisaris Besar (Kombes) Polisi, Alfons Loemau, M.Si. M.Bus saat ditemui wartawan Sergap NTT, Ruddy Tokan di ruang kerjanya pada Kamis, 5 Juli 2007 lalu.
Sebagai putra daerah, tugas polisi seperti apa yang akan anda terapkan di NTT
Kalau saya menggunakan kata putra daerah itu kadang-kadang menyesatkan. Karena dulu ada istilah polisi the local boy to the local Job. Kalau kita sudah berpikir sebagai bangsa Indonesia, mengabdi dimana pun nilainya harus sama. Sebagai putra bangsa kita harus berbuat yang terbaik dalam pengabdian kita. Boleh-boleh saja membangun semangat seperti itu, tetapi dalam pengabdian kita harus memperlakukan semua sama. Sehingga jangan muncul rasa kecemburuan karena semangat kesukuannya tinggi, semangat agamanya fundamental. Ini konyol. Bangsa ini telah melahirkan sejarah tentang keberagaman. Kalau saya di Jakarta, ya saya layani orang Jakarta, masa saya layani orang Timor. Kan tidak begitu jadinya. Semangat kedaerahan dalam era otonomi daerah harus diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam membangun daerah. Dimanapun kamu berada harus membangun daerah itu, dengan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jadi semangat putra daerah itu harus ditunjukan dalam prestasi sehingga orang lihat. Disini kan beragam-ragam. Ada Kefa, Soe, Flores, Sabu dan lain sebagainya. Sebenarnya budaya beragam, tetapi ada nilai-nilai universal yang mereka sama-sama akui.
Lalu?
Paradigmanya harus dirubah. Mari kita jadikan Polisi sebagai alat penegak hukum semata dan dari pengusa menjadi pelayan. Kalau polisi dari terendah sampai tertinggi sudah memahami siapa dirinya, baru lebih gampang untuk atur masyarakat. Disini pemimpinnya saja tidak mengerti soal tugas pelayanan, apalagi stafnya. Sehingga masyarakat bilang, polisi jangan menuntut terlalu banyak dari masyarakat sepanjang belum memahami makna dari pelayan tersebut.
Sebagai orang NTT, anda tentu sangat tahu betul bagaimana membina orang NTT. Pendapat anda?
Sebagai orang NTT saya tetap memahami budaya NTT dan sebagai akademisi, saya sudah belajar banyak soal antropologi budaya NTT. Jika anda baca riwayat saya mungkin anda bisa bilang pengetahuan anda terhadap NTT lebih kurang dari saya. Pertanyaan ini banyak kali orang omong, tetapi dasar bertanya pun tak ada ukuran. Contoh, kalau anda bilang saya tidak menguasai ini NTT, kamu mau tanya saya apa tentang NTT. Jumlah penduduk NTT lebih banyak perempuan di banding laki-laki, 50-an persen. Yang terdidik cuma empat sampai delapan persen yang S1 keatas. Selain SMA, ke bawah, 48 persennya tidak berijasah. Kemudian tingkat kemiskinan. Pendapatan asli dan Product Regional Domestic Bruto NTT masuk dalam kategori 4 termiskin dari daerah-daerah miskin. Yang lebih spesifik, orang Sumba itu seperti apa, orang Ende seperti apa.
Apakah itu berarti pola pikir masyarakat harus dirubah?
Bukan masyarakat punya pola pikir yang dirubah. Tapi, polisi punya pola pikir yang harus dirubah. Karena sebenarnya polisi sebagai pelindung dan pengayom, aparat penegak hukum, alat kamtibmas, dia harus memahami karakteristik budaya dan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Karena prinsip penegakan hukum pada dasarnya menegakan nilai-nilai norma yang tumbuh di masyarakat, polisinya yang harus menyesuaikan nilai-nilai apa yang ada dimasyarakat. Bukan masyarakatnya yang merubah. Kalau memang biasanya yang seperti yang dikatakan Kapolda beberapa kebiasaan buruk seperti minum-mimuman keras, itu bukan budaya. Itu hanya segelintir orang yang memang dia punya kegiatan produktif yang bisa dibina dan diarahkan oleh polisi dalam kaitan dengan tugas Bina Mitra. Dia bisa stop minum atau bisa diterangkan apa manfaat dia minum, bahayanya apa, nah ini kan tugas polisi. Mengkomunikasikan berbagai masalah itu kepada masyarakat dan menawarkan solusi yang positip. Dan itu akan menjadi tugas saya sekaligus membina kwalitas pemikiran orang NTT. Jadi bukan masyarakat yang harus berubah, tetapi polisi yang harus berubah. Dari mental penguasa ke mental pelayan. Pertanyaannya, apakah polisi yang berkerja di NTT menyadari dirinya adalah pelayan atau tidak? Tanya teman-teman seumuranmu yang polisi. Tanya kenapa mau jadi polisi. Meraka akan jawab, sonde karena beta mau melayani masyarakat atau karena beta terpanggil untuk mau melayani masyarakat, atau karena paling enak jadi polisi karena berkuasa, pegang pistol, bisa tangkap orang, coba tanya mereka? Kasihan masyarakat kita. Mereka kurang paham dengan hukum sehingga sering minum mabuk, dan lain sebagainya. Sebagai polisi saya harus bisa melayani mereka seperti ini. Adakah orang di NTT yang jadi Polisi berpikir ke arah itu. Nah, inilah cikal bakal polisi yang tidak berpikir seperti itu. Padahal doktirn dan pandangan hidup polisi adalah melindungi dan mengayomi. Coba tanya anak muda yang mau jadi bintara polisi atau akpol dan Sarjana polisi, adakah terbersit dikepalanya karena dia ingin melayani dan mengayomi, makanya dia mau menjadi polisi? Ataukah dia tidak ada kerja, hanya karena koneksi dan relasi sehingga dia jadi polisi, supaya ada kuasa? Kan begitu. Kalau itu merupakan kondisi aktual dalam masyarakat, dalam bahasa komputernya input, proses dan output. Inputnya begitu-begitu saja, prosesnya juga tidak karuan, outputnya jangan tanya? Apakah dia mau mengabdi dan mengayom? Banyak orang omong masyarakat harus begini, begitu dan lain sebagainya, tetapi pertanyaannya apakah polisi setia menampung keluhan masyarakat, atau yang paling gampang saja, gampang tidak masyarakat yang lihat orang mabuk-mabuk lalu mau lapor kemana? Mari kita tanya, kita mau pi lapor dimana bu? Mau masuk kantor polisi saja kaya kerajaan Majapahit. Jadi bangunan ini, tampilan ini menunjukan siapa dia sebenarnya. Apa begitu?
Menurut anda bagaimana caranya agar pilisi bisa lebih dekat dengan masyarakat?
Makanya saya bilang kalau mau dekat dengan masyarakat, buka pagar loe, buka seragam loe, bersosialisasi dengan masyarakat seperti masyarakat punya kehidupan. Jadi pertanyaan ini bukan kita merubah masyarakat, tetapi anda sebagai pelayan masyarakat datang menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kalau saya punya pandangan begitu tentang bina mitra dan polisi kedepan.
Anda kan pernah belajar ke Jepang dan Amerika, bagaimana kerja polisi disana?
Saya waktu ikut pendidikan di Jepang dan Amerika, sebenarnya apa yang kerjakan oleh polisi Jepang dan polisi Amerika dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tidak beda-beda jauh dengan polisi kita. Persoalannya, manusia sebagai pelakunya juga tidak ingin. Coba lihat polisi disini, pernakah dia jalan ke sebuah kampung dengan tidak pakai pakaian dinas dan tegur sapa dengan para orang tua di kampung-kampung? Dia berpikir, jika ada perlu, baru dia datang. Tetapi kalau masyarakat ada perlu, ada tidak yang polisi urus secara baik. Itu kenyataan yang harus kita rubah, dengan perubahan cara pandang dan berperilaku. (#)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar