
Qaddafi, katanya, kemudian menuju barat dalam konvoi bersenjata 15 truk. Namun belum jauh berjalan, ia mengatakan, bom salah satu pesawat NATO menghantam konvoi dekat Sirte sekitar pukul 08.30 WITENG. Bom ini akhirnya membuat perlawanan Gaddafi terhenti dan akhirnya ia tewas.
Gerard Longuet, menteri pertahanan Perancis, kemudian menegaskan bahwa serangan – yang menghancurkan semua 15 truk dan menewaskan 50 orang Qaddafi – dilakukan oleh angkatan udara Perancis.
Namun, Qaddafi dan segelintir anak buahnya sempat lolos dari kematian dan bersembunyi di dua pipa drainase. Tapi justru disitulah ia ditangkap lalu dibunuh.
Mengenai kematian Qaddafi, sebuah prespektif tak biasa disodorkan oleh jurnalis barat asal Inggris, Robert Fisk. Ia menyinggung, jangan salahkan Qaddafi yang berpikir ia adalah orang baik yang berada di posisi benar. Sebab, tulis Robert, dunia Barat pun ikut membentuk pemikiran tersebut.
Ia telah pergi, kolonel yang dulu dicintai oleh Kantor Kementrian Luar Negeri Inggris (setelah kudeta melawan Raja Idris) dijaga sebagai ‘sepasang tangan yang aman’. Kemudian diumpat ketika ia mengirim senjata ke IRA (gerakan pembebasan Irlandia) lalu dicintai lagi, dan seterusnya dan seterusnya. Dapatkah anda menyalahkan pria itu bila ia berpikir ia adalah orang baik?
Dan ia pun lenyap, lalu? Ditembak ketika mencoba bertahan? Kita bisa hidup menyaksikan kematian Ceausescu (dan juga istrinya) lalu mengapa tidak dengan kematian Qaddafi? Lagi pula istri Qaddafi aman. Lalu mengapa tidak diktator itu mati? Pertanyaan menarik.
Apakah teman kita, Dewan Transisi Nasional mengeluarkan dekrit untuk menghabisinya? Ataukah ini adalah ‘alami’, sebuah kematian di tangan musuh, sebuah akhir terhormat untuk pria jahat? Saya bertanya-tanya. Betapa Barat pasti lega bahwa tak perlu ada pengadilan, tidak perlu ada pidato tanpa akhir dari Pemimpin Besar, tak ada pembelaan terhadap rezimnya. Tak ada pengadilan berarti tak perlu terungkap praktik penyiksaan, penculikan paksa dan pemotongan alat kelamin bagian kerjasama intelijen barat di Libya.
Jadi mari tak perlu lagi mengenang kisah buruk Qaddafi. Lebih dari 30 tahun lalu saya pergi ke Tripoli dan bertemu dengan orang-orang IRA yang mengirim Semtex ke Irlandia dan melindungi warga Irlandia di Libya. Warga Libya sungguh bahagia sehingga saya harus bertemu mereka. Mengapa tidak? Mengingat itu adalah periode ketika Qaddafi adalah pemimpin dunia ketiga. Kita terbiasa dengan cara rezimnya. Kita terbiasa dengan kekejamannya. Kita nyaman dengan itu dan kemudian menganggapnya normal. Sehingga penting untuk menyelesaikan dokumentasi tindakan tak bermoral yang dibentuk atas nama kita.
Memang, ini adalah akhir dari bukti yuridis praktek penyiksaan oleh rezim Qaddafi yang (tentu) kerap dilakukan atas nama pemerintah Inggris. Bukankah ini akan menjadi kabar baik? Wanita Inggris yang mengetahui semua tentang penyiksaan–anonim, tetapi saya tahu namanya, pastikan saja dia tidak bersikap aneh lagi dan ingin mengungkap semuanya. Akankah wanita itu lolos dari hukum, dan akankah kita semua nyaman dengan teman-teman Moammar Qaddafi usai kematiannya.
Mungkin. Namun jangan lupakan masa lalu. Qaddafi mengingat betul aturan kolonial Italia di Libya, aturan menindas Italia yang harus dijalani setiap warga Libya ketika berkonfrontasi dengan orang Italia, ketika pahlawan Libya digantung di tempat umum, ketika kemerdekaan Libya dianggap sebagai bentuk terorisme.
Pengusaha Minyak, dan para penghuni IMF akan diperlakukan tidak lebih baik dari pemilik. Warga Libya adalah rakyat yang cerdas. Qaddafi mengetahui betul itu, meski secara fatal, ia menganggap dirinya sendiri lebih cerdas. Gagasan bahwa rakyat kesukuan itu akan tiba-tiba ‘mengglobal’ dan menjadi sesuatu yang berbeda tentu gagasan konyol.
Kita kini mesti menunggu untuk mencari tahu bagaimana Qaddafi mati. Apakah ia dibunuh? Apakah ia mati karena bertahan (tindakan berani kesukuan)? Tak perlu khawatir (by. sirteman)
Ia mengatakan bunyi tembakan dari atas gunung sengaja dilakukan untuk membela peserta kongres yang akan ditahan. “Kita langsung kejar, itulah mengapa ada polisi yang naik ke gunung, itu bukan untuk menembak warga sipil, tapi kita kejar pelaku yang membawa senjata,” jelasnya.
Setiawan mengatakan, tidak ada korban jiwa maupun pemukulan warga yang berakibat fatal dalam rusuh konggres. “Kita negosiasi dengan mereka, jadi masuknya ke arena kongres secara baik, bukan macam-macam,” ujarnya.
Menurut dia, polisi menangkap peserta kongres karena mengibarkan bendera Bintang Kejora sejak Senin 17 Oktober 2011 dan mendeklarasikan negara sendiri. “Itu kan sudah salah, itu makar namanya, kita sudah bilang kalau mau kongres, ya silahkan, asalkan jangan keluar dari aturan, tapi mereka malah bertindak makar.”
Ratusan warga yang ditangkap akan diproses hingga ke meja hijau. “Yang bersalah tetap sampai dihukum, yang tidak bersalah ya kita bebaskan,” kata Setiawan.
Insiden penangkapan peserta kongres mendapat sorotan Komnas HAM Papua yang menuding polisi sengaja mengambil tindakan paksa dan menimbulkan korban. Menurut Komnas HAM Papua, polisi seharusnya menangkap pengibar bendera sejak awal.
Ia mengatakan, pihaknya telah memberi tahu kepolisian dan TNI agar tidak menciptakan konflik dengan warga. Namun penyampaian itu tidak ditanggapi serius. “TNI bilang akan aman-aman saja, begitu juga polisi, tapi jadinya kan tidak, malah ada yang dipukul, saya kira ini sesuatu yang harus dipertanyakan,” pungkasnya. (by. dtk/tp)