Etnografi orang-orang Rote dan Sawu


sergapntt.com, TIMORense – Di antara Sumba dan Timor terletak Pulau-Pulau Rote; Ndao dan gugusan Sawu. Kondisi kedua pulau ini gundul, mengalami erosi dan terbagi-bagi dalam bukit-bukit kapur dan tanah liat. Keadaan di Pulau Sawu terlihat lebih parah. Seorang komentator pada abad ke sembilan belas, secara berlebihan menggambarkan kesan pertamanya mengenai pulau ini sebagai berikut: “Tidak ada daun-daunan yang hijau, tidak ada tanaman atau pohon-pohon. Sawu hanya merupakan sebungkah batu di tengah lautan luas”. Bagian utara dan timur Pulau Sawu ini mungkin mendapat curah hujan kira-kira antara 700 dan 1,000 mm, sedangkan di bagian barat daya, curah hujan lebih sedikit, kira-kira dari 500 mm sampai 800 mm. Tidak diragukan lagi bahwa dalam hal curah hujan, keadaan di Rote dan Sawu jauh lebih buruk daripada Pulau Timor.
Kehidupan penduduk Rote dan Sawu tergantung pada pemanfaatan pohon lontar, sejenis palem Borassus (Borassus sundaicus Beccari). Jenis pohon palem lain yang dimanfaatkan juga adalah pohon gewang yang banyak sekali tumbuh di Pulau Rote, tetapi tidak terdapat di Pulau Sawu. Penduduk Rote dapat memanfaatkan berbagai hasil pohon gewang seperti hasil-hasil lontar, sedangkan penduduk Sawu hanya khusus menggunakan lontar. Hampir seluruh hasil lontar tersebut dimanfaatkan.
Lontar adalah pohon palem yang berbatang tunggal, berjenis kelamin ganda, daunnya berbentuk kipas dan tingginya mencapai 25 sampai 30 meter dengan garis tengah 60 sampai 90 cm. Pohon gewang hampir sama dengan lontar, tetapi lebih tinggi, batangnya lebih besar, dan berjenis kelamin tunggal. Daunnya berbentuk kipas juga tetapi lebih berkembang dan ujung-ujungnya panjang mencuat keluar seperti tombak. Di puncak pohon lontar tumbuh mayang-mayang yang besar. Pada mayang lontar jantan, tumbuh tunas-tunas yang secara teknis disebut rachillae, cabang-cabang tajam yang berpasangan, masing-masing terkulai dari puncak seperti phallus panjang. Mayang lontar betina menghasilkan tandan-tandan yang berat dengan buah-buah. Mayang-mayang itu mulai tumbuh waktu pohon lontar masih muda. Dalam hal ini gewang sangat berbeda. Pohon gewang tumbuh lebih dari seratus tahun, baru menghasilkan mayang tunggal yang sangat besar seperti menara yang indah, dan berbunga pada waktu yang sama dengan gewang-gewang lain yang tersebar di daerah luas, lalu mati. Dari kedua jenis mayang tersebut, dapat disadap nira yang manis.
Kehidupan penduduk Rote dan Sawu tergantung pada hasil tahunan dari pohon lontar, namun penduduk Rote selalu siap menyadap pohon gewang, sekalipun kesempatan itu sangat jarang. Daun lontar berbunga dua kali setahun, dan baik jantan maupun betina menghasilkan banyak nira. Untuk menyadap lontar jantan, tunas mayang yang terkulai itu dipotong ujungnya sesudah berkuncup, dan bagian yang bersabut dihancurkan agar mulai mengalirkan nira. Untuk menyadap lontar betina, mayang harus diremas dengan kuat dan dipotong ujungnya sebelum mulai berbuah.
Nira dari pohon lontar itu dikumpulkan dua kali sehari di dalam semacam timba yang dibuat dari daun lontar. Ujung mayang setiap kali harus dipotong tipis agar niranya terus mengalir. Nira yang segar dari pohon dapat langsung diminum. Selama musim penyadapan, penduduk Rote dan Sawu terutama hidup dari nira. Nira sangat cepat menjadi asam, oleh karena itu semua nira yang tidak terminum harus segera dimasak (biasanya di atas tungku tanah liat yang ditanam di tanah) menjadi sirup kental yang berwarna hitam atau coklat muda; sirup itu tahan lama dan dapat disimpan dalam periuk dan guci di dalam rumah. Bila diperlukan, sirup itu dicampur dengan air dan merupakan minuman yang manis. Diminum beberapa kali sehari, biasanya sebagai pengganti makanan utama, minuman ini merupakan makanan bagi penduduk Rote dan Sawu bila nira yang segar tidak ada. Sirup ini dapat juga dibentuk menjadi semacam gula batu yang berbentuk persegi berwarna coklat, atau diragikan menjadi semacam tuak. Sebagai hasil selanjutnya, penduduk Rote menyuling tuak menjadi arak manis.
Pohon lontar termasuk tanaman penghasil gula yang paling efisien di dunia. Sebatang pohon lontar dapat menghasilkan paling sedikit selama tiga sampai lima bulan, meskipun baik di Rote maupun Sawu penyadapan secara intensif dilakukan terutama dalam masa dua bulan selama musim kemarau. Perubahan dari nira menjadi sirup tergantung pada proses pemasakan. Misalnya orang Sawu memasak nira lebih lama daripada orang Rote dan menghasilkan sirup yang lebih kental dan hitam.
Pohon lontar ini bukan hanya merupakan sumber mata pencaharian, tetapi lebih berarti bagi penduduk Pulau-Pulau tersebut. Pohon lontar dan juga gewang, walaupun tidak seperti pohon lontar, memenuhi banyak sekali kebutuhan hidup sehari-hari. Daun lontar yang berbentuk kipas digunakan untuk atap rumah, yang dari luar hanya seperti suatu tumpukan daun lontar. Daun lontar yang utuh dapat dibentuk menjadi alat bunyi-bunyian yang berbentuk setengah bola, di dalamnya dipasang tabung bambu yang direntangi senar. Alat ini disebut sasandu, suatu alat musik khas bagi orang Rote. Daun lontar yang dibelah panjang-panjang seperti pita dianyam untuk membuat keranjang, karung, kantung pelana, tikar, kipas, atau dibuat topi (tanda pengenal orang Rote), ikat pinggang, sarung pisau, mainan anak-anak, alas kaki yang sederhana, bahkan kalau diserut lebih tipis menjadi kertas rokok yang kasar. Serat dari daun gewang yang panjang dapat dipintal menjadi semacam benang kemudian ditenun menjadi bahan pakaian yang kasar dan kuat.
Di Pulau Rote, bahan ini sudah bersaing dengan bahan katun, tetapi pada masa yang lampau bahan pakaian ini tersebar luas, dan kini masih dipakai oleh pria dan wanita untuk bekerja di ladang. Sampai awal abad ini, penduduk Rote menggunakan kain gewang yang tebal itu untuk layar perahu, sangat kuat dan tahan lama, dan banyak dijual kepada pelaut-pelaut pribumi lain yang datang mengunjungi Pulau itu. Tangkai daun gewang dan lontar yang panjang dan berserat dibelah, dikerat dan dipintal menjadi bermacam-macam tali, selempang, pakaian kuda, dan kekang. Tangkai-tangkai daun yang utuh dijalin untuk pagar atau diikat untuk dinding dan papan pemisah dalam rumah. Tangkai-tangkai daun lontar yang kering dijadikan kayu api. Kayu dari kedua batang pohon itu dapat dijadikan papan meskipun kurang baik untuk bangunan, sedangkan batang kedua pohon itu dapat juga dilubangi untuk tempat makanan ternak atau tempat pendingin dalam penyulingan.
Akhirnya, hampir semua orang Rote dikuburkan dalam peti mati yang dibuat dari kayu lontar, sedangkan mayat orang Sawu biasanya dibungkus tikar daun lontar. Jika seorang Rote meninggal, dibuat anyaman dari daun lontar, yang berbentuk seperti garpu berkaki tiga yang disebut maik atau ola. Anyaman itu merupakan lambang dari arwahnya dan digantung di dalam rumah bersama dengan anyaman lain yang serupa. Maik yang merupakan lambang dari leluhur, digantung di tempat-tempat yang dianggap memerlukan perlindungan dekat tungku api, di ladang-ladang yang mulai masak, dan di dekat kandang ternak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penduduk Rote dan Sawu benar-benar tergantung pada hasil pohon lontar; makanan, kebutuhan sehari-hari, pakaian dan bahkan sesudah mati pun dikuburkan dan dikenang dengan hasil-hasil dari pohon lontar.
Penyadapan dan pemangkasan daun-daun dan tangkainya dilakukan pada bulan-bulan yang kering, yaitu bulan April sampai November. Penyadapan dilakukan selama masa tersebut, tetapi ada dua masa puncak, yang pertama pada awal musim kemarau, bulan April dan Mei dan yang kedua menjelang akhir musim yaitu bulan September dan Oktober. Oleh karena itu, perekonomian penduduk Rote dan Sawu sangat luwes. Penggunaan hasil pohon lontar ini ada-kalanya lebih besar dalam tahun-tahun yang lebih kering dan berkurang dalam tahun-tahun yang banyak turun hujan. Pemanfaatan lontar hanya merupakan inti dari suatu perekonomian rumit yang saling berkaitan.
Salah satu keuntungan dari waktu terluang di musim kemarau adalah kesempatan bagi pria maupun wanita untuk pergi menangkap ikan di lepas pantai dengan teratur. Penangkapan ikan dalam masa yang singkat itu merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari bagi sebagian besar penduduk Rote. Tidak ada orang yang bertempat-tinggal lebih jauh daripada jarak yang dapat ditempuh dengan jalan kaki dari pantai. Pasang surut terjadi dalam siklus bulanan berdasarkan waktu dan jauhnya air surut. Penduduk Rote menangkap ikan pada waktu yang berlainan pada siang hari dan menggunakan suluh pada malam hari, sesuai dengan perputaran pasang surut. Setiap orang Rote mengetahui waktu pasang surut. Pengumpulan rumput laut juga sama pentingnya. Dalam waktu pasang surut, penangkapan ikan mungkin berhasil atau tidak, tetapi selalu dapat dikumpulkan satu atau dua bakul rumput laut. Di pulau-pulau ini jelas kekurangan sayur-sayuran sehingga rumput taut merupakan tambahan makanan sehari-hari. Suatu hal yang biasa di Pulau Rote, bila seluruh keluarga makan besar yang terdiri dari buah aik berisi enam liter nira, dan rumput laut hijau yang asin dan keasam-asaman. Kombinasi asam manis yang khusus ini mungkin tidak menarik bagi setiap orang, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa akan dinikmati dengan lahap. Makanan lain yang merupakan suatu hidangan bagi penduduk Ndao dan Sawu adalah se jenis “cacing laut” kecil yang disebut nyale. Cacing-cacing itu muncul dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu setiap tahun di pantai selatan. Diasami dengan cuka lontar, nyale adalah makanan yang sedap.
Dua kegiatan lain yang erat hubungannya dengan perekonomian lontar adalah pemeliharaan babi yang semi intensif dan pengumpulan madu dalam jumlah yang besar. Kadang-kadang babi diberi makan buah lontar betina; sering diberi nira lontar segar dan selalu mendapat sisa-sisa dan busa sirup yang meluap dalam proses pemasakan; sering diberi kelebihan sirup yang dicampur dengan air. Pemberian sirup lebih banyak dilakukan di Pulau Sawu daripada di rote. Babi-babi disembelih untuk pesta pada hari-hari raya, tetapi tidak pernah disembelih secara besar-besaran. Juga tidak di-ekspor dalam jumlah yang besar. Babi hanya merupakan tambahan protein bagi makanan pokok. Dengan adanya puluhan ribu pohon palem yang meneteskan cairan bergula dari puncaknya, jumlah lebah di Pulau Rote dan Sawu sangat banyak. Menurut adat kebiasaan, sehari dalam seminggu penduduk Rote membiarkan lebah-lebah untuk minum tanpa diganggu. Satu-satunya yang menghambat lebah-lebah itu adalah angin taufan tropis yang menyerang Pulau itu dan menghalau lebah-lebah ke laut. Karena Pulau-Pulau ini sudah mempunyai persedian pangan gula yang berlebihan, maka penduduk Rote dan Sawu tidak menganggap madu sebagai suatu makanan yang lezat. Tetapi sejak masa Persekutuan Dagang Hindia Belanda (VOC), madu merupakan bahan ekspor yang sangat berharga.
Penduduk Rote dan Sawu adalah peramu dalam arti mereka “mengumpulkan hasil” pohon palem untuk memenuhi bagian terbesar dari kebutuhan mereka. Mereka juga petani yang bercocok tanam di tanah yang sangat buruk keadaannya. Berbeda dengan penduduk Timor dan Sumba. Sekalipun bentuk perkampungan penduduk Rote dan Sawu berbeda, namun mereka mempunyai persamaan yaitu kebutuhan sumber air yang dekat dan pohon lontar yang cukup. Pohon lontar berIebihan, sehingga kebutuhan yang kedua tidak merupakan kesulitan. Kebanyakan tempat-tempat kediaman itu terletak di tempat-tempat dimana banyak tumbuh pohon-pohon lontar. Dengan menggunakan daun lontar dan pupuk hewan, pada batas tertentu penduduk Rote dan Sawu telah dapat mengatasi masalah kesuburan yang menghambat pertanian di Timor dan Sumba. Dengan berbagai cara, mereka juga telah dapat mengatasi kesulitan yang menyangkut pengolahan tanah. Perbedaan yang terutama bukan dalam teknik yang digunakan, bahan pangan yang ditanam, atau binatang yang dipelihara, tetapi terutama dalam hal kepentingan relatif, proporsi dan organisasi dalam suatu sistem keseluruhan. Dengan demikian, terdapat variasi yang nyata dalam keseluruhan sistem ini di berbagai daerah di Pulau Rote. Perbedaan utama antara Rote dan Sawu adalah adanya beberapa sumber air alam yang baik letaknya di Rote, terutama di bagian tengah dan selatan. Hal ini memungkinkan perkembangan pertanian sawah. Penduduk Rote sendiri mengakui hal ini, dan menghubungkan persamaan ini dengan pengaruh penduduk Sawu di daerah itu pada masa yang lampau. Kemungkinan persamaan ini ada pula hubungannya dengan perkembangan sistematik dalam pemanfaatan pohon lontar.
Pembuatan pagar sangat penting bagi pertanian di seluruh pulau busur luar ini dan mempunyai akibat yang penting dalam perekonomian. Di Pulau Timor pada umumnya dibuat pagar yang kokoh dari batang-batang pohon dijalin dengan dahan-dahan yang berat. Pagar ini hampir setinggi manusia dan harus diperbaiki dan diperkuat setiap tahun untuk mencegah ternak mencari makan di ladang. Pemagaran di Pulau Rote dan Sawu sangat berbeda dengan pemagaran di Pulau Timor. Kebanyakan pagar di Pulau Rote dibuat dari bahan yang tersedia: terutama tangkai daun gewang dan kemudian daun lontar. Pemagaran di Pulau Sawu tampaknya lebih baik dan menghemat tenaga. Walaupun dapat digunakan tangkai-tangkai daun dan dinding batu, penduduk Sawu lebih suka menggunakan yang disebut “pagar hidup”. Orang-orang Sawu melindungi ladang-ladang mereka dengan menanam pohon kahi dengan jarak yang berdekatan. Jika batang-batang pohon itu sudah berakar dan tumbuh, sela-sela di antaranya dengan mudah ditutup dengan dahan-dahan lain atau dengan tangkai daun lontar menjadi pagar yang kuat.
By. Afif Futaqi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?