sergapntt.com – Bripda Yulius Lakusa dari Polres Kupang mencatat rekor amoral yang memantik amarah. Yakni, menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswi jurusan Kimia sebuah universitas di Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Betulkah polisi itu “pengayom” masyarakat? Bisa iya. Tapi, dalam praktek polisi sering tak hanya “mengayomi” tapi juga menghamili. Tengoklah rekor buruk Yulius Lakusa, anggota polisi dari Polres Kupang. Anggota polisi berpangkat Bripda ini mencatat rekor amoral dengan menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswa jurusan Kimia, salah satu universitas di Kota Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Bagaimana kisahnya sampai anggota polisi ini mampu mengibuli dua gadis sekaligus?
Mahasiswi jurusan Kimia, salah satu korban “keganasan seks” polisi amoral itu berkisah, ia berkenalan tahun 2004 di depan gereja Getsemani, Bau-Bau, Kupang, ketika Yulius masih magang di Polsek Bau-Bau. Kabarnya, ketika beradu pandang pertama kedua insan itu langsung lengket kayak perangko. Sebagaimana pakem asmara, awal percintaan selalu diwarnai romantisme. Yulius selalu telaten antar-jemput mahasiswi itu dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Kisah cinta ini sempat diwarnai error dua kali. Tapi, Nopember 2006, keduanya tancap cinta kembali.
Setahun kemudian, Yulius dipindahkan dari Polsek Bau-Bau ke Polsek Camplong. Dalam perjalanan cinta selanjutnya, pada Pebruari 2007, Yulius melancarkan rayuan maut, yakni minta BBM alias Bobo Bobo Mesra untuk hubungan intim dan berjanji untuk bertanggungjawab, jika mahasiswi itu hamil. Janji gombal itu dipercaya begitu saja oleh mahasiswi itu, sehingga pada akhirnya Maret 2007, mahasiswi itu hamil. Bersamaan itu, Yulius dipindahkan ke Polres Kupang dan minta curi dua pekan untuk mudik ke pulau Kisar. “Sebelum dia pergi, beta minta dia memeriksakan kandunganku. Tapi, dia bilang nanti setelah pulang dari Kisar baru diurus,” kenang mahasiswi itu dengan nada memelas.
Dalam suasana tak menentu, orang tua mahasiswi itu mulai curiga melihat kondisi anaknya. ”Tapi, beta jujur mengatakan kepada bapa dan mama bahwa beta terlambat haid satu bulan. Bapa dan mama tidak marah, karena mereka tahu Yulius sering ke rumah dan hubungan kami sudah begitu dekat,” papar mahasiswi itu menjawab pers di ruangan Humas Pemerintah Kabupaten Kupang.
Seterusnya ketika Yulius mudik dari Kisar, ia berjanji akan memeriksakan kandungan mahasiswi itu ke dokter. Akhirnya April 2007 melalui tes di Klinik Betlehem, Oesapa, diketahui mahasiswi itu hamil dua bulan. “Beta tanya pendapatnya bagaimana. Yulius jawab bahwa dia bertanggungjawab dan akan menginformasikan hal ini kepada orang tuaku,” kisah mahasiswi itu. Yulius, akhirnya ke rumah orang tua mahasiswi itu dan menyatakan bahwa ia bertanggungjawab. Bahkan, ia mengumbar janji untuk secepatnya menginfo keluarganya agar kisah cinta itu secepatnya diproses secara adat.
Namun, apa yang terjadi? Suatu ketika selepas kuliah, mahasiswi malang itu mampir ke kos Yulius. Dari luar ia mendengar suara Yulius tergelak manja diselingi erangan hebat bersama seorang wanita. Betapa kagetnya mahasiswi yang sudah hamil dua bulan itu. Ia mendapatkan Yulius sedang bugil dan asyik main ranjang dengan Monika Pandie, wanita asal Oesapa. “Beta tidak ada reaksi apa-apa. Beta duduk di luar kos,” tutur wanita malang ini. Seusai main ranjang, Yulius keluar menemui mahasiswi malang itu. “Beta tanya Yulius, apa mau urus saya atau wanita itu. Tapi, dia jawab, lu tenang saja. Kita urus bae-bae,” kenang mahasiswi tersebut atas adegan yang paling menyakitkan dalam hidupnya itu. Mahasiswi itu sempat mudik ke rumah dan menginfo orang tuanya tentang tabiat Yulius yang kedapatan sedang “main perempuan”. Tapi, orang tua menyarankannya untuk mudik ke kos Yulius. Di situ, ia duduk menunggu kayak satpam selama satu hari sejak pagi sampai malam. Karena kepayahan, mahasiswi itu tertidur di kost temannya di samping kamar Yulius. Ketika itu Yulius sempat memberi anggur dan memaksa mahasiswi itu minum untuk menggugurkan kandungannya. “Kamu yang baru dua bulan saja, mengapa tidak bisa minum,” kata Yulius setengah memaksa pada mahasiswi itu. Tapi, mahasiswi itu menolak dan ditempeleng Yulius. Bahkan Yulius main ancam. Dia mengatakan tak takut jika kasusnya itu dilapor ke Kapolres dan Kapolda. Tapi, keesokan harinya ketika amarahnya padam,Yulius mampir ke rumah mahasiswi itu untuk meminta maaf atas tindakannya.
Sejenak Yulius memperlihatkan itikadnya untuk menikah. Bahkan, dia mengajak mahasiswi itu untuk berdua membeli cincin nikah. Tapi, mahasiswi itu menolak karena belum menginfo orang tuanya. Sikap mahasiswi ini membuat Yulius marah besar dan menamparnya. Ia juga menelpon Monika Pandie dan berdua melancong entah ke mana, meninggalkan mahasiswi itu. Akhirnya mahasiswi itu bersama ibunya mengecek ke Kabag Min Polres Kupang. “Kami tanya mengapa sampai sekarang belum bisa nikah dengan Yulius. Kabag Min jawab, Yulius sudah punya isteri. Jadi, kalau mau nikah lagi harus ada surat persetujuan isteri pertama,” kenang mahasiswi itu dengan wajah memelas. Sejak itu, mahasiswi itu baru sadar jika Yulius sudah menikahi Mateldha Pello, asal Camplong.
Singkat cerita Yulius dikenal sebagai polisi yang punya akal licik. ”Di sana dia hamili orang, di sini juga hamili orang,” tutur Vita, mahasiswi yang dihamilinya itu. Kini, Vita berusaha tegar untuk hidup menanggung derita.
MP, mantan karyawati Flobamor Mall juga punya nasib serupa, yakni dihamili dan ditinggalkan Yulius. Wanita itu berkenalan dengan Yulius Nopember 2002, antara lain di Flobamor Mall dan di depan asmara Brimob, Kupang. Tatapan perdana itu membuat keduanya pacaran sampai hubungan intim. Apalagi, Yulius berjanji bakal menikahi MP. Sampai akhirnya menjelang 2003, MP hamil. Saat itu Yulius sedang tes masuk polisi. Itu pasalnya, MP menutup rapat-rapat kisah cintanya bersama Yulius sampai akhirnya ia hamil. Akhirnya, MP dipinang Yulius 12 Desember 2003. Setelah melahirkan, hubungan keduanya dijaga kerahasiaannya karena Yulius sedang dalam ikatan dinas kepolisian. Dalam status ikatan dinas seorang polisi dilarang menikah. “Anak saya dan Yulius bernama Yuvita Andini Sartini,” kisah MP. Seterusnya, Yulius tinggal di kos karena masih dalam status ikatan dinas, sedangkan MP membawa anaknya tinggal di Camplong bersama orang tuanya.
Namun, dalam perjalanan, Yulius menghamili YT (23). Anak hasil hubungan Yulius bersama YT dinamai Joe (0,2) tahun. Anehnya, ketika MP dan YT melaporkan masalah amoral ini ke Kapolres Kupang, ternyata dicuekin. Bisa begitu ya, Kapolres? Bahkan, MP mengaku sudah ratusan kali menghadap Kapolres Kupang. Tetapi, Kapolres mengatakan “Saya ini gila na, ke laut na dan macam-macam,” papar MP. +++ marthen, rudy
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar