
![]() |
| Reba Nage Jerebu’u 3 Januari 2012 foto: yanthy sidhu |
sergapntt.com [JEREBU’U] – Reba dikenal sebagai upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan rasa terima kasih terhadap jasa para leluhur. Upacara ini juga digunakan untuk mengevaluasi segala hal tentang kehidupan bermasyarakat pada tahun sebelumnya yang telah dijalani. Melalui upacara ini, keluarga dan masyarakat meminta petunjuk kepada tokoh agama dan tokoh adat untuk dapat menjalani hidup lebih baik pada tahun yang baru. Biasanya, upacara ini diadakan setiap tahun baru, tepatnya di bulan Januari atau Februari.
![]() |
| Memasuki lokasi Reba Nage Jerebu’u |
![]() |
| Bupati dan Wakil Bupati foto bersama jajarannya dan warga setempat ditengah pesta Reba Nage Jerebu’u |
Di luar gereja, suasana upacara adat bertambah meriah, ketika para penonton dan penari disodori satu dua gelas arak (tua ara). Ini merupakan tradisi setiap orang Ngada yang hadir dalam upacara tersebut. Namun demikian, Reba tidak sekadar pesta hura-hura, tapi wujud kegembiraan (gaja gora) masyarakat Ngada dengan tetap menjaga nuansa rohani.
”Semula korban tidak mau, namun setelah dirayu dan diperdayai dengan ilmu gendam yang dimilikinya, akhirnya korban mau diajak tersangka ke sebuah hotel di kawasan Bulakbanteng,” ujar Suparti saat ditemui di Mapolrestabes Surabaya.
Katanya lagi, saat tersangka bersama korban akan masuk hotel tersebut, salah satu anggota Reskrim Polrestabes Surabaya yang sedang melakukan patroli mecurigai adanya pasangan masuk dan menuju ke sebuah kamar hotel tersebut.
”Saat itulah anggota curiga dan langsung membuntuti keduanya. Sampai di depan pintu hotel itu, anggota langsung menghentikan keduanya,” terang Mantan Kapolsek Wonocolo ini
Usai menghentikan kedua pasangan itu, lanjutnya, petugas langsung melakukan interogasi terhadap keduanya.
”Semula tersangka mengaku kalau dia bersama keponakannya hendak menginap di hotel tersebut. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan intensif di tempat ternyata dia hendak menjual gadis yang bersamanya ke pria hidung belang. Langsung saja kami amankan yang bersangkutan di Mapolrestabes Surabaya,” ujarnya.
Dari pengakuan tersangka, katanya, tersangka menjual korban ke pria hidung belang dengan tarif Rp300 ribu.
”Dari Rp 300 ribu itu tersangka mengambil Rp 200 ribu sedangkan Rp100 ribu untuk korban,” pungkasnya.