Mekarkan Kecamatan ATU!


sergapntt.com [KALABAHI] — Merasa pelayanan pemerintahan kurang maksimal, tokoh masyarakat Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), meminta agar pemerintah segera memekarkan kecamatan di wilayah itu.
Permintaan ini dikemukakan tokoh masyarakat  Mainang masing-masing, Pdt Lazarus Fanleni, Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi dalam dialog dengan Calon Bupati Alor dari Partai Golkar, Drs. Immanuel E. Blegur, M.Si di Mainang, dua pekan lalu.
Menurut Pdt. Fanleni, empat desa di daerah Mainang yakni Desa Manetwati, Desa Tominuku, Desa Welai Selatan dan Desa Fuisama sudah pantas berdiri sendiri sebagai sebuah kecamatan. ”Kalau Pureman yang hanya empat desa saja bisa jadi kecamatan, mengapa empat desa di Mainang tidak bisa jadi kecamatan,” tandas Fanleni yang diamini Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi.
Fanleni menegaskan, daerah potensial seperti Mainang penghasil wortel, kopi, Vanili, lemon dan tanaman holtkultural dan palawija lainnya harus memiliki wilayah pemerintahan kecamatan tersendiri. ”Kami sama sekali tidak punya maksud untuk memisahkan diri dengan masyarakat ATU lainnya, tetapi untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, maka sudah saatnya empat desa di Mainang dapat dimekarkan menjadi kecamatan baru. 
Dia mengaku daerah ini belum disentuh PLTS, menara telkomsel sama seperti kecamatan lainnya di Kabupaten Alor karena tidak ada yang memperjuangkannya. Kalau punya kecamatan sendiri kan sudah ada kemudahan untuk memperjuangkannya. Dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah secara langsung di Kabupaten Alor tahun ini, demikian Fanleni,  daerah ini membutuhkan pemimpin yang memiliki hati nurani seperti Ans Takalapeta. ”Persyaratan ini hanya ada pada Pak Imma. Alor butuh pemimpin yang tidak menggunakan jabatan untuk mengumpulkan uang. Kalau Pak Imma sudah hidup enak di Jakarta tetapi kemudian hendak pulang kampung, maka yang Imma cari bukan uang tetapi Imma pulang kampung untuk membangun kampung,” kata Fanleni.
Menurut Fanleni, tantangan daerah ini di tahun-tahun mendatang amat sangat berat. ”Karena itu kita membutuhkan sosok Imma Blegur yang memiliki pengalaman mendatangkan uang membangun daerah selama menjadi anggota DPR RI lima tahun lalu,” katanya.
I ajuga mengingatkan Imma agar kalau dapat kesempatan menjadi pemimpin maka jangan lupa masyarakat Mainang dan tolong masyarakat Mainang untuk mendekatkan pelayanan. ”Kami berdoa mendukung Bapa Imma,” ujarnya.  Alasan memekarkan diri dari induk semangnya di ATU ini lebih disebabkan karena masyarakat empat desa di Mainang ini bertarung nyawa menuju Ibukota Kecamatan ATU di Mebung hanya untuk pelayanan KTP dan urusan kependudukan lainnya.  
Kepala Desa Welai Selatan, Imanuel Manilehi mengatakan, kalau kondisi empat desa di Mainang termasuk di Welai Selatan seperti begini maka ini juga bukti hidup kalau belum ada yang memberikan perhatian. 
Immanuel E. Blegur, pada kesempatan itu mengaku mengunjungi Maninang karena mendengar kabar bahwa ada masyarakat yang menderita sakit. Selain melayani masyarakat, kata Imma, kehadirannya di Mainang juga bermaksud memperkenalkan diri kepada masyarakat sekaligus meminta nasehat orang-orang tua di wilayah ini atas kesiapannya mengikuti pemilihan kepala daerah di Kabupaten Alor tahun ini. ”Saya harus datang kasih tahu bapa, mama, pemuda dan masyarakat umum di Mainang karena ibarat berburuh, yang mengetahui tempat babi berlindung dan rusa melintas itu hanya diketahui oleh masyarakat di wilayah ini. Karena itu masyarakat di wilayah ini harus menyiapkan busur anak panah yang bagus, juga anjing yang galak sehingga mendapatkan hasil perburuhan yang maksimal,” katanya beranalogi.
Ia mengatakan, kalau masyarakat di Mainang yang tahu tempat tidur babi dan tempat rusa melintas maka ia juga tahu tempat-tempat rusa dan babi di Jakarta. ”Kalau mau bangun jalan dan jembatan itu saya sudah tahu harus minta dimana, mau bangun sekolah, dermaga dan Puskesmas itu saya sudah tahu harus minta dimana,” katanya.
Ia menambahkan, ia sudah siap memikul salib pelayanan ini tergantung masyarakat di Mainang rela memberikan salib untuk dipikulnya atau tidak.  Menurut Imma, karena DAU itu sebagian besar digunakan untuk membayar gaji pegawai maka ia bersedia memikul salib untuk mencari sumber-sumber dana di luar DAU, baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk membangun masyarakat Alor yang lebih maju dari saat ini.  (by. moris weni/rudy tokan)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.