AIDS Jadi Masalah Serius di NTT


sergapntt.com, KUPANG – Masalah HIV/AIDS di Provinsi NTT cukup mendapat perhatian serius Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT.
Ini jadi masalah yang serius, karena hingga kini masih ada empat (4) kabupaten di Provinsi NTT yang belum membentuk Sekretariat KPA. Secara institusi ini lemah. Padahal upaya penanggulangan masalah HIV/AIDS sudah jadi masalah global atau masalah internasional. Siapapun yang kena masalah AIDS pasti ditangani tanpa melihat latar belakang sosial politik,” tandas Wakil Gubernur NTT yang juga Ketua Pelaksana Harian KPA Provinsi NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si saat memimpin rapat koordinasi Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan dalam Upaya Penanggulangan AIDS di ruang kerja Wagub, Selasa (20/3).
Kalau di kabupaten belum ada sekretariat KPA, sebut Wagub, akan kesulitan manakala terjadi masalah HIV/AIDS. “Saya minta Sekretaris KPA Provinsi NTT, hari ini juga untuk membuat surat penegasan kepada para Bupati atau Wakil Bupati di empat kabupaten yang belum membentuk Sekretariat KPA. Segera bentuk Sekretariat KPA. Bila perlu kita tunjuk inisiator yang ada di kabupaten untuk memudahkan terbentuknya Sekretariat KPA,” pinta Wagub.
Wagub menjelaskan, data dari tahun 1997 hingga Februari 2012 secara akomulatif  sebanyak 1491 yang terdiri dari kasus HIV sebanayk 699 dan kasus AIDS 792. “Dari total kasus 1491 yang meninggal sebanyak 403. Ini jumlah yang terdata. Belum lagi informasi yang tidak terdata dari empat kabupaten yang belum memiliki Sekretariat KPA,” ujar Wagub dan meminta kepada Sekretariat KPA Provinsi NTT untuk melakukan evaluasi yang jujur terhadap data yang ada sehingga dapat memotret dengan baik kasus-kasus HIV/AIDS di Provinsi NTT.
Di tempat yang sama, Sekretaris KPA Provinsi NTT, dr. Husein Pancratius menjelaskan, hingga kini masih ada empat kabupaten yang belum membentuk Sekretariat KPA yakni Kabupaten Manggarai Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Kabupaten Sumba Tengah.
Selain itu kata dr. Husein, ada beberapa kabupaten yang perlu mendapat perhatian serius yakni TTU dan Belu. “Ada hal-hal tertentu yang kami temukan yang berkaitan dengan standar pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing) dan CST (Care Support and Treatment). Ini yang perlu mendapat perhatian serius dari KPA NTT,” jelas mantan direktur RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes Kupang.
Menurut dr. Husein, VCT merupakan pintu masuk bagi KPA NTT untuk bertindak dalam menangani kasus HIV/AIDS. “VCT itu pintu masuk buat kami bertindak. Hal ini juga akan berpengaruh pada sistem recording dan reporting yang kami laksanakan di KPA NTT,” tandas dr. Husein, apa adanya.

By. Verry Guru


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?