Warga Non NTT Antusias Ikut Paskah di Larantuka


sergapntt.com, LARANTUKA – Warga dari luar NTT terus berdatangan ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Tujuannya hanya satu, yakni mengikuti sekaligus menyaksikan secara langsung perayaan pesta Paskah di kota kecil di ujung timur pulau Flores itu.
Perayaan Paskah di Larantuka memang unik. Di sana, peristiwa penderitaan Yesus diungkapkan secara utuh. Siapa saja boleh ikut. Karena perayaan ini merupakan paduan tradisi dan ritual agama Katolik. Itu sebabnya warga non NTT, termasuk turis manca negara sangat antusias mendatangi Larantuka.
Prosesi Semana Santa (Pekan Suci) ialah tradisi yang diwariskan pastor Portugis yang datang ke Larantuka pada abad XVI. Tahun ini, umur prosesi itu mencapai lima abad. Di Portugis, negara asal prosesi ini, sudah lama ditinggalkan. Selebihnya masih diadakan di Filipina dan Syanyol. Inilah yang mendorong umat dari berbagai daerah dan mancanegara datang ke Larantuka.
Prosesi diawali dengan Rabu Trewa (Rabu Abu). Berpusat di dua lokasi yakni Kapela Wure (Kapela Tuan Ma) di Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, dan Kapela Pohon Sirih (Kapela Tuan Ana-Kapela Yesus Kristus) di Larantuka. Trewa artinya bunyi-bunyian. Warga boleh memasang musik atau bunyi-bunyian lain. Gereja masih boleh membunyikan lonceng hingga pukul 20.00. Namun setelah misa Rabu malam, bunyi-bunyian tak dibolehkan.
Esoknya, perayaan perjamuan terakhir, Kamis Putih pukul 10.00 Wita, suasana Larantuka sangat sepi seperti halnya Nyepi pada masyarakat Hindu di Bali. Saat itu, diadakan persiapan mengeluarkan Tuan Ma (patung Bunda Maria). Patung Bunda Maria di Kapel Maria Pante Kebis, akan dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka.
Kegiatan memandikan Patung Bunda Maria ini tertutup untuk umum. Namun, setelah pemandian, warga akan mengambil air mandi di bak lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang. Air ini diyakini memiliki khasiat. Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat rangkaian Paskah
Tradisi Paskah di Larantuka pada Jumat Agung dilakukan di laut. Prosesi laut mulai pukul 12.00 WIB dari pantai Kota menuju pesisir, ke desa Pohon Sirih. Sebelum menuju kapel Tuan Ma dan Tuan Ana (patung Yesus Kristus anak Allah), warga lebih dahulu menyambut Tuan Meninu (Yesus Kanak-kanak) di pinggir pantai Desa Pohon Sirih.
Prosesi pengantaran Tuan Meninu diawali oleh satu orang terpilih dari suku khusus yang menjunjung patung Tuan Meninu dari atas kapel menuju sampan khusus. Pada sampan ini, Tuan Meninu diletakkan di bagian depan dan satu orang pembawanya di belakang. Prosesi pengantaran ini diiringi warga menuju ke armida (tempat penataan patung) di dalam Kota Larantuka.
Untuk membuka jalan, anak-anak suku khusus berada di barisan depan iringan prosesi laut dari seberang Larantuka ini. Satu sampan berisi dua anak suku yang disebut laskar kecil. Sebanyak 7-8 sampan laskar kecil ini mengawal Tuan Meninu.
Di belakangnya, warga mengikuti prosesi laut menuju ke pesisir. Perjalanan laut menuju Pohon Sirih berlangsung satu jam. Di pesisir pantai, warga dari dalam Kota Larantuka sudah menunggu. Setibanya di Pohon Sirih, Tuan Meninu diantar menuju armida Pohon Sirih. Selanjutnya, warga berjalan menuju kapel Tuan Ma, lalu menjemput Tuan Ana, dan bersama warga menuju Gereja Katedral Larantuka.
Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka mulai pukul 15.00 Wita. Lalu pukul 18.00, umat kembali menjalani prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan. Ovos atau nyanyian ratapan dilakukan di gereja selama 15 menit.
Lalu umat keluar dari gereja dan mengelilingi delapan armida di Larantuka. Tuan Ma dan Tuan Ana beserta iring-iringan menjenguk delapan armida ini hingga pukul 03.00 Wita, hingga kembali lagi ke gereja. Ini adalah puncak prosesi Semana Santa di Larantuka.
Tapi, ritual Paskah ini belum berakhir. Pada Sabtu pukul 07.00 Wita, Tuan Ma dan Tuan Ana diantar pulang ke kapel masing-masing.
Saat Tuan Ma dan Tuan Ana kembali ke kapel masing-masing, suku mengambil alih prosesi. Suku khusus mengemas kembali Tuan Ma dan Tuan Ana, lalu kapel pun ditutup untuk umum. Berbagai suku, umat, masyarakat Flores hingga tamu asing berbaur dalam rangkaian prosesi lebih dari 24 jam ini.
Sabtu sore, warga Larantuka melakukan Misa Sabtu Santo (Misa Malam Paskah), mulai pukul 18.00 Wita. Pada waktu inilah lonceng gereja boleh dibunyikan kembali. Selanjutnya, ritual Paskah ditutup dengan misa. Misa Minggu dilakukan tiga kali, pukul 06.00, 08.00, dan 16.00 Wita.
Warga kembali ke rumah dan melepas lelah. Selama mengikuti ritual suku dan agama, semua umat bersemangat dan kuat secara fisik. Memang setelahnya tubuh terasa lelah dan kebanyakan warga menikmati waktu istirahat seusai Misa Minggu. Saat ritual Paskah, semua rumah di Larantuka terbuka untuk siapa saja. Tamu asing boleh menumpang mandi atau merebah di setiap rumah. Biasanya gereja juga menyiapkan pemandu wisata bagi tamu asing yang ingin mengikuti prosesi.
Prosesi Paskah di Larantuka memang satu-satunya di Indonesia. Itulah yang membuat warga NTT di perantauan selalu berupaya ke Larantuka saat Paskah tiba.
“Saya selalu ambil cuti dan pulang kampung selama seminggu untuk Paskah ini,” kata Stanislaus Soda yang lahir dan besar di Larantuka dan telah 20 tahun tinggal di Jakarta.
By. Indah Winarso/Herman Kotan

Malaka Disetujui Jadi Kabupaten Sendiri


sergapntt.com, JAKARTA – Badan Legislasi (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diusulkan Komisi II DPR. Dalam RUU tersebut Baleg meloloskan Kabupaten Malaka menjadi kabupaten sendiri yang akan dimekarkan dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain Malaka, Baleg juga menyetujui 18 daerah lain yang akan dimekarkan, yakni Provinsi Kalimantan Utara, Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi Kalimantan Timur), Kabupaten Musi Rawas Utara (Provinsi Sumatera Selatan), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Provinsi Sumatera Selatan), Kabupaten Pangandaran (Provinsi Jawa Barat), Kabupaten Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara), Kabupaten Pesisir Barat (Provinsi Lampung), Kabupaten Mamuju Tengah (Provinsi Sulawesi Barat), Kabupaten Banggai Laut (Provinsi Sulawesi Tengah), Kabupaten Morowali Utara (Provinsi Sulawesi Tengah), Kabupaten Konawe Kepulauan (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Kolaka Timur (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Buton Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Buton Tengah (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Muna Barat (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kota Raha (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Manokwari Selatan (Provinsi Papua Barat), dan  Kabupaten Pegunungan Arfak (Provinsi Papua Barat).
“RUU ini nanti akan dibahas pada paripurna 11 April mendatang,” kata anggota Baleg Nurul Arifin, Jumat 6 April 2012.
By. CHE/ANANDA PUTRI

Peziarah Paskah Larantuka Meninggal


sergapntt.com, LARANTUKA – Bruder Markus Rojasuka SVD (62) yang melakukan ziarah pada prosesi Jumat Agung di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggal ketika hendak mengikuti misa Kamis Putih, Kamis (5/4/2012) kemarin.
Jenazah Bruder Markus telah dibawa ke Mataloko, Ngada, hari Jumat (6/4/2012) ini pukul 04.00 Wita.
Ia terjatuh di dalam Gereja Katederal Reinha Rosari Larantuka, ketika akan menunggu misa Kamis Putih yang akan dimulai pukul 18.30.
“Beliau sempat dilarikan ke RSUD Larantuka, tetapi tak tertolong karena sudah meninggal dalam perjalanan. Beliau meninggal karena serangan jantung,” kata Sekretaris Panitia Pekan Suci Paskah Paroki Katederal Reinha Rosari Larantuka, Plasidus Nuba Ata Maran, Jumat, di Larantuka.
Bruder Markus terakhir bertugas di Keuskupan Palangkaraya, dan ke Larantuka untuk berziarah bersama sejumlah umat dari Keuskupan Palangkaraya.
Rencananya jenazahnya akan dimakamkan pada Sabtu (7/4/2012) di Mataloko.
by. ces/kompas.com

Pemrov NTT Diminta Tingkatkan Jalan Bajawa-Riung


Paulus Soliwoa

sergapntt.com, BAJAWA – Wakil Bupati Kabupaten Ngada, Drs. Paulus Soliwoa meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) segera meningkatkan jalan Bajawa – Riung menjadi jalan proritas. Ini untuk mendukung perkembangan potensi pariwisata di Taman Laut 17 Pulau Riung.   

“Jalan Bajawa – Riung itu sekitar 70 kilo meter. Kondisinya memprihatinkan. Saya sudah sampaikan ke Bappeda NTT agar status jalan itu ditingkatkan menjadi jalan prioritas. Sebab, salah satu potensi pariwisata NTT ada di Riung. Potensi ini yang kita mesti dukung. Karena akan membawa dampak perbaikan ekonomi dan sosial,” ujar Soliwoa kepada SERGAP NTT di Bandara So’a, Rabu (4/4/12) lalu.
Menurut Soliwoa, selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada hanya memperbaiki jalan rusak secara darurat. Ini karena minimnya dana.
“Karena kita kekurangan dana, ya,,,, jalan-jalan yang berlubang dan rusak parah, terpaksa kita hanya tambal dengan material apa adanya,” paparnya.
Pantauan SERGAP NTT menyebutkan, jalan rusak berat mulai terlihat dari Natarandang hingga Wangka. Toh begitu, wisatawan lokal maupun asing terus berdatangan ke Riung untuk menikmati pesona taman laut.
“Inikan libur Paskah. Lebih enak habiskan waktu libur di Riung,” ujar Rinto, warga Manggarai Timur saat bincang-bincang dengan SERGAP NTT di Riung, kemarin.
Sama halnya dengan Marthen Holdosky. Pelancong asal Jerman ini telah dua minggu berada di Riung. Ia mengaku betah dan tak pernah puas menyaksikan panorama taman laut Riung.
“Ini luar biasa. Ini hanya ada satu di dunia. Saya suka ini. Saya akan pulang satu bulan lagi,” imbuhnya.
By. Chris Parera   

Paskah Dihadapan Kubur Kosong


BERBEDA dengan kitab-kitab Injil lainnya, Injil menurut Markus menutup tuturannya dengan mengejutkan sekali: “Lalu mereka (para murid Yesus) keluar dan lari meninggalkan kubur (Yesus) itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut” (Mrk 16:8). Karena sedemikian mengejutkannya, sampai-sampai penyunting dan penyalin Injil Markus itu kemudian menambah ending sampai 12 setengah ayat lagi; namun para ahli Biblika bersepakat, Markus (kitab Injil tertua itu) menutup narasi hidup Yesus dengan kisah Kubur Kosong!
Siasat apa yang Markus tengah rancang melalui narasinya itu? Mengapakah kisah Paskah-Kebangkitan seolah hendak dibelokkan oleh Markus menjadi kisah yang terbuka, penuh tanya, dan lalu malah diberi arah baru, bahwa murid-murid Yesus harus pergi ke Galilea (Mrk 16:7), dan harus terus menempuh jalan panjang lagi?
Juga, mengapa Markus menulis penampakan malaikat yang memberitakan kabar kebangkitan Yesus pertama-tama diungkapkan kepada para perempuan, yang dalam tradisi patriarkat Yahudi dianggap sebagai makhluk yang tidak terpercaya dan tidak objektif menangkap fakta?
Bukankah nanti Kebangkitan bisa menjadi gosip, kabar angin, dan produk sikap subjektif?
Rupanya, sang redaktur Injil itu (baca: Markus) berada di tengah krisis, dan konteks itulah yang mendorongnya melancarkan kiat sastra yang jitu saat menulis kitab Injil Markus.
Ia adalah bagian dari generasi kedua Kekristenan yang terkejut dengan deraan hidup, yang dikira semula akan usai kalau Kristus yang bangkit datang mengangkat mereka keluar dari beban sehari-hari. Sehingga, suatu iman yang mengira bisa secara penuh mengubah realitas, bagi Markus, malah akan membahayakan Kekristenan.
Bagi Markus, kebangkitan bukanlah triumfalismetotal atas kesusahan sehari-hari. Paskah bukanlah kemenangan akhir. Baginya, Paskah berarti bahwa jalan masih terbuka (“sekarang pergilah … ke Galilea”) untuk bertemu Kristus Sang Anak Manusia itu, di setiap perkara hidup.
Dan, jalan terbuka itu harus dijalani terus, apalagi semua tahu, Kristus Sang Anak Manusia baru saja berjalan dengan kepala yang berdarah.
Jangan sampai mahkota duri terlupakan, sebab melalui ketekunan menghadapi kesulitan hidup sehari-harilah Yesus dinyatakan sebagai kekasih Allah.
Hal itu perlu dicatat, sebab sejak semula para murid Yesus saat itu hanya mau melihat Yesus selaku Mesias-Penebus, yang memberi mereka makan (melalui mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan).
Akan tetapi, mereka buta mengenai Yesus Sang Hamba Allah yang menderita, yang memberi nyawa-Nya bagi sesama (Mrk 10:35-45).
Makanya, makin tambah penjelasan mengapa Markus menutup kisah Injil-nya dengan mendadak dalam lakon para murid yang takut, hal itu dilakukan agar kita kini -pembaca kontemporer Injil Markus- masuk dan menggantikan para murid yang tersekap dalam gentar dan kecut itu.
Kini, kita pun berdiri di hadapan kubur kosong, dan dipesankan bahwa Yesus sudah bangkit, dan malah telah mendahului kita melanjutkan lagi perjalanan memasuki setiap kelok perkara hidup sehari-hari. Dan, jalan terus terbuka, sekalipun berita kebangkitan itu lebih sebagai produk sikap subjektif iman, bukan suatu ihwal objektif yang beku.
Kita yang berdiri di hadapan jalan yang terbuka itu -sambil menemukan inspirasi dari kisah Paskah menurut Injil Markus – perlu juga terus ikut mengambil langkah menemukan makna kisah Paskah ini bagi kita. Paskah-Kebangkitan tampaknya serentak adalah suatu tindakan Allah dan juga langkah manusia.
“Kebangkitan Yesus Anak Manusia yang mati di salib” itu kini menjadi suatu metafora rohani, suatu pesan akan keserbamungkinan untuk tetap melangkah dan tidak tersekap dalam fatigue (kelelahan buntu) hidup sehari-hari di negeri yang mencoba bertransisi ini.
Dan, tampaknya memang hari-hari kita sudah lelah pasca-tumbangnya rezim Soeharto: mulai dari kerusuhan, konflik horizontal, kekerasan konspiratif aparat negara, sampai kegalauan menghadapi kebijakan kenaikan BBM yang tampak angkuh dan tak perduli dengan hidup sehari-hari rakyat kecil.
Tetapi, justru kita tidak boleh berlindung pada agama di tengah-tengah semua itu, tidak juga kita boleh mengungsi kepada Tuhan. Paskah bukan tentang jaminan bahwa semua hal akan dibereskan oleh Tuhan, bukan pula semua kesulitan akan lenyap.
Paskah, bagaimanapun, bukan perayaan akhir zaman. Namun, Paskah adalah undangan bagi manusia -yang kalau mau memakai mata hati imannya – untuk terus melangkah, bekerja dengan mata yang terarah ke depan. Ia kiranya sudi bekerja dalam detail-detail keseharian, dan mencoba memantapkan kakinya, walau tahu bahwa arah hidup bersama di Indonesia ini serba tidak menentu.
Dan, kiranya ia juga melihat bahwa Allah adalah horizon harapan itu sendiri, yang entah mengapa, membuatnya tidak menghindar lari dari musim pancaroba yang panjang di negeri ini. Juga, dalam perspektif Paskah sedemikian inilah kita perlu memerikan ihwal besar, namun tetap tampak tak terpahami, yang melanda bangsa kita, yaitu tsunami Desember lalu.
Mungkin sebelum ke soal tsunami Aceh-Nias itu, ada pengalaman lain yang juga tak terperikan, yang dialami anak-anak Yahudi, yaitu peristiwa shoah (holocaust, pembasmian besar-besaran) di zaman Nazi-Hitler itu. Bahkan seorang seperti Ulrich E Simon (yang menulis A Theology of Auschwitz) mengatakan, tanpa Kebangkitan (Yesus) shoah betul-betul neraka.
Baginya, peristiwa yang tak terpahami di masa lalu hanya bisa dihapuskan oleh peristiwa di masa depan. Dengan demikian makna Paskah berarti juga bahwa jejak kebangkitan telah mulai menjejas di jalan kita, dan di hadapan kita terbentang penyingkapan baru yang akan menjelaskan makna peristiwa yang membingungkan sekalipun.
Dan, sikap atas tsunami kiranya sama: kita memang tak paham mengapa hal itu terjadi di Aceh-Nias, dan agama-agama yang hanya bermodalkan teologi “hukuman-berkat” tidak akan mampu lagi menjelaskan soal itu. Tak mungkin dikatakan bahwa Tsunami adalah hukuman Ilahi, tak juga ada yang berani mendedah bahwa kita yang lolos darinya diberkati Tuhan.
Dengan berita Paskah, kita umat beragama diingatkan akan kebangkitan, dan itu berarti kemungkinan hidup masih terbuka di depan kita semua. Kalau begitu, hanya kerja demi masa depan yang baik yang maksimal kita bisa percayai sebagai pesan Tuhan bagi bangsa kita saat ini.
Memang -sekali lagi – kita harus terus berjalan dan pergi ke “Galilea”, suatu kota simbolik di masa depan, di mana umat yang lelah berjalan tetap giat bekerja membangun komunitas bersama yang baru.
By. Martin L Sinaga