Ngapain Saya reaksi ?


sergapntt.com [KUPANG] – Kajati NTT, Oparis Siahaan, SH, nampak kaget ketika ditanya reaksinya atas surat GMNI Cabang Kupang yang meminta Jaksa Agung mencopotnya dari kursi Kejati NTT. ”Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas,” paparnya menjawab Egi Jawa dan Rudy Tokan di lantai I Gedung Kejati NTT, pekan silam. Berikut nukilannya:
Pekan silam, GMNI menyurati jaksa Agung untuk mencopot anda. Apa reaksi anda?
(kali ini Kajati agak kaget setelah mendengar pertanyaan itu. Tatapannya agak beda saat wawancara soal masalah Sarkes). Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas. Itu bukan pengamat. Pengamat itu mengamati yang ada bukti.
Jadi apa reaksi anda?
Saya nggak perlu reaksi. Ngapain saya reaksi. Saya anggap tidak punya data, untuk apa saya rekasi.
Apakah surat itu tak ada tembusanya ke anda?
Ndak ada itu. Cuman mereka hanya mengatakan sikapnya begitu. Jadi saya tak perlu reaksi. Karena menurut saya sikap mereka itu tak punya rasa. Makanya saya bilang jangan terpengaruh dengan berita lalu kita amati. Masalah yang mereka angkat itu kan masalah yang tidak pernah ditangani Kejati NTT. Jadi kami juga bingung ko tiba-tiba GMNI demo ke kita. Itu salah alamat dong. Kita kan tidak tangani masalah yang mereka demo itu.
Menurut anda, apakah Jaksa Agung bisa mencopot seorang Kajati hanya bermodalkan laoran dari publik?
Nda bisa. Jangankan itu, kita hari-hari dipantau ko dari Jakarta. Hari ini bagaimana Jakarta, bagaimana Kupang, bagaimana daerah lain. Tiap hari selalu dipantai. Apalagi ada laporan bulanan. Jadi tidak mungkin dong. Jangan dikira sudah bersurat begitu, lalu langsung didengar oleh Jaksa Agung. Kita kan selalu dipantau setiap hari.
Sudah berapa lama anda anda memegang job Kajati?
Kenapa, sudah nggak suka lagi ya. Ha..ha.. (sambil tertawa lepas). Baru di NTT saya menjabat Kajati, tepatnya sejak Mei 2006 saya disini.
GMNI menilai anda kurang serius tangani kasus korupsi di NTT. Betulkah?
Ya,… tapi yang jelas mereka tidak melihat angka. Jadi hanya mengatakan katanya orang-katanya orang. Itu bukan pengamat. Jadi harus mengamati sesuatu dengan data dan fakta. Serta juga mengungkapkan data dan fakta. Begitu. Jangan katanya si A misalnya, kamu buat begini, terus katanya di B kamu buat begini. Ngga bisa dong. Faktanya kayak apa baru omong, Jadi kalau tak ada data dan fakta ngga bisa dong omong.
Kasus korupsi apa yang paling berkesan di hati anda?
Kasus korupsi? Aduh…sudah ngggak ingat, udah lama itu. Kalau korupsi ini kan sudah sejak jaman dahulu kala saya tangani kasus korupsi. Saya lupa-lah.
Kalau di NTT sendiri kasus korupsi apa yang paling berkesan?
Ndak ada kalau saya kasus korupsi itu sama saja kesannya. Yang kesan dalam arti khusus ndak ada itu. Cuman cepatnya tidaknya itu tergantung dapat tidaknya memperoleh alat bukti. Jangan kalian lupa yang kita hadapi itu adalah pejabat pemerintah. Orang-orang pintar. Mencari satu lembar kertas saja penyidik setengah mati. Kalau dirobek atau dibuang, mau cari kemana. Makanya tidak segampang perkiraan orang menangani kasus korupsi. Kalau ada alat bukti itu gampang. Tapi sulitnya memperoleh alat bukti, kalau kita hadapi itu orang pintar.
Apakah anda sering diintervensi jika menangani kasus korupsi yang menangani politisi?
Kita dilarang untuk itu. Kita boleh kita campur-baurkan politik dengan hukum. Mau jadi apa orang itu, itu urusan politiklah. Kita tidak ada urusan. Kalau ada intervensi jelas kita tolak. Kita selalu berdiri pada aturan hukum.
Apa kesan anda terhadap masyarakat NTT?
Kesannya, masyarakat NTT cukup kritis dan dinamis. Itu bagusnya, sehingga selama saya bertugas di NTT tak ada satu kasus yang sampai pada tindakan hirarkis.
Publik NTT bertanya-tanya sejumlah kasus korupsi heboh seperti Sarkes  prosesnya terseok-seok. Analisis anda?
Terseok-seoknya itu karena penyidik sulit memperoleh alat bukti yang saya jelaskan tadi itu. Ndak ada dipengaruhi masalah politik misalnya atau masalah lainnya. Itu saja kendalanya. Aparatur hukum tidak pernah bernuansa ke politis dan lain sebagainya.
Hasil Penelitian UGM, kasus korupsi yang berlepotan dengan masalah politik di Indonesia, sulit diselesaikan oleh aparat hukum. Komentar anda?

Ya.. tanya saja penelitinya dong, kenapa dia ambil kesimpulan begitu. (by. rudy tokan)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s