sergapntt.com [Adonara] – Perang tanding yang terus berkecamuk saban tahun antara Tobi dan Lewokeda, telah mendapat kesejukan melalui ritus perdamaian, 29 Desember 2007 lalu. Perdamaian itu ditandai dengan ritual adat ”Toba Eken, Bito Wato, Tudek Lia”. Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, berharap agar Tobi dan Lewokeda jujur pada sejaran sehingga konflik berdarah itu tidak akan terulang lagi.
Bertempat di kampung adat Tobi – Lewokeda, ritual adat itu dilakukan. Hadir pada saat itu semua komponen masyarakat dari kedua kampung yang bertikai selama kurang lebih tujuh tahun tersebut. Ritual adat itu menandakan bahwa perang tanding antara kedua kampung bertetangga yang mempersengketakan lahan pertanian itu, telah berakhir. Yang ada, hanya harapan dan kejujuran bersama terhadap sejarah konflik tersebut, sehingga tidak lagi terjadi pada masa-masa mendatang.
Dari Kiwang Ona, kontributor Sergap NTT melaporkan, proses perdamaian tersebut didesain dalam sebuah sekenario besar bahwa yang ingin dicapai dari ritual adat tersebut adalah perdamaian secara menyeluruh sesuai adat kebiasaan, melalui tahapan Toba Eken, Bito Wato dan Tudek Lia. Ini adalah tahapan kritis dimana perdamaian itu bisa tercapai atau malah gagal. Namun, dengan telah dilakukannya ritus adat itu, berarti tahapan kritis telah dilalui dengan baik. Dan, secara adat kebiasaan pun, perang telah dinyatakan selesai, yang ditandai dengan dilucutinya kekuatan magis dari perangkat utama perang. ”Eken dicabut atau direbahkan, batu dibongkar dan halia dicampakan. Karena itu, semua tata cara dan proses ritus-ritus adat untuk melakukan perang kembali, tidak lagi diperbolehkan ada. Semua sudah menjadi terlarang dengan adanya ritus adat tersebut,” kata seorang tokoh adat di wilayah itu kepada Vista.
Ia menjelaskan, dengan tahapan ini dapat dikatakan bahwa proses perang menemukan antiklimaksnya, sehingga terbentang luas jedah kemanusiaan; untuk berpikir kembali soal kejujuran tuturan sejarah kepemilikan tanah. Juga, jedah untuk berpikir kembali soal untung rugi perang. Jedah untuk berpikir kembali soal berunding dan jalan-jalan damai. Jedah untuk berpikir kembali soal berbagi hidup. Jedah untuk berpikir kembali soal hubungan kekerabatan: opu pai, kaka ari, bine ana, nayu baya. Jedah untuk berpikir kembali soal tanah untuk perdamaian. Jedah untuk berpikir kembali soal yang pro hidup.
Yang menarik, ketika sedang berlangsung ritual adat untuk perdamiaan tersebut, alam pun menunjukkan simpatinya. Hujan pun mengguyur, seakan mendinginkan panas yang menyengat bumi. Orang-orang kampung pun berkeyakinan, bahwa yang panas-panas telah didinginkan oleh air dari surga. Dan, semuanya menjadi sempurna jika diikuti dengan tindakan nyata manusia di bumi untuk menjadikan perdamaian itu terwujud.
Lurah Lawatwelu, H. Ola Padak dan Pemuka adat Tobi, Bapak Gewayo, mengharapkan kepada semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten Flotim, agar mereka tidak ditinggalkan, tapi terus dibantu, didampingi, dimediasi agar mereka menjadi damai kembali seperti sedia kala.
”Ritual adat untuk perdamaian itu juga dihadiri oleh orang dari LP2A Jakarta, yang disebut-sebut menjadi otak penyelesaian konflik tersebut. Pada upacara ini, hadir pula orang dari LP2A Jakarta, yang menjadi otak penyelesaian konflik tersebut,” katanya.
Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, dalam arahannya mengatakan, konflik antara Tobi dengan Lewokeleng adalah soal kejujuran. ”Kejujuran untuk menceriterakan sejarah secara jujur, yang mestinya dimulai dari pihak Lewokeda sebagai pokok pangkal cerita. Saya harapkan pada akhirnya dari tiga klik keluarga Lewokeda muncul cuma satu cerita, bukan tiga cerita,” kata Hayon, seraya mengingatkan agar dalam penanganan konflik kejujuranlah yang diperbanyak, bukan aparat keamanan.+++ daniel ama nuen
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar