Para pemboking penginapan, umumnya dari luar negeri dan dari berbagai pulau di Indonesia.
“Memang kamar hotel penuh tetapi sudah menjadi tradisi bahwa masyarakat, gereja dan pemerintah selalu menyediakan tempat penginapan, baik di rumah-rumah penduduk maupun paroki-paroki untuk para tamu dari luar. Artinya, masyarakat Larantuka membuka pintu bagi siapa saja yang mencari penginapan. Tidak ada pungutan biaya,” kata Matutina.
Proses Jumat Agung yang dilakukan setiap tahun hingga saat ini adalah penghayatan agama popular seputar “Semana Santa” dan Prosesi Jumad Agung atau “Sesta Vera”.
Kedua ritual ini dikenal sebagai “anak sejarah nagi” juga sebagai “gembala tradisi” di tana nagi, sebutan untuk Kota Larantuka.
Ritual tersebut merupakan suatu masa persiapan hati seluruh umat Katolik secara tapa, silih dan tobat atas semua salah dan dosa, serta suatu devosi rasa syukur atas berkat dan kemurahan Tuhan yang diterima umat dari masa ke masa dalam setiap kehidupannya.
Doa yang dipanjatkan dan lagu-lagu yang dinyanyikan selama masa ini juga menggunakan bahasa Portugis/Latin.
Semana Santa adalah istilah orang nagi Larantuka mengenai masa puasa 40 hari menjelang hari raya Paskah yang diwarnai dengan kegiatan doa bersama (mengaji) pada kapela-kapela (tori) dan dilaksanakan selama pekan-pekan suci.
Doa bersama Semana Santa ini diawali pada hari Rabu Abu (permulaan masa puasa) sampai dengan hari Rabu Trewa. Orang nagi Larantuka memaknai masa Semana Santa sebagai masa permenungan, tapa, sili dosa dan tobat.
Dalam prosesi Jumat Agung di Larantuka ini, biasanya tidak saja diikuti masyarakat di wilayah itu tetapi juga dari seluruh dunia.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar