Hoegeng, Polisi Paling Jujur di Republik Ini


sergapntt.com – Hoegeng Iman Santoso adalah Kapolri di tahun 1968-1971. Ia juga pernah menjadi Kepala Imigrasi (1960), dan juga pernah menjabat sebagai menteri di jajaran kabinet era Soekarno. Kedisiplinan dan kejujuran selalu menjadi simbol Hoegeng dalam menjalankan tugasnya di manapun.

Ia pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara tahun 1956. Ketika itu, Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas, jika isinya hanya benar-benar barang inventaris kantor saja. Semua barang-barang luks pemberian itu akhirnya ditaruh Hoegeng dan anak buahnya di pinggir jalan saja.
“Kami tak tahu dari siapa barang-barang itu, karena kami baru datang dan belum mengenal siapapun,” kata Merry Roeslani, istri Hoegeng.

Polisi Kelahiran Pekalongan tahun 1921 ini sangat gigih dalam menjalankan tugas. Ia bahkan kadang menyamar dalam beberapa penyelidikan. 

Kasus-kasus besar yang pernah ia tangani antara lain, kasus pemerkosaan Sum tukang jamu gendong atau dikenal dengan kasus Sum Kuning, yang melibatkan anak pejabat. Ia juga pernah membongkar kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi, yang notabene dekat dengan keluarga Cendana.

Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak.

Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

“Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani. “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran.
Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. 
“Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.

Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500!

Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000.

Tak heran, Almarhum Gus Dur pernah berkata, “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.”

Ya,,, Hoegeng memang polisi paling jujur di republik ini. Yang lain kapan menyusul?

by. Chris Parera
sumber: http://jadiberita.com/

Anak Tanggung Jawab Kita


sergapntt.com, TIMORense – Kekerasan terhadap anak (KTA) merupakan persoalan serius yang patut mendapat perhatian semua pihak. Pemerintah, masyarakat maupun keluarga seharusnya mengambil peran untuk sama-sama menyikapi persoalan ini. Karena tidak bisa dipungkiri, anak sekatinya merupakan pemilik masa depan bangsa dan negara ini. Kalau anak tidak mendapat perlindungan yang memadai, janganlah kita menyesali diri. Tapi kita harus bangkit dan sama-sama memberikan ruang untuk anak dalam mengimplementasi hak-hak mereka.
Cetusan pikiran tersebut datang dari Ester Mantaon, salah seorang staf Rumah Perempuan Kupang. Ibu tiga orang anak, memiliki kepedulian yang cukup tinggi terhadap perlindungan anak. Baik itu dalam aspek kekerasan terhadap anak maupun ketika anak berhadapan dengan hukum. “Kekerasan terhadap anak dan anak berhadapan dengan hukum, merupakan dua sisi gelap dari ruang bathin anak yang seharusnya menjadi pergumulan kita semua,” ungkap istri dari Velix Kaufe.
Mamanya Ruth kemudian mengemukakan, istilah “anak”, mengandung pengertian sebagai sosok yang hidup dalam lingkungan rumah tangga, yang di dalamnya ada anak dan orang tua mereka. Maka ketika berbicara tentang kekerasan terhadap anak (KTA), maksudnya di sini adalah kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua mereka, ayah mereka, ibu mereka, atau kedua-duanya. Bisa juga tindak kekerasan ini dilakukan oleh orang lain (selain orang tua mereka), tetapi tetap di lingkungan rumah, misalnya paman atau bibi mereka, kakek atau nenek mereka sendiri. Selain itu, “anak” juga bisa merujuk pada sosok yang ada di lingkungan sekolah. Sehingga, yang dimaksud “kekerasan terhadap anak” di sini juga tidak semata berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, tetapi juga bisa dalam konteks interaksi pendidikan. Persisnya, kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya, atau anak didiknya.
Bunda dari Marthen dan Yuliana kemudian menambahkan yang dimaksud kekerasan, adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Kekerasan fisik, berupa tindakan menyakiti si anak, dengan cara apa pun (bisa juga memakai bendak-benda tajam), yang membuat tubuhnya terluka, mental dan batinnya menjadi trauma atau shock, bahkan bisa juga berujung pada kematian. Sedangkan kekerasan psikis, adalah berupa kata-kata, perlakuan, ataupun sikap yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan kejiwaan dalam diri si anak, misalnya jadi merasa inferior, kurang PD, tertekan, trauma, dan semacamnya. Sedangkan kekerasan seksual, yakni tindak pelecehan seksual atau pencabulan terhadap anak, baik dalam skala berat ataupun ringan, yang mengakibatkan anak mengalami shock ataupun trauma terkait seksualitas, inveksi pada organ-organ seks, atau bahkan mengalami kehamilan.
Pertanyaan penting yang pertama bisa diajukan adalah, mengapa sampai bisa terjadi tindak KTA; baik itu di rumah ataupun di sekolah? Rumah, misalnya, seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan anak, karena di sanalah anak “merintis” kehidupannya untuk pertama kali, mendapat pendidikan dan pengalaman tentang hidup sejak awal, dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dan terikat secara biologis, psikologis, dan emosional. Akan tetapi, yang jadi pertanyaan, mengapa tempat yang harusnya menjadikan anak merasa nyaman justru menjadi tempat yang mengerikan dan horor buat dirinya?
Secara umum faktor budaya banyak disinyalir menjadi pangkal dari praktik KTA ini. Ada, misalnya, semacam pandangan tradisional yang menyatakan bahwa “anak adalah milik orangtua”, yang dengan kata lain anak tak ubahnya harta kepunyaan. Karena merasa memiliki, lantas para orangtua (tentu saja oknum dalam hal ini) merasa bisa melakukan tindakan apa pun terhadap miliknya tersebut, sebagaimana dia (orangtua) juga bersikap ataupun bertindak apa saja sekehendaknya terhadap benda-benda milik pada umumnya: menelantarkan, merusak, atau malah melenyapkannya sama sekali. Banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga mengalami stres, shock berat, trauma, cacat permanen, atau bahkan meregang nyawa.
Selain pandangan tradisional, budaya kekerasan (violence) yang berkembang dalam masyarakat juga berpengaruh besar. Praktik, teladan, atau perilaku kekerasan yang dipertontonkan oleh aparat (misalnya: oknum polisi yang menyiksa dalam proses penyidikan), media cetak atau elektronik (berita-berita kriminal, cerita atau film yang menonjolkan kekerasan), jelas ikut berkontribusi dalam “mengarahkan” tindakan para orangtua untuk melakukan hal yang sama (kekerasan). Karena kekerasan menjadi sesuatu yang terus “menggejala”, maka walhasil menjadi semacam culture, sehingga secara bawah-sadar sedikit demi sedikit, lama kelamaan, masyarakat menganggapnya sebagai kelumrahan atau kewajaran yang tak perlu dipermasalahkan. Apalagi jika kemudian praktik KTA berlindung di balik jubah “dalam rangka pendidikan”, “dalam rangka pendisiplinan”, dan sejenisnya. Padahal, atas nama apa pun dan demi alasan apa pun, tegas Ester Mantaon, kekerasan terhadap anak tidak seyogianya terjadi, dan atas nama hukum pelakunya harus dibersi sanksi sesuai aturan atau hukum yang berlaku. Sampai di sini, menurut Ester Mantaon, sudah saatnya semua elemen masyarakat giat dalam upaya mengatasi kekerasan terhadap.
Biodata
Nama  : Ester Mantaon
Suami : Drs. Velix Kaufe
Tiga Orang Anak
01. Ruth Kaufe
02. Marthen Kaufe
03. Yuliana Kaufe
By. Thresia Siti

Hati dan Bathinku Buat Orang TTS


sergapntt.com, TIMORense – Sejak 1988 bekerja di Yayasan Alfa Omega (YAO) sebagai staf di bidang Pengembangan Masyarakat. Saat itu sementara saya sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian sarjana di Fakultasi Pertanian jurusan agronomi di Universitas Nusa Cendana Kupang.
Diawali dengan interview oleh Direktur Yayasan Alfa Omega (Pdt. I. N Frans) yang sering disapa Bapa Icha dan Wakil Direktur (Alm John Ndaparoka) dan akhirnya saya dan seorang teman yang juga satu alumni, Frans Fanggi di terima sebagai staf Yayasan Alfa Omega.
Pertama kali bekerja sebagai staf, langsung di tugaskan di salah satu desa di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS bersama teman Alm Erwin Panjaitan dan Ria untuk melaksanakan pelatihan pertanian bagi petani di desa tersebut. Saat itu saya terlibat sebagai perekam proses, kata demi kata, proses demi proses, termasuk metode dan media yang digunakan saya catat dengan detail karena itu sumber belajar yang penting dan dalam membuat pelaporan hasil pelatihan harus dilampirkan dengan rekaman proses yang utuh. Tradisi di YAO setiap staf baru yang bergabung, masa orientasi staf baru harus terlibat sebagai peserta sekaligus sebagai perekam proses.
Cerita Rambu Atanau Mella, dalam suatu percakapan penuh persahabatan dan persaudaraan. Istri Paul V.R. Mella, MSi kemudian menuturkan, pertengahan tahun 1989 saya diutus YAO mengikuti Pelatihan Tenaga Penggerak Kelompok Swadaya (pelatihan TPKS) di Yayasan Bina Swadaya Cimanggis Propinsi Jawa Barat selama tiga bulan. Dalam pelatihan tersebut materinya sangat lengkap, sudah termasuk Training of Trainer (TOT) serta praktek. Pelatihan tersebut benar-benar mempersiapkan seseorang sebagai pegiat LSM dan melalui pelatihan ini setiap peserta diberikan rekomendasi apakah memiliki kemampuan sebagai fasilitator atau tidak. Dan saya masuk dalam kategori yang memiliki kemampuan sebagai fasiltator dan diberi rekomendasi kepada lembaga yang menerangkan bahwa saya memiliki kemampuan sebagai fasilitator.
Setelah mengikuti sejumlah kegiatan pelatihan dan lokakarya baik dalam lembaga maupun di luar lembaga dalam rangka peningkatan kapasitas saya, maka sejak itu disibukkan dengan berbagai kegiatan pelatihan atau sejenis yang diberikan kepada masyarakat dampingan baik di desa-desa dan juga di tingkat lembaga termasuk yang menjadi program tetap YAO adalah memberikan pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (pelatihan PSM) kepada calon-calon vicaris.
Selang beberapa bulan kemudian saya dipercayakan oleh lembaga untuk menjalankan program pertukaran staf, yaitu saya bekerja selama 3 bulan di KSPPM Siborong-borong Tapanuli Utara dan seorang teman dari KSPPM bekerja di YAO selma 3 bulan juga. Selama bekerja di KSPPM banyak pengalaman yang saya peroleh terutama pada aspek pengorganisasian masyarakat dan advokasi. Karena yang menjadi fokus KSPPM adalah pengorganisasian dan advokasi. Kesan yang menyedihkan dan menyenangkan banyak dialami. Yang menyedihkan jatuh dari sepeda motor karena medan di Tapanuli Utara hampir sama sulitnya dengan medan di NTT dan udara yang sangat dingin dengan suhu rata-rata 16 derajad Celcius. Yang menyenangkan adalah berkeliling pulau samosir dari ujung ke ujung serta interaksi dengan masyarakat di sana begitu akrab mulai dari muda sampai tua walaupun sulit berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Bagaimana di TTS? Waktu bergulir terus, pada akhir tahun 1990 direktur YAO meminta saya untuk membantu Yayasan Haumeni, karena salah satu misi YAO adalah memperkuat LSM lokal di beberapa kabupaten di NTT. Awal tahun 1991 sampai 1992 saya menjadi konsultan program dan menejemen di Yayasan Haumeni. Pada tahun 1992 oleh pendiri dan pengurus Yayasan Haumeni menunjuk saya sebagai Direktur Yayasan Haumeni sampai tahun 1997. Awalnya sebagian pengurus Yayasan Haumeni meragukan kemampuan saya untuk memimpin Yayasan ini. Ada banyak alasan mereka memiliki kekuatiran terhadap saya karena saya seorang perempuan yang masih relatif muda dengan pengalaman yang masih sangat minim, perempuan yang harus menjalankan peran reproduksi dan sebagainya. Prinsipnya bahwa pengurus tidak iklas memberikan kesempatan kepada saya untuk memimpin yayasan tersebut. Anggapan-anggapan tersebut sempat mampir di telinga saya. Awalnya saya sempat ciut tetapi akhirnya muncul semangat dalam diri saya dan tekad yang sangat kuat bahwa saya harus mampu membuktikan kepada mereka-mereka bahwa saya mampu tidak seperti penilaian mereka. Puji Tuhan akhirnya yayasan Haumeni pada masa itu atas dukungan dan kerjasama dengan salah seorang tenaga relawan dari VSO berkebangsaan belanda bernama “Dirk Zuurmond” dan dukungan direktur YAO (Pdt I. N, Frans) dan senior-senior lainnya dimana salah satunya ibu Dra Sofie de Haan yang memberi motivasi dan memberikan rekomendasi untuk di dukung oleh BFDW Jerman, kemudian ICCO dan YIS Solo. Dirk Zuurmond yang sering kami sapa Irko memiliki latar belakang pendidikan sebagai ahli gizi. Karena latar belakang keahlian tersebut dia sempat membuat menu makanan bergizi untuk anak-anak gizi buruk dari pangan lokal yakni jagung bose, kacang hijau, ikan kering dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Program-program yang dilaksanakan Yayasan Haumeni adalah kesehatan khusus penanganan gizi, HIV/AIDS, pengembangan obat tradisonal kerjasama dengan CD Bethesda, program pertanian dan perternakan. “Dari hasil tidur di desa-desa akhirnya Irko mendapat informasi dari masyarakat desa tentang Sunat Kampung yang diikuti dengan Sifon. Pada waktu itu kami sangat penasaran dengan informasi tersebut pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat penelitian khusus tentang perilaku tersebut dan ternyata memang benar dan hal ini sangat berbahaya dan mengancam kehidupan masyarakat dalam berbagai penyakit menular seksual dan HIV/ADIS.
Dalam berbagai aktivitas kami menemukan berbagai persoalan sosial lainnya seperti sebagian besar perempuan tidak bisa mengakses pendidikan yang lebih tinggi, banyak persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, ada kekerasan seksual dimana-mana dan berusaha untuk ditutupi karena dianggap tabu, masalah kesehatan reproduksi tidak banyak tersentuh misalnya hampir setiap hari ada kematian ibu dan anak saat melahirkan, perempuan sangat sulit mengakses informasi, keluhan-keluhan sebagai efek samping perempuan mengikuti KB, persoalan pengrusakan sumber daya alam yang berdampak pada perempuan, beban ganda perempuan dan masih banyak lagi yang terjadi. Pada saat itu belum ada LSM yang secara khusus menjangkau / melakukan berbagai upaya untuk penguatan hak-hak perempuan dan anak, akhirnya berkat dukungan dari beberapa aktivis perempuan maka diputuskan membangun sebuah forum yang dinamai dengan Sanggar Suara Perempuan atau disingkat SSP. SSP mulai beraktivitas  pertengahan tahun 1993, dan kami beberapa orang mengelola  lembaga ini secara sukarela dan part time karena kami masih terikat dengan lembaga masing-masing. Karena kebutuhan, kami bersepakat mengrekrut  2 (dua) staf yakni Aleta Baun sebagai staf lapangan yang selalu membangun diskusi-diskusi dengan kaum perempuan dari kampung ke kampung untuk mengetahui lebih dalam berbagai persoalan yang dialami oleh mereka sekaligus memberikan penguatan kepada mereka. Juga Alm Inno Tallo sebagai staf administrasi dan sekali gus mengelola berbagai informasi menjadi sebuah selebaran atau newsletter sederhana untuk didistribusi kepada seluruh masyarakat khususnya kaum perempuan sebagai sumber informasi berbagai hal. News letter tersebut kami beri nama “Suara Perempuan” saat itu saya menjadi Koordinator Sanggar Suara Perempuan. 

Tentang Rambu Atanau Mella :
Alumni Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi Undana Kupang
Direktur Sanggar Suara perempuan
Ketua TP PKK Kabupaten TTS
Ketua Dekranasda Kabupaten TTS
Suami : Ir. Paulus V.R. Mella, M.Si
Anak Pertama : Leonard Evan Mella (Mhs. Kedokteran UKI JKT)
Anak Kedua : Fomeni Reninda Mella (Mhs. Stie-Ibis Jkt)
Anak Ketiga : Winnard Nube Mella (Siswa SD GMIT I Soe)
By. Libby SinlaeloE

Siap Kalah atau Menang!


sergapntt.com [KUPANG] – Game politik selalu berakhir dengan kalah atau menang. Presentasinya 50:50. Konsekuensinya pun tak sedikit. Mulai dari finansial hingga urusan bathin jadi taruhan. Toh begitu, dr. Yovita Anike Mitak, M.PH tak pernah gentar. Bagi sosok perempuan yang akrab disapa dr. Niken itu, tantangan politik adalah pilihan yang sulit namun menarik minat. Kalah atau menang merupakan konsekuensi lumrah yang mesti diterima. Suka atau tidak,,!
Politik selalu penuh teka-teki. Tak ada yang pasti. Semua syarat dengan kemungkinan. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, dan yang mungkin bisa pula menjadi tidak mungkin. Sebab, politik adalah ilmu dan seni tentang kemungkinan.
“Karena itu, saya siap kalah atau menang,” ujar dr. Niken saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Ya,,, dr, Niken kini sedang menjajal dunia politik praktis di gelanggang Pemilukada Kota Kupang sebagai bakal calon (balon) Walikota Kupang periode 2012-2017. Ia sangat diperhitungkan. Termasuk lawan politik yang doyan sesumbar bakal menang di pertarungan politik Kota Kupang kali ini.
Niken selalu tampil menawan. Sederhana , ramah, dan rapi berbusana nampak akrab menghiasi hidupnya. Fasenya selalu  segar dihiasi senyum. Sorot mata yang teduh menggambarkan kedamaian. Tak banyak basa-basi. Semua dimulai dengan semangat hidup yang pasti.
“Saya sudah siap menjadi Calon Walikota. Saya akan buktikan bahwa perempuan juga bisa jadi pemimpin yang baik,” imbuhnya, optimis.
Anak pertama dari empat bersaudara buah perkawinan (ayahanda) Anton Mitak dan (ibunda) Elisabeth Mitak ini berjanji akan selalu bersikap optimis menghadapi tantangan yang syarat dengan kepentingan rakyat. Semuanya akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Sebab, bagi ibu tiga anak ini, kepercayaan adalah amanah, dan tugas adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Sebelum menjabat sebagai Kepala Biro (Karo) Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ibunda Antonio Edwin Porsiana, Maria Diandra Porsiana, dan Diony Porsiana ini pernah menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang.
Jenjang pendidikannya ia memulai dari SD Putri (sekarang Don Bosko) Kupang, SMP di  St. Theresia Kupang, SMA Khatolik Malang, Fakultas Kedokteran Brawijawa Malang. Usai kuliah Tahun 1989, ia ditugaskan sebagai Dokter Inpres di Kabupaten TTS.
“Beberapa bulan orientasi di Rumah Sakit TTS, saya lalu ditempatkan di Puskesmas Polen. Dari Polen saya pindah ke Batakte (1991-1993), Bakunase (1993-1997) dan tahun 1997 saya ditarik ke Kanwil Kesehatan NTT dan ditempatkan sebagai Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar,” bebernya.
Perjalanan karir mantan dokter pribadi alm. Mantan Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH tersebut berjalan baik bak air mengalir. Tak ada rintangan yang berarti. Kepercayaan memangku jabatan seirama dengan prestasi kerja yang ia persembahkan. Ujungnya, Tahun 2001, istri Albert Porsiana itu dipercaya menjadi Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Penyuluh Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan NTT. Pada saat yang bersamaan ia diberi kesempatan untuk mengambil gelar master di Kuala Lumpur Malaysia.
“Pulang dari sana, saya kembali menjadi Kasubdin Pengembangan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan NTT hingga tahun 2006. Tanggal 4 Maret 2006, saya dilantik menjadi Direktur RSUD W.Z Yohanes Kupang. Sedangkan serah terima jabatan (dari dr. Hen Mooy) tanggal16 Maret 2006,” kisahnya.
Jika pekerjaan kantor telah selesai, wanita kelahiran Bandung 15 Februari 1964 itu mengaku, banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berolah raga, les piano atau berbelanja. Baginya, olah raga sangat penting untuk menjaga keseimbangan. Selain bisa menghilangkan stres, olah raga juga bisa membuat fisik menjadi bugar.  Sebab, kata dia, pekerjaan yang banyak menggunakan otak (berpikir), bisa membuat seseorang cepat lelah. Oleh karena itu, olah raga, makan teratur, banyak istirahat dan tidak terlalu stres harus terus dilakukan agar bisa menjaga stamina tetap bugar.
“Sejak sekolah saya paling suka basket dan bola volly. Olah raga itu penting. Itu untuk menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Kini dengan kebugarannya ia siap menjadi Walikota Kupang pasca Drs. Daniel Adoe. Sarana partai politik sedang dipersiapkan. Respon pemilih pun postitif. Soal menang atau kalau ia percaya, “Itu suratan takdir”. Tapi soal semangat melayani, sampai mati pun kerja dan karyanya ia persembahkan untuk rakyat dan keluarga.
By. CHRIS PARERA

Angelina Jolie Jadi Duta UNHCR


sergapntt.com [NEW NYORK] – Aktris peraih Piala Oscar, Model Profesional, dan Putri Pemenang Academy Award aktor Jon Voight, terdaftar pada deretan yang tak terhitung jumlahnya “wanita paling indah”,  Angelina Jolie dilatih di Lee Strasberg Teater Institut begitu juga ibunya Marcheline Bertrand, yang pernah belajar langsung dengan Lee Strasberg.

Seorang ibu dari enam anak, ia tidak memerlukan pengenalan sebagai pribadi dalam misi kemanusiaan ke seluruh dunia. Jolie secara pribadi pertama kali menyadari krisis mengenai kemanusiaan di seluruh dunia sementara dia bermain dalam film Tomb Raider di Kamboja.

Dia akhirnya berpaling kepada Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), badan yang memilki mandat untuk memimpin dan mengkoordinasikan aksi internasional untuk melindungi pengungsi dan menyelesaikan masalah pengungsi di seluruh dunia, untuk informasi lebih lanjut tentang titik masalah internasional.

Sejak tahun 2001, Jolie telah mengikuti misi kemanusiaan dan bekerja di lapangan di seluruh dunia dan bertemu dengan pengungsi dan orang terlantar di lebih dari 20 negara, termasuk Sierra Leone, Tanzania, Kamboja, Pakistan, Thailand, Ekuador, Kosovo, Kenya, Namibia, Sri Lanka, Utara Kaukasus, Yordania, Mesir, New Delhi, Kosta Rika, Chad, Suriah, dan Irak, untuk beberapa nama, dan yang paling baru pekerjaan sosial Jolie, mengunjungi korban gempa di Haiti pada perjalanan terbarunya untuk membantu korban konflik dan bencana alam.

Jolie-Pitt Foundation, yang didedikasikan untuk memberantas kemiskinan di pedesaan yang ekstrim, dan melindungi sumber daya alam dan melestarikan satwa liar, menyumbangkan $ 1 juta untuk Doctors Without Borders, sebuah organisasi kemanusiaan internasional yang dibuat oleh dokter medis dan jurnalis di Perancis pada tahun 1971.

Organisasi ini memberikan bantuan di hampir 60 negara untuk orang-orang yang bertahan hidup dan terancam oleh kekerasan, kelalaian, atau bencana, terutama karena konflik bersenjata, epidemi, malnutrisi, pengecualian dari perawatan kesehatan, atau bencana alam, bantuan darurat medis untuk membantu korban gempa di Haiti.

Ditanya apa yang ia berharap untuk memperoleh pengalaman ketika pertemuan dengan pengungsi dan orang terlantar di 20 negara, ia mengatakan, “Saya sangat sedih dan menangis akan penderitaan orang-orang ini. Saya pikir mereka harus dipuji, dan dibantu untuk nilai-nilai kemanusiaannya.”

Pada tahun 2001 Jolie diakui dan diberi tugas oleh PBB sebagai Duta UNHCR bermarkas UNHCR di Jenewa, untuk membantu mendidik masyarakat, tidak hanya tentang penderitaan pengungsi, tetapi juga tentang ketekunan dan keberanian mereka menunjukkan dalam mengatasi segala rintangan untuk membangun kembali kehidupan mereka.

by. Sultan