Awam Katolik di Tengah Arus Tata Kelola Dunia


Keberdayaan kesaksian gereja terletak pada mutu kehadiran kaum awam katolik dalam pergumulan dan pembangunan kehidupan masyarakat. Kaum awam katolik hadir dalam pergumulan sosio-budaya, sosio-politik, dan sosio-ekonomi yaitu bidang kehidupan manusia yang lazimnya disebut tata dunia.
Dalam upaya gereja menjadi mitra pembangunan sosial yang terpercaya maka sangatlah mendesak dan semakin penting bahwa kaum awam katolik membangun jaringan dinamika hidup yang terbuka dalam kebersamaan persaudaraan sebagai murid-murid Kristus yang saling peduli, berdasarkan pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan untuk berjuang menebus amanat penderitaan rakyat.
Mempercakapkan kaum awam dalam gereja dan masyarakat di masa mendatang, berarti berteologi mengenai awam dalam gereja dan masyarakat di masa yang akan datang. Kalau suatu teologi mau disebut sebagai teologi gereja maka harus memperhitungkan sebanyak mungkin penghayatan, pengalaman dan pemahaman atas iman dalam gereja. Namun atas dasar perhitungan itu pula dapat dicermati perkembangan aneka teologi yang sering terpencar dari sosok menggereja para awam dan hirarki.
Ada teologi yang lebih menonjolkan perananannya sebagai sarana jabatan. Pengandaian dasarnya adalah bahwa pengutusan gereja ada dalam wewenang hirarki. Pandangan ini sangat menguntungkan “persatuan gereja”. Tetapi kerugiannya juga jelas, yaitu bahwa mayoritas gereja ialah kerasulan awam, tidak mendapat cukup tempat alias pasif.
Teologi yang memusatkan perhatian pada gereja dan tata dunia menegaskan bahwa dunia itu tidak jahat dan gereja hadir di situ. Justru awam hidup terutama di dunia. Kehadiran mereka (kaum awam) membawa informasi dan transformasi spiritual. Walaupun teologi ini membawa angin segar terhadap peranan kaum awam, namum belum sepenuhnya menjalankan gagasan konsili vatikan II yang menekankan betapa pentingnya peranan awam dalam penebusan gereja di tangah tata kelola dunia.
Kemudian berkembang teologi pembaruan tata dunia, yang menekankan bahwa gereja tidak dilihat sebagai hanya ada di dunia tetapi untuk dunia. Penjelmaan terjadi untuk penebusan. Yesus datang untuk menyelamatkan semua; tanpa kecuali. Allah begitu mencintai kita sehingga mengirimkan Sang Putera (Yoh. 3:16).
Berkembang pula teologi pembaruan struktur gereja. Faktor-faktor oikumene dan biblis mendukung kecenderungan atau kecondangan ini. Konsep pelayanan jabatan dan kuasa gerejani dipertanyakan. Gereja memahami diri sebagai communio. Bersama dengan konsili vatikan II teologi ini mengembangkan gagasan kolegialitas dan subsidiaritas. Seluruh gereja mendapat “missio”. Maka teologi ini menghidup-hidupkan “deklerikalisasi”. Kelompok basis dan pelayanan awam terwujud.
Terakhir berkembang teologi yang memusatkan perhatian pada “penemuan diri awam”. Awam menemukan panggilan dan kharismanya, mulai menghayati perannya sebagai saksi, pelayan dan nabi dalam bidang masing-masing berdasarkan panggilannya sebagai orang kristiani.
Penemuan diri awam, antara lain terletak pada persoalan keterbukaan, kebersamaan, persaudaraan di antara awam katolik untuk senantiasa solider dengan sesama umat manusia, baik yang katolik maupun yang non katolik sebagai suatu syarat kesaksian awam katolik dalam masyarakat di tengah arus reformasi saat ini. Sebagai kelompok awam yang terikat dalam kesatuan iman umat katolik, menyadari bahwa Kristus datang ke dunia memanggil umat manusia untuk menyahuti misteri misi keselamatan kekal yang ditugaskan Allah kepadanya. Berarti kaum awam dalam menjawab panggilan Kristus harus terbuka, bersama, bersaudara, dan solider yang berkelanjutan berdasarkan prinsip kristiani dalam bidang kehidupan menggereja yang lazimnya disebut tata dunia.
Keterbukaan yang jujur, kebersamaan yang ikhlas, persaudaraan cinta dan solidaritas kasih di antara kaum awam katolik untuk tampil sebagai saksi Kristus adalah tuntutan utama dalam kehidupan kemasyarakatan. Kesaksian membangun keterbukaan dalam kebersamaan yang lebih luas dengan orang-orang yang berkehendak baik sehingga muncul sebagai kesatuan solidaritas yang sama dalam persaudaraan.
Bersekutu dalam kebersamaan, amat penting bagi awam katolik untuk memperbaharui tata kelola dunia berdasarkan kebenaran Sabda Tuhan. Mendengarkan kebenaran Sabda Tuhan dalam keterbukaan berarti merangkul kebersamaan dalam persekutuan untuk mengembangkan solidaritas yang sama dalam persaudaraan. Awam katolik harus peduli terhadap kebutuhan dan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat. Khusus awam katolik yang terjun di dunia politik mempunyai anugerah yang istimewa. Karena setiap keputusan-keputusan politik akan mempengaruhi  seluruh kehidupan masyarakat untuk membangun dirinya dalam jangka waktu yang agak lama dan menetap.
Menjadi politisi tidaklah mudah karena harus profesional di bidangnya. Bagaimana kaum awam katolik yang terjun di bidang politik itu mendapat peneguhan rohani, sehingga ajaran kristiani meresapi politisi untuk mampu berpolitik secara profesional yang dapat mendatangkan kesejahteraan umum (bonum commune). Memang tidak mudah membangun persaudaraan. Namun orang katolik yang hendak memperbarui tata kelola dunia harus mampu membangun persaudaraan, bersepakat menjadi saudara, solider satu sama lain dan terbuka satu sama lain. Apabila membangun suatu kebersamaan, namun hasilnya tidak sama; maka pasti ada yang tidak beres di situ ?
Tetapi yang paling penting adalah apakah kehadiran kaum awam katolik dalam percaturan politik sungguh-sungguh akan menghadirkan satu kesejahteraan umum bagi seluruh masyarakat? Paling tidak kita tetap berpegang pada prinsip dalam politik praktis setiap umat katolik harus bebas memilih jalan dan cara dalam rambu-rambu moral, etika dan sopan santun berpolitik yang dilandasi kemanusiaan yang adil dan beradab. Seperti pernyataan almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ menjadi pedoman bersama yakni in principiis unitas, in dubis libertas, in omnibus caritas; dalam hal soal prinsip adalah satu, dalam hal-hal yang masih terbuka, merdeka/bebas; dan dalam segala hal adalah kasih.
Oleh sebab itu setiap awam katolik dalam kesaksiannya tidak boleh menjadi diktator kasih melainkan setuap keputusan dan tindakan politik demi membangun kesejahteraan bersama, membangun masa depan tata kelola dunia bagi umat manusia yang lebih baik. Di samping itu, awam katolik juga tidak hanya berbicara tentang keadilan tetapi juga harus menjadi pelaku keadilan !
By.Verry Guru
 *) Penulis : Awam Katolik Keuskupan Agung Kupang
dan PNS pada Biro Umum Setda Provinsi NTT

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?