Peziarah Paskah Larantuka Meninggal


sergapntt.com, LARANTUKA – Bruder Markus Rojasuka SVD (62) yang melakukan ziarah pada prosesi Jumat Agung di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggal ketika hendak mengikuti misa Kamis Putih, Kamis (5/4/2012) kemarin.
Jenazah Bruder Markus telah dibawa ke Mataloko, Ngada, hari Jumat (6/4/2012) ini pukul 04.00 Wita.
Ia terjatuh di dalam Gereja Katederal Reinha Rosari Larantuka, ketika akan menunggu misa Kamis Putih yang akan dimulai pukul 18.30.
“Beliau sempat dilarikan ke RSUD Larantuka, tetapi tak tertolong karena sudah meninggal dalam perjalanan. Beliau meninggal karena serangan jantung,” kata Sekretaris Panitia Pekan Suci Paskah Paroki Katederal Reinha Rosari Larantuka, Plasidus Nuba Ata Maran, Jumat, di Larantuka.
Bruder Markus terakhir bertugas di Keuskupan Palangkaraya, dan ke Larantuka untuk berziarah bersama sejumlah umat dari Keuskupan Palangkaraya.
Rencananya jenazahnya akan dimakamkan pada Sabtu (7/4/2012) di Mataloko.
by. ces/kompas.com

Pemrov NTT Diminta Tingkatkan Jalan Bajawa-Riung


Paulus Soliwoa

sergapntt.com, BAJAWA – Wakil Bupati Kabupaten Ngada, Drs. Paulus Soliwoa meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) segera meningkatkan jalan Bajawa – Riung menjadi jalan proritas. Ini untuk mendukung perkembangan potensi pariwisata di Taman Laut 17 Pulau Riung.   

“Jalan Bajawa – Riung itu sekitar 70 kilo meter. Kondisinya memprihatinkan. Saya sudah sampaikan ke Bappeda NTT agar status jalan itu ditingkatkan menjadi jalan prioritas. Sebab, salah satu potensi pariwisata NTT ada di Riung. Potensi ini yang kita mesti dukung. Karena akan membawa dampak perbaikan ekonomi dan sosial,” ujar Soliwoa kepada SERGAP NTT di Bandara So’a, Rabu (4/4/12) lalu.
Menurut Soliwoa, selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada hanya memperbaiki jalan rusak secara darurat. Ini karena minimnya dana.
“Karena kita kekurangan dana, ya,,,, jalan-jalan yang berlubang dan rusak parah, terpaksa kita hanya tambal dengan material apa adanya,” paparnya.
Pantauan SERGAP NTT menyebutkan, jalan rusak berat mulai terlihat dari Natarandang hingga Wangka. Toh begitu, wisatawan lokal maupun asing terus berdatangan ke Riung untuk menikmati pesona taman laut.
“Inikan libur Paskah. Lebih enak habiskan waktu libur di Riung,” ujar Rinto, warga Manggarai Timur saat bincang-bincang dengan SERGAP NTT di Riung, kemarin.
Sama halnya dengan Marthen Holdosky. Pelancong asal Jerman ini telah dua minggu berada di Riung. Ia mengaku betah dan tak pernah puas menyaksikan panorama taman laut Riung.
“Ini luar biasa. Ini hanya ada satu di dunia. Saya suka ini. Saya akan pulang satu bulan lagi,” imbuhnya.
By. Chris Parera   

Paskah Dihadapan Kubur Kosong


BERBEDA dengan kitab-kitab Injil lainnya, Injil menurut Markus menutup tuturannya dengan mengejutkan sekali: “Lalu mereka (para murid Yesus) keluar dan lari meninggalkan kubur (Yesus) itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut” (Mrk 16:8). Karena sedemikian mengejutkannya, sampai-sampai penyunting dan penyalin Injil Markus itu kemudian menambah ending sampai 12 setengah ayat lagi; namun para ahli Biblika bersepakat, Markus (kitab Injil tertua itu) menutup narasi hidup Yesus dengan kisah Kubur Kosong!
Siasat apa yang Markus tengah rancang melalui narasinya itu? Mengapakah kisah Paskah-Kebangkitan seolah hendak dibelokkan oleh Markus menjadi kisah yang terbuka, penuh tanya, dan lalu malah diberi arah baru, bahwa murid-murid Yesus harus pergi ke Galilea (Mrk 16:7), dan harus terus menempuh jalan panjang lagi?
Juga, mengapa Markus menulis penampakan malaikat yang memberitakan kabar kebangkitan Yesus pertama-tama diungkapkan kepada para perempuan, yang dalam tradisi patriarkat Yahudi dianggap sebagai makhluk yang tidak terpercaya dan tidak objektif menangkap fakta?
Bukankah nanti Kebangkitan bisa menjadi gosip, kabar angin, dan produk sikap subjektif?
Rupanya, sang redaktur Injil itu (baca: Markus) berada di tengah krisis, dan konteks itulah yang mendorongnya melancarkan kiat sastra yang jitu saat menulis kitab Injil Markus.
Ia adalah bagian dari generasi kedua Kekristenan yang terkejut dengan deraan hidup, yang dikira semula akan usai kalau Kristus yang bangkit datang mengangkat mereka keluar dari beban sehari-hari. Sehingga, suatu iman yang mengira bisa secara penuh mengubah realitas, bagi Markus, malah akan membahayakan Kekristenan.
Bagi Markus, kebangkitan bukanlah triumfalismetotal atas kesusahan sehari-hari. Paskah bukanlah kemenangan akhir. Baginya, Paskah berarti bahwa jalan masih terbuka (“sekarang pergilah … ke Galilea”) untuk bertemu Kristus Sang Anak Manusia itu, di setiap perkara hidup.
Dan, jalan terbuka itu harus dijalani terus, apalagi semua tahu, Kristus Sang Anak Manusia baru saja berjalan dengan kepala yang berdarah.
Jangan sampai mahkota duri terlupakan, sebab melalui ketekunan menghadapi kesulitan hidup sehari-harilah Yesus dinyatakan sebagai kekasih Allah.
Hal itu perlu dicatat, sebab sejak semula para murid Yesus saat itu hanya mau melihat Yesus selaku Mesias-Penebus, yang memberi mereka makan (melalui mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan).
Akan tetapi, mereka buta mengenai Yesus Sang Hamba Allah yang menderita, yang memberi nyawa-Nya bagi sesama (Mrk 10:35-45).
Makanya, makin tambah penjelasan mengapa Markus menutup kisah Injil-nya dengan mendadak dalam lakon para murid yang takut, hal itu dilakukan agar kita kini -pembaca kontemporer Injil Markus- masuk dan menggantikan para murid yang tersekap dalam gentar dan kecut itu.
Kini, kita pun berdiri di hadapan kubur kosong, dan dipesankan bahwa Yesus sudah bangkit, dan malah telah mendahului kita melanjutkan lagi perjalanan memasuki setiap kelok perkara hidup sehari-hari. Dan, jalan terus terbuka, sekalipun berita kebangkitan itu lebih sebagai produk sikap subjektif iman, bukan suatu ihwal objektif yang beku.
Kita yang berdiri di hadapan jalan yang terbuka itu -sambil menemukan inspirasi dari kisah Paskah menurut Injil Markus – perlu juga terus ikut mengambil langkah menemukan makna kisah Paskah ini bagi kita. Paskah-Kebangkitan tampaknya serentak adalah suatu tindakan Allah dan juga langkah manusia.
“Kebangkitan Yesus Anak Manusia yang mati di salib” itu kini menjadi suatu metafora rohani, suatu pesan akan keserbamungkinan untuk tetap melangkah dan tidak tersekap dalam fatigue (kelelahan buntu) hidup sehari-hari di negeri yang mencoba bertransisi ini.
Dan, tampaknya memang hari-hari kita sudah lelah pasca-tumbangnya rezim Soeharto: mulai dari kerusuhan, konflik horizontal, kekerasan konspiratif aparat negara, sampai kegalauan menghadapi kebijakan kenaikan BBM yang tampak angkuh dan tak perduli dengan hidup sehari-hari rakyat kecil.
Tetapi, justru kita tidak boleh berlindung pada agama di tengah-tengah semua itu, tidak juga kita boleh mengungsi kepada Tuhan. Paskah bukan tentang jaminan bahwa semua hal akan dibereskan oleh Tuhan, bukan pula semua kesulitan akan lenyap.
Paskah, bagaimanapun, bukan perayaan akhir zaman. Namun, Paskah adalah undangan bagi manusia -yang kalau mau memakai mata hati imannya – untuk terus melangkah, bekerja dengan mata yang terarah ke depan. Ia kiranya sudi bekerja dalam detail-detail keseharian, dan mencoba memantapkan kakinya, walau tahu bahwa arah hidup bersama di Indonesia ini serba tidak menentu.
Dan, kiranya ia juga melihat bahwa Allah adalah horizon harapan itu sendiri, yang entah mengapa, membuatnya tidak menghindar lari dari musim pancaroba yang panjang di negeri ini. Juga, dalam perspektif Paskah sedemikian inilah kita perlu memerikan ihwal besar, namun tetap tampak tak terpahami, yang melanda bangsa kita, yaitu tsunami Desember lalu.
Mungkin sebelum ke soal tsunami Aceh-Nias itu, ada pengalaman lain yang juga tak terperikan, yang dialami anak-anak Yahudi, yaitu peristiwa shoah (holocaust, pembasmian besar-besaran) di zaman Nazi-Hitler itu. Bahkan seorang seperti Ulrich E Simon (yang menulis A Theology of Auschwitz) mengatakan, tanpa Kebangkitan (Yesus) shoah betul-betul neraka.
Baginya, peristiwa yang tak terpahami di masa lalu hanya bisa dihapuskan oleh peristiwa di masa depan. Dengan demikian makna Paskah berarti juga bahwa jejak kebangkitan telah mulai menjejas di jalan kita, dan di hadapan kita terbentang penyingkapan baru yang akan menjelaskan makna peristiwa yang membingungkan sekalipun.
Dan, sikap atas tsunami kiranya sama: kita memang tak paham mengapa hal itu terjadi di Aceh-Nias, dan agama-agama yang hanya bermodalkan teologi “hukuman-berkat” tidak akan mampu lagi menjelaskan soal itu. Tak mungkin dikatakan bahwa Tsunami adalah hukuman Ilahi, tak juga ada yang berani mendedah bahwa kita yang lolos darinya diberkati Tuhan.
Dengan berita Paskah, kita umat beragama diingatkan akan kebangkitan, dan itu berarti kemungkinan hidup masih terbuka di depan kita semua. Kalau begitu, hanya kerja demi masa depan yang baik yang maksimal kita bisa percayai sebagai pesan Tuhan bagi bangsa kita saat ini.
Memang -sekali lagi – kita harus terus berjalan dan pergi ke “Galilea”, suatu kota simbolik di masa depan, di mana umat yang lelah berjalan tetap giat bekerja membangun komunitas bersama yang baru.
By. Martin L Sinaga

Tiga Keajaiban di Jumat Agung


JUMAT Agung adalah hari yang istimewa. Tidak biasanya orang Kristen bersekutu pada hari Jumat. Hari persekutuan dan ibadah Kristen sepanjang segala masa adalah hari pertama dalam seminggu. Bukan hari keenam, atau Jumat. Dan kalau anak-anak kita bertanya: “Mengapa Jumat Agung lain dari Jumat-Jumat yang biasa? Jawaban yang pasti dari para orangtua: “Karena pada hari Jumat Agung Yesus Kristus mati. Ia disalibkan dan menyerahkan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang”. Tentu saja jawaban ini benar. Tuhan Yesus mati pada hari Jumat.
Jumat Agung adalah hari yang unik. Kalau Matius hanya mencatat dua hal luar biasa. Lukas mencatat bagi kita tiga kejadian ajaib yang membuat Jumat yang satu itu lain dari kebanyakan hari Jumat. Pertama, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Kedua, tabir Bait Suci terbelah dua. Ketiga, kepala pasukan penyaliban memuliakan Allah di depan umum. Tulisan ini akan terfokus pada ketiga keajaiban di Jumat yang Agung. Pertama: ada kegelaan meliputi seluruh daerah itu dari jam dua belas sampai jam tiga.
Matahari tidak mau bersinar. Bumi menjadi gelap. Mengapa begitu? Para ilmuwan bisa saja menjawab: ya itu terjadi karena gerhana matahari total yang terjadi pada waktu itu. Jawaban ini tidak mungkin. Karena gerhana matahari hanya bisa terjadi jika bulan gelap. Tetapi pada saat itu orang Yahudi merayakan paskah. Perayaan paskah selalu terjadi pada saat bulan purnama. Menurut perhitungan kalender Israel bulan baru selalu mulai dengan awal munculnya bulan. Hari keempat belas dari bulan baru, yaitu saat dimana domba paskah harus disembelih, jatuh sama dengan bulan purnama. Pada waktu itu posisi bulan berseberangan dengan matahari. Bumi berada di antara bulan dan matahari. Gerhana matahari hanya mungkin terjadi kalau bulan berada di antara matahari dan bumi.
Jadi gelap gulita yang terjadi pada hari Jumat Agung tidak ada sangkut paut dengan gerhana matahari. Kegelapan saat itu adalah sebuah kejadian yang janggal. Ia bukan gejala alam biasa, yakni gerhana matahari. Lalu apa sebenarnya penyebab kegelapan itu?
Saya ajak kita melakukan anjangsana ke perjanjian lama. Baiklah kita ingat kembali kisah penciptaan. Kalimat pertama dari Alkitab berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum terbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera raya”.
Bumi berada dalam gelap. Bumi baru mengenal terang waktu Allah mulai bertindak. Itu sebabnya Kitab Kejadian melaporkan bahwa pekerjaan yang dilakukan Allah pada hari pertama adalah “menjadikan terang”. Terang datang dari Allah. Karya Allah identik dengan terang. Dan karya Allah berlangsung dalam terang.
Allah menciptakan terang pada hari pertama. Tapi itu saja belum cukup. Pada hari keempat, terang itu dilipatgandakan lagi oleh Allah dengan menciptakan benda-benda penerang. Apakah dengan itu gelap sudah terusir dari dunia? Ternyata tidak. Kegelapan masih saja ada. Yesaya 9:1 masih bicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Bagaimana itu mungkin, padahal Allah sudah menjadikan terang dan membuat benda-benda penerang?
Rupanya betapa pun baik dan berguna terang itu, ia tidak mampu menghalau semua kejahatan dari muka bumi. Karena terang itu hanyalah ciptaan. Untuk benar-benar menghalau kegelapan dari muka bumi, terang yang sejati harus datang ke dalam dunia. Yesuslah terang yang sejati. Terang yang sesungguhnya. Terang yang diciptakan Allah pada hari pertama dan yang dipancarkan dari benda-benda penerang hanyalah pantulan atau refleksi dari terang yang sejati itu. Terang dalam Kejadian 1:3 dan terang yang dipancarkan benda-benda penerang, yaitu matahari, bulan dan bintang, tidak memiliki terang sendiri. Mereka menjadi terang karena ada terang yang sejati, yaitu Allah. Manusia harus dapat mengerti terang dan fungsinya jika mereka ada dalam terang. Itu sebabnya pemazmur 36:10 berkata: in lumine tou videmus lumen yang artinya: “dalam terangmu kami melihat terang”.
Lalu apa hubungan gelap gulita di Jumat yang Agung dengan data yang saya kemukakan ini? Yang pertama, dengan cerita ini Lukas hendak menegaskan bahwa dunia kembali kepada keadaannya semula. Dunia benar-benar hidup tanpa Allah pada saat Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Itu sebabnya dunia diliputi kegelapan. Bukan kegelapan biasa karena gerhana matahari. Tetapi kegelapan luar biasa. Kegelapan yang dahsyat, kegelapan karena hidup tanpa Allah. Dan memang demikian adanya. Dua belas jam terakhir dari kisah hidup Yesus memperlihatkan betapa kejamnya manusia. Manusia telah benar-benar hidup tanpa Allah. Hati mereka menjadi gelap. Mereka bukan hanya memutarbalikkan kebenaran. Tetapi berusaha membunuh kebenaran. Manusia bukan hanya menangkap dan mengadili Yesus dalam kegelapan. Mereka juga ingin memusnahkan terang yang sejati itu dari muka bumi.
Gelap gulita di Golgota pada Jumat yang Agung ini menunjukkan bahwa dunia dan manusia belum melangkah jauh dalam hal kebenaran dan kasih. Umur dunia sudah tua, tapi manusia yang menduduki dunia masih ada pada titik start, nol kilometer.
Kedua, matahari menjadi gelap, karena Tuhan yang adalah sumber dari mana matahari memperoleh terang telah tiada. Seumpama lampu, nyala api matahari padam karena minyak yang menyalakannya sudah habis. Kristus sudah mati. Terang yang sesungguhnya sudah tiada. Matahari menjadi malu dan tidak tahan melihat bagaimana kejamnya perlakuan manusia terhadap sang terang. Itu sebabnya matahari menutup matanya. Ia tidak mau bersinar. Dalam Kitab Matius dan Lukas dikisahkan bahwa bukan hanya matahari yang menjadi gelap. Tetapi ada juga gempa bumi yang dahsyat. Bumi gemetar ketakutan waktu menyaksikan sumber hidup dan sang penciptanya dilumatkan oleh kuatnya dosa dan pemberontakan manusia.
Inilah arti dari kejadian ajaib pertama di Jumat Agung. Tapi, kuatnya dosa itu tidak berlangsung lama. Kejahatan yang bersimaharajalela, bahkan sampai menyerang Allah tidak bertahan. Ia hanya berlangsung sekejap. Hanya tiga jam. Memang cukup lama, tetapi tidak selamanya. Kegelapan pasti akan berlalu. Kejahatan tidak punya masa depan. Pada hari paskah nanti, hari kebangkitan Yesus, ia akan benar-benar pergi dan takluk pada sang terang dunia. Ini juga pelajaran penting bagi kita. Kejahatan memang ganas tetapi seganas apa pun kejahatan itu, ia tidak punya masa depan. Akan tiba waktunya dimana kejahatan dilucuti dan para pelaku kejahatan akan dihadapkan ke pengadilan. Sekarang mungkin tidak, karena pengadilan dan para hakim kita masih hidup tanpa Allah waktu hendak mengambil keputusan. Tapi nanti, waktu sang hakim yang agung itu datang semua kejahatan akan tersingkap.
Tanda ajaib yang kedua: tirai Bait Allah terbelah dua. Di Bait Allah tergantung dua tirai/layar. Yang pertama di pelataran depan yang memisahkan ruang untuk umum dan ruang yang kudus. Layar kedua tergantung di antara ruang kudus dan ruang maha kudus. Mana dari kedua layat ini yang terbelah tidak disebut dalam Alkitab. Kita hanya bisa menduga. Terbelahnya tirai ini tentu punya maksud atau pesan. Kalau maksudnya untuk mengumumkan bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka kepada semua manusia, maka yang tercabuk itu haruslah tirai yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus. Tetapi ini berarti hanya imam besar saja yang melihat dan mengetahui hal itu.
Sudah pasti bukan ini yang dimaksudkan Lukas. Tirai yang tercabik yang dimaksud Lukas haruslah tirai yang ada di antara ruang untuk umum dan ruang kudus. Dan kalau itu yang terjadi, maka tercabiknya tirai tadi hendak menegaskan bahwa dengan kematian Yesus Allah mengumumkan bahwa Ia tidak mau lagi terkurung hanya dalam Bait Allah dan hanya bisa ditemui di gedung kebaktian. Sejak saat itu Allah tidak hanya bisa ditemui di Bait Allah. Ia ada dalam perjalanan kepada bangsa-bangsa. Dia mau juga disembah dan dihormati di tempat-tempat yang bukan gedung kebaktian atau Bait Allah. Bukan hanya para imam saja yang dapat berbicara dan melayani Dia. Orang kebanyakan juga dapat bertemu Tuhan Allah secara langsung.
Pesan ini sesuai dengan dengan teologi kitab Injil Lukas. Karena keyakinan ini, Lukas tidak segan-segan bercerita tentang pekabaran Injil yang mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Lukas juga memperoleh keberanian untuk menulis kepada seorang bukan Yahudi (Teofilus) dengan maksud meyakinkan dia bahwa cerita tentang Yesus adalah benar. Bahkan hanya Lukas sajalah yang memuat cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37). Cerita yang memberikan kepada kita kesan sangat mendalam bahwa pelayanan dan penyembahan kepada Allah tidak melulu terjadi di Bait Allah atau tempat doa. Menolong sesama yang sedang dalam kesulitan, mengasihi dan memberi perlindungan kepada seorang asing atau dia yang memusuhi kita adalah perbuatan beribadah kepada Tuhan.
Kita yang merayakan Jumat Agung perlu tahu keajaiban ini, sehingga mulai belajar untuk menyembah Allah bukan hanya di gedung ibadah dan rumah doa, tetapi juga di setiap tempat dimana saja kita berada.
Keajaiban ketiga, seorang non Yahudi, bangsa tidak bersunat, kepala pasukan penyaliban berkata di hadapan umum: “Sungguh, orang ini adalah orang benar374Kita lihat di sini bahwa Allah tidak menyembunyikan kebenaran kepada orang non Yahudi. Allah adalah Tuhan yang tidak diskriminatif. Kasih juga tidak pilih muka. Allah memberikan kepada orang yang percaya maupun orang kafir kemampuan untuk mengenal kasih dan menghormatinya.
Tidak ada dosa yang begitu berat sehingga menghalang-halangi kuasa Allah. Tidak. Kepala pasukan penyaliban digerakkan hatinya oleh Allah untuk mengenal kasih dan kebenaran. Dengan mengakui bahwa Yesus adalah orang benar di depan umum, ia mengaku diri sebagai yang melakukan satu tindakan yang salah dan keliru. Si kepala pasukan penyaliban tidak berusaha membela diri, ia mengakui kekeliruannya dengan terbuka dan jujur.
Seorang kepala pasukan mengaku diri berbuat kesalahan dan kekeliruan. Itu diucapkan di depan umum. Lukas melihat ini sebagai sebuah keajaiban. Ia mencatat ini dalam kitab yang dia peruntukan kepada Teofilus, seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan Roma waktu itu. Ia tentu mencatat keajaiban ini dengan maksud agar mendorong Teofilus waktu itu, dan Teofilus-Teofilus masa kini untuk meniru contoh kepala pasukan penyaliban.
Akhirnya, Lukas memberi kesaksian bahwa pada Jumat Agung yang pertama ada tiga peristiwa ajaib. Kita sudah lihat keajaiban itu satu persatu. Tentu saja tidak dengan maksud mengatakan bahwa keajaiban-keajaiban itu hanya terjadi pada Jumat Agung yang pertama saja. Lukas catat hal itu untuk mendorong kita agar menjadikan Jumat Agung yang kita peringati kini dan di sini juga menjadi Agung yang di dalamnya ada keajaiban-keajaiban yang bisa disaksikan orang lain.
By. Dr. Eben Nuban Timo

Refleksi Paskah: Secarik Tissue Berbercak Merah


“Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kisah Para Rasul 2:23) Membaca dan menjelajahi keempat Injil Tuhan Yesus Kristus dengan seksama di atas meja ruang belajar rumah, sering kali menyebabkan saya secara refleks meraih sebuah kotak kecil yang terletak di atasnya, tepatnya di ujung sebelah kiri meja, untuk berkali-kali mencabut secarik “tissue” putih dari dalamnya.
Ketika membaca beberapa kisah di dalam Injil-Injil tersebut, saya menyadari secara tidak langsung keselarasan tindakan-tindakan mereka yang tercantum di sana sebagai orang-orang yang hidup di sekitar Tuhan Yesus, dengan perbuatan-perbuatan saya sendiri selama ini. Isi firman Allah tampak begitu relevan dengan perjalanan hidup yang saya lalui.
Menyadari segala tindakan yang telah, sedang dan akan saya lakukan, bagaimana saya bisa menyangkal kenyataan, bahwa saya tidak membutuhkan tissues lembut tersebut?
Karena nubuatan nabi Yesaya yang sudah terjadi 2000 tahun yang lalu, ternyata masih tetap digenapi sampai sekarang: “Tetapi dia ditikam oleh karena PEMBERONTAKAN kita, dia diremukkan oleh karena KEJAHATAN kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5)
Pertama-tama, ketika saya memperhatikan gaya hidup wanita Samaria yang bertemu dengan Tuhan Yesus di sumur Yakub, saya bisa menghayati kehampaan hidup yang dilalui olehnya. Bagaikan dia yang pada waktu itu sedang hidup di dalam dosa perzinahan, saya juga pernah mengembara dari satu hubungan “asmara” ke hubungan-hubungan yang lain, hanya untuk mengejar “kepuasan” tanpa pernah berhasil menemukan makna dan tujuan yang sebenarnya. (Yohanes 4:1-42)
Begitu pula para pendengar setia yang mengikuti Tuhan Yesus ke manapun Ia pergi. Seperti mereka, saya juga pernah duduk di dekat kaki-Nya untuk mendengarkan firman yang diucapkan oleh-Nya. (Lukas 8:4-15) Firman yang tidak pernah saya cernakan di dalam hati, karena hanya masuk melalui telinga kiri, lalu menerobos keluar lagi lewat telinga yang sebelah kanan!
Membaca kisah mengenai wanita yang menderita sakit pendarahan selama 12 tahun, saya menjadi teringat akan semua penderitaan yang harus saya lalui seorang diri dirantauan, ketika sedang ditimpa musibah penyakit yang cukup parah. Karena pada waktu itu, tiba-tiba saja saya menjadi sadar akan keberadaan-Nya lagi! Bagaikan tindakan wanita yang tidak pernah mau menyerah, dengan iman yang menyala-nyala saya juga berusaha meraih dan menjamah jumbai jubah Tuhan Yesus untuk menerima kesembuhan-Nya. (Lukas 8:43-48)
Tetapi yang sangat menyedihkan, kerap kali sikap saya tidak berbeda jauh dengan kesembilan orang yang menderita penyakit kusta yang menganggap, bahwa mereka tidak perlu pergi menemui-Nya lagi untuk mengucapkan terima kasih atas kesembuhan yang sudah mereka dapatkan. (Lukas 17:11-19)
Seperti orang-orang tersebut, saya merasa, bahwa kesembuhan yang dikaruniakan oleh-Nya adalah sesuatu hal yang amat lumrah. Bukankah sedari dahulu “privilege” seperti itu sudah menjadi hak semua orang, … apalagi saya?
Bahkan tidak jarang, bagaikan para imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi, yang selalu mencurigai kemutlakan kuasa Tuhan Yesus Kristus atas segala sakit-penyakit yang ada di dunia (Matius 21:23-27), dengan sinis sekali saya juga meragukan kesaksian orang-orang yang berani mengatakan di depan umum, bahwa mereka baru saja menerima kesembuhan-kesembuhan supranatural dari-Nya. Entah yang dikaruniakan kepada mereka melalui doa-doa orang percaya dari gereja lokal mereka, ataupun melalui acara-acara KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) yang diadakan oleh hamba-hamba Tuhan yang khusus diurapi oleh-Nya untuk melayani di bidang tersebut.
Di dalam kasus wanita yang tertangkap basah sedang berzinah di siang hari bolong, saya adalah salah seorang di dalam gerombolan lelaki yang mempunyai hasrat paling besar untuk segera merajam dia menggunakan batu yang ada di dalam genggaman tangan saya. Bagaimana tidak, bukankah ia sudah berani melanggar dan mengkhianati hukum Taurat?
Kendatipun jelas sekali, bahwa pasti ada dua insan yang terlibat di dalam dosa perzinahan itu, saya merasa layak sekali untuk menghakimi wanita tersebut seorang saja, bahkan membunuhnya! Dibutakan oleh kegeraman hati saya sendiri, saya menjadi lupa, bahwa sikap hidup dan tingkah laku saya tidak berbeda sama sekali dengan perbuatan laki-laki mesum yang sudah ikut mengambil bagian yang setara di dalam dosa perzinahan tersebut! (Yohanes 8:2-11)
Jangankan menghakimi, ” mengutuki orang-orang yang sudah menjengkelkan hati, oleh karena mereka selalu menghalangi, bahkan menentang “kehendak” saya pun, sering menggoda benak pikiran saya. Tidak jarang saya menggerutu dengan hati gemas, “menganjurkan” kepada Tuhan untuk segera membantu melaksanakan hasrat keinginan saya, yaitu memberi hukuman yang “setimpal” kepada mereka. Seperti kutukan yang dianjurkan kepada Tuhan Yesus oleh kedua murid-Nya, rasul Yohanes dan rasul Yakobus, untuk memusnahkan seluruh penduduk desa di Samaria yang sudah menolak kedatangan mereka: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Lukas 9:54b)
Di dalam hal mengampuni kesalahan orang-orang lain, kiasan yang diceriterakan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya di Matius 18:21-35 telah jitu mengenai sasarannya di dalam hati saya! Bagaikan tindakan hamba yang jahat, yang meskipun baru saja dibebaskan oleh rajanya dari seluruh hutangnya yang berjumlah sangat banyak, seperti dia, sering kali saya melupakan belas kasihan tersebut, di mana saya masih berani menuntut orang-orang lain untuk segera membayar kembali hutang mereka kepada saya. Kendatipun sebenarnya dibandingkan dengan karunia pembebasan hutang saya, jumlah yang mereka pinjam tidak mempunyai arti sama sekali!
Sampai sekarang peringatan Tuhan Yesus kepada semua orang yang tidak bersedia mengampuni kesalahan sesamanya di akhir kisah yang amat mengerikan tersebut, tetap menimbulkan rasa gentar di dalam hati saya!
Menyamakan diri dengan seorang rasul seperti Petrus, tampak agak kurang pantas. Tetapi kenyataannya, kami memang memiliki beberapa karakter-karakter yang serupa! Salah satu di antaranya adalah, cepat sekali berkata-kata ” tanpa memperhitungkan kemampuan untuk melaksanakannya, atau ” tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi sebagai akibatnya.
Beberapa kali saya mempunyai hasrat seperti dia, yaitu mengikrarkan iman saya kepada-Nya: “Aku tidak akan pernah menyangkal Engkau, Tuhan!” (Matius 26:30-35), ” di depan umum, dan tanpa merasa malu! Tetapi justru pada saat-saat yang paling kritis, di mana hasrat tersebut bisa saya buktikan, seperti yang sudah dilakukan oleh rasul Petrus, saya juga menyangkal Dia. Dan yang amat menyedihkan, ” perbuatan itu tidak saya ulangi hanya tiga kali saja!
Kerap kali kelakuan saya juga tidak berbeda jauh dengan Nikodemus, orang Farisi yang hanya berani menemui Tuhan Yesus secara sembunyi-sembunyi, … di tengah malam buta. Seperti dia, saya merasa takut dipergoki oleh teman-teman sedang duduk bercakap-cakap dengan Dia, karena saya merasa enggan sekali akan kecaman orang-orang “Farisi” lainnya! (Yohanes 3:1-21)
Yang paling tragis, … saya juga pernah bertindak seperti salah seorang dari murid-murid yang dibasuh kakinya pada malam perjamuan terakhir, makan dan minum semeja dengan Dia, tetapi kemudian pergi “menjual” Dia. (Yohanes 13:1-30)
Ya, saya bisa melihat ciri-ciri tabiat Yudas di dalam sikap hidup saya sendiri! Karena jauh sebelum saya “ditangkap” kembali oleh kasih karunia-Nya, saya memutuskan untuk membelakangi, bahkan meninggalkan Tuhan, demi kepuasan-kepuasan semu yang telah lama memikat dan menggoda diri saya, yang ditawarkan kepada kaum muda-mudi oleh dunia bebas di sekeliling saya.
Tanpa saya sadari sendiri, kembali tangan saya meraih kotak kecil yang terletak di ujung sebelah kiri meja, untuk mencabut secarik tissue putih yang amat lembut dari dalamnya.
“Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.” (Matius 12:14)
“SALIBKAN DIA!”
“Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kolose 1:19-20)
Seperti saya, pernahkah Anda membayangkan: “Andaikan saja aku seorang Yahudi yang hidup di zaman Tuhan Yesus, … pasti aku tidak mau terlibat dengan bangsaku yang telah menolak Dia sebagai Mesias kami. Apalagi ikut mengambil bagian di dalam penyaliban-Nya!”
Tetapi, ” apakah “fair untuk mengutarakannya tanpa mempelajari terlebih dahulu keadaan zaman pada waktu itu? Bukankah para “pejabat” agama Yahudi yang mempunyai kuasa untuk mengancam kehidupan orang-orang yang berani menjadi simpatisan-simpatisan Tuhan Yesus … cukup menakutkan! Kekuasaan mereka tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang pada saat ini memegang kedudukan di tempat-tempat “maha tinggi”, baik di dalam masyarakat maupun di dalam gereja Tuhan, yang dapat mempengaruhi “nasib” ekonomi rumah tangga kita?
Tampaknya di situ saya tidak terkecualikan, karena ternyata ” sering kali saya masih bisa mendengar dengungan gema jeritan lantang suara saya di tengah-tengah teriakan orang-orang lain, yang sudah menggetarkan tambur telinga saya sendiri: “Salibkan Dia!” (Markus 15:13)
Padahal beberapa hari sebelumnya, saya juga termasuk di dalam kelompok orang-orang yang bersukacita menyambut kedatangan-Nya, berseru-seru dengan penuh semangat sambil bertepuk tangan di sepanjang jalan menuju ke pintu gerbang kota Yerusalem. Bersama mereka saya ikut memuji-muji Dia: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12:13)
Mungkin sekali sikap saya terhadap Dia menjadi berubah, oleh karena saya adalah salah seorang dari para pedagang kaki lima di halaman Bait Allah, yang menderita kerugian amat besar oleh karena tindakan-Nya, di mana Ia, dengan penuh kemarahan, telah mengobrak-abrik dan menghancurkan barang-barang “dagangan” yang kami tawarkan di sana! (Matius 21:12-13)
Pada malam bersejarah saat Ia ditangkap di taman Getsemani, saya adalah salah seorang pengikut-Nya yang menjadi takut dan lari terbirit-birit meninggalkan-Nya, membiarkan Dia seorang diri untuk menghadapi para pemimpin agama Yahudi yang sangat berapi-api ingin segera mengadili dan membunuh-Nya. (Markus 14:50)
Ketika menyaksikan segala sesuatu yang terjadi pada diri-Nya di taman tersebut, seperti yang sudah dialami oleh para pengikut-Nya yang lain, iman saya merapuh, hancur luluh menjadi bubur, laksana secarik tissue putih lembut yang basah kuyup, yang ada di dalam genggaman erat telapak tangan saya.
Benak pikiran saya mulai dipenuhi oleh perasaan bimbang, mempertanyakan semua kebenaran perkataan-perkataan dan janji-janji yang pernah Ia ucapkan. Karena iman saya pada waktu itu sudah tidak berbeda jauh dengan iman rasul Tomas, murid pendua hati yang selalu menuntut bukti-bukti yang konkret dari kebenaran yang telah didengar olehnya! (Yohanes 20:24-29)
Pada saat-saat terakhir menjelang kematian Tuhan Yesus di kayu salib, saya adalah salah seorang dari kedua penyamun yang tersalib di sisi kiri dan kanan-Nya. (Matius 27:38)
Saya harus mengakui dengan jujur, bahwa selama ini tingkah laku dan tindakan-tindakan saya tidak berbeda sama sekali dengan perbuatan jahat penyamun tersebut! Karena tidak jarang saya menipu, mencuri, bahkan merampas hak-hak orang lain untuk kepentingan dan keuntungan diri saya sendiri. Entah itu dalam bentuk waktu, pajak negara, pekerjaan, peralatan kantor, uang, kehormatan, kemuliaan, atau ” hal-hal “KECIL” lainnya yang tampak sangat tidak berarti pada waktu saya lakukan, tetapi bisa mengakibatkan kerugian amat besar bagi orang-orang lain!
Seperti dia, walaupun dalam keadaan sekarat dan tanpa harapan, penuh penyesalan saya masih memiliki keberanian untuk memohon kepada Tuhan: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lukas 23:42)
Begitu pula kepala pasukan Romawi yang ditugaskan untuk memimpin pelaksanaan penyaliban Tuhan Yesus di atas bukit Golgota, yang telah menyaksikan sendiri semua KEAJAIBAN yang terjadi pada detik-detik terakhir sebelum kematian-Nya.
Bagaikan kepala pasukan tersebut, saya juga ikut terpana mendengar kata-kata penuh kasih dan pengampunan yang Ia ucapkan dengan lirih di tengah-tengah penderitaan-Nya sendiri, bagi mereka yang menyalibkan-Nya: “Ya Bapa, ampunilah MEREKA, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a)
Sampai saat ini ayat termasyhur itu masih selalu menimbulkan suatu rasa pilu di dalam hati yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, karena saya tahu, SIAPA yang dimaksudkan oleh-Nya!
Secara refleks kembali tangan saya meraih kotak kecil yang terletak di atas meja di depan saya, untuk mencabut sekali lagi secarik tissue putih yang amat lembut dari dalamnya.
Seperti pengakuan kepala pasukan Romawi tersebut, yang dicatat di dalam semua Injil Perjanjian Baru, akhirnya dengan hati yang hancur luluh saya juga takluk mengakui kedahsyatan-Nya: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39)
Suatu pengakuan tulus dari dalam hati yang segera mencelikkan mata hati nurani saya yang “tertutup rapat” selama itu!
Bagaikan orang buta semenjak lahir yang berani membela kenyataan kesembuhan yang sudah diterima olehnya dari Tuhan Yesus di depan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sekarang saya juga menjadi berani mengikrarkan iman saya di depan umum: “Tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” (Yohanes 9:25b)
Saya yakin sekali, bahwa ketiga pertanyaan yang diajukan oleh Tuhan Yesus kepada rasul Petrus setelah kebangkitan-Nya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari pada mereka ini)?” juga ditujukan kepada saya. (Yohanes 21:15-19)
Seperti yang dialami olehnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga sudah menimbulkan suatu perasaan sedih yang amat memilukan hati saya. Laksana tikaman-tikaman sebilah pedang tajam bermata dua, ketiga pertanyaan-Nya yang sama itu langsung menembus lubuk hati saya yang terdalam, mengaduk di dalamnya setiap tindakan “memalukan” yang pernah saya lakukan, yang tidak berbeda jauh dengan tingkah laku mereka yang sudah menjadi murtad, berani memberontak dan mengkhianati diri-Nya!
Kendatipun demikian, seperti reaksi-Nya yang penuh kasih di dalam menghadapi kehancuran hati rasul Petrus, Ia juga tidak ingin membuat saya menjadi malu di hadapan-Nya. Tidak ada sepatah kata pun yang dilontarkan oleh-Nya kepada saya yang bersifat sarkastik, menghakimi, atau mencemoohkan tindakan-tindakan yang telah saya lakukan selama ini. Ia hanya mengulangi sekali lagi pertanyaan yang sama: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Hanya itu saja!
Oh, ” sebuah pertanyaan penuh kasih yang membuktikan, bahwa keajaiban kasih karunia sorgawi yang luar biasa, yang ditawarkan oleh-Nya semenjak masa pelayanan-Nya di dunia 2000 tahun yang lalu masih tetap berlaku sampai sekarang!
Oleh karena itu, seperti rasul Petrus yang tidak mempunyai keberanian untuk menatap wajah-Nya, saya tidak hanya menjawab: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (Yohanes 21:17b)
Tetapi sambil menelan ludah, saya menambahkan: “Karena kasih karunia-Mu, mataku telah Kau celikkan, hidupku telah Kau bebaskan, jiwaku telah Kau ampuni, bahkan Roh-Mu yang kudus telah Engkau berikan kepadaku. Aku tidak hanya mengasihi-Mu, Tuhan, tetapi juga percaya sepenuhnya kepada-Mu! Tidak ada yang melebihi-Mu, karena Engkaulah satu-satunya yang mampu memenuhi kekosongan hidup yang telah kuderita selama ini! Meskipun aku masih sering jatuh di dalam pencobaan, bahkan gagal di dalam melaksanakan perintah-perintah-Mu, aku berjanji, bahwa ” untuk selama-lamanya aku tidak akan meninggalkan Engkau lagi.”
Saya yakin sekali, perintah Tuhan Yesus kepada rasul Petrus: “Ikutlah Aku.” (Yohanes 21:19b) adalah perintah yang diberikan kepada saya juga, ” dan kepada setiap orang lain yang mau menjadi pengikut-pengikut-Nya.
Sekarang saya telah mengambil keputusan yang tetap, apa pun yang akan terjadi di dalam perjalanan hidup ini, saya akan selalu mengikuti langkah-langkah-Nya, ” sampai tugas yang Ia berikan kepada saya di dunia berakhir, … bahkan sampai di akhir zaman!
Oh, ” ternyata nubuatan nabi Yesaya beberapa ribu tahun yang lalu: “Tetapi dia ditikam oleh karena PEMBERONTAKAN kita, dia diremukkan oleh karena KEJAHATAN kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5) masih terus digenapi, karena isi firman Allah sangat relevan dengan kehidupan umat manusia sepanjang masa!
Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus yang luar biasa di kayu salib tersebut ternyata tidak sia-sia belaka. Darah-Nya yang paling berharga, yang dicurahkan di atas bukit Golgota masih terus menyelamatkan hidup orang-orang berdosa yang MURTAD, MUNAFIK dan TERSESAT seperti saya, 2000 tahun kemudian!
Mengetahui tingkah laku saya selama ini, tanpa sadar kembali tangan saya meraih kotak tissue di ujung sebelah kiri meja. Entah cabutan tissue yang keberapa?
Saya terus berdoa kepada Tuhan, agar Ia melalui Roh Kudus selalu menyertai, membimbing dan menopang saya pada saat-saat yang kritis. Karena saya yakin sekali, janji yang diberikan kea s684etiap orang yang mau mengikuti-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b) juga masih digenapi oleh-Nya sampai sekarang! Terpujilah nama Tuhan, karena besar kasih-Nya! Haleluya!
Setelah membersihkan hidung yang tersumbat oleh cairan air mata di dalamnya, untuk pertama kalinya saya menyadari, bahwa … tissue putih lembut tersebut sudah dinodai oleh bercak-bercak darah berwarna merah yang amat pekat!
By. John Adisubrata