Stop! Tambang Di Riung


PRO kontra soal tambang di Riung terus menggelegar. Masyarakat pecah menjadi dua kubu. Ada yang setuju, ada yang tidak. DPRD Kabupaten Ngada dibuat pusing. Mau ikut masyarakat yang pro tapi ditentang oleh yang kontra. Begitupun sebaliknya. Padahal ada tidaknya emas, biji besi, timah hitam dan batu bara belum diketahui secara pasti. Kondisi ini membuat Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea bersikap tegas. Tambang distop. Masyarakat diminta untuk segera melakukan rekonsiliasi demi memperbaiki hubungan yang retak akibat masalah tambang.
Saat bertatap muka dengan masyarakat Kecamatan Riung di Aula Kesenian Riung pada Senin (25/01/10), Pit Nuwa —begitulah Drs. Pit Jos Nuwa Wea biasa disapa— mengatakan, dirinya tidak ingin rencana tambang menjadi penyebab retaknya kebersamaan masyarakat Riung. Apalagi belum ada sebuah hasil riset pun yang memastikan bahwa di Riung terdapat kandungan emas, biji besi, timah hitam dan batu bara.
“Sampai sekarang belum ada satu pun investor yang bisa membuktikan bahwa di Riung ada biji besi, emas, batu bara atau timah hitam dalam jumlah deposit yang besar yang kalau dieksploitasi bisa mambawa kesejahteraan untuk kita semua. Fenomena terakhir, gara-gara tambang, tercipta konflik di masyarakat. Saya tidak mau. Stop. Tambang kita hentikan,” ujar Pit Nuwa.
Kata Pit Nuwa, Pasal 33 UU 1945 mengatakan semua kekayaan alam dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Tapi cara mengelolahnya mesti diatur dengan baik. Kalau tidak, emas diambil, biji besi diambil, tapi meninggalkan lingkungan yang buruk yang kemudian berdampak jelek terhadap kehidupan masyarakat.
Karena itu dibuatlah peraturan pertambangan. Regulasi dibuat agar pertambangan yang diharapkan bermanfaat bagi kesejahteraan tidak menjadi penyebab yang merugikan rakyat. Dengan dasar itu maka para investor diberikan hak untuk melakukan pertambangan. Semua tata cara diatur, minta ijin ke bupati, bupati mengevaluasi permohonan ijin, karena bupati juga punya kewajiban untuk melayani mereka. Ini saya jelaskan agar jangan sampai ada yang berpikir ada kecurangan yang dilakukan oleh Bupati. Bupati hanya melaksanakan tugasnya sesuai dengan kewenangan yang diberikan, memberikan ijin sesuai dengan ketentuan yang ada.
Dulu PT. Lisindo pernah meminta 10 ribu hektar untuk kepentingan penyelidikan ada tidaknya kandungan biji besi, emas, timah hitam dan batu bara. Lokasinya di Mbokok (Riung) dan Nggolonio (Nagekeo). Tapi di Riung, masyarakat tidak menghendaki adanya tambang. Karena itu saya putuskan kuasa pertambangan penyelidikan umum dikeluarkan hanya untuk Nggolonio. Sedangkan di Riung tidak. Ini yang disebut dengan demokrasi pembangunan. Apa yang masyarakat kehendaki, kita layani. Saya tidak ingin menyakiti hati rakyat.
Kembali ke soal tambang di Riung. Ada yang punya modal dan mau berinvestasi di pertambangan, selamat datang. Mengapa saya mengatakan selamat datang? Karena Ngada ini ketergantungan fiskal kepada pemerintah pusat sejak tahun 2005, 2006, 2007 masih 96, 4%. Kita punya PAD tahun 2005 ditargetkan 9 Miliar, tapi realisasinya hanya 8 Miliar. Ini latar belakang kenapa saya mengatakan investasi selamat datang. Karena dari investasi itu akan terjadi pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat. Namun proses investasi dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Saya tidak suka loncat-loncat, apalagi mengabaikan aturan. Kalau masyarakat setuju, kalau masyarakat menghendaki, kita lanjutkan. Kalau masyarakat tidak mau, maka stop. Berhenti. Sekali lagi itulah demokrasi pembangunan.
Tambang di Riung tidak. Tapi investasi pariwisata selamat datang. Untuk permintaan itu, saya kebetulan punya sepupu Pastor di Amerika. Dia menghubungkan saya dengan satu group yang kaya di Amerika. Bagaimana mengembangkan pariwisata. Dia kirim orang ahlinya ke sini untuk lihat potensi pariwisata di Riung. Dia bilang potensi luar biasa, tapi kami tidak bisa datang. Prasarana disini sangat-sangat terbatas. Hotel tidak ada yang bagus, telponnya sebentar ada, sebentar tidak. Listriknya sebentar hidup, sebentar mati. Nyamuk malaria banyak sekali di Riung dan kami paling takut malaria. Karena itu kita harus tingkatkan kita punya puskesmas dengan pelayanan yang tinggi, dokter spesialil dan lain sebagainya. Setelah dia kemukakan kepada saya, maka saya bilang, kalau itu yang diminta, maka dalam waktu cepat kami tidak mungkin bisa memenuhi semua tuntutan itu. Karena kami punya pembangunan harap dari DAU/Dak. Kami punya PAD kecil sekali. Akhirnya berhenti.
Walaupun begitu saya minta tolong kepada tokoh masyarakat Riung. Kalau kita mau kembangkan pariwisata, saya minta kejelasan status pulau–pulau itu (17 pulau Riung-Red). Itu ada dalam cagar alam laut, ada di dalam taman wisata alam laut, yang dengan keputusan menteri, itu masuk dalam cagar alam wisata, pulau-pulau itu tentu sudah diserahken kepada negara. Sehingga negara tinggal atur. Karena saya takut, begitu investor datang, kita ribut lagi soal pulau itu, ini saya punya, pulau ini suku ini punya. Tolak tarik kiri kanan, investor kecewa dan akhirnya dia pulang.
Usaha saya sudah sejauh itu. Dan saya tidak tahu status pulau-pulau itu seperti apa, saya minta agar ada kejelasan. Sebab saya tidak berhenti mencari investor. Terakhir saya dengar ada yang sudah mau mengelolah restoran di Pulau Tembang. Tapi pulau ini masih ada persoalan, ya itu tadi, pulau ini masih milik suku ini dan sebagainya. Rumitnya seperti ini. Begitu ada persoalan seperti ini maka investor kita akan mengatakan kami lebih baik mundur. Nah disini bukan seperti di Labuan Bajo, jual pulau. Tidak pernah boleh terjadi di siini.
Kembali tentang pertambangan. Karena investasi tambang menaruh harapan positif, saya keluarkan Kuasa Pertambangan (KP) penyelidikan umum untuk Mbokok. Tapi karena masyarakat menolak, kita stop. Kita keluarkan KP untuk Nggolonio. Juga akhirnya terbentur masalah tanah. Runding terus menerus dengan bupati. Akhirnya sepakat serahkan kepada bupati dan tanah semuanya akan ada kompensasi sekian besar dan seterusnya.
Rupanya yang mau bikin itu tambang, orang yang punya uang tapi dia belum pernah tau bikin tambang seperti apa, maka dia ambil ahli tambang dari Cina. Bikin podok di situ, beli dengan rumah manado dari kayu untuk orang–orang itu tinggal. Tau-taunya itu bukan ahli tambang, itu pekerja tambang. Datang sini, kupas sedikit, mereka bilang wah ini tidak ada biji besi. Tapi… kok orang bilang ada juta-juta ton di dalam. Kupas lagi nol. Malahan sudah siap mau buat pelabuhan tongkang supaya memperlancar distribusi. Tau-tau yang bikin survei ini pekerja tambang. Sekarang PT. Lisindo itu, menurut Pak Kadis Pertambangan, telepon juga sudah tidak dijawab, kantor sudah pindah. Nah kalau begini, tidak jelas, lalu kita cek-cok. Kita yang rugi besar. Kita punya persaudaraan, kebersamaan, kekerabatan jadi rusak gara-gara ini barang yang belum pasti. Khusus Mbokok, pertama kita kasih KP penyelidikan umum kepada PT. Karisma Inti Persada, sementara KP kita kasih keluar mereka bilang mengundurkan diri karena mereka punya PT. Mengalami masalah keuangan akibat krisis global. Datang lagi PT. Graha Kencana Perkasa, dia juga melakukan penelitian KP penyelidikan umum, dia buat laporan ini potensi besar pak Bupati, karena itu kami serius mau eksplorasi. Saya bilang baik, kalau begitu kasi keluar itu ijin eksplorasi. Tapi sebelum itu saya bentuk tim investasi. Secara teknis oleh dinas pertambangan, tapi kordinasi administrasi oleh bagian ekonomi. Tim investasi itu terdiri dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD), Dinas Kehutanan, Tata Pemerintahan, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Bagian Hukum dan Badan Lingkungan Hidup (BLH). Saya beritahu kepada teman–teman ini. Kalau ada orang mengajukan permohonan pertambangan, kamu bahas baik-baik.
Kehadiran Dinas Kehutanan, saya minta, kau harus kasi tahu di situ hutan cagar alam atau hutan lindung atau hutan produksi atau hutan produksi yang bisa di konversi. Harus jelas. Kalau di situ ada cagar alam atau hutan lindung, kita tidak boleh keluarkan ijin. Karena itu bukan kewenangan bupati. Kalau mau disitu, minta ijin Menteri. Tapi tim mengatakan ijin yang di kasi itu bukan kawasan hutan lindung, menurut peta satelit, itu bukan cagar alam, bukan hutan lindung. Baik.
BPN, kau harus kasi jelas bahwa tanah itu layak atau tidak. Tanah negara atau tanah ulayat atau tanah perorangan. Kau harus kasi tau. Kalau ulayat berhubungan dengan ulayat, kalau negara berhubungan dengan bupati, kalau perorangan berhubungan dengan perorangan. Itu gunanya taro BPN disitu.
BPMD, periksa itu PT. Graha Kencana Perkasa. Dia punya akte benar atau tidak, sebab banyak calo yang datang dan bilang saya ini investor. Bagian Ekonomi, perhitungan dampak ekonomi bagi masyarakat. Dari aspek Hukum, tim ini bekerja. Mereka menyarankan kepada bupati, ini boleh, itu tidak boleh. Mbokong ini tim bilang bolah, jadi saya bilang kalau boleh dari semua aspek maka kasih keluar KP penyelidikan umum. Setelah PT. Graha Kencana Perkasa lapor beres, saya bilang, kasi keluar itu KP eksploirasi.
Di Riung Barat saya sudah ditanya, koq ijinnya keluar tanggal 21 Juni 2009, tapi tanggal tiga baru sosialisasi. Ini kita salah mengerti. Ijin ekslorasi ini ada langkahnya. Satu, sosialisasi dulu kepada masyarakat, omong dengan masyarakat mau atau tidak. Kalau masyarakat bilang mau silakan lanjut langkah kedua, bor sedikit, ambil contoh. Bikin parit uji, ambil contoh untuk dihitung depositnya berapa banyak. Setelah dihitung, dia harus melakukan studi kelayakan. Layak atau tidak. Sebab tidak hanya omong soal gali biji besi. Pelabuhannya di mana, tenaga kerjanya berapa banyak, untuk energi pabrik itu listrik berapa ribu kilo wath. Bagaimana kalau kita reklamasi, dengan medan seperti ini kita gali, kita harus reklamasi. Hitung dengan deposit yang ada, bisa untung atau tidak. Setelah studi kelayakan kalau dia bilang layak maka berikutnya adalah AMDAL. Itu yang kita omong itu. Masyarakat harus terlibat. Bagaimana dengan lingkungannya, bagaimana dengan pembangunan sosial masyarakat, bagaimana dengan kewajiban reklamasi kembali setelah gali. Jangan sampai seperti di Warulembu, gali-gali itu tima hitam, begitu deposit kurang, dia lari kasi tinggal itu lubang. Saya mendapat laporan. Terus saya minta Dinas Pertambangan pergi lihat, dinas bilang kami sudah pergi lihat. Saya tanya sudah timbun, dinas bilang sudah. Ternyata di Riung Barat tadi masyarakat bilang belum di timbun, masih lubang. Orang pung kambing jatuh ke dalam dan mati.
Soal tenaga kerja. Jangan seperti di PT. Lisindo dulu. Masyarakat tuntut harus pakai masyarakat sebagai tenaga kerja tambang. Terus dibuatlah spesifikasi tenaga kerja, kepala ini harus ijasah teknik ini, kepala ini harus ijasah teknik ini, cari-cari tapi ternyata orang Nggolonio hanya sopir dan konjak.
Langkah–langkahnya seperti itu. Kalau AMDAL sudah oke, baru kita kasi keluar ijin eksploitasi. Setelah itu kita baru kasi keluar ijin Usaha Pertambangan Pengolahan dan Pemurnian. Di olah di sini, jangan kau bawa kami punya tanah, habis itu kau ra’u bawa ke Surabaya terus olah di sana, kami tidak tau, biji besi memang ada, tapi ternyata ada emas, ada juga mangan, ada timah, kau sudah untung. Tapi kami, kamu hanya bayar royalti biji besi, kau untung besar. Jadi, olah di sini. Supaya kami bisa tahu. Kalau sudah olah disini, baru kita kasi ijin pengangkutan dan penjualan. Itu ada langkah-langkah. Itu jelas sekali menurut peraturan perundang-undangan.
Jadi, jangan kira karena kita kasi keluar ijin, lalu minggu depan sudah ada uang. Sudah ada biji besi. Ini perlu saya jelaskan supaya kita jangan salah tafsir. Untuk itu saya sudah minta tim susun bahan sosialisasi, kehutanan bilang apa, BPN bilang apa, hukum bilang apa, ekonomi bilang apa, pertambangan bilang apa, jadikan sebuah buku sosialisasi. Sehingga apabila dinas kehutanan tidak ada, ekonomi omong atau dinas pertambangan omong yang sama.
Setelah itu mereka lapor saya, bahwa standar sosialisasinya sudah kami buat. Oke! Kalau begitu kamu turun sosialisasi. Turun sosialisasi tanggal 3 Juni 2009. Saat sosialisai, tim lapor saya bahwa masyarakat tidak setuju. Kalau masyarakat tidak setuju, stop. Jangan kau paksa. Tiba-tiba saya dilaporkan lagi oleh staf bahwa ada dua desa dan kelurahan bikin surat minta supaya eksplorasi tambang dilanjutkan. Bahkan ada 16 point tuntutannya. Saya bilang, ini yang betul yang mana, waktu sosialisasi bilang tidak mau, tapi ada dua desa dan kelurahan lagi minta supaya diteruskan. Saya lalu memahami pikiran mereka. Eksplorasi dulu. Supaya kita tahu ada atau tidak itu biji besi. Lalu keluarlah surat tanggal 21 Desember 2009 kepada investor untuk melakukan eksplorasi. Tapi begitu saya pulang dari Jakarta, saya baca koran bahwa di Mbokok di blokir. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju.
Kerisauan saya bukan soal tambang, tapi saya tidak mau biji besi yang belum jelas, mas yang belum jelas, mangan yang kita tidak tahu ada atau tidak, merusak kita punya kebersamaan, kekerabatan, kekeluargaan, persatuan kita. Karena itu saya mau minta PERISAI memfasilitasi semua persatuan kesatuan ini. Melakukan mediasi sehingga kita tidak resah satu sama lain. Itu saya punya harapan. Karena kalau masih ada perbedaan pendapat, maka saya tegaskan lagi bahwa saya tidak akan keluarkan ijin. Saya tidak mau mengorbankan kebersamaan masyarakat hanya untuk barang yang tidak pasti, masih lama dan belum jelas. Memang ceritanya kalau tambang jadi dan deposit bagus, wah kita ini uang banyak, pasti setiap desa ada bagiannya, itu resmi. Dapat royalti dan macam-macam lagi. Tapi ini semua tidak akan ada guna kalau nanti kita dapat uang tapi kita hanya pakai untuk ketemu, baku runding, baku damai.
Fenomena konflik itu ada. Untuk itu saya minta kita segera rekonsiliasi. Supaya hubungan kemasyarakatan kita normal kembali.
Kalau tentang pertambangan seperti yang saya katakan tadi, ada aturannya, ada prosedurnya. Saya tidak mau langgar-langgar. Disini yang ribut, koran bilang bupati ada di belakang. Karena bupati mau maju jadi Calon Bupati. Aduh minta ampun…! Tuhan dengar dia itu, ampuni dia itu. Karena apa yang dia omong, dia tidak mengerti. Janganlah….! Omong politik itu nanti lain kali. Saya lebih penting ini barang. Terus terang saya sangat prihatin, gara–gara ini tambang hubungan kekerabatan kita menjadi renggang satu sama lain. Saya resah, prihatin kalau kebersamaan kita ini terputus, terganggu hanya karena biji besi, mangan atau apapun yang belum jelas itu.
Ijin eksolorasi itu sudah jelas langkah-langkahnya. Saya sudah sosialisasi untuk mendapatkan persetujuan masyarakat. Begitu masyarakat bilang tidak, maka waktu mereka lapor, maka saya bilang berhenti. Jadi itu bukan pemutarbalikan. Memang prosedurnya seperti itu. Ijin keluar, kau silakan melakukan kegiatan. Ini langkah-langkahnya. Langkah pertama adalah sosialissasi. Tim melapor tidak ada persetujuan masyarakat. Kemmudian kita berhenti. Saya dengar perusahaan itu menggunakan tim advokasi, itu upayanya. Syukur kalau itu bisa disepakati bersama, kita tindak lanjut. Kalau tidak, ya tetap tidak. Itu prinsip. Tadi juga bapak Niko mengatakan sejak awal menolak. Karena itu saya tidak keluarkan ijin. Yang saya prihatin, gara-gara barang yang belum jelas, bukan hanya renggang, bukan hanya putus hubungan satu sama lain, tapi juga bisa bentrok fisik. Karena itu saya berkesimpulan tambang ini tidak ada manfaatnya.
Yang terhormat bapak Ahmad Lezo. Terima kasih untuk informasinya, khusus mengenai PT. Meruk Iterprise. Saya juga perlu kasi tau bahwa sampai sekarang dia masih minta ijin eksploitasi. Saya bilang tidak. Karena hasil penyelidikan umum, dia copy dari hasil penelitian Depertemen SDM. Dia tidak lakukan penelitian di lapangan. Saya punya staf tegur, kasi tau dia. Dia tiak pernah datang langsung di sini. Dia copy supaya ongkos murah, lalu dia lapor deposit batubara sebesar seribu limaratus juta. Padahal laporan Depertemen SDM Pertambangan hanya lima juta. Minta eksplorasi. Pada waktu itu Dinas Pertambangan kita belum punya pegangan. Masih baru. Jadi pikir ini boleh locat. Ini yang saya bilang bajing loncat. Tiba-tiba kasi eksplorasi. Tapi dia harus bor, tarik uji segala macam. Dia tidak buat itu. Dia hanya pake sumur yang orang gali. Disitu dia temukan batu bara. Jadi dia bilang, ini ada isi di dalam. Karena itu dia minta KP ekssploitasi. Sampai hari ini saya belum keluarkan. Saya bilang tidak. Waktu Pak Meruk datang, saya bilang masyarakat tolak, kau pulang. Kalau masyarakat sudah bilang tidak, jangan bikin konflik. Tapi dia berkeras untuk eksploitasi. Saya tidak mau. Sampai saudara saya yang Mantan Menteri Nakertrans, Yakob Nuwa Wea bilang, bapa Pit kasi saja. Karena mereka berteman. Saya bilang tidak. Kalau tidak sesuai dengan aturan, saya katakan tidak. Mau saudara ke.. apa ke… tidak ada urusan . Yang saya mau itu. Jadi fenomena yang saya tangkap sekarang pak Ahmad, saya minta segera rekonsiliasi. Kalau semua bersepakat bahwa tambang tidak. Oke! Tetapi persoalan yang terjadi akibat tambang diperbaiki. Sebab kita tidak hanya perlu bersatu untuk tambang, tapi masih perlu persatuan untuk urusan-urusan yang lain. Itu harus dijaga. Ada yang bilang belum setuju, ada yang bilang harga mati, kalau itu mau didiskusikan silahkan, tapi tidak boleh menyebabkan keretakan, kerenggangan hubungan antara kita.
Pak Markus tadi bilang tolak tambang harga mati, silahkan. Barangkali tolong diformulasikan secara baik. Sebab tambang itu tidak hanya tambang biji besi pak Markus. Gali air sumur itu juga tambang, gali pasir di Naru itu juga tambang. Jadi kalau bilang tolak tambang, berhenti gali pasir, kamu berhenti bangun rumah batu. Tolak tambang, tidak boleh gali sumur. Jadi kasi eksplisit. Itu hak masyarakat. Cuma ada resiko. Saya kasi bayangan saja, sekarang ini Ngada terima yang namanya PBB lepas pantai, itu sumbangan dari daerah lain yang punya tambang minyak di laut, dia bagi dengan kita. Kita tidak punya sumber apa-apa. Tambang tidak ada, apalagi minyak, itu dia kasi. Nah, dengan kita bilang tolak tambang, dia bilang o.. kalau begitu sumbangan untuk mereka kita perkurang. Sementara saya bilang tadi, kita punya ketergantungan terhadap pusat itu 96,4% dan tahun ini kita sudah kurang menjadi 95,54% ketergantungan. Tapi masih sangat besar, lebih dari sembilan puluh persen. Ada implikasi-implikasi seperti itu. yang tentu harus kita pertimbangkan. kalau memang kita sudah yakin bahwa ini barang bisa membahayakan kita, kita stop.
Pa Anis, terima kasih pak Anis. Kalau tetap tidak sepakat. Tambang kita stop. Pa Anis bilang kami belum ada kesepakatan, sabar dulu. Pak Markus lebih tegas, pokoknya tidak. Oke. Kita akomodir itu dan akan saya laporkan kepada dewan untuk menanggapi aspirasi itu.

Tambang Sengsarakan Rakyat
Pengamat Ekonomi asal Universitas Katholik Widya Mandira Kupang, Dr. Thomas Ola Langoday, SE. MSi mengatakan, tambang tak pernah mensejahterakan rakyat. Yang ada hanya mengsengsarakan rakyat.
“Ini yang harus diingat oleh pemerintah dan masyarakat. Bukan saja di Indonesia, bukan saja di Lembata, di seluruh dunia ini, tambang tidak pernah mengsejahtrakan tuan tanah. Yang berkuasa adalah pengusaha sendiri. Dimanakah tuan tanah? Terpingirkan, bahkan ada yang sampai ditransmigrasikan dan diemigrasikan ke negara lain. Sayang betul kita ini. Tambang bukan tidak boleh, tapi yang harus jadi pemiliknya adalah tuan tanah, dia harus memiliki itu sampai ke anak cucunya. Karena yang mendiami bumi ini adalah tuan tanah, bukan investor,” ujar Langoday.

Emas Ada Di 9 Kabupaten
Kandungan emas di NTT terdapat di sembilan (9) kabupaten, yakni Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Lembata, Sikka, Ngada, Nagekeo, Manggarai Barat, Sumba Barat dan Sumba Timur.
“Potensi emas di NTT sedang diincar investor dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk PT Merukh Enterprises yang sedang berinvestasi di Lembata,” kata Asisten Administrasi Keuangan Setda NTT, Partini Hardjokusumo, SH, di Kupang.
Menurut Hardjokusumo, potensi emas di TTS terdapat di Desa Bijeli, Kecamatan Mollo Selatan. TTU di Desa Noel Toko, Kecamatan Miomafo Barat. Lembata di Kecamatan Buyasuri, Omesuri dan Lebatukan. Ngada dan Negekeo di daerah Papang, Pulau Lainjawa, Wolo Besi, Lodo, Wae Teo, semenanjung Ontok dan Hunut, Nenganumba, Poselik, Kuli Boko dan Mbay. Sumba Barat dan Timuir terdapat di Tanah Darru, Kecamatan Umbu Ratunggai dan Lamboya dan Kecamatan Walakaka, pegunungan Masu, Kecamatan Nggongi.
Kini para investor dari dalam negeri maupun luar negeri sudah mengetahui penyebaran kandungan emas itu. Mereka juga berkeyakinan di kabupaten lain di Pulau Flores seperti Ende, juga memiliki emas.
“Saat ini, investor dalam negeri yang berasal dari Jakarta sedang menyelidiki potensi emas di Ende. Proses penyelidikan kandungan bahan galian bernilai tinggi itu tidak mesti dibekali kuasa penambangan (KP). Investor itu sudah di lapangan dan sudah mengajukan permohonan kuasa pertambangan. Kewenangan mengeluarkan KP itu ada di kabupaten,” paparnya. (*)

Perjalanan PIKIR di Lintas Suksesi Pemilukada Ngada 2010-2015 Rakyat Dukung, Elit Berontak


sergapntt.com [Ngada] -> SEJUMLAH elit politik di Kabupaten Ngada berprinsip “Bupati Ngada harus orang Ngada”. Semangat ini dilecutkan gara-gara Drs. Pit Jos Nuwa Wea tampil lagi sebagai kandidat Calon Bupati Ngada periode 2010-2015. Padahal Pit Nuwa —begitulah Drs. Pit Jos Nuwa Wea biasa disapa— bukan orang Ngada. Jawara Pilkada Ngada 2005-2010 itu merupakan generasi kelahiran Boawae, Kabupaten Nagekeo. Namun sayang, sentimen primordial ala elit politik tersebut bertepuk sebelah tangan. Sebab, Pit Nuwa mendapat dukungan rakyat Ngada.
Keinginan rakyat agar Pit Nuwa kembali bertarung di arena suksesi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Ngada 2010-2015 terungkap saat Pit Nuwa melakukan kunjungan kerja ke desa-desa di 9 kecamatan di Kabupaten Ngada. Di Riung misalnya. Warga Kelurahan Benteng Tengah, Desa Sambinasi, Tadho dan Lengkosambi secara blak-blakan meminta Pit Nuwa untuk kembali bertarung merebut kursi bupati 2010-2015. Suport juga datang dari warga Kecamatan Riung Barat, Wolomeze dan So’a. Tak berlebihan bila letupan dukungan tersebut memberi isyarat bahwa Pit Nuwa masih pantas menjadi Calon Bupati Ngada untuk lima tahun kedepan.
Ironisnya, elit politik di Ngada justru berpaling muka. Mereka berontak. Mereka tak suka dengan Pit Nuwa. Dukungan rakyat dibalas dengan cercaan dan permintaan agar Pit Nuwa segera hengkang dari arena suksesi. Alasannya, hanya karena Pit Nuwa bukan orang Ngada.
“Pit Nuwa harus pertimbangkan secara sosiologis. Bupati setelah Pit Nuwa harus orang Ngada,” pinta Mantan Anggota DPRD Propinsi NTT asal Ngada, Geradus Siwemolle seperti yang dilansir sebuah koran mingguan terbitan Kota Kupang belum lama ini.
Seorang tokoh masyarakat Kecamatan Aimere bernama Rapu Romanus bahkan menilai, “Pit Nuwa itu bukan mosa laki. Apa yang sudah dia perbuat selama lima tahun. Omong kosong semua. Sontoloyo itu. Dulu saya dukung dia dengan Niko Dopo. Tetapi setelah keduanya terpilih, ternyata tidak mampu. Halaman rumah saya diinjak-injak pada masa kampanye, mereka buat janji muluk, tapi ternyata omong kosong semua. Nol besar”.
Semangat dan penilaian Geradus Siwemolle dan Rapu Romanus langsung ditentang oleh politisi debutan asal Partai Republikan, Alosius Li’u. Mantan Kepala Sekolah SMPN 01 So’a yang terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Ngada di Pemilu Legislatif 2009 itu meminta Geradus Siwemole dan Rapu Romanus untuk berpikir dan memberi penilaian secara obyektif terhadap kehadiran dan keberhasilan Pit Nuwa.
“Bahwa asal pak Pit Nuwa dari Nagekeo, itu benar. Tapi…, apakah karena itu lalu pak Pit Nuwa dianggap tidak pantas menjadi Calon Bupati Ngada? Apakah ada garansi jika orang Ngada yang menjadi Bupati…, lalu Ngada ini dapat berubah seketika menjadi daerah yang sangat maju seperti Jakarta? Jangan kotak-kotakan masyarakat kita dengan sentimen-sentimen kuno. Kapan Ngada mau maju kalau kita pupuk semangat pecah bela. Bagaimana kalau warga Ngada yang bukan keturunan asli Ngada bereaksi? Ini akan menjadi masalah besar! Mari kita pupuk rasa kebersamaan. Toh pak Pit juga saudara kita sendiri,” ucap Alo Li’u saat ditemui di ruang kerja Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Moses Mogo, B.Sc pada Senin (25/01/10).
Menurut Alo Li’u, hak politik Pit Nuwa mesti dihormati oleh seluruh warga Ngada. Sebab, keikutsertaan Pit Nuwa dalam suksesi Ngada memiliki alasan yang sama dengan Calon Bupati Ngada lain, yakni ingin mengubah Ngada menjadi daerah dan masyarakat yang lebih bermartabat, adil, sejahtera dan mandiri. Jangan karena menjadi tim sukses paket lain, lalu akstrim menyudutkan Pit Nuwa
“Kita mesti melihat kinerja pak Pit Nuwa secara obyektif. Harus jujur berikan penilaian. Menurut saya, kepemimpinan pak Pit Nuwa selama lima tahun ini sudah bagus. Jika masih ada yang belum beres, bagi saya, itu wajar. Karena banyak faktor yang mendukung itu, contoh soal keterbatasan dana yang dimiliki Kabupten Ngada. Selama ini ketergantungan kita terhadap alokasi dana pusat masih sangat besar sekali, kalau tidak salah sekitar 95,5 persen,” paparnya.
Permintaan agar semangat kerbersamaan dijaga dalam Pemilukada Ngada disampaikan juga oleh Drs. Isidorus Jawa. Pria asal Kecamatan Bajawa yang kini sedang menduduki jabatan Asisten III Setda Ngada itu berharap agar para politisi di Ngada tidak terjebak dengan hal-hal primitif yang justru merugikan rakyat.
“Kita mesti jaga hubungan persaudaraan kita. Jangan ciptakan hal yang tidak kondusif. Nanti rakyat yang jadi korban,” tegas Isidorus.
Soal sikap politik Pit Nuwa, kata Isidorus, mesti dihormati. Karena Bupati dan Wakil Bupati dipilih oleh rakyat, bukan di pilih oleh satu dua oknum politisi. Lagian kepemimpinan Pit Nuwa selama ini sudah cukup baik. Betul bahwa ada masalah-masalah pembangunan yang belum beres. Tapi itu tidak semata-mata karena sesalahan Pit Nuwa seorang. Masalahnya sangat kompleks.
“Harus jujur bahwa Ngada dibawah kendali kepemimpinan pak Pit Nuwa cukup baik. Ada program yang berhasil. Jangan bilang nol besar. Itu keliru,” tohoknya.
Selain ‘diserang’ dengan masalah asal dan kegagalan pembangunan di Ngada, Pit Nuwa juga diberondong oleh Geradus Siwemolle dengan masalah umur. Pit Nuwa yang kini berusia 63 tahun dinilai tak layak lagi menjadi Bupati Ngada periode 2010-2015. Padahal hasil riset sebuah lembaga kemanusiaan asal Amerika Serikat meyebutkan orang yang dapat berpikir dan berlaku bijak adalah mereka yang berumur 60 sampai 68 tahun.
“Soal tua, bagi saya tidak masalah. Yang masih mudah juga belum tentu punya kemampuan yang baik. Jangan kita menciptakan alasan yang barometernya tidak jelas. Yang penting sekarang ini, bagaimana kita berjuang bersama nurani rakyat untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Kalau rakyat memilih pak Pit Nuwa, mau apa? Karena rakyat berdaulat penuh untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati. Saya juga Calon Bupati Ngada, tapi kalau saya tidak dipilih, saya tetap hargai pilihan rakyat. Karena itu hak rakyat,” ujar Isidorus, mengingatkan.
Jika disimak secara obyektif selama lima tahun terakhir, kepemimpinan Pit Nuwa bisa dibilang berhasil. Walaupun kesuksesan itu terselip sejumlah persoalan pembangunan yang belum selesai. Soal bijak, Pit Nuwa bisa dianggap sebagai bupati paling bijak dalam sejarah kepemimpinan di Ngada. Terutama soal penempatan pejabat dalam susunan kabinet pemerintahannya. Tak ada sentimen suka atau tidak suka. Teman dan lawan politik dirangkul sekaligus. Yang punya kemampuan dan keahlian kerja di atas rata-rata diprioritaskan menempati jabatan-jabatan strategis.
“Pak Pit Nuwa itu bangsawan. Dia sudah menunjukan bahwa dirinya itu bangsawan yang sejati. Bangsawan yang tidak dendam. Dia melihat Ngada sebagai satu kesatuan universal. Dia tidak mencederai lawan politik,” ujar Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Ngada, Beny Jawa.
Bagi pria berkumis tersebut, kritik terhadap Pit Nuwa boleh-boleh saja. Tapi mesti obyektif. Kalau berhasil katakan berhasil. Kalau gagal tunjukan kegagalannya. Jangan memberi kritik tapi terkesan mencemooh Pit Nuwa. Sebagai warga negara Indonesia, Pit Nuwa punya hak yang sama dengan orang Ngada. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, 10 Desember 1948, Pasal 1 mengatakan semua umat manusia dilahirkan bebas dan sama dalam hak dan martabat. Mereka dikaruniai akal budi dan hati nurani, dan harus bersikap terhadap satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
“Politik itu ada tata krama. Kritik boleh. Tapi jangan buat blunder. Siapa yang berani mengklaim dirinya paling pantas menjadi bupati. Tunjukan. Jangan hanya bisa omong, tapi hasilnya nol juga,” timpal Beny Jawa.
Menurut Beny Jawa, kepemimpinan Pit Nuwa bisa dijadikan sebagai teladan. Pemimpin yang tidak egois. Pemimpin yang berjiwa besar. Tentu sebagai manusia Pit Nuwa punya kelebihan dan kekurangan. Itulah sebabnya dalam kepemimpinannya juga ada kelebihan, ada pula kekurangan.
“Pak Pit Nuwa itu orangnya humanis dalam pelayanan. Dia tak pernah dendam. Di suksesi 2005-2010, sudah menjadi rahasia umum bahwa kami ini adalah tim sukses paket nomor 3 (Ir. Albert Bota-Drs. Cyrilus Bau Engo). Tapi ketika dia dipilih oleh rakyat sebagai Bupati Ngada, dia tidak dendam. Kami diajak untuk sama-sama membangun Ngada sesuai kemampuan yang kami miliki. Coba lihat di tempat lain. Politik riil selalu identik dengan politik balas dendam, politik balas budi. Lawan di depak, kawan di rangkul. Itu yang saya kagumi dari seorang pak Pit Nuwa. Kepemimpinan dia menunjukan bahwa dia seorang bangsawan yang sejati,” ujarnya.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Moses Mogo, B.Sc meminta masyarakat untuk berpikir kritis yang realistis. Jika ada keberhasilan yang dilakukan oleh pemerintah, katakan dengan jujur keberhasilan itu. Jika ada yang gagal katakan ada dimana supaya bisa diperbaiki.
“Kerja Pit Nuwa, kerja DPRD juga. Kalau Pit Nuwa gagal, berarti DPRD juga gagal. Yang saya heran, koq ada mantan Anggota DPRD Ngada yang menilai Pit Nuwa gagal. Seharunya dia nilai juga dirinya, berhasil atau tidak. Karena apa yang dilaksanakan oleh Pit Nuwa semua diputuskan oleh DPRD. Kalau bilang Pit Nuwa gagal, kenapa PAD kita terus meningkat. Dari 8 miliar di tahun 2005, sekarang menjadi 17 miliar. Kecuali PAD kita merosot. Terus pembangunan di lapangan tidak nampak. Itu barangkali. Tapi coba lihat. Sekarang jalan hotmix tembus sampai di kampung-kampung, roda perekonomian masyarakat makin membaik. Bahwa ada yang masih kurang, itu iya. Tapi jangan bilang nol besar. Memangnya mata ada taruh dimana sampai tidak bisa melihat apa yang sudah dibuat oleh Pit Nuwa,” sergahnya.
Jika ingin memberi penilaian terhadap kinerja Pit Nuwa, lanjut Moses Mogo, mesti dilihat per sektor. Di sektor pertanian apa yang sudah dibuat. Di sektor perkebunan, apa yang sudah di buat, begitupun seterusnya.
“Kita mesti jujur. Realitasnya Kabupaten Ngada sudah cukup maju. Jangan bilang tidak ada perkembangan. Itu tipu namanya,” tegasnya.

Pilkada Aman
Ketua KPU Kabupaten Ngada, Arnoldus Keli Nani meminta masyarakat Ngada untuk tidak terjebak dengan isue primordial yang dimainkan oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu demi menggapai kekuasaan melalui Pemilukada Ngada 2010-2015.
“Menyongsong Pemilukada, kita jangan sikut-sikutan. Jangan promordial. Tidak arif kalau kita persoalkan suku, ras dan lain-lain. Ini penyakit lama dalam Pilkada Ngada. Dulu kita selalu beranggapan yang pantas menjadi Bupati dan Wakil Bupati Ngada harus orang Nagekeo-Bajawa atau Bajawa-Nagekeo. Sekarang mengerucut setelah Nagekeo mekar, Bupati dan Wakil Bupati harus orang Bajawa-Riung atau Bajawa-Golewa atau Aimere – Golewa dan sebagainya. Apa ini? Sempit sekali pikiran itu. Karena menjadi pemimpin itu ukurannya bukan kuantitas atau jumlah, tapi kualitas. Jangan bangun sentimen primordial. Bagaimana kalau orang Nagekeo, orang Ende, orang Kupang usir orang Ngada dari tempat mereka? Ngada ini butuh pemimpin perekat. Pilihlah pemimpin yang berkualitas dan bermartabat,” pinta Keli Nani saat bertatap muka dengan warga masyarakat Desa Lengkosambi di Kantor Desa Lengkosambi, Selasa (26/01/10).
Menghadapi Pemilukada, Keli Nani berharap, elit politik di Ngada tidak memprofokasi masyarakat dengan isue-isue primordial yang bisa berakibat tidak kondusifnya keamanan di Ngada. Sehingga pesta politik lima tahunan tersebut bisa diselenggarakan dengan aman dan demokratis.
“Jangan merasa banyak tahu, tapi tidak tahu banyak. Hormati hak orang. Sehingga hak kita juga dihormati,” timpalnya.

Kritik
Pit Nuwa mengaku dirinya tidak kebal penilaian. Tidak alergi kritik. Tapi mesti obyektif. Jangan karena ada kepentingan politik di Pemilukada Ngada 2010-2015, keberhasilan pembangunan di tutup dengan prasangka buruk dan isue primordial.
“Tanya rakyat. ada kemajuan atau tidak. Saya tidak kebal penilaian. Tapi beri penilaian mesti pakai data. Prinsip saya, kalau kurang bilang kurang. Kalau ada kemajuan, jangan bilang nol besar. Kalau penilaian itu hanya bermaksud membunuh karakter orang, itu naif namanya,” ujar Pit Nuwa saat bertatap muka dengan warga Desa Lengkosambi.
Menurut Pit Nuwa, penyelenggara pemerintah daerah adalah Bupati dan DPRD. Yang berkuasa adalah rakyat. Oleh karena itu, penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dilakukan oleh DPRD dan dieksekusi oleh Bupati.
“Semua Kebijakan ditetapkan bersama DPRD. Bupati tidak lebih sebagai pelaksana. Kemitraan ini yang saya jaga. Kalau tidak, rakyat jadi korban. Apakah pemimpin seperti itu yang kita mau. Roda pemerintahan tidak akan berhenti. Bupati boleh orang Amerika, DPRD boleh orang Arab, tapi penyelenggaraan pemerintah di daerah tetap sama,” paparnya.
Kini Pit Nuwa ibarat bintang film porno yang sedang disorot mata lelaki hidung belang. Semua gerak geriknya diawasi. Mulai sejak mendaftar ke Partai Golkar sebagai Calon Bupati Ngada 2010-2015 hingga kunjungan kerjanya ke semua kecamatan di Kabupaten Ngada. Ada yang resah jika Pit Nuwa kembali bertarung di Pemilukada Ngada. Maklum irama politik yang dimainkan Pit Nuwa membuat lawan ketar-ketir. Mereka takut tersungkur. Takut dikalahkan. Tak heran bila asal Pit Nuwa mulai dipersoalkan. Usianya disengketakan. Itu karena jantung tim sukses dan kandidat lain mulai berdetak kencang. Kehadiran Pit Nuwa di arena Pemilukada danggap sebagai ancaman yang bisa melululantakan klaim menang para kandidat. Maklum fakta di Pilkada 2005 menjadi reverensi yang tidak terbantahkan. Saat itu Pit Nuwa-Ir. Nikolaus Dopo hanya butuh satu ronde untuk mengkanfaskan empat paket lawan politiknya sekaligus. Drs. Wilhelmus L. Padja-Moses Mogo, B.Sc harus puas sebagai runer up diikuti Ir. Albertus Nong Botha-Drs. Cyrilus Bau Engo, Drs. Nimus Dapa-Ir. Hengky Lodi dan Drs. Joakim Reo-Drs. Jhon Elpi Parera.
“Saya pernah panggil pak Pit Tena. Saya bilang ke dia. Maju. Jangan terganggu karena saya juga mau maju. Begitu pun dengan yang lainnya. Kuncinya ada di tangan rakyat. Biarkan rakyat yang memilih. Saya sampai maju ini, karena ada dukungan dari masyarakat. Karena ada permintaan dari rakyat, saya wajib meluluskan permintaan itu,” ujarnya.
Jika Tuhan berkenan dan kembali dipercayakan oleh masyarakat Ngada, sebagai incamben, Pit Nuwa berjanji akan meneruskan visi-misinya yang belum selesai. Upaya meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat berbasis keunggulan dan kemandirian akan terus digalakan.
“Dalam kepemimpinan saya, jujur saya katakan, ada yang sukses, ada yang belum. Tapi jika dipercayakan lagi, maka saya akan lanjutkan pekerjaan yang belum selesai itu,” tegasnya.
Pro kontra tentang hadirnya Pit Nuwa di kancah suksesi Ngada ditanggapi serius oleh Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristo Loko, S.Fil. Politisi Partai Golkar asal Kecamatan Riung Barat itu mengatakan, sangat berlebihan jika ada warga Ngada yang menolak Pit Nuwa untuk ikut bertarung dalam pilkada Ngada. Apalagi penolakan itu dilandasi sentimen primitif. Sebab, pilkada merupakan ruang demokrasi yang terbuka untuk siapa saja. Artinya, semua orang boleh menggunakan peluang ini. Jika merasa mampu, siapa saja boleh ikut. Tidak ada aturan yang melarang.
“Maju atau tidak, itu hak pak Pit Nuwa. Sekarang ini era demokrasi. Rakyat yang memilih. Untuk apa kita ribut,” timpalnya.
Suhu politik di Ngada saat ini sedang memanas bak api dalam sekam. Isue primordial mulai merebak dan dijadikan oleh paket-paket tertentu sebagai komoditi politik untuk mematikan langkah Pit Nuwa. Bahkan peta politik mulai dibuka berdasarkan wilayah pemilih mayoritas dan minoritas. Falsafah dan etika politik terhempas jauh ke dalam jurang kepentingan meraup kekuasaan secara paksa.
“Saran saya, mari kita bertarung secara fer. Jangan sikut sana, sikut sini. Karena pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat adalah pemimpin yang berjiwa besar. Pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang tahu dan mengerti tentang kebutuhan mereka,” tambahnya. (*)

Kadinkes Kabupaten Kupang “Tiduri” Pegawai Honorer


sergapntt.com [KAB. KUPANG] -> SEPANDAI-pandainya tupai melompat, sekali kelak akan jatuh jua. Mungkin pepatah ini cocok mendeskripsi cinta terlarang yang dilakoni Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Kupang, Messerasi BV Ataupah dengan Martha O. Ndoen alias Hani, pegawai honorer di Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang.
Aib ini terungkap setelah warga Desa Kalali, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang menggerebek Ataupah dan Hani di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kalali. Menurut warga, Jumat (06/11/10) lalu, Ataupah dan Hani masuk ke Pustu dengan cara mendobrak pintu belakang. Mereka tidur di kamar milik bidan Elisabeth Abuk ( bidan tetap di Pustu Kalali). Di kamar itu, Ataupah dan Hani melepas rindu bak suami istri. Sementara yang empunya kamar tidak berada di tempat.
“Awalnya beta dengan beta pung teman mau pi kerja, sampai di sebelah pustu, teman saya itu bilang, tadi beta lihat ibu bidan ada menangis. Trus beta tanya, kenapa? Lalu dia bilang, ada orang bongkar ibu bidan punya rumah,” ujar Desnan Pahnael, warga Desa Kalali saat ditemui wartawan di rumah Kepala Dusun II Desa Kalali, Yulius Tnunai, Senin (9/11/10).
Mendengar itu Pahnael langsung mengajak temannya untuk mengecek secara langsung ke Pustu. Disana Pahnael menanyakan keberadaan Elis —begitulah bidan Elisabeth Abuk biasa dipanggil—. Kata sejumlah pasien yang lagi antri, tadi Elis ada, hanya saja sudah disuruh pergi oleh seorang laki-laki yang belakangan diketahui bernama Messerasi BV Ataupah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.
“Lalu saya bilang, itu pasti dong ada di dalam. Lebih baik kita pake cara kekerasan sa. Lalu beta sengaja omong ke beta pung teman, lu cepat ambil beta pung kelewang. Kalau dia sonde keluar, ini hari beta potong dia kasih mati. Dia bikin apa di dalam, ko su jam begini pustu sonde buka-buka. Sonde lama dong dua keluar lewat pintu belakang. Itu ibu (Hani-Red) yang keluar duluan, ju dia tanya beta. Ade mau perlu apa? Lalu beta bilang, ibu… kenapa ini pustu belum buka-buka juga. Ini sudah jam sembilan. Di luar sana pasien lagi antri. Ju itu ibu bilang, sonde Adek, ibu bidan ada pi sebelah kali. Ada pi tolong orang celaka motor. Trus beta tanya, di sebelah mana? Dia hanya bilang di sebelah kali,” papar Pahnael.
Penjelasan Hani benar-benar tak masuk akal. Sebab batas Desa Kalali dan Desa Poto adalah sungai. Kalau Elis ke sebelah kali, itu artinya Elis pergi ke desa tetangga. Disanakan ada Pustu juga. Untuk apa Elis kesana. Pasti ini alasan yang dibuat-buat. Tak lama berselang, lanjut Pahnael, “Lalu itu pak (Ataupah, red) keluar. Dia mengamuk. Dia masparak, kenapa…? Lalu, beta bilang, sonde bos, kenapa ini pustu belum buka juga sampai dengan jam begini. Pertanyaan saya itu tidak ditanggapi. Mereka justru berpaling dan omong pake bahasa Inggris. Beta langsung bilang ke itu ibu, tunggu e be pi panggil Kepala Desa. Lalu beta star motor pi kestau kepala desa. Kembali pi pustu, beta sonde tau lai bapak desa omong apa di mereka, tapi karena emosi, beta sempat ambil kayu kudung mau pi pukul itu laki-laki. Untung orang di kiri-kanan saya tahan. Karena lihat saya sudah emosi, itu laki-laki bilang, sudah adik, saya su salah,“ ucap Pahnael.
Ditempat terpisah, Kepala Desa Poto, S.P Koffi mengaku, Jumat (6/11/10) malam, sekitar pukul 23.00 Wita, dengan mengendarai mobil dinas DH 8000 NW, Ataupah datang ke Kantor Desa Poto. Disana Ataupah menanyakan keberadaan Elis. Entah kenapa, ketika melihat Ataupah datang, Elis justru melarikan diri dan bersembunyi di rumah Sekertaris Kecamatan (Sekcam) Fatuleu Barat.
“Bidan dong samua su tau dia (Ataupah-red) pung model. Jadi pas datang tanya di pak Benny, pak Benny bilang, ibu Elis tidak ada. Dia ju pernah pi tidor di pustu Oelbubuk. Bidan dong su tau dia pung bagatal, makanya dong lari sembunyi semua,” papar Koffi.

Kepala Desa Kalali, Samuel Yacobus Alle juga membenarkan kalau Ataupah dan Hani menghabiskan malam Sabtu itu di Pustu Kalali. “Desnan Pahnael yang pigi kasitau beta di rumah, katanya bapa pigi dulu karena ada orang di Pustu, ada bawa satu ibu. Mereka dobrak pintu Pustu. Katanya mereka sudah dari malam. Mereka tidur disitu. Ibu bidan tidak ada. Setelah itu, saya langsung ke di pustu. Dan, ternyata mereka ada. Saya lalu temui mereka lewat pintu belakang. Saya jabat tangan. Tapi dia tanya saya, bapak siapa? Saya tanya balik dia, bapak siapa dan dari mana? Tapi dia tanya saya ulang-ulang, bapak siapa? Saya marah, saya emosi. Kita ribut disitu. Pokoknya lama kita ribut. Saya omong sudah tidak pake sopan-sopan lagi, pokoknya sudah kasar. Trus dia bilang, ini saya punya rumah, lalu saya bilang iya, itu bapak punya rumah tapi jangan dobrak pintu kasih rusak, nanti pemerintah yang pusing cari uang kasi baik itu pintu. Saya sempat ambil bebak mau pukul dia, tapi tidak jadi pukul. Lalu anak-anak datang dan kasitau dia bahwa ini kami punya Kepala Desa, baru dia mengalah. Lalu dia panggil saya, tapi saya tidak mau. Lalu saya suruh Desnan pigi cari ibu bidan. Setelah ibu bidan datang, itu Kadis dorong-dorong ibu bidan, dia tolak-tolak ibu bidan. Lalu saya bilang jangan begitu pak, jangan buat ibu bidan begitu. Lalu dia jawab, ini saya punya anak. Lalu saya jawab dia, kalau bapak punya anak, kenapa bapak buat dia begitu. Ah… saya benar-benar emosi. Saya hampir mau tempeleng dia. Untung tidak jadi. Kalau tidak, dia mati. Karena disitu anak-anak muda yang lagi emosi banyak sekali,” ujar Ale.

Tidur di Kamar Bidan
Bukan main dongkolnya Elisabeth Abuk ketika tahu Ataupah dan Hani tidur di kamarnya. Apalagi Ataupah dan selirnya itu masuk ke ruang privasi Elis dengan cara mendobbrak pintu Pustu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kini Elis hanya berharap Ataupah bertanggung jawab terhadap apa yang dia buat.
Ditemui wartawan di Pustu Kalali, Selasa (8/12/09) lalu, bidan Elis mengaku, “Waktu itu hari Jumat, dong (Ataupah dan Hani) datang sekitar jam delapan. Mereka tidur di beta pung kamar. Beta pi ketuk pintu. Itu ibu keluar. Lalu dia tanya, tadi malam lu pi mana. Terus beta bilang, beta ada keluar. Saat itu pak Kadis masih tidur, masih di kamar”.
Usai bertemu Hani, Elis pergi ke rumah salah seorang pasien. Sekembalinya dari sana, dia melihat sudah banyak orang mengelilingi Pustu. Kepala Desa Kalali, Samuel Yacobus Alle terlihat marah-marah. “Pak Kades marah, karena pak Kadis dan itu perempuan dobrak pintu Pustu. Pintu belakang hanya pake grendel. Itu yang rusak. Kalo dia pung gagang pintu sonde apa-apa. Setelah pintu dibuka paksa, mereka masuk. Nah beta pung kamar ju sonde kunci, karena kunci pintu itu rusak. Mereka lalu tidur disitu,” papar Elis.
Menurut Elis, saat Ataupah dan Hani mendobrak pintu, sebenarnya di dengar oleh warga tetangga di sekitar Pustu. “Tapi karena dong pikir itu saya punya saudara, mereka akhirnya tidak bereaksi. Keesokan harinya baru mereka tahu, ternyata yang dobrak pintu itu bukan saudara saya, tapi pak Kadis. Selama ini beta pikir itu pak Kadis pung istri, ternyata tidak,” ucapnya.

Enjoy
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Messerasi BV Ataupah berkali-kali didatangi wartawan di kantornya selalu tidak ada. Namun ketika dihubungi via hand phone pada Selasa (10/11/09), Ataupah memberi respon. Melalui SMS, Ataupah berjanji keesokan harinya, tepatnya Rabu (11/11/09), dia akan sediakan waktu untuk wartawan. “Bsk ko jam 10 biar bisa bahas sama2,” demikian pesan SMSnya.
Ironisnya, ketika keesokan harinya dihubungi lagi, Ataupah meminta wartawan untuk menemuinya pada Jumat (13/11/09), saat acara penyerahan bantuan unilever buat posyandu melalui PKK. Tak putus akal, wartawan pun mengkonfirmasi Ataupah lewat SMS. Mulai dari masalah perselingkuhan hingga pengrusakan pintu Pustu. Benar saja, tak lama berselang Ataupah pun membalas SMS, “Nggak ada rusak apa2, bos cek sa ke lapangan, salah paham biasalah. Ha ha ha lelucon sa, kdesx msh hub keluarga. Iyalah om kandung b krn kwn dg tanta kandung b, mereka yang ksh bsr keluarga kdes bu. Ok thanks snd apa2, hidup biasa ada naik turun, jadi yaah enjoy sa, thanks”. (*)

Kaban Infokom Kabupaten Kupang “Garap” Istri Orang


sergapntt.com [Kota Kupang] -> HATI Ady Bu —nama samaran—- bagai di iris sembilu ketika mendengar istrinya ada afair dengan dengan Kepala Badan Infokom Kabupaten Kupang, Thom Sonbait. Namun ia tak mau langsung percaya. Bak intelejen CIA, Ady Bu mulai membuntuti gerak-gerik istrinya. Benar saja, sekitar pukul 22.00 Wita, tanggal 5 Januari 2010 lalu, Ady Bu memergoki Istrinya sedang berdua-duaan dengan Thom Sonbait di dalam mobil sedan cat hitam milik Thom Sonbait.
Ady Bu sebenarnya tak tega membeberkan aib ini ke publik lewat media massa. Hanya saja perilaku Tom Sonbait sudah sangat keterlaluan. Janji untuk menyelesaikan persoalan asusila ini secara kekeluargaan, tak pernah dipenuhi hingga hari ini. Padahal akibat perbuatannya, rumah tangga yang dibangun Ady Bu bersama istrinya —sebut saja Yola— hancur berantakan. Kini Ady Bu dan Yola telah pisah ranjang. Yola kembali ke rumah orang tuanya. Sementara Ady Bu memilih hengkang ke rumah keluarganya.
Tak ada yang tahu pasti apakah setelah pisah ranjang, Yola masih berhubungan dengan Thom Sonbait atau tidak. Tapi yang pasti, 5 Januari 2010 lalu, Ady Bu mendapati istrinya sedang berduaan dengan Thom Sonbait di tempat parkir Ramayana Mall Kupang.
Kepada wartawan, Ady Bu bercerita; 5 Januari 2010, sekitar pukul 19.00, saat ia hendak berangkat kerja di sebuah perusahaan jasa penerbangan, dia melihat istrinya keluar rumah. Hatinya mulai tak enak. Perasaan curiga merasuk pikirannya.
“Waktu itu saya sudah keluar dari rumah mau berangkat kerja. Dari kejauhan ketika mata saya tak sengaja menatap kaca spion, saya lihat istri saya keluar dari rumah. Saya stopkan motor. Selang lima menit saya lihat istri saya naik motor ojek yang biasa mangkal di jalan Nangka (Kupang). Saya buntuti. Eh ternyata mereka menuju Ramayana Mall. Sampai disana, istri saya turun. Sedangkan si tukang ojek yang juga teman saya itu balik kembali. Begitu berpapasan, saya tanya si tukang ojek, tadi lu antar ma Yola ko, iya, ma Yola bilang mau belanja. Terus saya bilang makasih ya… Dari situ, saya masuk ke areal Ramayana. Sampai di pintu karcis masuk, saya lihat istri saya sedang bongkar-bangkir pakaian di salah satu stand jualan Ramayana. Sedangkan di belakang saya muncul sedan warna hitam. Dalam benak saya, kayaknya ini mobil saya kenal pemiliknya. Kecurigaan saya bertambah. Tapi karena antrian terlalu lama, saya putuskan keluar kembali. Saya tunggu di pintu keluar Ramayana. Sedangkan mobil sedan hitam itu terus meransek masuk ke dalam parkiran Ramayana, tepatnya di depan KFC. Dari kejauhan saya ikuti gerak-gerik mereka. Benar saja. Tidak lama kemudian istri saya terlihat menerima telepon via HP-nya. Saat bersamaan Thom Sonbait keluar dari mobilnya sambil menenteng HP di telinganya. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam mobil. Kira-kira 10 menit kemudian, istri saya datang dan langsung masuk ke mobil itu. Mereka berdua duduk di jok mobil bagian belakang. Selama 15 menit saya berusaha sabar dan terus mengamati mereka. Tapi setelah itu, saya benar-benar tak tahan lagi. Saya sampari mereka. Saya gedor kaca mobil. Berulang-ulang saya gedor. Tapi mereka tidak mau buka pintu juga. Terus saya ancam, mau buka pintu atau saya lapor polisi. Karena itu, Thom Sonbait langsung buka pintu dan keluar. Lalu dia bilang, aduh… om Ady jangan marah, beta datang ke sini bukan untuk maksud mau ketemu ibu Yola, beta mau jemput beta pung istri, kebetulan ibu Yola ada sini jadi kami ketemu. Terus saya bilang, sonde bisa pak Thom, masa ketemu beta pung bini di dalam mobil, terus dalam keadaan gelap-gelap lagi. Kenapa lampu dalam mobil mesti dimatikan.
Tak lama berselang, Thom Sonbait hadrik istri saya, he lu keluar dari dalam mobil, lu jangan bikin masalah di sini, beta sonde mau ada masalah. Mendengar itu istri saya keluar dari mobil dan langsung jalan menjauhi kami. Saya ikuti dia. Oh jadi begini lu pung cara, jadi selama ini lu buat seperti ini. Terus dia bilang, lu sembarang sa, lu tuduh orang yang sonde-sonde, terus beta bilang, beta ni su dapat laporan begini-begini, jadi beta buntuti lu. Puas mengomel, saya kembali lagi ke tempat Thom Sonbait. Saya bilang ke dia, pak Thom pokoknya ini masalah kita harus bereskan malam ini juga. Tapi dia berusaha menghindar. Dia masuk ke dalam mobil dan beralasan mau jemput istrinya.
Karena begitu, saya minta tolong teman saya, teman tolong tahan mobil ini, jangan ijin dia keluar areal Ramayana, dia ada masalah dengan saya. Teman saya itu langsung bertindak. Dari depan KFC, Thom Sonbait arahkan mobilnya parkir di belakang Ramayana. 10 menit kemudian saya ikut dia di parkiran. Sampai disana ternyata dia sudah tidak ada. Yang ada hanya mobilnya saja. Saya cari dia. Saya keliling Ramayana sampai tiga kali, tapi tidak ketemu. Akhirnya saya telepon dia. Pak Thom dimana? Pak Thom jawab, sebentar om Ady, beta masih dengan beta pung istri ni, kermana kalau besok, baru kita selesaikan masalah ini. Saya tidak mau. Saya bilang dia, sonde bisa pak, mesti malam ini. Saya bermasalah dengan bapak, bukan dengan istri bapak. Sekitar 20 menit kemudian, pak Thom datang bersama seseorang yang saya tidak kenal. Kata Thom Sonbait, itu temannya. Saya tidak tanya namanya siapa. Tapi saya omong ke temannya itu, maaf pak, saya ada masalah dengan pak Thom, saya baru grebek pak Thom dengan istri saya di tempat parkir. Lalu dia bilang, ya sudah! Lanjutkan. Saya tidak ikut campur.
Yang buat saya jengkel, Thom Sonbait terus mencari 1001 alasan untuk menghindar. Pertama dia mengaku mau jemput istri. Kedua dia mengaku mau ketemu dokter di Ramayana, entah dokter siapa, katanya ada urusan penting. Karena begitu, sedikit memaksa, saya ajak dia ke rumah. Tapi Thom Sonbait keberatan. Dia minta urusan ini diselesaikan di tempat netral. Dia takut ke rumah saya. Tapi saya yakinkan dia, bapak tidak diapa-apakan, saya jadi jaminannya pak. Setelah itu dia bilang, oke! Karena sudah sepakat, saya langsung bergerak menuju rumah duluan. Tak lama berselang pak Thom muncul dikawal dua polisi dan seorang temannya tadi. Setelah duduk di dalam rumah, orang tua saya tanya, pak Thom ada hubungan apa dengan Yola, dia bilang, oh,,,, kami sonde ada hubungan yang khusus. Yola kebetulan pernah jadi staf saya, ketika saya masih bertugas di Dinas Infokom Kota Kupang. Orang tua saya desak dia lagi, jujur saja pak Thom, kalian berdua ada hubungan apa? Tapi Thom Sonbait terus mengelak. Dia mengaku, memang dia dengan Yola sudah berteman selama tiga tahun. Tapi itu hanya sebatas atasan dan bawahan.
Terus saya sela dia, pak Thom minta maaf, pak Thom kan pernah datang ke rumah mertua saya, ajak istri saya ke Jakarta dengan alasan mau ikut pelatihan, karena pegawai dari Infokom Kabupaten Kupang tidak bisa berangkat. Waktu itu saya iya saja, karena saya benar-benar tidak mengerti sistem kerja pemerintah. Setelah ke Jakarta, baru saya sadar, ah… koq bisa ya, pak Thom ajak istri saya ke Jakarta. Istri saya kan honorer di Kota Kupang. Sedangkan pak Thom kan pegawai di Kabupaten Kupang. Masa… bisa begitu. Saya tanya ke orang tua saya, kebetulan mereka itu mantan PNS dan pernah memangku jabatan. Mereka jelaskan ke saya. Baru saya tahu. Oh ternyata honorer belum bisa melakukan perjalanan dinas menggunakan biaya SPPD. Kalau seperti itu adanya, suami siapa yang tidak curiga. Ah… pasti pak Thom “ada apa-apa” dengan istri saya. Setelah saya omong begitu, pak Thom tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya tunduk saja. Untuk memastikan apa yang saya beberkan tadi benar atau tidak, orang tua saya tanya dia lagi, apa benar pak Thom? Tapi pak Thom hanya diam dan tertunduk lesu. Dari situ baru Thom Sonbait mengaku, kalau dia dengan Yola sudah tiga tahun terakhir ini menjalin hubungan khusus layaknya suami istri.
Karena jawaban mengejutkan itu muncul, orang tua saya langsung minta paman saya untuk segera memanggil Yola. Maksudnya biar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Sampai di rumah Yola, paman saya bertemu dengan mamanya Yola. Mamanya tanya, ada apa? Paman saya bilang, ada perlu dengan Yola. Tidak lama kemudian muncul polisi. Mertua saya bingung, ada apa ini, kok pakai bawa-bawa polisi segala. Tiba-tiba bruuuuk, mertua saya itu pingsan. Dari dalam rumah Yola keluar sambil ngamuk-ngamuk,,,, kalau sampai mama saya ada apa-apa, saya bunuh itu Ady. Karena Yola begitu, akhirnya paman saya pulang. Kami akhirnya sepakat untuk laporkan masalah ini ke Polresta Kupang. Tapi disana polisi kembali menganjurkan agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Saya tanya Thom Sonbait, gimana? Dia bilang oke. Akhirnya kami pulang. Tapi sebelum itu pak Thom berjanji, keesokan harinya dia akan memediasi Yola dan keluarganya untuk bertemu saya dan keluarga saya. Ternyata omong kosong. Buktinya sampai hari ini Thom Sonbait tidak pernah muncul. Saya sempat telpon pak Thom, gimana pak janjinya tu? Pak Thom bilang, iya,,,, saya sudah ketemu Yola dan keluarganya, tapi karena keluarganya Yola ada yang mau ke Denpasar, jadi kita tunggu mereka pulang dulu. Tapi apa? Sampai Yola punya keluarga pulang dari Denpasar, apa yang dia janjikan itu tidak pernah terealisasi.
Setelah aib ini terungkap, baru saya sadar, oh,,,, ternyata ini alasannya kenapa Yola tidak mau tidur dengan saya lagi.
Saya sebenarnya tidak mau masalah ini diekspos oleh media massa. Karena saya jaga, pak Thom itu kan pejabat publik. Kan malu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau dia bersikap seperti itu terus”, papar Ady Bu.
Sementara itu Thom Sonbait mengaku dirinya dan Yola hanya teman biasa.
“Saya dengan Yola hanya teman biasa saja. tidak lebih,” ujar Thom Sonbait ketika dihubungi via handphone pada Jumat (22/01/10). (*)

Merpati Terkapar, TENAR Dielus PDIP


sergapntt.com [BAJAWA] – SUKSESI Pemilihan Umum Kepada Daerah (Pemilukada) Kabupaten Ngada menyisahkan duka dan kecewa bagi Kepala Dinas (Kadis) Peternakan Provinsi NTT, Ir. Martinus Jawa dan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Ngada terpilih, Sil Pati Wuli. Sebab dua figur debutan Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada yang menggunakan sandi MERPATI itu “dilempar” oleh tujuh (7) dari sembilan (9) Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP se Kabupaten Ngada keluar ring Pemilukada Ngada. Sebagai gantinya PAC-PAC tersebut menunjuk Drs. Petrus Tena dan Sipri Radho alias TENAR sebagai paket PDI Perjuangan.
Tinus Jawa —begitulah Ir. Martinus Jawa biasa dipanggil—– tak tahu lagi harus berbuat apa. Keinginanannya untuk merebut kursi bupati Ngada via pemilukada berakhir dengan tragis. Di penghujung pertarungan memperebutkan kendaraan politik, ia justru disingkirkan oleh PDIP. Padahal menantu mantan Anggota DPRD NTT asal Partai Golkar, Frans Dima Lendes ini mengaku sejak tahun 1986, atau sebelum konggres PDIP di Surabaya hingga Suksesi Gubernur NTT yang menghantar Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Periode 2008-2013 dan PEMILU Legislatif 2009, ia telah mengabdi, berbakhti dan tetap setia dengan PDIP.
“Sakit pak, hati ini. Apa yang kurang dari saya. Mulai dari tahun 1986, sampai dengan suksesi Gubernur NTT dan Pemilu Legislatif tahun 2009, saya tetap dengan PDIP. Tapi kenapa di suksesi Kabupaten Ngada saya dijegal seperti ini,” ujar Tinus Jawa, Kamis (14/01/10).
Saat ditemui di ruang kerjanya, Tinus Jawa sedang duduk bersama Sely Tokan, adik kandung Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Tak tahu apa yang mereka diskusikan. Namun Wajah Tinus Jawa tampak layu dan panik, gerak-geriknya tak selincah sedia kala. “Ya adik. Saya lagi stres. Saya trauma dengan PDIP. Kenapa bisa jadi begini ya…,” ucapnya, lirih.
Mendengar komentar Tinus Jawa yang sayup itu, Sely Tokan pun menawarkan diri untuk mempertemukan Tinus Jawa dengan Frans Lebu Raya. “Sudah, tidak usah panik pak. Kalau kakak (maksudnya Frans Lebu Raya) pulang dari Jakarta, kita dua pi ketemu sa. Kita tanya langsung saja, apa paket TENAR itu sudah tidak bisa diganggu lagi atau bagaimana,” ajak Sely Tokan.
Toh begitu Tinus Jawa seakan tak gubris. Umpatan, bahkan makian terus keluar dari mulutnya. Rasa kecewa terhadap PDIP seakan tak bisa terobati. Ia menuding Wakil Ketua DPD PDIP NTT, Kornelis So’I, SH sebagai aktor yang mengusir peluang MERPATI untuk terbang bersama PDIP menuju kancah suksesi Ngada.
“Saya ini kurang baik apa Nelis. Coba dia ada disini, saya mau tanya dia. Kenapa saya dibuat begini. Nelis So’i itu pernah makan minum di rumah saya, tapi saya tidak pernah pergi ke rumahnya. Lalu kenapa Nelis tega tikam saya dari belakang. Nelis fitnah saya di sana-sini. Contoh, kepada saya Nelis bilang Sil tidak pengaruh di Ngada, kepada Sil, Nelis bilang saya tidak pengaruh. Ini maksudnya apa? Waktu dia omong soal Sil, saya diam saja. Karena di kedalaman hati saya mengatakan, Sil itu figur pemimpin yang baik. Buktinya selama dia menjadi pimpinan dewan, antara eksekutif dan legislativ di Ngada tidak pernah berantem,” papar Tinus Jawa disambut Sely Tokan dengan tertawa kecil.
Tinus Jawa tentu kecewa berat. Sebab, sejak bola suksesi Ngada bergulir, Tinus Jawa sangat berharap banyak bahwa PDIP akan mengakomodir paket MERPATI. Karena itu amunisi politik seperti uang mulai ia kucurkan ke tubuh PAC dan DPC PDIP Ngada. Tinus Jawa mengaku dirinya telah memberikan uang sebesar Rp. 30 juta kepada DPC dan Rp. 5 juta per PAC.
“Saya hargai PDIP, makanya saya melamar ke PDIP. Saya hormat PDIP, karena dari dulu saya dengan PDIP. Saya ini berjasa untuk PDIP. Sekarang saya kecewa dengan PDIP. Kenapa? Ya kenapa PDIP tidak akomodir MERPATI. Kenapa kami dikhianati seperti ini. Apa yang kurang dari MERPATI. Sekarang justru tetapkan TENAR. Terus apa jasa paket TENAR untuk PDIP selama ini? Tidak ada kan! Aneh…! Saya yang berjasa untuk PDIP tidak didukung oleh Nelis. Nelis justru dukung manusia-manusia yang tidak pernah berkontribusi untuk PDIP maupun untuk dirinya. Di Pemilu Legislatif 2009, saya dan keluarga saya berkontribusi banyak untuk dia itu (Nelis So”i-Red). Tapi dia balas saya begini. Tidak apa-apa. Omong soal kontribusi dana, sudah saya lakukan. Kepada DPC saya berikan Rp. 30 juta. Kepada Sembilan PAC, saya berikan masing-masing Rp. 5 juta. Apalagi? Kalau mau minta tambah uang, bilanglah! Jangan buat saya seperti ini. Saya benar-benar kecewa. Saya sangat kecewa dengan PDIP. Karena waktu saya kasi uang, PDIP menjamin akan mengutamakan paket MERPATI. Ternyata itu hanya tipu muslihat. Istri saya pernah suruh saya, pak minta kembali itu uang, tapi saya bilang tidak usah ma, ikhlaskan saja,” tohoknya.
Tinus Jawa juga menjamin TENAR akan kalah dalam Pemilukada Ngada. Sebab, kualitas dan popularitas TENAR jauh dibawah pengaruh MERPATI. Respon mayoritas pemilih Ngada diklaim lebih mendukung MERPATI ketimbang TENAR. Oleh karena itu, kata Tinus Jawa, jika MERPATI tak bertarung, maka yang lebih berpeluang menang adalah paket BERNAS yang dihuni Bene Ngete (Sekda Kabupaten Manggarai Barat) dan Lorens Nau (mantan Kadispenduk Kabupaten Ngada). Sebab Bene Ngete akan mendulang suara mayoritas dari Kecamatan Golewa. Setidaknya bisa dipastikan 99 persen dari 22 ribu pemilih di Golewa akan memilih paket BERNAS. Sedangkan paket Isidorus Jawa dan Bruno Paskalis (IDOLA), Marianus Sae dan Paulus Soli (MULUS) serta Hengky Lodi dan Hendra Yusuf (Hoky) bisa dibilang sebagai paket ikut rame.
“Paket MERPATI sekarang ini ibarat burung Merpati yang sayapnya patah. Tapi perlu diingat, paket TENAR mau menang dari mana? Peta politik di Ngada itu lebih dukung saya ketimbang yang lain. Coba lihat, petanya seperti ini; pemilih di Riung Barat ada 4.800, disana ada pengaruh istri saya. Riung induk 9000, Wolomeze 3000. Disini ada Veny Kota dan Bruno Paskalis. Bajawa Utara 4.800. Daerah ini adalah daerah perebutan. Soa 8000, menjadi daerah basis Marianus Sae. Aimere 9000, itu teritori Pit Tena dan Lorens Nau. Kota Bajawa 19000. Daerah ini diperebutkan oleh Isidorus Jawa, Sil Pati Wuli, Paulus Soli, Hengki Lodi, hendra Yusuf. Jerebuu 3000 pemilih. Ini daerah perebutan. Sedangkan Golewa 22.000 menjadi basis saya, yang juga diperebutkan oleh Bene Ngete, Veny Kota, Marianus Sae dan Sipri Radho,” papar Tinus Jawa berusaha meyakinkan SERGAP.
Toh begitu PDI Perjuangan telah menetapkan paket TENAR sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada 2010-2015 melalui Konferensi Cabang (Konfercab) DPC PDI Perjungan Ngada.
“Konfercab itu ada dua agenda. Pertama; pergantian kepengurusan di DPC PDIP Ngada dan penjaringan Calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada. Kalau agenda pergantian pengurus partai, Sil Pati Wuli terpilih sebagai Ketua DPC PDIP Ngada untuk periode 2010-2015. Sedangkan untuk calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada, PAC-PAC se Kabupaten Ngada menghendaki paket TENAR. Oleh karena itu kami telah tetapkan paket TENAR sebagai paket PDIP,” ujar Sekretaris DPD PDI Perjuangan Propinsi NTT, Nelson Matara di kantor DPRD NTT, Jumat (15/01/10).
Dalam Konfercab PDIP yang digelar di Mataloko pada Rabu (13/01/10) terkuak fakta TENAR lebih di dukung oleh PAC-PAC PDIP se Kabupaten Ngada. Dari 9 PAC, 7 PAC dukung TENAR dan hanya 1 PAC memilih MERPATI .
“Mayoritas PAC berkehendaki agar PDIP mengusung TENAR. Skornya 7 PAC untuk TENAR dan hanya 1 PAC untuk MERPATI. Karena didukung oleh mayoritas PAC, maka kami berkesimpulan, inilah paket idaman PDIP,” tegas Nelson Matara.
Disinggung soal tudingan dan anggapan Tinus Jawa bahwa jajaran PDIP telah menghianati dirinya, Nelson Matara mengatakan, pada prinsipnya PDIP tidak pernah berpikir untuk menghinanati siapa saja, termasuk Tinus Jawa.
“Saya kira Tinus Jawa tidak dikhianati. Karena penetapan paket TENAR ini berdasarkan hasil penjaringan partai. Tinus Jawa kan hanya dapat dukungan satu PAC. Apa kami mesti tetapkan dia. Terus bagaimana dengan 7 PAC yang dukung TENAR. Bagaimana satu PAC bisa kalahkan tujuh PAC. Itukan tidak realistis.
Partai tidak pernah memberi jaminan bahwa akan menetapkan MERPATI. Kita harus luruskan. Jaminan dari partai itu datang dari siapa. Terus kepada siapa Tinus Jawa setor itu uang. Kalau tidak luruskan, kami akan praperadilkan dia. Karena itu fitnah,” ujar Nelson Matara.
Menurut Nelson Matara, berpolitik praktis selalu membutuhkan biaya. Tidak ada politik yang gratis. Oleh karena itu curahan hati Tinus Jawa tersebut sebenarnya tak perlu dibeberkan.
“Politik itu ada kos. Komunikasi politik butuh biaya. Itu konsekuensi kalau mau berpolitik. Kalau memang benar dia keluarkan uang untuk PAC, sekedar beli rokok, isap sama-sama atau beli makan minum dan makan minum sama-sama, saya kira itu wajarlah. Tapi mungkin karena Tinus Jawa tidak bangun komunikasi politik secara baik dengan PAC-PAC, maka paket TENAR yang mendapat tempat di hati PAC-PAC. Kalau benar dia telah bangun komunikasi politik secara baik, maka saya kira di Konfercab kemarin paling tidak setengah tambah satu PAC se Kabupaten Ngada akan dukung MERPATI. Tapi kenyataannya lain kan? Salah siapa? Jangan karena itu lalu tuding sana-tuding sini. Yang benar aja,” tandasnya.
Setelah MERPATI didepak dari PDIP, kini TENAR terus melakukan konsolidasi massa sampai ke tingkat desa. TENAR dan PDIP dikabarkan makin solid menyambut hari “H” Pemilukada Ngada. Targetnya, menang! Namun dibalik itu TENAR terus digerogoti isue korupsi yang diduga dilakukan oleh Petrus Tena semasa menjabat sebagai Kepala Dinas PPO Kabupaten Ngada.
“Saya ada data kalau Pit Tena itu terlibat kasus korupsi. Saya pernah ditelpon oleh tim sukses saya, supaya saya sediakan uang sekitar 10 juta untuk bayar Jaksa, agar Jaksa proses itu kasusnya Pit Tena yang merugikan negara sekitar Rp. 700 juta. Kalau macam-macam, saya akan buat seperti itu. Rp. 10 juta berapa sih,” kata Tinus Jawa.
Ketika diburu dengan pertanyaan, apakah anda benar-benar memiliki bukti? Dengan lantang Tinus Jawa mengatakan, “Ya, saya punya bukti. Dan, saya pernah diberitahu oleh orang Dinas PPO Ngada. Siapa dia, itu rahasia saya”.
Kendati demikian kabar tak sedap juga mengerubuti diri Tinus Jawa. Sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada dan lingkup Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT mengatakan, Tinus Jawa telah melakukan sewa beli mobil dinas sebanyak tiga unit. Dua dibawa dari Timor Timur, sedangkan satunya di dapat Badan Ketahanan Pangan NTT. Tak puas dengan itu, pejabat eselon II yang diorbitkan oleh Ketua DPD PDIP NTT yang juga Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya tersebut, masih meminta secara paksa mobil dinas bernomor polisi DH. 37 yang dipakai oleh staf UPTD Pembibitan Ternak Dinas Peternakan NTT bernama Edy Birelawa. Mobil “rampasan” itu dibawa Tinus Jawa ke Bajawa untuk kepentingan suksesi Ngada. Disana plat merah diganti dengan plat hitam.
“Masalahnya ada dimana? Benar saya dapat dua mobil dari Timor Timur. Yang ketiga ini sedang dalam proses sewa beli. Sekarang saya tinggal tunggu SK-nya. Sebenarnya mobil yang saya bawa dari Timor Timur itu bukan hanya 2, tapi 6. Lalu oleh pimpinan saya, saya disuruh pilih dua yang terbaik dari enam unit itu untuk saya sewa belikan. Kalau sudah begitu, apa masalahnya? Soal ganti plat, harus tahu bahwa kami para eselon II ini diberi kuasa untuk menggunakan 2 plat nomor, yaitu plat merah dan plat hitam. Kalau sewaktu-waktu kami harus menggunakan plat hitam, ya kami gunakan. Tidak ada masalah” tutur Tinus Jawa, enteng.
Luar biasa. Dengan mudah Tinus Jawa mendapat mobil dengan cara sewa beli. Padahal sejumlah pejabat eselon III di lingkup propinsi NTT harus berjibaku dengan ojek lantaran pemprop masih kekurangan kendaraan dinas.
Tak hanya soal mobil dinas, Tinus Jawa juga disebut-sebut sebagai Kadis yang otoriter. Sewaktu baru dilantik menjadi Kadis Peternakan, Tinus Jawa meminta semua UPTD dan Instalasi Peternakan yang berada dibawah payung Dinas Peternakan untuk menyiapkan uang dan ternak demi suksesnya acara syukuran. Begitupun dengan setiap gawe open house yang dibuat Tinus Jawa saat merayakan pesta Paskah atau Natal dan Tahun Baru.
Parahnya lagi sewaktu gaung suksesi Ngada berkecamuk membangkitkan gelora ambisi menjadi bupati, Tinus Jawa mengarahkan semua bantuan dinas untuk masyarakat NTT ke Kabupaten Ngada. Tujuannya merebut empati masyarakat Ngada agar memilihnya menjadi Bupati Ngada. Bisa benar-bisa juga tidak. Namun yang pasti semua tudingan itu dibantah oleh Tinus Jawa.
“Tidak benar semua itu,” tegasnya. (*)