Sepenggal Kisah Perjuangan Fretilin


sergapntt.com – Berawal dengan kedatangan orang Australoid dan Melanesia. Orang dari Portugal mulai berdagang dengan pulau Timor pada awal abad ke-16 dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga. Baca lebih lanjut

Fretilin, Representasi Kultural Rakyat Timor Leste


sergapntt.com – Fretilin bukanlah partai, Fretilin adalah (ke)budaya(an) Timor Leste. Untuk sesaat saya sempat terdiam pertama kali mendengar lontaran kalimat itu. Sejenak membatin membayangkan bagaimana Fretilin dibayangkan atau dipikirkan oleh militan-militannya dari kalangan bawah yang jauh dari kekuasaan.
Adalah Nono Comando, seorang militan Fretilin dari pelosok Lospalos, yang mengutarakan kalimat itu. Ia ucapkan dengan nada yang meyakinkan di sela-sela penjelasannya yang mengebu-ngebu tentang krisis politik 2006 kepada saya yang untuk pertama kalinya menginjakan lagi kaki di TL pasca krisis, pada pertengahan maret 2007. Saat itu suasana krisis masih hangat sehingga peryataan seperti itu punya makna yang dalam. 
Sejak itu, pada setiap pembicaraan tentang Fretilin, kalimat itu selalu terlintas di benak saya. Namun saya tidak pernah benar-benar serius memikirkanya sebelum, hari ini, saya membaca lagi versi bahasa Indonesia Fretilin: The origins, Ideologie and Strategies of a Nasionalist Moviment in East Timor, karya Helen Merey Hill. Dalam buku itu, pada bagian pembahasan tentang tema-tema nasionalisme Fretilin, Helen Hill mengungkapkan bahwa salah satu tema nasionalisme Fretilin adalah ‘penegasan kembali kebudayaan Timor Leste’.
Dala uraian Helen Hill, juga dapat ditemukan dalam esai Nug Katjasunkana (1999) tentang Francisco Borja da Costa, pemikiran para perintis kemerdekaan yang terhimpun dalam Fretilin tentang nasionalisme, banyak dipengaruhi pemikir revolusioner Afrika, dalam kaitan ini adalah Amilicar Cabral, pendiri PAIGC. Dalam tulisanya Nasional Liberation and Culture, Cabral berpendapat bahwa rakyat jajahan adalah rakyat yang sejarahnya diputus kolonialisme. Karena itu, perlawanan menentang kolonial adalah upaya untuk merebut kembali sejarahnya dari tangan kolonialis. Baginya, kebudayaan adalah sejarah dan perjuangan hidup sehari-hari. Karena itu, pembebasan nasional dari kolonialisme adalah tindakan kebudayaan.
Praktik-praktik pembebasan nasional Fretilin kala itu banyak diilhami pemikiran Cabral tersebut. Fretilin adalah partai pertama yang menggunakan bahasa daerah pada rapat-rapat umumnya selain bahasa Portugis. Fretilin juga adalah yang pertamakali menganjurkan kepada rakyat agar membaca dan menulis dalam bahasanya sendiri, tidak dalam bahasa Portugis seperti yang berlaku di sekolah-sekolah. Hal itu terutama terungkap dalam praktik pemberantasan buta huruf sebagai praktik pembebasan yang menggunakan metode penyadaran ala Paulo Freire dengan buku panduan yang disusun dalam bahasa Tetun berjudul Rai Timor Rai Ita Nian.
Hellen Hill mencatat  salah satu yang berhasil dalam penggunaan simbol-simbol budaya Timor dalam bidang politik adalah penggunaan kata Maubere. Maubere yang semula adalah istilah yang digunakan sebagai penghinaan untuk golongan petani miskin, bodoh, dan percaya takhayul itu, diangkat Fretilin dalam posisi tinggi untuk mendobrak rasa rendah diri di hadapan kolonial yang banyak dialami petani Timor, dan memunculkan kesadaran nasional sebagai bangsa: bangsa yang tertindas.

Meskipun konsep Maubere itu ditolak sejumlah kalangan di Timor Leste dan tidak pernah benar-benar menjadi identitas nasional, namun sejak dilontarkan Fretilin ke ranah politik, maubere telah menjadi indentitas-subaltern yang sampai kini terus menjadi momok bagi setiap penguasa di TL.


Selain maubere, dalam kerangka aksi budaya, Fretilin juga menggali kembali tari-tarian dan lagu-lagu tradisional. Helen Hill, mengutip Rhonda Mattern (1977) yang menulis Music from East Timor, menulis bahwa sejumlah pendiri ASDT (Fretilin), sangat bersemangat mengembangkan musik dan tari-tarian tradisional, lebih-lebih di daerah asal mereka, khusunya dengan memperkenalkan lagu-lagu baru dan mendorong rakyat untuk menghidupkan kembali lagu-lagu dan tari-tarian tradisional. Bahkan dalam banyak kasus, tulis Hellen Hill, kontak pertama Fretilin dengan rakyat di desa-desa adalah melalui lagu.
Penggalian aspek-aspek kultural dapat juga ditemukan dalam kerja-kerja Francosco Borja da Costa (penyair) dan Abilio Araujo (komposer). Francisco Borja da Costa adalah penyair yang piawai mengawinkan bentuk puisi tradisional dan gagasan nasionalisme modern. Antara lain dalam karnyanya, Foho Ramelau, Kolele Mai, dan Kdadalak, yang digubah menjadi lagu oleh komposer Abilio Araujo. 
Dalam kaitan itu, agaknya lumrah bila rakyat atau militan-militan Fretilin di desa-desa membayangkan Fretilin sebagai representasi kultural rakyat Timor Leste berhadapan dengan kolonialisme maupun bentuk-bentuk penjajahan baru lainnya.
By. Chris Parera/Yazal Demana Casalvio

FRETELIN ‘Singkirkan’ Ramos Horta


sergapntt.com, DILI – Fretelin berhasil menyingkirkan incumbent presiden Timor Leste Ramos Horta dalam putaran pertama pemilihan presiden Timor Leste yang hanya meraih 18 persen suara pada 17 Maret 2012 lalu. Partai Politik yang identik dengan aksi perlawanan bersenjata terhadap Indonesia selama 24 tahun itu mengusung Francisco Guterres alias Lu – Olo dengan torehan suara terbanyak, sekitar 28 persen. Ia diikuti oleh mantan panglima angkatan bersenjata Timor Leste, Taur Matan Ruak dengan 25 persen.   

Guterres pernah kalah tipis dari Ramos Horta pada pilpres 2007 mewakili Fretilin. Namun kini kondisi berbalik. Rakyat Timor Leste seakan sudah muak dengan pemerintahan yang lama.

kedepan, jika menang, Guterres berjanji akan membuat Timor Leste sebagai negara yang stabil, aman dan tertib.

 “Umumnya, tidak ada orang ingin berinvestasi di negara tidak stabil, di mana terjadi konflik,” ujarnya.

 Pilpres Timor Leste telah diwarnai dengan isu perekonomian yang telah tumbuh 9,9 persen pada medio 2007-2010. Pertumbuhan ini didorong oleh pendapatan minyak mencapai US$ 8 miliar.

Meski demikian Timor Leste tetap diganggu oleh masalah, seperti memiliki pemerintahan sipil lemah dan pendidikan tenaga kerja rendah dengan tingkat pengangguran lebih dari 20 persen. 

 “Kami masih membangun sebuah negara, kami masih memperkuat sebuah negara, tetapi kita juga harus menyediakan kebutuhan dasar dan tuntutan rakyat kita,” kata Guterres.  

Guterres telah menjadi oposisi pemerintahan berkuasa dengan menuding pemerintahan perdana menteri Xanana Gusmao gagal membangun Timor Leste. Diungkapkan, dalam lima tahun pemerintahan, hampir US$ 5 miliar telah dikeluarkan untuk negara kecil berpenduduk 1,2 juta orang itu. Namun, ekonomi tidak berkembang produktif dan kehidupan masyarakat dalam setiap aspek malah semakin sulit, bahkan tidak ada perbaikan infrastruktur.  

“Saat ini lebih sedikit akses terhadap air dan sanitasi. Kesehatan masyarakat, pendidikan dan sekolah semua mundur, ini menandai kegagalan,” ucapnya.  

Sementara rival Guterres, Taur Matan Ruak mendapat dukungan dari partai koalisi dipimpin perdana menteri Xanna Gusmao, CNRT. Ruak merupakan veteran angkatan bersenjata yang juga berjuang selama 24 tahun menuntut kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia.   CNRT memiliki pengaruh besar dalam menentukan hasil pilpres Timor Leste.  

Pemerintahan koalisi CNRT memiliki dukungan besar setelah meningkatkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi dengan membangun jaringan listrik dan memberantas kelaparan selama lima tahun pemerintahan.

Guterres dan Taur Matan Ruak akan bersaing pada pemilu putaran kedua pada 21 April mendatang.

“Saya mengucapkan selamat kepada dua kandidat yang terus melaju ke putaran kedua,” kata Horta dalam suatu jumpa pers di Ibukota Dili.

Horta merupakan salah satu tokoh yang turut mengupayakan kemerdekaan dan membangun Timor Leste sebagai negara merdeka pada 2002. Peraih Nobel Perdamaian 1996 itu pernah menjadi menteri luar negeri dan perdana menteri bagi Timor Leste.

“Di tengah malam pada 19 Mei, saya akan menyerahkan kepemimpinan negara kepada  presiden baru, yakni satu dari dua orang yang sekarang menuju putaran kedua,” kata Horta, Senin (19/3/12).

Pilpres Timor Leste secara umum berlangsung aman dan damai. Itu sebabnya, Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon mengucapkan selamat kepada rakyat Timor Leste. Dia bangga karena pemilu dapat dilakukan dalam suasana tenang dan tertib.

By. Joao Dacroes

Samsat NTT Tingkatkan SDM Aparatur


sergapntt.com, KUPANG – Era globalisasi telah memicu peningkatan kesadaran secara global di semua sektor kehidupan masyarakat yang wujudnya dalam bentuk pergeseran cara berpikir dan bertindak sehingga mempengaruhi semua dinamika sektor dan perilaku kehidupan masyarakat. Salah satu pergeseran cara berpikir adalah tuntutan bagaimana menyediakan pelayanan publik bermutu tinggi sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat, yang saat ini kemudian menjadi tema sentral paradigma baru dari pelayanan publik.
            
Demikian sambutan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya, yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi NTT, Drs. Andereas Jehalu, M.Si, pada acara pembukaan Rapat Koordinasi Sistem Administrasi Manunggal di bawah Satu Atap (Samsat) Tingkat Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT di Hotel Kristal Kupang, Selasa (20/3).
 Gubernur Lebu Raya mengatakan, kondisi obyektif menunjukkan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik masih dihadapkan pada sistem pemerintahan yang belum efektif dan efisien serta ketersediaan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur yang belum memadai. Sebagaimana maksud dan tujuan pembentukan Samsat, kata Gubernur adalah dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar lebih berdaya guna dan berhasil guna.
“Oleh karena itu melalui penerapan Samsat online diharapkan menjadi salah satu jawaban dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di Provinsi NTT,” tegas Gubernur.
Gubernur menambahkan, dalam Rapat Koordinasi Samsat yang dilaksanakan ini dimaksudkan untuk membahas berbagai permasalahan dan isu-isu strategis yang berhubungan dengan pelaksanaan pelayanan publik.
“Kiranya melalui forum ini kita dapat menemukan alternatif-alternatif pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehingga dapat dijadikan sebagai acuan kebijakan bersama dalam mengemban tugas,” kata Gubernur.
Gubernur berharap, pelaksanaan pelayanan publik pada kantor bersama Samsat  selalu terjadi koordinasi internal yang terintegrasi dengan mengacu pada regulasi terkait pada masing-masing kewenangan stake holder.
“Perlu bangun tim kerja yang solid dan memiliki kesamaan visi pelayanan; baik pada tataran organisasi maupun individu pelaksana pelayanan yang semuanya bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat,” ucap Gubernur.
Di tempat yang sama Ketua Panitia Rakor Samsat, Drs. Ec. A. F. Kotten mengatakan, Samsat merupakan wahana kerja sama antara tiga unsur terkait yakni Pemerintah Daerah, Kepolisian Daerah dan Aparat Departemen Keuangan yang dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dibidang Pendaftaran Kendaraan Bermotor, Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor serta Pembayaran Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Kendaraan Bermotor sekaligus untuk mengamankan penerimaan negara maupun penerimaan daerah.
By. Verry Guru

AIDS Jadi Masalah Serius di NTT


sergapntt.com, KUPANG – Masalah HIV/AIDS di Provinsi NTT cukup mendapat perhatian serius Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT.
Ini jadi masalah yang serius, karena hingga kini masih ada empat (4) kabupaten di Provinsi NTT yang belum membentuk Sekretariat KPA. Secara institusi ini lemah. Padahal upaya penanggulangan masalah HIV/AIDS sudah jadi masalah global atau masalah internasional. Siapapun yang kena masalah AIDS pasti ditangani tanpa melihat latar belakang sosial politik,” tandas Wakil Gubernur NTT yang juga Ketua Pelaksana Harian KPA Provinsi NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si saat memimpin rapat koordinasi Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan dalam Upaya Penanggulangan AIDS di ruang kerja Wagub, Selasa (20/3).
Kalau di kabupaten belum ada sekretariat KPA, sebut Wagub, akan kesulitan manakala terjadi masalah HIV/AIDS. “Saya minta Sekretaris KPA Provinsi NTT, hari ini juga untuk membuat surat penegasan kepada para Bupati atau Wakil Bupati di empat kabupaten yang belum membentuk Sekretariat KPA. Segera bentuk Sekretariat KPA. Bila perlu kita tunjuk inisiator yang ada di kabupaten untuk memudahkan terbentuknya Sekretariat KPA,” pinta Wagub.
Wagub menjelaskan, data dari tahun 1997 hingga Februari 2012 secara akomulatif  sebanyak 1491 yang terdiri dari kasus HIV sebanayk 699 dan kasus AIDS 792. “Dari total kasus 1491 yang meninggal sebanyak 403. Ini jumlah yang terdata. Belum lagi informasi yang tidak terdata dari empat kabupaten yang belum memiliki Sekretariat KPA,” ujar Wagub dan meminta kepada Sekretariat KPA Provinsi NTT untuk melakukan evaluasi yang jujur terhadap data yang ada sehingga dapat memotret dengan baik kasus-kasus HIV/AIDS di Provinsi NTT.
Di tempat yang sama, Sekretaris KPA Provinsi NTT, dr. Husein Pancratius menjelaskan, hingga kini masih ada empat kabupaten yang belum membentuk Sekretariat KPA yakni Kabupaten Manggarai Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Kabupaten Sumba Tengah.
Selain itu kata dr. Husein, ada beberapa kabupaten yang perlu mendapat perhatian serius yakni TTU dan Belu. “Ada hal-hal tertentu yang kami temukan yang berkaitan dengan standar pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing) dan CST (Care Support and Treatment). Ini yang perlu mendapat perhatian serius dari KPA NTT,” jelas mantan direktur RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes Kupang.
Menurut dr. Husein, VCT merupakan pintu masuk bagi KPA NTT untuk bertindak dalam menangani kasus HIV/AIDS. “VCT itu pintu masuk buat kami bertindak. Hal ini juga akan berpengaruh pada sistem recording dan reporting yang kami laksanakan di KPA NTT,” tandas dr. Husein, apa adanya.

By. Verry Guru