Wagub Resmikan GOR Umbu Dapasapu


sergapntt.com [Sumba] – Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si yang juga Ketua Harian KONI NTT meresmikan Gedung Olah Raga (GOR) Badminton Umbu Dapasapu sebagai wujud kepedulian dan kecintaan keluarga besar Umbu Dapasapu khususnya istri Ny. L. Sri Wiedyanti Dapasapu untuk mengenang almarhum Drs. Umbu Dapasapu yang semasa hidupnya sangat menggemari cabang olah raga badminton alias bulutangkis. Acara peresmian GOR tersebut ditandadi dengan penandatangan prasasti dan pengguntingan pita di depan pintu masuk GOR.
Turut hadir Ketua PBSI NTT, Kol. Edison Napitupulu, Sekretaris KONI NTT, George Hadjoh, SH dan Kepala Biro Kesra Setda NTT, Drs. Alo Dando, MM.
 “Dengan hadirnya GOR Badminton Umbu Dapasapu ini memberikan motivasi tersendiri kepada keluarga almarhum dan juga kepada seluruh masyarakat NTT yang mencintai olah raga bulu tangkis,” ucap Wagub saat meresmikan GOR Umbu Dapasapu, Sabtu (25/2).
Menurut Wagub, atlet bulu tangkis sekaliber Rudi Hartono saja belum ada GOR. “Namun hari ini telah berdiri GOR Badminton Umbu Dapasapu sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan dunia olah raga bulutangkis yang telah menjadi legenda olah raga Indonesia di dunia internasional,” kata Wagub.
Wagub berharap kepada Pengurus Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) NTT untuk lebih termotivasi menggelar berbagai event dalam rangka penjaringan atlet bulutangkis NTT untuk bisa berbicara di event regional, nasional dan internasional.
“Saya pikir mimpi membangun GOR yang telah menjadi kenyataan bukan hanya keinginan tanpa tujuan tetapi GOR ini lahir karena mimpi besar untuk melahirkan atlet bulutangkis dari NTT yang mampu mengukir prestasi besar bagi bumi Flobamora tercinta,” ungkap Wagub.
Pada bagian lain, Wagub memaparkan saat ini ada 63 atlet NTT dari 10 cabang olahraga yang akan bermain di 39 jenis pertandingan sedang mengikuti TC Desentralisasi sebagai persiapan mengikuti PON XVIII pada September 2012 mendatang di Riau.
“Memang atlet bulutangkis belum ada di dalamnya tetapi momentun hari ini akan membawa resonansi yang mampu melipatgandakan semangat juang pada atlet untuk berprestasi di PON yang akan datang. Mari kita doakan mereka sehingga prestasi yang diraih menjadi prestasi kita semua,” tandas Wagub yang juga Ketua Umum Persaudaraan Bela Diri Kempo (Perkemi) Provinsi NTT.
By. VERRY GURU/IDA H.

Atasi “Demam”, Pemkab Sumteng Kucurkan Rp 3,7 M


sergapntt.com [WAIBAKUL] — Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah mengalokasikan dana senilai Rp 3,7 miliar untuk mendukung program Desa Mandiri Anggur Merah (Demam) di daerah itu.
Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumba Tengah, Ir. Agustinus Umbu Sorung menjelaskan, sejak pekan lalu pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan verifikasi kegiatan kelompok yang dipimpin Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Sumba Tengah, Lukas Woli, S.E.
Verifikasi dilakukan untuk memperoleh kepastian kemajuan kelompok tani dalam menyerap dana Demam maupun dana P2ED. Secara teknis, jelas Umbu Sorung, terjadi keterlambatan pelaksanaan program Demam karena keterlambatan pencairan dana. Sedangkan dana P2ED lebih cepat sehingga pelaksanaan usaha kelompok tani di desa-desa lebih cepat.
Meski demikian, Umbu Sorung mengakui, kedua program tersebut sudah berjalan. Baik dana Demam maupun P2ED sudah cair dan sedang digunakan kelompok tani untuk mengembangkan usahanya.
Ia menyarankan, ke depan anggaran  sebaiknya ditransfer langsung ke rekening kas daerah (kabupaten) untuk  memudahkan koordinasi dan pencairannya. Pengalaman saat ini, pencairan dana terlambat karena koordinasi kurang berjalan lancar.
Pemkab Sumba Tengah, jelas Umbu Sorung, sangat mendukung program Demam dengan mengalokasikan dana percepatan pembangunan ekonomi desa bagi 15 desa sebesar Rp 3.750.000.000. Setiap desa mendapat kucuran dana Rp 250 juta. Sedangkan lima desa lainnya mendapat alokasi dana DeMAM dari program Gubernur NTT. (by. pk)

Kawin Paksa di Sumba Tengah


Bagi masyarakat Sumba Tengah, NTT, kekerabatan adalah hal yang sangat penting. Demi menjaga kekerabatan, budaya kawin paksa pun diterapkan.

Tapi lama-lama ada motif ekonomi di balik budaya kawin paksa ini. Para perempuan yang jadi korban kawin paksa tak jarang juga menjadi korban kekerasan fisik. Kontributor Radio Nederland (KBR68H), Shinta Ardhany dibantu Reporter Doddy Rosadi berbincang dengan salah satu korban kawin paksa yang hingga kini masih trauma.
Dihadang di jalan
Laju sepeda motor kami berhenti di tengah jalan. Kami tengah mencari rumah Intan Rambu Dauki, perempuan dari Desa Makatekeri, Sumba Tengah, yang menjadi korban penculikan dan kawin paksa.
Sungguh kebetulan, laki-laki yang kami temui di tengah jalan itu adalah paman Intan. Namanya Dominggus. Ia adalah satu-satunya saksi mata saat Intan diculik.
Dominggus: “Kita mau keluar pi pasar mereka datang dari sana, saya pikir orang dari sawah, begitu orang langsung palang saya. Saya tidak bisa lewat lagi, dorang langsung ambil. Ada berapa orang pelaku? Tak sampai sepuluh. lima sampai enam orang. Mas ikut bantu? Mau ke luar. Saya paman Intan. Saya boncengin Intan, mereka tangkap bawa lari. Banyak orang laki-laki semua. Intan nangis-nangis.”
Rumah Intan
Dominggus lantas membawa kami menuju rumah Intan. Jalan menuju rumah Intan belum beraspal, masih berupa jalan kampung berupa tanah dan berbatu. Di kiri kanan terhampar persawahan. Setelah perjalanan 15 menit, kami tiba di rumah keluarga Intan.
Rumah keluarga Intan berupa rumah panggung dengan atap alang-alang, di bagian bawah untuk kandang babi. Dindingnya dari anyaman bambu atau gedek. Begitu masuk ke dalam rumah terasa gelap, karena tak ada ventilasi yang memadai. Juga tak ada listrik. Penerangan hanya mengandalkan lampu teplok. Di dalam rumah tak terlihat barang mewah.
Rumah ini tampak mencolok dibandingkan rumah-rumah warga Sumba yang lain. Meski sama-sama berbentuk rumah panggung, namun rumah-rumah lain sudah memakai atap genteng atau seng, sudah ada listrik, sementara di bagian bawah rumah bersih, tak lagi jadi kandang babi.
Penculikan Intan
Intan dan keluarga tinggal di Desa Makatekeri, Kecamatan Katikutana, Sumba Tengah. Sekitar dua kilometer dari pusat kota Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Nama Intan mulai sering dibicarakan masyarakat setelah kasus kawin paksa dan penculikan yang dialaminya disiarkan di Radio Gogali, satu-satunya radio di Sumba Tengah.
Saat itu akhir Desember 2008. Intan diculik siang hari, ketika Intan sedang berboncengan motor bersama pamannya Dominggus untuk pergi ke pasar. Di tengah jalan mereka dihadang enam laki-laki yang langsung mencekal dan mengangkut Intan dari atas motor. Ini cerita versi Intan, yang sudah kembali dari Malaysia.
Intan Rambu Dauki: “Saya lagi jalan, lepas itu mereka langsung tahan motor saya, mereka langsung tangkap saya, lepas itu mereka bawa pergi saya ke rumah mereka. Itu bukan jodoh saya. Saya tidak mau dikawin paksa.”
Keluarga penculik
Para penculik Intan ini adalah keluarga laki-laki yang menginginkan Intan menjadi istrinya. Ini berdasarkan perjanjian di masa lalu, ketika Intan masih kecil, keluarga Intan dan keluarga laki-laki ini akan saling menjodohkan anak mereka.
Intan lantas dibawa ke rumah keluarga laki-laki, di Desa Laimerang, berjarak sekitar tiga kilometer dari desa Intan. Intan terus menangis, tak mau dibawa masuk ke dalam rumah.
Intan Rambu Dauki: “Bisa lepas? Bantuan polisi dan pemerintah dan bapak Umbu Lane. Saya dibawa lari, mereka tak mau lepaskan. Mereka terus bawa saya ke kampung. Sodara lapor polisi, polisi turunkan kembali.”
Tolak kawin paksa
Orangtua Intan mengaku tak lagi ingin memaksakan anaknya menikah dengan laki-laki yang tak dicintai. Perjanjian kawin paksa yang mereka sepakati dulu dengan keluarga laki-laki yang masih terhitung saudara, dibatalkan sepihak. Ibu Intan, Rambu Mura Guna, tak ingin anaknya menikah dengan seseorang tanpa cinta.
Rambu Mura Guna: “Kenapa nolak? Sekarang bukan jaman memaksa ibu. Persetujuan laki-laki dan perempuan macam kami saja orang tua tidak ada.”

Ayah Intan, Umbu Yora Sabatundung juga tak mau dianggap mencari keuntungan dengan mengawinkan paksa anaknya.
Umbu Yora Sabatudung: “Macam sekarang omong pendek karena lapar. Tidak mau jual anaknya. Biar tidak ada hewan tergantung anaknya laki-laki dan perempuan. Kalo setuju antara dua bisa juga, kalo tidak, tidak juga harus turun kembali juga. Kami ini punya anak jangan sampai ini saya punya ibu bapak yang pergi jual.”
Pelestarian hubungan keluarga
Kawin paksa adalah tradisi masyarakat Sumba yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Tokoh perempuan Sumba Tengah Maria Rambu Kawurung mengatakan, dulu tradisi ini dipakai untuk melekatkan hubungan keluarga. Perkawinan dilakukan antar saudara, yang masih satu garis keturunan.
Maria Rambu Kawurung: “Yang dikawinkan anak tante kita harus iya dengan anak om, sodara tapi wajar. Tidak bisa kawin paksa yang tidak ada hubungan anak om? Tidak bisa. Agar apa? Agar hubungan tetap berlanjut terus tidak putus. Perjodohan antar keluarga yang sudah punya garis keturunan kalo di luar itu tidak bisa.”
Rambu Legi Nguju, warga Desa Makatekeri, pernah melakukan praktik kawin paksa ini untuk anaknya. Tahun 1990-an, ia mengawinkan anak laki-lakinya dengan perempuan yang masih kerabat jauh. Sebelumnya kedua keluarga sudah punya kesepakatan.
Rambu Leki Nguju: “Sudah ada perjanjian? Iya. [bicara dengan bahasa Bahasa daerah] Sudah perjanjian memang. Dengan om. Kenapa buat perjanjian. Supaya tidak diambil laki-laki lain. Dibawa lari atas persetujuan keluarga. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang Ada memang kita punya perjanjian karena kita bersaudara. Saya kasi saya punya anak saya ingat saya punya sodara perempuan.”
Untuk proses kawin paksa ini, dia memberikan mas kawin berupa belasan ekor kuda dan kerbau senilai 30 juta rupiah.
Rambu Leki Nguju: “Bawa hewan berapa? 15 ekor, kerbau, kuda dan 1 ekor babi. Dikasi ke pihak perempuan. Karena kawin paksa, karena bawa lari. Tidak mau anak milih anak lain? Tidak mau. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang.”
Kekerasan fisik
Kekerasan secara fisik pun bisa terjadi jika ada yang menolak dikawinkan secara paksa. Perempuan yang menolak kawin paksa, misalnya, bisa diteror, ditangkap dan diculik. Seperti yang terjadi pada Intan, kata tokoh masyarakat Sumba Tengah Umbu Lane.
Umbu Lane: “Tapi karena diteror begitu saya, tidak mau, karena diculik diangkat dipikul tidak mau, macam babi bawa lari ke rumah laki-laki, sebagai masyarakat tidak setuju penculikan seolah pemerkosaan. Kalo cara baik bawa sirih pinang dulu, mau dengan mau ya OK. Ini tidak ada komunikasi, diculik, angkat. Karena rasa kasian kita ambil alih.”
Penangkapan terhadap calon mempelai korban kawin paksa kadang diketahui, juga direstui kedua keluarga. Koordinator LSM Wahana, yang mendampingi perempuan korban kawin paksa Sumba Tengah, Farida Paduleba.
Farida Paduleba: “Ketika ada perundingan yang jelas antara bapa dan calon suami maka akan ada satu waktu yang ditentukan kapan dan di mana cara tangkapya. Ketika tangkapnya, di mana, di pasar. Mungkin hari Rabu, perempuan ke pasar dan perampasan di pasar, laki-laki siapakan bemo dari laki-laki mengoper. Perempuan jatuh sarungnya dipaksa betul-betul. Kalo sampai di rumah suaminya, dia makan atau tidak, dia dikurungkan.”
Pria tolak kawin paksa
Kalaupun kawin paksa tetap terjadi, tak hanya si perempuan yang tersiksa, tapi juga si laki-laki. Carles Kaseduk, warga Anakalang, Sumba Tengah, menikah dengan istrinya secara paksa pada 1986.
Carles Kaseduk: “Kawin paksa. Kalo berfikir positif sangat tidak bermoral tidak beretika. Saat itu lingkungan berpengaruh masi terikat dengan budaya. Caranya? Dalam suatu musyawarah keluarga. Saya pelaku. Mengapa? Satu kebudayaan. Dan pilihan sendiri. Tidak ada alternatif lain selain bawa lari. Seakan kalo tidak lakukan itu. Macam kompetisi. Antar laki-laki.”
Andreas Sabaora, tokoh adat di Sumba Tengah, menekankan, tak ada yang diuntungkan dengan adat kawin paksa. Mereka pasti menderita batinnya, kata dia.
Andreas Sabaora: “Penderitaan korban kawin paksa? Batin. Karena cinta tidak tumbuh dari dalam. Dia hanya mau menerima kenyataan. Hanya karena tenggang rasa dengan bapak mamanya.”
Terbukti pada Intan Rambu Dauki, salah satu korban kawin paksa. Meski kejadian sudah setengah tahun berlalu, Intan mengaku masih trauma.
Intan Rambu Dauki: “Masi takut? Takut seh, pulang dari malaysia dua minggu lebih sekarang saya masi takut ada orang yang buat seperti dulu lagi, saya takut.” (by.chris parera/ KBR68H)

Translok Papu’u Rusak, Potret Buruk Kinerja Disnakertrans dan Kontraktor


sergapntt.com – Bangunan proyek di lokasi Tranmigrasi Lokal (translok) Papu’u, Kabupaten Sumba Timur dalam kondisi memprihatinkan. Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Disnakertras) pimpinan Yohanes Ola Samon, SH bersama rekanan kontraktor perlaksananya dipertanyakan.
Sejumlah penghuni translok Pupuu di Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur disinyalir sudah meninggalkan lokasi translok. Pasalnya, mereka tidak puas dengan kondisi bangunan yang sudah mulai rusak.
Pantauan Mingguan beritas Rakyat di lokasi translok, bangunan yang dikerjakan sebanyak 75 unit rumah tinggal. Sebagian besar bangunan rumah dalam kondisi yang memiriskan hati. Betapa tidak? Ada rumah yang sejumlah tiang utamanya sudah dimakan rayap, sengnya bocor, lantainya pecah-pecah, bahkan ada yang temboknya bisa menjadi arena ‘ciluuk-baa’ karena jebol.
Sejumlah penghuni yang berhasil ditemui di tempat itu, mensinyalir jenis kayu yang dipakai sangat tidak layak. Ada yang menduga kontraktor menggunakan kayu mangga dan kapok hutan.
Sejumlah bangunan MCK tidak bisa dipakai lagi. Selain atapnya bocor, juga ditemui sejumlah WC yang dindingnya jebol. Tidak heran jika kondisi ini melahirkan sinisme bernada ironis dari sejumlah rekan kuli disket. “WC ini adalah WC jengkys, bebas hambatan muka belakang. Beratapkan langit dan berdindingkan angin sepoi-sepoi,” tukas seorang rekan wartawan mengomentari kondisi salah satu WC yang tidak lagi beratap.
Bernadus (30), warga RT 12/RW 24 yang ditemui di lokasi translok mengaku rumahnya sudah tidak layak lagi ditempati setelah seminggu dihuni. “Ketika masuk dulu, kami sudah disibukkan dengan membersihkan debu bubuk kayu yang dimakan rayap. Selain itu jika hujan turun air masuk kedalam rumah. Dinding  juga basah kena rembesan air, ” keluhnya, didampingi isteri dan anaknya yang masih balita.
“Kalau hujan kasihan kami, apalagi anak saya. Juga di WC, lubang closetnya tersumbat, ” imbuh isteri Bernardus.
Yacobus Djami dan  Benyamin Maramba Awang pun senada. Ketua RT 12/24, Mutu Pabundung pun mengamini keluhan warga. “Benar itu semua. Ketika kami baru tempati rumah, lantai rumah sudah pecah-pecah. Hal yang sama juga terjadi pada kayu bangunan. Intinya, rumah di translok itu belum ditempati saja sudah hancur. Saya lihat, ini akibat dari pemborong yang tidak teliti dan bekerja kurang tanggungjawab. Petugas Nakertrans juga sudah turun lokasi, namun setelah itu tidak ada langkah lanjutannya,” tukas Mutu.
Yacobus mengeluhkan tidak respeknya Disnakertrans terhadap berbagai keluhan warga. “Kami sudah sampaikan keluhan ini dalam Musrenbangdes namun hingga kini tidak ada tanggapan berarti dari dinas,” timpalnya dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah Sabu.
Kadis Nakertrans Sumtim, Yohanes Ola Samon, SH dalam bebebrapa kali kesempatan ditemui nampak mengeluarkan statemen yang berubah-ubah. Terkesan, Ola Samon menutupi-nutupi kondisi riil dengan mencari berbagi argumen pembenaran. Wartawan juga dipersulit untuk mendapatkan data berupa Skep dan RAB terkait pembangunan Translok  yang didanai dari DAU 2006 senilai dari Rp 1,3 miliar itu. Sebelumnya, ia menyanggupi untuk menunjukan data/dokumen proyek kepada wartawan. Namun, setelah realita translok Papuu diungkapkan Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus  Adoe ketika memberikan sambutan dalam Raker Adkasi akhir Mei lalu, Ola Samon justru menolak menunjukkan data/dokumen ketika diminta wartawan. “Sebenarnya apalagi yang mau dilihat. Semuanya sudah dikerjakan sebagaimana mestinya. Lagipula, kerusakan yang ditemui sudah dan akan diperbaiki oleh kontraktor. Juga, setelah saya konsultasikan dengan kawan-kawan, disepakati tidak boleh kami tunjukkan, karena itu adalah dokumen negara, ” tandasnya berkelit dengan nada tinggi.  
Di tempat terpisah, Kabag Pembangunan Setda Sumtim, Gerald Haling Palakehelu, SH, MSi menjelaskan bahwa pihaknya akan segera menyikapi  persoalan translok ini dengan menurunkan tim ke lokasi. Ya, “Kami akan turun cek lokasi. Jika memang bermasalah maka sudah barang tentu menjadi tanggungjawab kontraktor dan dinas terkait,” tukas Gerald.
Hal serupa ditegaskan Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Ir. Yuspan Pasande, MSi ketika ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. Dia berjanji akan melihat langsung lokasi tersebut dan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Nakertrans sebagai pengguna anggaran. “Kami akan tinjau lapangan dan mencek apakah rumah disana dikerjakan sesuai bestek atau tidak. Namun, terima kasih, ini info bagus untuk kami. Keluhan warga memang harus segera disikapi dengan turun langsung ke lapangan. Tentunya, kondisi di lapangan nantinya bisa menjadi catatan tersendiri bagi kami untuk lebih jeli melakukan pengawasan dan bila perlu dalam menentukan kontraktor harus lebih berhati-hati. Kontraktor juga harus bertanggungjawab jika memang keluhan warga itu realistis,” jelasnya.
Siap Perbaiki
Sementara itu, Direktur PT Tunas Berdikari, Ridwan Oentono yang menjadi kontraktor pelaksana pembangunan Translok Papu’u berjanji akan segera memperbaiki berbagai kerusakan yang dikeluhkan warga. “Kami akan perbaiki kerusakan yang ada. Kami tinggal menunggu koordinasi dengan Disnakertrans,” ujarnya, kepada Mingguan Berita Rakyat.
Dia menampik sinyalemen yang menyebutkan bahwa pihaknya bekerja tidak sesuai bestek. “Kami rasa telah bekerja sesuai bestek, sebelumnya kami kerjakan ada pengawas dan konsultan. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Memang kami akui, dari ribuan batang kayu yang digunakan untuk pembangunan rumah di lokasi tersebut, bisa saja tersisip kayu basah. Tapi terus terang kami tidak sengaja melakukannya,” tandas Ridwan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Sumtim ini.
Tidak hanya itu, Ridwan juga berkelit, dengan menyatakan kerusakan yang terjadi bukan karena dikerjakan tidak sesuai bestek namun karena lamanya tenggat waktu rumah ditempati warga. Juga, karena ulah ternak yang dilepas berkeliaran. “Setelah selesai dibangun, tidak langsung ditempati warga. Ada tenggat waktu cukup lama. Saya juga curiga ada yang sengaja bikin rusak dan bisa juga karena diterjang ternak yang dilepas berkeliaran,” kilahnya.
Ridwan malah mensinyalir adanya permainan sejumlah oknum pengusaha lainnya untuk menjegalnya terkait pelaksanaan tender proyek translok di Yubu Wai. “Jujur, saya curiga  keadaan ini justru dimainkan oleh oknum-oknum lain yang ingin jegal saya. Apalagi dalam waktu dekat akan ada tender proyek Translok Yubuwai. BPK dan Banwas dalam laporan pemeriksaan sebelum proyek itu diserahterimakan tidak menemukan kesalahan dalam pelaksanaan proyek ini. Tapi tetap akan kami perbaiki, jika memang ada kerusakan. Jangankan dalam masa pemeliharaan, lewat masa pemeliharaan pun akan tetap kami perbaiki. Ini untungnya, jika proyek dikerjakan kontraktor lokal. Kami tidak bisa lari kemana-mana,” ungkap dia.
Rupanya Ridwan tak sekedar membual. Pantauan Mingguan Berita Rakyat di lokasi translok, nampak sejumlah rumah dan ragam kerusakannnya sudah diperbaiki. Namun demikian, masih ada warga yang merasa diperlakukan sebagai ‘anak tiri’, dikarenakan rumah mereka belum juga terjamah perbaikan.
Meski sempat nampak ragu dan takut untuk memberi keterangan, namun mereka akhirnya mau bercerita. Diduga mereka tak mau memberi penjelasan kepada pers karena telah diintimidasi oknum-oknum tertentu. Warga mengaku salut dengan kontraktor pelaksana yang mau memperbaiki kerusakan bangunan. “Tanggungjawab itu diwujudkan sejak dari awal mengerjakan pekerjaan proyek, bukan hanya setelah muncul masalah baru katakan bersedia bertanggungjawab,” tandas senada sejumlah pihak. (by. saw)