SEDERHANA, ramah, dan rapi nampak akrab menghiasi tutur kata dr. Yovita Anike Mitak, M.PH. Di ruang tamu berwarna coklat putih, wanita berparas ayu yang kini menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang itu terlihat anggun dibalut stelan rok blus bercorak daerah. Begitulah kesan pertama saat Sergap NTT menemui ibu tiga anak yang akrab disapa dr. Niken itu di kediamannya di kompleks RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang pada Kamis, (14 Juni 2007) sore.
Fasenya selalu segar dihiasi senyum. Sorot mata yang teduh menggambarkan kedamaian. Tak banyak basa-basi dalam obrolan. Semua dimulai dengan cerita yang pasti. “Saya pulang kerja rata-rata di atas jam 3.30 Wita. Maklum, mengurus rumah sakit ini ibarat mengurus rumah tangga yang besar,” ujar dr. Niken, penuh senyum.
Toh begitu, anak pertama dari empat bersaudara buah perkawinan (ayahanda) Anton Mitak dan (ibunda) Elisabeth Mitak itu tak pernah patah semangat. Semuanya dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Baginya, kepercayaan adalah amanah dan tugas adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Walaupun harus banyak menghabiskan waktu di rumah untuk urusan-urusan kantor.
“Yang lebih sering di rumah itu, menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang belum terselesaikan di kantor. Biasanya, waktu di kantor itu habis untuk terima tamu, ya..terima wartawan, terima karyawana rumah sakit, rapat koordinasi tingkat internal maupun eksternal. Sehingga tugas-tugas kantor ada yang tak terselesaikan, dan terpaksa harus saya selesaikan di rumah,” paparnya.
Sebelum menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang, ibunda Antonio Edwin Porsiana (Klas I, SMAK St. Yosef Malang), Maria Diandra Porsiana (Klas III, SMPK St. Theresia Kupang) dan Diony Porsiana (Kelas I, SMPK St. Theresia Kupang) itu sempat ditugaskan sebagai dokter inpres di Kabupaten TTS.
“Dulu saya sekolah SD di SD Putri, (sekarang Don Bosko) Kupang. SMP di St. Theresia Kupang. SMA di SMA Khatolik Malang. Kuliah di Fakultas Kedokteran Brawijawa Malang. Begitu selesai kuliah Tahun 1989, saya ditugaskan sebagai Dokter Inpres di Kabupaten TTS. Beberapa bulan orientasi di Rumah Sakit TTS, saya lalu ditempatkan di Puskesmas Polen. Dari Polen saya pindah ke Batakte (1991-1993), Bakunase (1993-1997) dan tahun 1997 saya ditarik ke Kanwil Kesehatan NTT dan ditempatkan sebagai Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar,” ucapnya.
Perjalanan karir mantan dokter pribadi Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH selama satu periode itu berjalan bak air mengalir. Tak ada rintangan yang berarti. Kepercayaan memangku jabatan seirama dengan prestasi kerja yang ia persembahkan untuk nusa dan bangsa. Ujungnya, Tahun 2001, istri Albert Porsiana itu dipercaya menjadi Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Penyuluh Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan NTT. Pada saat yang bersamaan ia diberi kesempatan untuk mengambil gelar master di Kuala Lumpur Malaysia.
“Pulang dari sana, saya kembali menjadi Kasubdin Pengembangan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan NTT hingga tahun 2006. Tanggal 4 Maret 2006, saya dilantik menjadi Direktur RSUD W.Z Yohanes Kupang. Sedangkan serah terima jabatan (dari dr. Hen Mooy) tanggal16 Maret 2006,” kisahnya.
Jika pekerjaan kantor telah selesai, wanita kelahiran Bandung 15 Februari 1964 itu mengaku, banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berolah raga, les piano atau berbelanja. Baginya, olah raga sangat penting untuk menjaga keseimbangan. Selain bisa menghilangkan stres, olah raga juga bisa membuat fisik menjadi bugar. Sebab, kata dr. Niken, pekerjaan yang banyak menggunakan otak (berpikir), bisa membuat seseorang cepat lelah, ketimbang pekerjaan dengan menggunakan fisik. Oleh karena itu, olah raga, makan teratur, banyak istirahat dan tidak terlalu stres harus terus dilakukan agar bisa menjaga stamina tetap bugar.
“Sejak sekolah saya paling suka basket dan bola volly. Tapi sekarang udah nggak sempat lagi. Paling saya ikut aerobic di Heny Salon. Tapi sekarang udah jarang. Ya…tau sendirikan. Tapi, olah raga itu penting loh. Itu untuk menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Selain olah raga, les piano, dan berbelanja, dr. Niken ternyata gemar membuat kue demi kesenangan anak-anak dan suami. “Tapi terus terang loh, saya nggak bisa masak. Justru suami saya yang pandai memasak. Sering sih diprotes anak-anak, papa saja yang masak, jangan mama, nggak enak rasanya. Yang saya bisa, paling buat kue, itu pun diajarkan oleh mertua. Tapi, yang penting bagi saya adalah kebahagiaan anak-anak dan suami. Prinsipnya keluarga itu nomor satu, walupun aktivitas hidup lainnya juga penting,” timpalnya.
Soal makanan favorit, ibu yang satu ini hanya punya satu, yakni daging. “Kalau belum makan daging, rasanya saya belum makan. Saya paling suka steak”, tandasnya. (by. cis)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar